Dua Penguasa

Dua Penguasa
Bab313. Dewa Sejati


__ADS_3

Lima puluh tahun semenjak Ne Zha menembus ke Dewa Roh, Han Xiao disisi lain kini tengah membuka matanya.


Iris biru gelapnya sungguh indah namun memiliki sepercik cahaya menyeramkan jika diteliti, pemuda itu menghel napas lega karena telah melewati hal sulit dalam kultivasinya.


"Jenius Alam Abadi? Akan ku jitak kepala mereka," celetuk Han Xiao dengan enteng.


Cahaya merah darah menguar dari tubuh Han Xiao, pemuda itu mengangkat tangannya dan mengeluarkan sebuah api merah darah yang sangat pekat dari sana.


Sebuah senyum menyenangkan mengembang dari bibir Han Xiao, "Dewa Sejati," gumamnya.


Seratus lima puluh tahun sudah dia lewati untuk berkultivasi, kini dia berhasil menginjak Dewa Sejati. Kultivasinya kini sudah berimbang dengan jenius dari Alam Abadi.


Sebenarnya bisa dibilang kemajuan Han Xiao dan Ne Zha sangat lambat, para Jenius dari Alam Semesta lain membutuhkan setidaknya hanya dua puluh tahun untuk menginjak Dewa Sejati.


Tapi hal itu bisa diwajarkan, karena Han Xiao dan ne Zha memiliki kapasitas Qi yang sangat luar biasa besar, jadi mereka berdua tidak bisa dibandingkan dengan para Jenius tersebut.


Namun tetap saja, para Jenius itu tidak bisa dihiraukan. Karena bisa menginjak Dewa Sejati dalam dua puluh tahun, itu sangat luar biasa.


"Bagaimana keadaan Ne Zha dan Feng Jin?" Han Xiao mengelus dagunya penasaran, akhirnya dia memutuskan untuk keluar mencari sepasang abang adik tersebut.


Han Xiao bergerak menuju ruang kultivasi Ne Zha yang tak jauh dari tempatnya, sesampainya disana. Han Xiao bingung karena tidak merasakan aura dari Ne Zha didalam ruangan.


"Seharusnya memang dia telah menembus lebih dahulu dariku," batin Han Xiao.


Tidak ingin ambil pusing, Han Xiao memilih untuk berjalan-jalan seraya menikmati aliran Qi yang terus masuk kedalam tubuhnya, dia juga sama seperti Ne Zha, sangat nyaman dengan tubuh barunya yang sangat ringan tersebut.


Semua ruangan sudah Han Xiao kunjungi, hanya satu yang belum, yaitu ruang makan.


Dengan kedipan mata, dia sampai disana dan menemukan Ne Zha dan Feng Jin yang terlihat sedang menunggu sesuatu.


Merasa heran, Han Xiao mengajukan pertanyaan mereka sedang menunggu apa.


"Menunggumu Bang, ayo kemari, kita makan bersama," jawab Feng Jin seraya menarik Han Xiao untuk mengajaknya makan.


"Ah kau juga sudah berada di Dewa Sejati bang, hanya aku yang masih berada di Dewa Roh kedua," keluh Feng Jin ketika merasakan aura dari Han Xiao yang sama dengan Ne Zha.

__ADS_1


Han Xiao tersenyum tipis, "Apakah kau bersungguh-sungguh dalam berkultivasi?" tanya Han Xiao.


"Ehm..." Feng Jin mengangguk.


"Kau memiliki garis darah dari Phoenix, akan sulit bagimu jika terus menembus secara terus menerus, jadi kau harus beristirahat dulu, itulah kenapa Jin'er tidak cepat menembus Dewa Sejati," terang Han Xiao.


"Tidak masalah, masih ada lima puluh tahun lagi, kalian jangan khawatir," ujar Feng Jin seraya mengambilkan lauk untuk makan Han Xiao dan Ne Zha.


Ne Zha tersenyum kecil, kini Feng Jin sudah mulai berpikiran luas dan tidak mengeluh lagi, terlihat perbandingkan yang sangat jauh dengan Feng Jin yang dulu.


"Kultivasi memang sebuah hal yang membuka pengetahuan," batin Ne Zha.


Ketiganya makan bersama, tidak terasa semua makanan di meja sudah habis. Feng Jin pamit untuk kembali berkultivasi untuk mengejar Alam Dewa Sejati.


Han Xiao dan Ne Zha sengaja tidak memberitahu rencana mereka untuk berpetualang setelah seratus lima puluh tahun ini, itu karena memikirkan keselamatan Feng Jin, lebih baik Feng Jin tinggal disini untuk berkultivasi selama mereka berpetualang di Alam Abadi.


"Kita mulai dari mana?" tanya Han Xiao.


"Waktu kita hanya enam bulan untuk berpetualang diluar sana, jika dengan terbang saja. Aku yakin untuk perjalanan saja sudah menghabiskan waktu berbulan-bulan dengan kecepatan tercepat kita," lanjut Han Xiao.


Han Xiao menjentikan jarinya, dia mengatakan pada Ne Zha bahwa di Aula tahta, ada sebuah cermin raksasa yang memantulkan aura fluktuasi ruang.


"Mungkin itu portal teleportasinya," kata Han Xiao.


Sebenarnya, dengan kekuatan Han Xiao sekarang, dia bisa membuat Portal Teleportasi, hanya saja dia tidak mengetahui jelas akan pergi kemana. Juga jarak portal yang dibuatnya masih akan memiliki jarak yang tidak terlalu jauh.


"Ayo bergegas kesana," ajak Ne Zha.


Han Xiao juga segera bangkit dan memimpin jalan untuk Ne Zha menuju Aula Tahta, sesampainya disana, keduanya menemukan cermin raksasa yang dimaksud oleh Han Xiao.


Benar, dengan kekuatan mereka sekarang, keduanya bisa merasakan fluktuasi ruang yang sagnat besar dari cermin raksasa tersebut.


"Jangan buang waktu!" Han Xiao berseru senang lalu bergegas masuk kedalam cermin.


Melihat Han Xiao yang sembrono, Ne Zha menggelengkan kepalanya ringan, dia berjalan dengan santai memasuki Cermin raksasa tersebut.

__ADS_1


***


"Whoaaaaa ini kereeeen!" Han Xiao berseru kagum atas pemandangan yang menyambut dirinya dan Ne Zha ketika keluar dari portal.


Berbanding terbalik dengan Han Xiao, Ne Zha justru mengerutkan dahinya, pemandangan dihadapan mereka adalah laut, sejauh apapun mereka memandang.


"Alam semesta yang dipenuhi air, mungkinkah ini Alam Semesta dari Dewa Air?" gumam Ne Zha mulai membaca situasi.


Belum sempat Ne Zha menemukan jawabannya, tiba-tiba air yang berada dibawah tempat mereka melayang terbentuk sebuah pusaran raksasa.


Ne Zha dengan sigap menarik Han Xiao untuk terbang lebih tinggi, lalu menjauh dari pusaran tersebut.


"Sialan! Apaan itu?!" kutuk Han Xiao terkejut.


Seolah menjawab pertanyaan Han Xiao, seekor Gurita raksasa melompat keluar dari laut tersebut, gurita itu memiliki tentakel yang sangat besar. Itu memeiki lebar puluhan meter dan panjang ratusan meter.


"Haish, tidak kusangka petualangan pertama kita disambut oleh gurita," kekeh Han Xiao lalu menyerbu untuk memotong tentakel gurita.


Ne Zha hanya berdiam diri, dia paham bahwa Han Xiao ingin mencoba sejauh apa kekuatannya berkembang, sebenarnya dia juga penasaran dengan kekuatannya. Tapi dia berpikir pasti masih ada makhluk seperti gurita ini lagi nanti.


Han Xiao berhasil memotong empat tentakel, tapi hal mengejutkan terjadi. Tentakel yang terputus itu kembali tumbuh dengan kecepatan yang bisa dilihat oleh mata.


"Ah sepertinya tidak bisa memotong tanganmu ya? baiklah aku akan memotong kepalamu langsung saja," ujar Han Xiao lalu mengalirkan Qi dalam tubuhnya untuk menghantam secara langsung pada kepala Gurita raksasa tersebut.


BAAM...


Han Xiao menggunakan Kekuatan Kehancuran, sehingga ketika tembakan yang lepas dari tangannya itu langsung berhasil menghancurkan kepala gurita tersebut.


"Fiuh..." Han Xiao meniup jarinya yang dia pose seperti tembakan. "Sangat mudah."


***


Update Mingguan : 14/14


Update Merdeka : 57/75

__ADS_1


__ADS_2