
Yang dimasukan Han Xiao adalah Pil yang diolah dari Buah Neraka oleh Ne Zha, walaupun memiliki lima puluh persen khasiat asli dari Buah Neraka namun itu sudah lebih dari cukup untuk meledakan kultivator Alam Raja dengan kandungan Qi nya.
Patriark Sekte Jurang Racun segera khawatir dengan keadaan dari muridnya, bukan karena apa, muridnya ini adalah seorang jenius yang memiliki Istana Surga. Sebuah aset tersebesar dari Sekte Jurang Racun untuk mendapatkan hadiah besar dari Akademi. Jika muridnya mati maka musnah sudah harapan mereka.
"Tuan muda, apakah yang kau lakukan tidak terlalu berlebihan." Patriark Sekte Jurang Racun berkata dengan dingin, dalam hatinya melonjak tekad untuk membunuh dua pemuda dihadapannya ini.
Ne Zha dan Han Xiao dengan santai terbang dan mendarat pada kapal besar tersebut, dari nada Patriark tersebut sudah jelas terkibar sebuah bendera perang.
"Ini masih dalam batas menurutku, namun jika Patriark ingin mencoba hal buruk maka aku akan meladenimu," ujar Han Xiao dengan senyuman yang lebar dan riang.
Jika Ma Liqin melihat senyum Han Xiao maka dia akan lebih memilih lari secepat mungkin, karena dia telah melihat sendiri apa arti dari senyum tersebut. Sebuah senyum pembantaian.
"Kau yang memintanya!" Patriark Sekte Jurang Racun menyerang Han Xiao, dia berpikiran untuk menundukan Han Xiao dan menyuruh pemuda itu mengeluarkan pil dari dalam tubuh muridnya.
Patriark Sekte Jurang Racun yakin bahwa Han Xiao akan mudah dia tangani karena tidak ada Petapa Gila disini.
Han Xiao dan Ne Zha saling berpandangan sebelum tersenyum, akan ada peregangan otot kali ini untuk mereka sebelum memulai Pertarungan Keajaiban.
BOOOOM!!!
Serangan Patriak sekte jurang racun bertemu dengan tinju Han Xiao, sebuah gelmbang kejut tercipta membuat murid dari sekte jurang racun disekitarnya terpental mundur.
Mata pemuda berjubah emas tadi membelalak, kini dia sadar bahwa telah menendang baja, melihat bahwa serangan Patriark mereka saja dapat ditahan dengan mudah oleh pemuda riang tersebut.
"Zha!" Han Xiao melompat mundur.
Ne Zha muncul dari balik Han Xiao dan menyerang Patriark sekte jurang racun dengan jurus jari pisau bayangan, Han Xiao juga tidak diam, pemuda itu mengeluarkan jurus andalannya. Tinju penghancur langit.
Patriark sekte jurang racun yang sebeumnya terkejut oleh Han Xiao sanggup menahan delapan puluh persen kekuatannya kini tercengang melihat dua serangan meluncur padanya.
__ADS_1
"Telat," ujar Han Xiao.
Segera saja dua serangan itu mendarat tidak bisa dihadang oleh Patriark sekte jurang racun karena sangat cepat bahkan untuknya yang berada di alam Inti Kosong.
BAAAAM!!!
Patriark sekte jurang racun terpental mundur beberapa langkah sementara dua pemuda yang menyerangnya kini tengah meluncur lagi menyerangnya.
Ketiga orang itu segera bertukar jurus, namun tak sampai dua puluh jurus, sebuah kepala terbang dapat disaksikan oleh para murid yang menonton pertempuran dahsyat tersebut.
"Hey aku bahkan belum menyentuhan tanganku," ujar Ne Zha.
"Kelingkingku keseleo dan memotong lehernya." Han Xiao menggaruk kepalanya.
Murid dari sekte jurang racun bergetar penuh ketakutan, orang terkuat di sekte mereka telah mati bahkan kurang dari dua puluh gerakan dibawah serangan dua pemuda tersebut. Kini mereka mengerti sebutan Ganas yang tersemat pada nama kedua pemuda itu.
Pemuda berjubah emas terduduk lemah melihat Patriarknya mati dengan mudah oleh dua orang yang disinggungnya, secara tidak langsung dialah yang membuat Patriark mati dan mungkin sekte mereka hancur.
Ne Zha berdecak kesal saat Han Xiao mencuri start, segera saja dia mengaktifkan jurus jari pisau bayangan dan mulai membunuh satu persatu murid sekte jurang racun yang ada disini.
Dua tetua yang mendampingi para murid yang akan menjadi peserta juga ikut terbunuh ketika muncul dipermukaaan, belum sempat mereka mengangkat suara namun telah terbunuh oleh pemuda berambut kebiruan dan seorang pemuda berambut hitam legam bagaikan langit malam.
Han Xiao dan Ne Zha gencar mengejar dan membunuh para murid yang berlarian, sesuai janjinya. Han Xiao akan memusnahkan sekte yang melanggar perjanjian saat itu.
Pemuda berjubah emas yang merupakan pemilik Istana Surga dari Sekte jurang racun terduduk lemah melihat satu persatu saudara seperguruannya dibunuh oleh dua dewa pembantai, sungguh jika waktu bisa terulang maka dia akan memilih untuk tidak menembak sebuah kendaraan terbang yang memiliki kecepatan mengerikan serta tampilan yang sangat keren itu. Tapi tetap saja sebuah penyesalan selalu datang pada bagian akhir, karena diawal adalah pendaftaran.
Sebuah derapan langkah yang mendekatinya menyadarkan pemuda itu dalam lamunan, saat ini hanya ada desiran angin yang terdengar, tidak seperti sebelumnya yang didominasi oleh teriakan kesakitan dan keputusasaan.
"Tidak kusangka," suara kekehan kecil itu bagaikan suara malaikat maut bagi pemuda berjubah emas itu.
__ADS_1
Rasa keputusasaan memenuhi tubuh pemuda tersebut, matanya sungguh mengerikan ketika keputusasaan mengendalikannya, dihadapan dua pemuda yang sempat dia singgung sungguh tidak berdaya.
Apa itu Istana Surga? Tetap saja dia tidak berguna dibawah kekuatan dua pemuda tersebut, inilah yang ada dalam pikiran pemuda itu. Rasa yang sangat putus asa membuat sebuah kekuatan bergejolak dalam tubuhnya.
"Kau tahu kau akan mati?" ujar Han Xiao seraya meletakan pisaunya pada tengkuk pemuda tersebut, kekehan terdengar dari Han Xiao saat merasakan aura yang menguar dari tubuh pemuda berjubah emas ini.
Mata pemuda itu memerah, gertakan giginya bisa terdengar saat dia merasakan sebuah kekuatan besar mengaliri tubuhnya.
"Rasakan putus asa itu," bisik Han Xiao pada telinga pemuda berjubah emas itu.
"DIAM!!!" teriak pemuda itu dengan ganas, kini dia merasakan sebuah kekuatan besar dalam tubuhnya ketika putus asa datang padanya, matanya menatap nyalang pada Han Xiao yang kini tengah tersenyum lebar.
"Jika tidak ingin mati maka seranglah aku," ucap Han Xiao seraya merentangkan kedua tangannya seolah siap menerima serangan apapun.
Sekelebat pemandangan pembantaian yang dilakukan oleh Han Xiao dan Ne Zha terlintas di kepala pemuda tersebut, segera dia teringat bahwa pemuda dihadapannya ini telah membunuh Patriark yang jga merupakan gurunya. Rasa keputusasaan langsung membanjirinya lagi.
"SIALAN KAU!!!" Pemuda itu tidak perduli lagi dan menyerang Han Xiao dengan putus asa.
Senyum simpul dapat dilihat dari ujung bibir Ne Zha saat melihat pemuda itu menyerang Han Xiao secara membabi buta karena putus asa.
BOOOM!!!
BOOOM!!!
BOOOM!!!
Ledakan demi ledakan terjadi dan menghancurkan kapal terbang milik sekte jurang racun, pemuda itu tidak menyadari dampak serangannya sangat mengerikan hingga tanpa dia sadari bahwa dia kini sangatlah kuat hingga mampu menyeimbangi kekuatan Patriarknya.
***
__ADS_1
Crazy Up Awal Arc 3 : 3/9