
Qin bingung kenapa dia muncul di tempat antah berantah ini, tapi tak urung Qin mengagumi pemandangan indah di tempat ini.
Pandangannya jatuh pada sebuah bangunan bertingkat lima yang berada di belakangnya, itu adalah Pagoda Mimpi Buruk.
Memang seharusnya setelah dia keluar dari Pagoda Mimpi Buruk hanya akan berjarak beberapa meter saja dari Pagoda Mimpi Buruk.
Tapi kini dia berada dimana?
Di tengah kebingungannya sosok yang dikenalnya muncul tiba-tiba dihadapannya seperti muncul diari ruang hampa.
"Kau sudah menyelesaikan ujian Pagoda Mimpi Buruk?" tanya sosok pemuda yang barusaja muncul tersebut.
Qin menganggukan kepalanya, gadis kecil itu tersenyum senang tidak menutupinya sama sekali. Membuktikan bahwa dia mendapatkan banyak hal baik dari dalam sana.
"Kau mendapatkan Koin yang kau cari?"
"Ya aku mendapatkannya!" Qin menunjukan koin perak yang didapatnya pada pemuda tersebut.
"Koin Tafsir!" Pemuda itu berkata dengan sedikit selipan nada terkejut disana walau disembunyikan oleh pemuda tersebut.
Koin Tafsir merupakan sebuah artefak, tidak bisa disebut Alat Roh karena itu tidak bisa dinilai oleh tingkatan Alat Roh. Koin Tafsir memiliki kegunaan untuk membantu menafsirkan sebuah takdir. Jelas digabungkan dengan Mata Takdir maka akan sangat mengerikan.
Ne Zha tidak pernah menyangka bahwa koin yang dicari oleh Qin adalah Koin Tafsir, pemuda itu tersenyum kecut dalam hatinya karena telah membawa sebuah keberuntungan besar pada Qin, tapi harus dia akui bahwa gulungan dari Qin yang berisi tentang Ilmu Sihir Waktu sungguh sangat berharga, bahkan itu tidak ada dalam ingatan Harimau Suci.
"Zha kau mengetahuinya?" Qin menatap pada pemuda yang tak lain adalah Ne Zha.
Ne Zha hanya mengangguk ringan, "Selamat, dengan ini kemampuan Mata Takdirmu menjadi sangat baik."
"Terimakasih! Ah aku sampai lupa karena terlalu senang, dimana kita sekarang?"
Ne Zha menjelaskan tentang Alam Nirwana Api pada Qin, menurutnya Qin adalah salah satu orang yang patut dipercaya karena dengan Mata Takdir pasti tahu apa yang terbaik untuknya.
"Kepadatan Qi disini sangat tinggi, aku berniat berkultivasi disini setelah memperkuat tubuhku, oh ya apakah Herbal Rohku telah siap?" Qin bertanya karena menurutnya ini sudah tujuh hari sejak dia masuk kedalam Pagoda Mimpi Buruk.
"Tujuh hari? Ini baru hari kedua kita berpisah," ujar Ne Zha.
"Sepertinya waktu pada Pagoda Mimpi Buruk terpisah dengan waktu dunia nyata," simpul Ne Zha.
Qin mengangguk ringan, tapi tidak tertutupi rasa kecewanya karena belum bisa berkultivasi karena Herbal Roh yang diberikannya pada Ne Zha pasti belumlah siap.
"Bagaimana permintaanku? Apakah aku boleh berkultivasi disini?" tanya Qi lagi.
Sejenak Ne Zha berpikir, karena terlalu banyak memikirkan masa depan yang akan dijalani hingga dia terlupa bahwa Alam Nirwana Api memiliki kepadatan Qi yang seratus kali lipat lebih banyak dari Benua Angin Selatan.
Sebelumnya Ne Zha mencari tempat untuk berkultivasi membentuk Istana Takdir sehingga melupakan bahwa dia juga bisa membentuk Istana Takdir di Alam Nirwana Api.
"Kau boleh berkultivasi disini," kata Ne Zha setelah memutuskan bahwa Alam Nirwana Api akan menjadi tempatnya membentuk Istana Takdir lainnya.
Tapi Ne Zha harus memastikan bahwa tidak ada yang mengganggu ruang tempatnya memasuki Alam Nirwana Api.
"Baiklah ayo kembali ke Benua Angin Selatan," ajak Ne Zha seraya membawa Qin pergi dari Alam Nirwana Api.
***
"Tuan muda aku telah menjalankan tugasku." Pria tua yang merupakan jelmaan dari Roh Alam berjalan dengan tergopoh menghampiri Ne Zha yang kini tengah besantai menyesap teh dengan Qin.
Mata Qin terbuka lebar sangat senang saat mendengar pria tua itu menyelesaikan tugasnya, jelas dia sudah mengetahui dari Ne Zha bahwa masalah Herbal Roh telah ditangani oleh pria tua tersebut.
Tiga Herbal Roh yang dibutuhkan Qin segera ditaruh diatas meja, Ne Zha memeriksa kualitas Herbal Roh ketiganya, setelah beberapa saat dia mengangguk puas.
"Aku akan meramunya menjadi bubuk agar bisa kau pakai," ucap Ne Zha pada Qin.
Gadis kecil itu mengangguk penuh semangat, disisi lain pria tua itu terkejut, Ne Zha memintanya membuat Herbal Roh berumur ratusan tahun menjadi tingkat Raja untuk gadia kecil ini?
Tapi saat pria tua itu melihat lebih teliti dia menemukan sesuatu yang mengejutkan, gadis kecil itu memiliki Mata Takdir!
Tidak heran Ne Zha memberikan Herbal Roh tanpa berkedip pada gadis kecil itu, jika suatu daat gadis kecil itu menjadi kuat maka bukan tidak mungkin gadis kecil itu adalah sebuah bantuan yang sangat besar dengan Mata Takdirnya.
"Kapan kau akan meramu Herbal Roh ini?" tanya Qin penuh antusias.
__ADS_1
"Secepatnya," jawab Ne Zha.
Wajah Qin dipenuhi oleh senyuman, sungguh memilih Ne Zha saat itu adalah pilihan yang sangat tepat baginya.
"Sebaiknya kau beristirahat," ujar Ne Zha.
"Pak tua kuyakin kau memiliki kamar yang baik," pinta Ne Zha.
"Akan kuantar, mari nona kecil," ajar pria tua tersebut.
Qin mengangguk ringan lalu mengikuti pria tua tersebut untuk menuju kamar dan beristirahat, memang ini juga yang dia buruhkan karena berada di Pagoda Mimpi Buruk sungguh menguras banyak tenaga baik fisik ataupun mentalnya.
***
"Apa yang diminta tuan muda pada orang tua ini?" Setelah mengantar Qin ke kamar pria tua tadi kembali menghadap Ne Zha tidak dia sangka Ne Zha meminta bantuannya lagi, namun itu bukan masalah baginya.
"Tidak banyak, aku hanya ingin sebuah ruangan serta beberapa Herbal roh untuk memenuhi kebutuhanku." Ne Zha memberikan sebuah kertas pada pria tua tersebut.
Pria tua itu memandang kertas tersebut lalu terkejut bukan main, sebagai orang yang telah hidup selama ribuan tahun, tentu dia mengetahui rencana Ne Zha dari bahan Herbal Roh yng diminta pemuda itu.
"A... apakah tuan muda ingin membuat pil itu?" tanya pria tua itu untuk memastikan.
"Tentu, aku akan memberikannya padamu satu. Namun kau harus memenuhi permintaanku pada bahan yang tertera disana,'' ucap Ne Zha.
sekali lagi pria tua itu terkejut walaupun sudah mengetahui apa yang dilakukan Ne Zha, tapi dia kini sangat senang karena akan mendapatkan kesempatan untuk membuat dirinya semakin kuat!
"Aku akan mengumpulkan seluruh bahan ini secepatnya!" seru pria tua itu semangat, dia bahkan hingga melupakan tongkatnya dan berlari keluar dari toko untuk mencari bahan yang Ne Zha minta.
Ne Zha terbatuk pelan melihat semangat pria tua itu sampai melupakan tongkatnya, namun jika dipikir lagi pria tua itu tidak membutuhkan tongkat untuk berjalan walaupun memiliki tampilan tubuh tua tapi Ne Zha yakin, tubuh Berlian milik Kuil Intan Matahari pun belum tentu menyamainya.
"Jika diingat aku belum menanyakan namanya,'' batin Ne Zha, didalam ingatan Harimau Suci pria tua itu disebut Kacang. Tidak dengan namanya.
***
"K.. kau siapa?!" tanya pria tua itu penuh kejutan.
Ne Zha menunjuk hidungnya, "Aku Ne Zha."
Seolah sudah menebak pria tua itu akan kebingungan Ne Zha segera angkat suara, "Kau memang tak mengenalku, tapi aku mengenalmu."
Kerutan pada dahi pria tua itu semakin bertambah ketika Ne Zha seolah memberikan teka-teki padanya, "Pada intinya." Dengusnya kesal.
"Kukira Kacang Panjang akan suka berceloteh panjang." Ne Zha memicingkan matanya.
Sekali lagi perkataan Ne Zha membuat pria tua itu mematung, dia kini menatap Ne Zha penuh waspada serta penasaran. Dirinya memiliki banyak musuh sehingga tidak tahu apakah Ne Zha ini salah satunya.
"Apa tujuanmu?" Akhirnya pria tua itu mengangkat suara untuk menanyakan hal tersebut.
"Herbal Roh tingkat Raja," jawab Ne Zha seraya melemparkan tiga Herbal Roh yang didapatnya dari Qin pada meja dekat pria tua.
"Aku tidak memilikinya untuk jenis ini," ketus pria tua tersebut.
"Apa perlu aku menjelaskan dengan detail?" Ne Zha menatap pria tua itu dengan datar.
"Apa maksudmu?" Tantang pria tua itu.
"Kau adalah Roh Alam yang terbentuk dari Tanaman Sihir Kacang Panjang Umur, tentu kau memiliki sebuah cara untuk membuat Herbal Roh menua, betul?" ungkap Ne Zha.
Tubuh pria tua itu bergetar keras saat Ne Zha mengungkapkan identitasnya, sungguh dia tidak pernah menyangka akan ada seseorang yang mengungkap identitasnya. Selama ini walaupun dia memiliki banyak musuh tapi musuh-musuhnya tidak pernah mengira bahwa dia adalah Roh Alam.
"Aku tak tahu apa yang membawamu ke Benua Angin Selatan, namun aku tak peduli. Aku hanya ingin tiga Herbal Roh itu jadi tingkat Raja, dan satu hal pasti, aku bukanlah musuhmu," ujar Ne Zha lalu duduk di kursi terdekat.
Pria tua itu tentu paham dengan apa yang dikatakan Ne Zha, tapi hal pasti yang sudah dikonfirmasi oleh Ne Zha adalah pemuda itu bukan musuh. Dari pembawaannya saja pemuda itu sangat tenang dan menyendiri serta tidak ada hawa permusuhan sedikitpun yang dipancarkan pemuda itu.
"Kau harusnya tahu bahwa aku bisa membunuhmu hanya dengan satu jari," tandas pria tua itu.
"Kujamin kau tak akan melakukannya, dan kau tak akan pernah bisa." Ne Zha mengeluarkan Pedang Lima Elemen dari Cincin Spasialnya dan menaruh diatas meja.
Mata pria tua itu segera memancarkan ketakutan yang sangat dalam ketika melihat Pedang Lima Elemen.
__ADS_1
"Kau penerusnya!" seru pria tua itu penuh kejutan, segera saja dia menghampiri Ne Zha dan bersujud dihadapan pemuda tersebut.
"Bangunlah, setahuku hubunganmu dengannya tidak seperti pelayan dan tuan, kau hanya orang yang sempat ditolongnya sekali," ujar Ne Zha.
Pria tua itu bangun dan menatap Ne Zha, wajah Ne Zha masihlah sama, dingin dan datar.
Setelah beberapa saat pria tua itu menghela napas dan menjelaskan, dalam pertolongan Harimau Suci padanya saat itu dia berhasil menjadi Roh Alam, karena jika tidak maka dia akan mati karena tidak sanggup menahan kekuatan Petir Penyucian.
Butuh waktu yang lama untuk pria tua itu menceritakan kisahnya dengan Harimau Suci, Ne Zha bahkan sampai menguap mendengarkannya.
"Aku akan segera membuat tiga Herbal Roh itu menjadi tingkat Raja, apakah ada yang lain?" kata pria tua itu setelah merasa puas bercerita.
"Teratai Hujan dan Bunga Matahari Elemen, kau memilikinya?" Ne Zha membutuhkan dua Tanaman Sihir tersebut, sangat sulit untuk mencarinya, tapi dia yakin Kacang tua itu memilikinya.
Pria tua itu mengangguk dengan penuh semangat, persediaannya memiliki cukup banyak kedua Tanaman Sihir tersebut.
Tidak banyak berpikir pria tua itu memberikan seluruh Teratai Hujan dan Bunga Matahari Elemen yang dimilikinya pada Ne Zha.
Hal ini tentu mengejutkan Ne Zha, tidak pernah dia sangka bahwa dua Tanaman Sihir langka ini dimiliki hingga jumlah ribuan pada tangan pria tua tersebut.
"Sangat sulit untuk menumbuhkan mereka, tapi aku tidak perduli jika itu keinginan Tuan Muda." Pria tua itu tersenyum lebar.
***
Qin berhasil melewati lantai tiga dan empat, kini dia tengah berada di lantai lima, lantai terakhir dari Pagoda Mimpi Buruk.
Pertemuannya dengan sang guru membuat Qin belajar tentang sebuah kehidupan di dunia, Qin belajar banyak dari lantai tiga dan lantai empat.
Disana bukan hanya terdapat sebuah ujian, tapi juga sebuah pembelajaran yang sangat berharga untuk Qin. Ilmu pengetahuan Qin semakin meluas terhadap kehidupan dan takdir. Tentu hal ini sangatlah menguntungkan dirinya sebagai pemilik mata Takdir.
Kini Qin berdiri di tengah ruangan lantai lima, tidak ada apapun di ruangan ini selain sebuah altar kosong dihadapan Qin sekarang.
Tidak tahu apa yang harus dilakukannya untuk saat ini karena selama menjalani ujian empat lantai sebelumnya semuanya berjalan menuntunnya.
Tapi kini seperti Qin harus mencari sendiri ujian terakhir dari lantai lima Pagoda Mimpi Buruk.
"Apa yang harus kulakukan?" batin Qin bingung setelah berjam-jam dirinya berdiri di hadapan altar.
"Selamat Qin, kau lulus ujian Pagoda Mimpi Buruk, silahkan pilih hadiahmu." Sosok pria paruh baya yang berada di lantai satu tiba-tiba muncul dan membawa dua kotak pada tangan kanan dan kirinya.
"Apakah ini ujian?" tanya Qin.
Pria paruh baya itu tersenyum ramah pada Qin, "Bukan, ini bukanlah ujian. Pagoda Mimpi Buruk hanya menguji pada lantai satu hingga lantai empat, lantai lima adalah untuk pemberian hadiah karena telah berhasil melewati empat lantai sebelumnya."
Qin masih sulit untuk mempercayai pria paruh baya tersebut.
"Aku sudah tahu apa yang kau inginkan, maka terimalah ini." Seolah mengetahui bahwa Qin tidak mempercayainya pria paruh baya itu membuka kotak yang ada di tangan kanannya.
Terdapat sebuah Koin berwarna perak dengan motif kuno disana, sekilas Koin perak itu terlihat hanya seperti Koin perak biasa, tapi tidak bagi Qin. Mata gadis kecil itu memancarkan sinar kebahagiaan melihat Koin tersebut, seolah menemukan harta terbaik di dunia.
Reaksi Qin membuat pria paruh baya itu terkekeh, dia segera mengambil Koin Perak tersebut lalu memberikannya pada Qin.
Tangan Qin bergetar ringan dipenuhi rasa senang saat menerima koin perak tersebut, dia merasakan sebuah hubungan pada koin tersebut ketika menyentuhnya.
"Sekali lagi selamat," ucap pria paruh baya tersebut.
Qin mengangguk dan mengucapkan terimakasih, bagaimanapun koin yang diinginkannya telah diberikan oleh pria paruh baya tersebut.
"Sampaikan salamku pada pemilik baru Pagoda Mimpi Buruk," pinta pria paruh baya tersebut.
"Baiklah aku akan menyampaikan salammu," balas Qin.
Tiba-tiba pandangan Qin menggelap lalu muncul di sebuah tempat, matanya melihat sekeliling dan hanya menemukan sebuah gunung dan pulau-pulau yang mengambang di udarah.
***
**Bacotan Pengetik :
Hey yo!!! inilah Crazy Update yang disponsori Album baru Blackpink!!!
__ADS_1
Bonus Update : 03/18**