Dua Penguasa

Dua Penguasa
Bab306. Kesatuan


__ADS_3

"Kau ini! Apakah tidak sabar? Aku ingin agar makanan dalam perutku turun terlebih dahulu. Juga aku masih memiliki beberapa pertanyaan padamu yang juga Ne Zha harus tahu," protes Han Xiao ketika dirinya dibawa oleh Xian Chin ke tempat istirahatnya.


Tidak ada jawaban dari Xian Chin seain tersenyum manis, gadis itu duduk pada pangkuan Han Xiao dan merangkulkan tangannya untuk memeluk pemuda tersebut tidak menghiraukan Han Xiao yang kini masih mengeluarkan suara.


Gadis itu menenggelamkan wajahnya pada dada Han Xiao, secara reflek Han Xiao menghentikan omelannya, pandangan pemuda itu terarah pada Xian Chin yang sudah ada dalam pangkuannya. Karena terlalu semangat memprotes, dia hingga tidak menyadari Xian Chin yang duduk di pangkuannya dan memeluknya, jika bukan karena hembusan napas hangat dari Xian Chin, dia pasti akan terus mengomel.


"Bicaralah apa yang ingin kau tanyakan, tapi jangan pergi dari posisi ini. Dan kau harus mengelusku jika ingin aku mendengarkan ocehanmu dan menjawab pertanyaanmu," ucap Xian Chin yang tidak bergerak sedikitpun dari posisinya, suara gadis itu sedikit terpendam karena wajahnya yang menempel pada dada Han Xiao.


Han Xiao tersenyum riang, "Kau sangat keras kepala jika ada orang lain, tapi lain hal jika hanya berdua," batin han Xiao.


"Aku mendengarnya." Xian Chin bergumam untuk menyauti Han Xiao.


"Aku masih bingung dengan kehidupan disini, kau menyebut Zi Yao bukan berasal dari Alam Semesta ini? Bukankah kata Xian Xuenai setiap Kaisar memiliki satu Alam Semesta?"


Tidak ada jawaban dari Xian Chin, hal itu membuat Han Xiao mengerutkan dahinya, tapi pada saat hidungnya terhembus oleh rambut Xian Chin, barulah dia sadar bahwa dia tidak mengelus Xian Chin agar didengar dan dijawab.


Han Xiao terkekeh pelan, dia mengelus kepala Xian Chin dengan lembut seraya mengulang pertanyaannya.


"Tatanan kehidupan disini disebut Kesatuan, pada awalnya, tidak ada semesta yang terpisah dan tidak ada Kaisar, dahulu saat dua Binatang sakral masih hidup, kami semuanya hidup berdampingan, biarpun ada selisih, tapi tidak akan sampai ada perpecahaan." Xian Chin memulai cerita tentang kehidupan di dunia ini.


Tibalah saat dua Binatang Sakral menghilang, seratus orang terkuat yang berada dibawah Dua Binatang Sakral mulai bertempur untuk memperebutkan wilayah kekuasaan, tentu saja Xian Chin adalah salah satu orang tersebut, tapi dia hanya perlu berjuang sedikit karena kekuatannya paling kuat, sehingga dia mendapatkan wilayah terlebih dahulu.


"Aku mendapatkan sebuah peninggalan dari Dua Binatang Sakral, disana menyebutkan bahwa kondisi perpecahan itu bisa diselesaikan jika Kesatuan memiliki pemimpin dari dunia lain," ujar Xian Chin, dia juga memberitahu bahwa dari situlah Zi Yao memiliki tekad untuk keluar dari Kesatuan dan memiliki anak dengan penghuni di dunia lain.


Namun, seolah hal itu lelucon, ternyata Zi Yao bukanlah berasal dari Kesatuan, sehingga memiliki kekuatan yang tidak bisa dihalau oleh para Kaisar walaupun kultivasinya lebih rendah dari para Kaisar.

__ADS_1


"Lalu kenapa Ibu tidak menjadi pemimpin dunia ini? Dia malah mati di medan perang," celetuk Han Xiao.


Pletuk...


Xian Chin memukul kepala Han Xiao dengan keras, "Tidak bisa dihalau bukan berarti tidak terkalahkan, para Kaisar itu bersatu dan menjebak Zi Yao, aku sendiri bahkan tidak akan bisa menghadapi mereka."


"Ah aku malah pusing mendengarkannya, sudahlah, yang terpenting aku mengetahui bahwa dunia ini bernama Kesatuan, dan ibuku bukanlah berasal dari dunia ini. Sepertiku, juga sekarang aku mengetahui satu hal tugasku berada di dunia ini," ujar Han Xiao.


Xian Chin mengangkat wajahnya untuk menatap wajah Han Xiao, sebuah senyum indah terulas disana, "Kau mengerti? Apa?" tanya gadis tersebut.


"Aku hanya perlu menaikan kekuatanku, lalu membantu istriku melawan para Kaisar itu dan menjadi penguasa di dunia ini agar aku bisa kembali ke dunia lamaku," tutur Han Xiao dengan percaya diri.


Tangan Xian Chin bergerak untuk memeluk tengkuk Han Xiao, ditariknya tengkuk Han Xiao mebuat jarak wajah mereka menjadi sangat tipis.


Cup.


"Kau pintar, hanya saja kau tidak bisa melakukan semua hal itu sendiri, kau membutuhkan Ne Zha untuk menjadi penguasa, karena kalianlah yang akan menjadi penguasa di dunia ini. Kalian adalah penerus dari Dua Binatang Sakral," ucap Xian Chin.


Dahi Han Xiao mengerut, "Hey, apakah ibu kami melakukan hal 'itu' dengan dua binatang sakral ini? Sehingga kami penerus mereka?" Han Xiao bertanya dengan menekan kata 'itu' pada Xian CHin.


Xian Chin tergelak tertawa dengan sangat lepas ketika mendengar pertanyaan curiga dari Han Xiao, dia menggelengkan kepalanya sebelum menjawab, "Tidak, ibu kalian tidak melakukan hal itu dengan dua binatang sakral, hanya saja Zi Yao pada saat itu membawa esensi darah dari Dua Binatang Sakral sehingga itu memungkinkan kalian menjadi penerusnya."


"Sudahlah, aku tidak ingin membahas tentang itu lagi, kau membawaku kemari bukan tanpa sebab bukan?" Han Xiao bertanya dengan nada menggoda.


Wajah Xian Chin menjadi sangat merah padam, gadis itu membuang pandangannya dari Han Xiao, juga dengan segera dia bangkit dari pangkuan Han Xiao. Namun bukan Han Xiao namanya jika melepaskan gadis yang ada di pangkuannya begitu saja, dia menarik Xian Chin kedalam pelukannya lagi.

__ADS_1


"Kau memiliki kekuatan yang sangat besar, tapi bisa dengan mudah kutarik kedalam pangkuanku," kekeh Han Xiao. "Sudahlah, jangan berakting malu-malu denganku. Kau sudah hidup sangat lama, aku tidak percaya kau seperti itu." Han Xiao berbisik dengan nada sensual.


"Baiklah, aku tidak akan menutupinya lagi. Tapi..." Xian Chin menghentikan kaliamat akhirnya, dia terlihat seperti bingung untuk merangkai kata berikutnya.


Senyum mengejek tercetak pada bibir Han Xiao, "Ah aku sering mendapatkan pandangan dan ekspresi itu dari para gadis." Han Xiao mendekatkan wajahnya pada Xian Chin, kini jarak mereka sudah terkikis, Han Xiao menggesekkan hidungnya pada hidung Xian Chin.


"Jangan bilang kau masih perawan?" bisik Han Xiao.


Semburat merah merayap dari leher Xian Chin hingga pipinya.


"Perawan tua," kekeh Han Xiao.


"Siapa bilang?! Aku pernah melakukan hal itu sebelum dengan dirimu!" protes Xian Chin.


"Aku tidak membutuhkan penyangkalanmu, karena aku akan segera mengetahuinya," sahut Han Xiao lalu mulai meminta tagihan hadiah yang Xian Chin janjikan padanya.


***


Xian Xuenai, Ne Zha dan Feng Jin masih di ruang makan, mereka bertiga mendiskusikan soal Menara Tianxia, dengan adanya empat kunci, itu berarti Xian Xuenai akan ikut masuk kedalam.


Xian Xuenai memberikan secara kasar hal-hal yang akan ditemui mereka nanti disana, terutama perselisihan dengan perwakilan dari Kaisar lain, hal itu pasti akan sangat sulit mengingat kini mereka adalah musuh dari sembilan puluh sembilan Kaisar di Kesatuan.


***


Update Mingguan : 14/14

__ADS_1


Update Merdeka : 50/75


__ADS_2