
"Sebegitu kuatnya dia? Tapi kenapa Ne Zha dan Han Xiao seolah sedang menyiksanya? Juga dia kalah beradu tekanan dengan mereka juga," ujar Xia Shiva seraya menatap Feng Jin, Xiao Wushuang dan Xiao Jiang.
"Mereka berbeda, Feng Jin. Dia sekuat Han Xiao dan Ne Zha saat di medan perang dulu, lalu dua gadis itu, mereka adalah kultivator Alam Inti Kosong yang memiliki kekuatan Mutlak. Begitu juga Feng Jin, gadis itu memiliki kekuatan Mutlak, sehingga tekanan yang mereka lepaskan sangatlah mengerikan hinnga mengalahkan tekanan Raja Iblis," terang Presiden Wanpi.
Sudut bibir Xia Shiva berkedut ringan, tiga gadis itu sungguh menakutkan! Pandangan gadis itu segera terarah pada Han Xiao dan Ne Zha lagi.
Ne Zha melayangkan lima tebasan secara berturut-turut, tebasan itu berhasil mendarat sempurna pada tubuh Raja Iblis Kulit Putih. Juga tebasan itulah yang mengakhiri pertarungan mereka.
Tubuh Raja Iblis Kulit Putih terbaki menjadi lima bagian dan jatuh dari langit, tatapan Ne Zha masihlah sangat dingin pada jasad berantakan dari Raja Iblis Kulit Putih. Jika saja tadi Su Lihwa terbunuh, dia bukan tidak mungkin melakukan hal lebih kejam dari Han Xiao, Ne Zha berpikiran untuk segera menyerbu Dunia Bawah dan membantai Klan Kulit Putih dia akan merobek kelopak mata milik Raja Iblis Kulit Putih itu agar menonton dengan jelas pembantaian yang dia lakukan.
Namun beruntung Su Lihwa tidak kenapa-napa, atau tidak mungkin bagi Raja Iblis Kulit Putih mati secepat itu.
Han Xiao bergerak untuk mengabil jasad dari Raja Iblis Kulit Putih, dia mengirimnya ke Alam Kejahatan.
"Ayo kembali Zha," ajak Han Xiao.
Ne Zha menganggukkan kepalanya lalu terbang berdampingan bersama Han Xiao.
Kedatangan Han Xiao dan Ne Zha di gerbang Akademi disambut dengan meriah, orang-orang ini memiliki pendengaran yang sangat baik, jadi mereka mendengarkan obrolan Xia Shiva dengan Presiden Wanpi, jika saja tidak ada Han Xiao dan Ne Zha, sulit dikatakan Benua Angin Selatan lolos dari bencana yang dibawa oleh Raja Iblis Kulit Putih.
Ne Zha memilih untuk menghentikan pesta pernikahannya, lagipula baginya dan Su Lihwa sudah cukup mereka melakukan sumpah, tanpa harus melakukan pesta sebesar itu.
Tatapan dingin Ne Zha berubah sangat jauh ketika menatap Su Lihwa, tatapan pemuda itu menjadi sangat hangat dan penuh kasih sayang.
"Ayo masuk kedalam," ajak Ne Zha pada Su Lihwa.
Gadis itu mengangguk untuk jawaban, dia juga merangkulkan tangannya pada Ne Zha, setelah sepasang suami istri muda itu masuk kedalam, semua orang juga bergerak untuk mengikutinya.
"Han, kapan kita pergi menuju Benua Kayu Tengah?" tanya Xiao Jiang, dia sungguh tidak sabar untuk menunjukan kekuatannya dan membunuh Ras Iblis yang kin sedang mengacau di Benua Kayu Tengah.
__ADS_1
"Dua hari lagi, sabarlah. Mereka sedang berbunga-bunga," jawab Han Xiao seraya mengarahkan pandangannya pada Ne Zha dan Su Lihwa.
"Mereka akan berpisah cukup lama, jadi biarkan mereka memiliki kenangan yang indah terlebih dahulu sebelum berpisah kemudian bertemu lagi setelah masalah Ras Iblis terselesaikan," lanjut Han Xiao.
Xiao Jiang mengangguk paham pada Han Xiao, "Kau juga Han, jangan terus terbayangi. Benar apa yang dikatakan oleh Su Lihwa, kau berhak untuk berbahagia."
Han Xiao terkekeh mendengar perkataan Xiao Jiang, "Aku selalu bahagia," jawab Han Xiao.
"Bukan bahagia itu yang kumaksud," balas Xiao Jiang.
"Aku dikelilingi oleh para gadis cantik bagaikan malaikat, bagaimana aku tidak bahagia? Aku sangat bahagia lebih dari yang kau pikirkan Jiang'jie." Han Xiao memang mengatakan apa adanya, dia memang dikelilingi oleh para gadis cantik, belum lagi dia memiliki tunangan seorang penguasa dunia! Tepuk tangan untuk Pengetik, Han Xiao sungguh banyak terimakasih padanya.
Xiao Jiang memilih untuk menggelengkan kepalanya ringan dan tidak melanjutkan perdebatannya dengan Han Xiao, pemuda itu selalu menang jika beradu argumen.
Karena sudah tidak ada pesta, hari ini digunakan untuk tim medis mengobati para korban dari Raja Iblis Kulit Putih. Pesta pernikahan ini menjadikan sebuah haru sekaligus sendu.
Ne Zha memberikan kompensasi atas tamu yang menjadi korban, bagaimanapun mereka mati ataupun terluka karena mendatangi pesta pernikahannya.
***
Matahari tenggelam di ufuk barat, meninggalkan dataran Benua Angin Selatan menjadi gelap, kini bagian sang rembulan yang menerangi dataran tersebut dengan cahaya redup dan udara dinginnya.
Dua insan saling menatap penuh kasih dan sayang yang sangat dalam, mereka menatap indahnya bulan berdua tanpa ada yang mengganggu. Seolah dunia ini milik mereka, ya memang, begitulah gambaran bagi orang yang sedang jatuh dalam lubang bernama cinta.
"Aku benar-benar tidak menyangka hari ini akan tiba," lirih sang gadis.
"Kenapa begitu?" tanya pemuda di sampingnya.
Dua insan itu tak lain adalah Su Lihwa dan Ne Zha, mereka mengobrol ringan pada balkon kamar yang menunjukan keindahan daerah Longfeng yang disinari sinar rembulan.
__ADS_1
"Kau menjadi kuat setiap harinya, kau terus tumbuh hingga menjulang tinggi di hadapanku. Aku sendiri sudah berniat mengundurkan diri jika memang kau yang menjuang itu tidak bisa ku gapai, dan membiarkan rasa ini sendirian dalam hatiku," ujar Su Lihwa.
Ne Zha menyesap tehnya secara perlahan, dia memejamkan matanya untuk menikmati rasa pahit teh tersebut. Setelah itu dia menatap Su Lihwa dengan sangat lembut. Tangan Ne Zha bergerak untuk menangkup kedua pipi Su Lihwa, pemuda itu memajukan wajahnya hingga hidung mereka saling bersentuhan.
"Jangan mengatakan itu lagi di masa depan, kau tahu. Bisa memilikimu yang sangat tulus padaku adalah sebuah berkah tertinggi bagiku, kau menerima semua baik keburukan dan kekuranganku," bisik Ne Zha dengan suara parau lalu pemuda itu memagut lembut bibir Su Lihwa.
Su Lihwa memejamkan matanya, dia menikmati ciuman yang diberikan oleh Ne Zha, hatinya yang berbunga kini berambah memekar senang, cintanya terbalas dengan sangat baik oleh Ne Zha.
Ne Zha melepaskan tautan bibirnya dari Su Lihwa, napas gadis itu sedikit tersenggal ketika terlepas dari Ne Zha.
"Maafkan aku," ujar Ne Zha merasa bersalah.
"Tidak apa Zha." Su Lihwa melingkarkan tangannya untuk memeluk Ne Zha dan menyandarkan kepalanya pada dada Ne Zha.
"Zha, aku ingin bertanya," bisik Su Lihwa dengan nada yang ragu.
Ne Zha bingung dengan nada ragu dari Su Lihwa, biasanya gadis itu akan yakin dengan yang dikatakannya tapi kali ini berbeda.
"Bertanya apa?" tanya Ne Zha.
"Itu.. Ehm... Apakah sangat sakit? Bisa kau melakukannya dengan perlahan?" jawab Su Lihwa.
Alis Ne Zha segera berkedut ketika mendengar hal tersebut dari Su Lihwa, gadis ini menanyakan tentang hal intim? Ne Zha menyeringai nakal.
"Aku bukan perempuan, sehingga tidak tahu apakah sakit atau tidak, tapi akan kuyakinkan kau tidak akan mengalami kesakitan yang parah, aku akan lembut padamu," celetuk Ne Zha dengan santai.
"Kau!" Su Lihwa memukul kesal pada Ne Zha, hal itu ditanggapi dengan tawa oleh Ne Zha.
***
__ADS_1
Update Mingguan : 010/14
Update Merdeka : 12/75