
Melihat Han Xiao dan Ne Zha terpojok, Ras Jijian semakin senang, walaupun adanya korban berjatuhan, tapi mereka berhasil memojokan dua pemuda tersebut.
"Terus serang!" Raja Jijian juga terlihat senang karena kedua musuhnya terpojok.
Mon Cie yang melihat dari jauh sungguh cemas, dia sempat melompat terbang untuk membantu kedua pemuda itu, tapi tiba-tiba ada sebuah penghalang yang menahannya untuk tidak pergi.
Sosok Han Xiao dan Ne Zha sudah tidak terlihat lagi, hanya terlihat milyaran Ras Jijian yang menggerubungi kedua pemuda tersebut.
"Siapapun dirimu! Jika memang benar kau berada di pihak kami! Cepat lepaskan aku! Apakau kau buta? Mereka berdua sedang dipukuli oleh milyaran Ras Jijian dan pasukan sekutu!" Mon Cie mulai panik ketika merasakan aura dari Han Xiao dan Ne Zha semakin tipis.
Raja Udang Merah, Raja Kepiting Perisai dan Raja Jijian tersenyum penuh kesombongan ketika merasakan aura dari dua pemuda itu semakin menipis. Mereka yakin bahwa dua pemuda itu akan segera mati.
"Momentum tampilan saja mengagumkan, tapi kekuatan hanya segini?" cela Raja Jijian dengan jijik ketika melihat musuhnya akan segera mati.
Swosh...
Cahaya emas terang membentang ke seluruh penjuru membentuk persegi, seluruh pasukan dikelilingi dalam persegi tersebut. Tiga Raja dan Tiga Patriark juga berada didalam persegi itu karena mereka mendekat pada Han Xiao dan Ne Zha.
Dari dalam kerumunan Ras Jijian, cahaya merah darah dan putih bersih bersinar sangat terang melalui celah-celah Ras Jijian.
BAAAM!
Cahaya itu meledak dan membuat Ras Jijian dan pasukan aliansinya terpental, dua sosok melayang dengan sangat kokoh di tengah-tengah cahaya. Lebih tepatnya, merekalah cahaya tersebut.
Mereka adalah Han Xiao dan Ne Zha, keduanya sudah merasakan seluruh musuh mereka dalam jangkauan serangan, sehingga cahaya emas tadi adalah pagar untuk membatasi serangan dan juga menahan agar tidak ada yang kabur.
Han Xiao dan Ne Zha membuat mudra tangan yang sangat rumit secara bersamaan, mereka saling pandang dan mengangguk sebelum bersamaan berseru.
"Pemusnahan Surga!" seru mereka secara bersamaan.
__ADS_1
Ya, Pemusnahan Surga adalah jurus yang sama dengan yang mereka gunakan saat dalam Pertarungan Keajaiban, walaupun jurus yang sama, tapi kehancuran dan kekuatan sangat jauh berbeda. Tentu saja! Saat itu Han Xiao dan Ne Zha hanya berada di Alam Ekspansi Istana, sekarang mereka berdua berada di ranah Dewa Sejati. Kekuatan itu bagaikan palung lautan dan langit berbintang.
Kekuatan Pemusnahan Surga kali ini dilepaskan dengan Kekuatan Mutlak sebagai pemicu, jelas sekarang tidak akan ada yang bisa selamat dari serangan ini.
"Huft... Jika saja Ras Jijian hanya berada di Bintang ini, aku akan sangat menyesal melakukan ini. Tapi beruntung ada Ras Jijian utama, aku tidak akan terlalu sedih kehilangan bekal Tendon Naga." Han Xiao sedikit mengeluh sebelum melepaskan Pemusnahan Surga berkekuatan penuh mereka berdua.
BOOOOOOOOOOOOOOOOOOOM!
DUUUUUUUUUUUUUUUUUAAAR!
Serangkaian ledakan bergerumul didalam pembatas persegi yang dibuat oleh Han Xiao dan Ne Zha, dengan kekuatan Dewa Sejati kedua, bahkan tiga Patriark dan tiga Raja Ras tidak bertahan dibawah serangan Pemusnahan Surga.
Mengingat formasi Pemusnahan Surga ini memperkuat serangan berkali-kali lipat, justru akan terasa aneh jika enam orang itu sanggup menahan Pemusnahan Surga.
Ne Zha dan Han Xiao yang kini tengah merentangkan tangan keatas untuk mengendalikan Pemusnahan Surga juga terpana, mereka sungguh tidak menyangka Pemusnahan Surga akan menjadi sangat mengerikan seperti ini.
Dalam waktu setengah jam, Pemusnahan Surga berakhir. Saat semuanya meredup, pemandangan di medan perang sungguh aneh, tidak ada satupun mayat disana, hanya ada tumpukan debu.
Senyum Han Xiao melebar ketika berhasil membunuh milyaran Ras tersebut, biarpun ada sakit dalam hatinya karena tidak mendapatkan milyaran Tendon Naga karena menggunakan Penghancur Surga. Tapi dia segera menguatkan dirinya lagi, ratusan ribu Tendon Naga sebelumnya akan dia hemat sebelum bertemu Ras Jijian lagi di masa depan.
Kedua pemuda itu datang menghampiri Mon Cie, keduanya melihat ekspresi Mon Cie yang sangat campur aduk. Namun mereka memakluminya karena pertunjukan yang mereka lakukan sungguh luar biasa.
"Ayo lihat ruang bawah tanah," ajak Ne Zha.
Ajakan Ne Zha menyadarkan Mon Cie, segera saja wanita itu memimpin jalan menuju ruang bawah tanah.
ketika mereka menginjakan kaki kesana, seluruh tembok yang dilapisi oleh es itu bersinar sangat terang. Han Xiao segera meneliti bagian-bagian tembok yang dipenuhi oleh Rune sebelumnya, senyumnya melebar ketika melihat Rune bergerak. Pengorbanan mereka telah berhasil mengaktifkan Rune untuk membuka pintu.
"Kita tunggu beberapa saat, pintu akan segera terbuka," ujar Han Xiao.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan muridku? Dimana dia sekarang?" Mon Cie segera bertanya.
Han Xiao menggaruk pipinya karena lupa akan hal tersebut, dia segera menjelaskan bahwa Shuiyu dalam tempat yang sangat aman untuk menerobos, jika telah selesai, Shuiyu akan keluar dengan sendirinya.
Mon Cie hanya bisa menurut dan percaya pada Han Xiao, lagipula jika dia ingin melawan, dia tidak memiliki kekuatan sebesar itu.
Benar kata Han Xiao, setelah menunggu beberapa saat, pintu yang katanya sangat sulit dibuka itu secara perlahan membuka sedikit demi sedikit. Ketika terbuka sepenuhnya, segera saja mereka bertiga melangkah masuk kedalam ruangan tersebut.
Ne Zha dan Han Xiao segera menangkap aura yang sangat akrab dan familiar bagi mereka, keduanya beradu pandang.
"Ini adalah aura dari Alat Dewa," ucap Han Xiao, mereka berdua memiliki Alat Dewa pemberian Xian Chin, sehingga mereka mengetahui aura Alat Dewa.
Tapi persis seperti yang dikatakan oleh Mon Cie, disini hanya ada potongan Alat Dewa, sehingga aura itupun sangat tipis.
Mereka bertiga terus berjalan hingga sampai di tengah-tengah menemukan meja besar, disana terdapat sebuah besi melingkar seperti bulan sabit.
"Mata senjata Sabit." Ne Zha tertegun ketika melihat Mata Sabit yang memiliki panjang empat meter dalam bentuk melengkung.
Ne Zha maju kedepan dan mencoba untuk menyentuh Sabir besar tersebut. Tapi baru saja beberapa meter, tangan Ne Zha segera membeku. Juga Mata Sabit itu bercahaya sangat terang dan tajam. Seolah menunjukan penolakan.
"Sabit ini adalah Alat Dewa bagaimanapun, dia memiliki defensif jika bukan dengan pemiliknya." Ne Zha menarik tangannya dan berusaha mencairkan Es yang membekukan tangannya.
"Lalu? Bukankah sia-sia kita masuk kemari?" Mon Cie berkata dengan sedikit enggan.
"Siapa bilang kita sia-sia?" Ne Zha menatap Han Xiao.
***
__ADS_1
Update Mingguan : 14/14
Update Merdeka : 69/75