
"Ini baru Han yang kukenal." Ne Zha menghampiri Han Xiao seraya merangkul pemuda berambut biru tersebut.
"Ya, Zha aku merasa tidak ada gunanya larut dalam kesedihan, toh aku akan menyiksa sumber masalah yang kualami," celetuk Han Xiao dengan santai.
Sebuah senyum terurai pada sudut bibir Ne Zha, "Terserah apa yang kau lakukan, puaskanlah hatimu," ujar Ne Zha.
Han Xiao tersenyum lebar, "Ayo kita turun, sudah sampai juga," ajak Han Xiao.
Dua pemuda itu terbang berdampingan menuju gerbang Akademi, sesampainya disana, mereka berdua tidak langsung masuk, melainkan menunggu di gerbang untuk kedatangan Presiden Akademi, para Dekan dan tamu mereka dari Benua Api Barat.
Memang tak butuh waktu lama untuk Presiden Mu dengan yang lainnya turun dari kapal lalu berjalan beriringan menuju gerbang.
"Pantas kalian kucari tidak ada di kapal," ujar Su Lihwa seraya menghampiri Ne Zha dan mengaitkan tangannya pada Ne Zha, seolah dia memberi tanda pada para perempuan Ras Sayap yang terus menatap Ne Zha, dan menyiratkan dialah Su Lihwa pemilik pemuda hebat ini.
Benar saja, banyak perempuan tersebut memasang wajah tidak suka, namun mereka tidak bisa melawan karena kekuatan Su Lihwa sendiri menakutkan pada tingkat kultivasi seperti itu.
"Ayo masuk, kita rayakan kemenangan kita dan menyambut tamu kita," ajak Han Xiao seolah dialah yang memiliki Akademi.
Presiden Mu dan Presiden Wanpi mengikuti Han Xiao tanpa kata protesan sedikitpun, para Dekan dan yang lainnya mengira bahwa dua Presiden takut dengan kekuatan Han Xiao, jadi mereka tidak memprotes kekurang sopanan Han Xiao. Itu wajar karena mereka tidak mengetahui hubungan antara Ne Zha, Han Xiao dan dua Presiden.
Sesampainya di aula utama, mereka disambut oleh para jenius yang telah keluar dari dimensi yang dibuat oleh Akademi, sebagian masih ada yang didalam dimensi, kini tengah memperbutkan seratus besar.
Dua Presiden mengarahkan semuanya lebih baik beristirahat terlebih dahulu, mereka akan melakukan pesta yang seperti dikatakan Han Xiao malam nanti.
Han Xiao disisi lain dengan Pasukan Penguasa Generasi diarahkan ke lantai teratas untuk beristirahat, ketika sampai di lantai teratas. Ne Zha dan Han Xiao bergegas untuk menuju kamar, disana mereka menemukan seorang gadis kecil yang tengah berkultivasi dengan tekun.
"Dia ingin membuka Istana Takdir," ucap Han Xiao dengan nada rendah.
__ADS_1
"Ya, setelah Yu'er berhasil membuka Istana Takdir kelima, kita akan memandunya lebih dalam untuk mendapatkan Istana Dao ketika naik ke Ekspansi Istana, dengan begitu kita akan leluasa mengajaknya berpetualang," balas Ne Zha dengan suara yang tak kalah rendah karena tak ingin mengganggu proses pembukaan Istana Takdir Ren Yanyu.
Dua Pemuda itu memutuskan untuk keluar dari kamar, ada hal penting yang harus mereka urus, yaitu adik dan kakak mereka. Xiao Jiang dan Xiao Wushuang.
Ternyata dua gadis itu sudah menunggu di ruang tamu ketika Han Xiao dan Ne Zha keluar dari kamar Ren Yanyu.
"Jiang'jie, sampai kapan kau akan menyembunyikan wajah cantikmu?" ujar Han Xiao dengan lembut.
Xiao Jiang tersenyum kecil, dia membuat mudra tangan. Sosoknya berubah lagi, memang sebelumnya dia merubah tampilannya menjadi aslinya, namun masih ada beberapa yang dia sembunyikan, seperti rambut putihnya yang memiliki untaian warna merah muda, serta iris matanya yang berwarna biru sangatlah indah.
"Shuang'er? Ingin terus nakal?" Han Xiao menatap Xiao Wushuang.
Gadis itu tertawa riang sebelum melakukan hal yang sama, rambut Xiao Wushuang berubah menjadi warna perak, iris matanya pun berwarna perak terang, terlihat nyaris menyatu dengan bola matanya.
"Gege tidak akan memperkosa kami karena kami cantik bukan?" goda Xiao Wushuang.
Han Xiao memukul kepala gadis tersebut, anak ini baru berumur lima belas tahun, tapi sudah memiliki otak yang nakal!
"Siapa yang mengajarimu huh? Apakah Jiang'jiejie?" tanya Han Xiao bersungut-sungut seraya menatap Xiao Jiang mencari jawaban.
Tangan Xiao Jiang menggibas-gibas menandakan itu bukanlah ajarannya.
"Jangan salahkan Jiang'jiejie, aku melihat sendiri Han'gege berlarian di hutan saat berburu Siluman, Jiang'jiejie mengatakan bahwa kau ingin makan daging manusia, aku dengan penasaran mengikutimu, dan ketika kau bertemu gadis cantik berjubah ungu. Kau langsung... mmpph!" Mulut Xiao Wushuang segera disumpal kain oleh Han Xiao.
__ADS_1
"Anak nakal! Kau harus diberi pelajaran!" Han Xiao segera menggelitik Xiao Wushuang, gadis kecil itu tidak tahan dan terus tertawa.
Beberapa menit kemudian Han Xiao berhenti, Xiao Wushuang masih tertawa lirih. Air mata sudah berlinang karena dia tidak tahan terus-menerus tertawa.
"Sudah Han, kau terlalu kejam," lerai Xiao Jiang.
"Aku memang sudah selesai," balas Han Xiao lalu duduk di kursi sebrang Xiao Wushuang dan Xiao Jiang.
"Jadi ada yang mau kalian sampaikan mengenai kami dibuang sejauh ini dari Klan?" ucap Ne Zha yang sedari tadi diam.
Xiao Jiang menghela napas ringan, dia mengangguk sebelum menceritakan tentang bagaimana mereka terlahir, ramalan saudara ibu mereka Zi Yao, sampai ibu mereka menghilang menjadi buronan dan meminta ibu Xiao Jiang untuk melindungi anaknya yang dia simpan di Benua Angin Selatan.
"Kalian jangan berpikiran buruk, ada kemungkinan saudara bibi ingin kalian ke Benua Angin Selatan karena menemukan nasib baik, aku yakin. Jika kalian berada di Benua Kayu Tengah sudah pasti menjadi sampah sampai sekarang, karena ketika kalian lahir, kalian tidak memiliki Dantian atai Roh Beladiri, tapi disini. Kalian bahkan sampai membentuk Istana Dao," kata Xiao Jiang, dia berusaha untuk tidak memperkeruh suasana hati dua pemuda tersebut karena dibuang ke Benua Angin Selatan hingga tidak bisa merasakan kasih sayang dari orangtua kandung mereka.
"Kami mengerti," jawab Han Xiao dan Ne Zha bersamaan, setidaknya mereka mengetahui identitas nyata dari Han Xiao dan Ne Zha yang mereka gantikan, dan kenapa dua pemuda itu dibuang sejauh ini. Ya, pada dasarnya itu akan menjadi sebuah bencana jika mereka tetap ada di Klan Xiao, tapi mereka datang ke Benua Angin Selatan juga mati karena telah digantikan oleh Han dan Eja yang datang dari dunia lain.
"Terimakasih atas penjelasannya Jiang'jiejie," ucap Ne Zha.
"Baguslah, kalian memang seperti yang diharapkan, sangat berpikiran jauh seperti bibi Zi Yao," balas Xiao Jiang.
"Kami sudah bisa melindungi diri kami sendiri, itu artinya kalian sudah bisa pulang ke Klan tanpa khawatir bukan?" tanya Han Xiao.
Bibir Xiao Wushuang mengerucut kesal, "Han'gege mengusir kami?"
Han Xiao terbatuk ketika mendengar protesan Xiao Wushuang, "Bukan itu maksudku, aih kau ya anak nakal."
***
__ADS_1
Update Mingguan 01/14