
"Parah sekali kalian, bersenang-senang tanpaku." Han Xiao menggerutu ketika melihat Ne Zha dan lainnya tengah bercanda bersama.
Han Xiao mengambil duduk pada kursi kosong yang ada di samping Xiao Jiang, mata pemuda itu berkeliling seolah mencari sesuatu.
"Kemana Chang Yue?" tanya Han Xiao.
"Dia berkata ingin berkeliling sebentar," jawab Xiao Jiang.
Han Xiao menganggukan kepalanya, dia meluaskan jangkauan auranya untuk mencari Chang Yue, senyumnya melebar ketika merasakan keberadaan Chang Yue tak jauh dari Istana Kekaisaran.
"Aku pergi dulu," ujar Han Xiao seraya mengambil semua kue yang ada di meja lalu menghilang dalam sekejap.
"Ah sialan!" Ne Zha mengutuk karena Han Xiao mengambil semua kue di meja.
Su Lihwa tertawa kecil melihat Ne Zha yang kesal, tangan gadis itu bergerak untuk mengelus dada Ne Zha, Su Lihwa menenangkan suaminya, dia juga berkata bahwa akan membuat kue lainnya untuk Ne Zha.
Barulah ekspresi kesal Ne Zha menghilang setelah mendengar Su Lihwa akan membuatkan kue untuknya.
Feng Jin tersenyum sangat indah saat melihat Ne Zha, terdapat banyak perubahan pada Ne Zha semenjak ke dunia ini. Dulu Ne Zha tidak memiliki banyak ekspresi seperti saat ini, mungkin saat bersamanya dan Han Xiao, Ne Zha dulu lebih angat, tapi tidak seperti sekarang yang memiliki banyak ekspresi, mungkin benar bahwa cinta bisa mengubah segalanya.
"Ayo kita buat kue bersama!" ajak Feng Jin seraya menarik Su Lihwa.
"Hey mau dibawa kemana istriku?" gerutu Ne Zha karena dia sedang nyaman bersama Su Lihwa.
Kekuatan Feng Jin jauh diatas Su Lihwa, sehingga ditarik oleh gadis kecil itu dia tidak bisa melawan.
Xiao Jiang dan Xiao Wushuang terkekeh melihat tingkah ketiganya, mereka saling memandang lalu tersenyum.
__ADS_1
"Pemandangan yang sangat jarang untuk ditonton," ujar Xiao Wushuang.
Xiao Jiang menganggukan kepalanya ringan untuk menyetujui ujaran dari Xiao Wuahuang.
***
Dalam waktu satu hari, undangan yang sebelumnya Ne Zha minta pada Presdien Mu bagikan untuk mengumpulkan kultivator Benua Angin Selatan yang berperang melawan Ras Iblis di Kekaisaran Yang.
Tentu saja tidak semuanya datang, hanya perwakilan saja, tidak akan cukup Kekaisaran Yang menampung jutaan orang sekaligus, bahkan hanya perwakilan saja Kota Luar dan Kota Dalam Kekaisaran Yang sudah penuh padat.
Ne Zha berniat untuk menaikan kekuatan dari Benua Angin Selatan hingga bisa melindungi diri sendiri tanpa ada dirinya dan Han Xiao, caranya akan sangat mudah. Yaitu menaikan kekuatan yang menjadi pillar bagi kekuatan masing masing, seperti Patriark atau Tetua Agung.
Semua ini telah dihitung secara matang oleh Ne Zha, jika sampai terjadi perpecahan, akan ada Tujuh Pillar yang menyatukannya, kekuatan Tujuh Pillar akan menjadi puncak di benua Angin Selatan, atau bahkan melebihi tokoh kuat seperti Xiao Qi.
Bukan tanpa alasan, seluruh Pillar adalah bagian dari Pasukan Han Xiao dan Ne Zha mereka bisa dengan sangat mudah menaikan kultivasi ketujuh Pillar.
Tidak ingin membuang waktu lagi, Ne Zha segera mengumpulkan para tokoh ini di Istana Kekaisaran Yang, hanya ssatu orang saja pada perwakilan yang diperbolehkan masuk.
Tidak banyak cara aneh yang dgunakan Ne Zha untuk menaikan kekuatan para tokokh ini, dia hanya memindai struktur tubuh untuk mengetahui kekuarangan dan kelebihan pada setiap orang, lalu dia akan memberi Sumberdaya yang cukup untuk menaikan kekuatan tokoh-tokoh ini.
Membutuhkan satu hari lagi untuk melakukan semua ini, hanya tersisa dua hari telah dilewati dari sejak Han Xiao berkomunikasi dengan Xian Chin, tersisa tiga hari lagi mereka di Benua Angin Selatan.
"Waktu kita masih banyak, baguslah semua ini selesai lebih cepat. Apakah kau sudah memutuskan?" Han Xiao menyesap teh seraya menatap Ne Zha.
Ne Zha menghela napas panjang, "Sudah kuputuskan, aku tidak akan membawanya, sangat beresiko membawa dia ke Alam Abadi, disini adalah tempat teraman karena tidak memiliki Kultivator yang melebihi Alam Dewa, paling kuat hanya Alam Dewa puncak, itu masih bisa diurusi oleh Tujuh Pillar atau Xiao Jiang dan Xiao Wushuang, lagipula kini Klan Xiao sudah menjadi aliansi Akademi," terang Ne Zha, dia sudah memikirkan segalanya untuk keselamatan istrinya.
"Kau akan berpisah sangat lama dengannya, siapa yang tahu kau akan kembali kesini setelah jutaan tahun? Qi di dunia ini sangat tipis, sulit untuk orang melewati Alam Dewa dan menembus tingkatan berikutnya." Han Xiao memaparkan semua fakta menyakitkan di dunia milik Xian Chin ini, memang bukn satu saja dunia yang dimiliki oleh Xian Chin, dunia milik Xian Chin dibagi menjadi empat tingkatan dan Benua Angin Selatan adalah yang paling rendah sehingga biarpun memiliki keamanan paling tinggi, tapi kepastian hidup jutaan tahun adalah tipis.
__ADS_1
"Aku sudah menyiapkan itu." Ne Zha menjelaskan bahwa dia sudah menyiapkan satu botol Darah Phoenix miliknya, itu akan bisa memanjangkan umur dan membuat awet muda, juga dia meninggalkan sumberdaya yang sangat berharga untuk Su Lihwa agar bisa menembus tingkatan yang lebih tinggi dari Alam Dewa.
Han Xiao dan Ne Zha sudah mengetahui tingkatan berikutnya setelah Alam Dewa, yaitu Dewa Roh, pada tingkatan ini seseorang akan membangun sebuah Altar Pengorbanan di Istana Takdir dan menempa serta memurnikan Tubuh Jiwa yang sudah dibuat ketika Alam Roh disana.
Istana Takdir akan menjadi Rumah Jiwa dan menjadi pusat paling penting karena Dantian juga akan dirubah menjadi Pohon Kehidupan, yang nanti akan dipindahkan ke Istana Takdir juga.
Jika seseorang telah sampai di Dewa Roh, dia akan bisa membawa Istana Takdir keluar dari tubuh jika dalam keadaan darurat, hingga itu memungkinkan untuk kematian yang sangat sulit. Karena jika ingin membunuh Kultivator Dewa Roh, maka diharuskan menghancurkan Istana Takdirnya.
"Aku tahu kau sudah menyiapkan semuanya, baguslah. Jaga dia dengan sangat baik Zha," ucap Han Xiao ditemani senyum riang ciri khasnya.
"Tentu saja, dia adalah orang ketiga yang sangat tulus padaku setelah kau dan Jin'er," ujar Ne Zha.
Han Xiao terkekeh ketika mendapatkan jawaban itu dari Ne Zha, "Aku berharap bahwa Xian Chin tulus padaku seperti yang Su Lihwa berikan padamu," kata Han Xiao.
Ne Zha mengangkat bahunya ringan, "Ya semoga saja."
"Aku sudah sangat tulus padamu, tapi ini tanggapanmu? Ragu pada diriku?" Han Xiao terlonjak kaget ketika mendengar suara menggelegar di kepalanya.
Han Xiao memegangi kepalanya karena sangat pusing, pandangan pemuda itu melihat kunang-kunang yang mengitari kepalanya.
"Bukan begitu, aku tidak tahu apakahkau tulus atau hanya modus, aku sudah merasakan betapa tulusnya Bing Xing. Tapi sial dia harus pergi ke Alam Abadi." Han Xiao mendengus setelah menetralkan pusing kepalanya.
***
Update Mingguan : 14/14
Update Merdeka : 33/75
__ADS_1