
"Ah aku lupa menanyakan, kenapa kalian diserang oleh Beruang Salju?" Han Xiao tiba-tiba teringat hal yang membuat dia bingung sebelumnya.
Yang Shui menggaruk kepalanya, "Tadinya aku berniat untuk menaklukan satu Beruang Salju tingkat 21 sebelum mengikuti Bing Xing, karena Beruang Salju itulah yang memiliki pintu menuju lantai berikutnya." Yang Shui menjawab dengan canggung.
"Bukankah seharusnya kau bisa menangani mereka? Bagaimanapun kau adalah salah satu dari Binatang Suci," ujar Han Xiao.
Yang Shui tersenyum kecut, "Jika dulu, aku hanya perlu membalikan telapak tanganku untuk membunuh mereka. Namun, berbeda sekarang, kekuatanku terlalu lama ditekan. Juga aku telah memberikan Inti Air pada Ne Zha."
Han Xiao mengangguk ringan, dia paham, hanya dengan fakta bahwa Inti Air telah dilepaskan dari dirinya. Kekuatan Yang Shui berkurang sangat banyak hampir setengahnya. Ditambah dengan penekanan yang diberikan oleh Xian Chin selama Yang Shui tinggal di Benua Angin Selatan, pasti Yang Shui harus membiasakan diri lagi pada kekuatannya saat ini.
"Jadi, bagaimana selanjutnya? Tidak mungkin untuk menaklukan Beruang Salju," kata Han Xiao.
"Aku akan berusaha menemukan Monster tingkat 21 yang sendiri, dengan begitu aku yakin bisa menaklukannya." Yang Shui mendengus ringan pada Han Xiao.
Han Xiao mengangguk ringan, kemungkinan besar itulah yang bisa dilakukan untuk saat ini, tetapi dia juga memberi pengingat bahwa tidak harus Monster tingkat 21 yang memiliki Pintu menuju lantai dua. Bisa saja Monster tingkat 11 memilikinya.
Yang Shui paham dengan yang dimaksud Han Xiao, setelah melakukan beberapa hal. Han Xiao berpisah dengan Yang Shui dan Su Lihwa. Kini tinggal dirinya dan Bing Xing.
"Haish, bahkan Su Lihwa sudah mencapai ranah Dewa Raja." Han Xiao menggaruk kepalanya dengan canggung, sebelumnya dia berkultivasi tanpa masalah. Tetapi sekarang di ranah Dewa Sejati dia mendapatkan masalah karena Kekuatan Keputusasaan.
"Kau tahu kita akan kemana?" Bing Xing bertanya pada Han Xiao.
Senyum Han Xiao melebar, jelas saja dia tahu. Biarpun Juxue telah pergi, tetapi Han Xiao telah mencuri untaian jiwa Juxue dengan Kekuatan Pengendali Jiwa, yang dilakukan Han Xiao sekarang hanyalah tinggal mengikuti jejak Juxue menggunakan Untaian Jiwa yang dia curi.
__ADS_1
"Kau ingin membunuh Murid Kaisar Kecantikan?" tanya Han Xiao dengan nada yang menggoda.
Bing Xing menatap Han Xiao sebelum mengangguk tipis, jejak kedinginan yang dalam terlihat jelas pada mata biru terangnya.
"Ikuti aku." Han Xiao segera melesat menuju suatu arah, dengan untaian jiwa Juxue, Han Xiao bisa merasakan arah tepat dari Juxue.
Han Xiao memperhitungkan bahwa Juxue akan pergi ke kelompok Murid Kaisar lainnya, dengan begitu Han Xiao bisa membuat kekacauan dan berharap para murid Kaisar ini membuat dirinya putus asa. Hanya dengan begitu Kekuatan Keputusasaan akan meningkat yang juga berarti kultivasinya akan meningkat ke ranah Dewa Raja!
Tubuh Han Xiao bergetar penuh antisipasi yang dalam, "Kuharap kalian semua berkumpul!" batin Han Xiao dengan penuh semangat.
***
Juxue yang melarikan diri sudah sampai di kamp aliansi Murid Kaisar, dia menggerutu karena setelah dengan gencar terbang untuk mencari Jian. Juxue harus kecewa karena Jian berhasil menaklukan Monster tingkat 20 dan naik ke lantai berikutnya.
Juxue yang kesal melampiaskan amarahnya di Kamp, senyum Juxue memang sangat mematikan. Tetapi wajahnya akan lebih mematikan ketika dia sedang marah, para Murid Kaisar yang berada di ranah Dewa Raja pertama tidak berani menatap Juxue secara langsung. Itu akan membuat jantung mereka berdetak sangat kencang, tidak sedikit yang sebelumnya terlanjur menatap Juxue sekarang darah mengucur pada ketujuh lubang indra mereka. Mata, mulut, hidung dan telinga mereka mengeluarkan darah.
"Tenanglah Jiejie, kita bisa mengincarnya di lantai dua. Kita hanya perlu menaklukan Monster yang memiliki pintu, itu saja. Setelah itu kita bisa bertemu dengan Jian dan membunuhnya," ucap adin seperguruan Juxue yang lainnya.
Juxue menarik napas ringan sebelum menghembuskannya perlahan, aura yang menguar dari dirinya sudah mengurang dan menjadi tenang. Dalam waktu sekejap Juxue kembali pada pembawaannya yang anggun dan tenang, tetapi mata gadis itu tetap dingin.
"Aku akan menemukanmu secepatnya!" desis Juxue dengan penuh amarah.
Ketika Juxue sudah tenang, dia meminta adik seperguruannya memasakan sesuatu untuknya. Sudah sejak lama dia belum merasakan masakan yang nikmat sejak bertemu pemuda berambut biru yang merupakan Han Xiao.
__ADS_1
"Han Xiao, itu namanya?" Juxue memanggil Cong Lai dan berbincang perihal pemuda berambut biru yang mempermainkannya.
"Ada apa kau menanyakan dia? Apakah kau melihatnya saat melakukan perjalanan?" Cong Lai tentu mengetahui bahwa Juxue ingin membunuh Jian karena Jian adalah saingan dalam kecantikannya.
Mata Juxue menjadi dingin saat dia mengingat hal yang dilakukan oleh Han Xiao padanya, "Ya, aku melihatnya melawan Beruang Salju di Utara."
"Huft... Hal baik bahwa kau tidak bertabrakan dengannya, kekuatan orang itu sangat aneh. Tidak ada dari seratus Unsur yang menyerupai nya, kekuatan yang dimiliki orang itu sungguh jahat. Bahkan aku percaya, kejahatan dan kekejian Kaisar Iblis hanya anak kecil nakal jika dibandingkan dengan orang itu." Tubuh Cong Lai merinding saat mengingat dirinya yang berada di ujung tombak kematian.
"Maksudmu, delapan kekuatan yang dimilikinya?" tanya Juxue.
Cong Lai mengangguk, "Percaya atau tidak, saat melawan timku, Gou Ren dan Tiang Hung. Han Xiao ini hanya mengunakan dua kekuatan dari delapan. Namun, dia sanggup menekan kami." Cong Lai berkata dengan kecut.
Napas Juxue tertahan, bukan hal aneh jika begitu. Pada saat itu Han Xiao terasa seperti hanya menggunakan kekuatan fisik murni untuk membenamkannya pada batu Golem Batu Lava.
"Bagus jika begitu, dia sekarang pasti sendirian. Xuenai, pemuda berambut hitam dan gadis berambut emas itu pasti sudah ke lantai dua. Menyisakan dia seorang diri, kita harus mengumpulkan seluruh Murid Kaisar dan membunuhnya!" Cong Lai dipenuhi antisipasi.
"Apakah kau yakin kita bisa membunuhnya?" Juxue merasa sedikit ragu, terakhir kali dia merasakan saat Han Xiao berubah kekuatan pemuda itu seperti tidak ada dalam sentuhannya.
"Terakhir kali kami hanya tiga kelompok, sudah berhasil menekannya. Sembilan orang bisa membuatnya tidak bisa menggerakkan bahkan jarinya. Dengan jumlah kita yang saat ini ada dua puluh lebih, aku yakin menggunakan taktik gabungan dan bergantian akan membunuhnya." Sebuah senyum aneh tercetak pada bibir Cong Lai.
Berbeda dengan Cong Lai yang bahagia, Juxue justru merasakan hal aneh dalam dirinya. Tanpa sadar dia menyentuh perutnya.
"Apakah aku benar hamil?" batin Juxue.
__ADS_1
***
Update Mingguan : 13/14