Dua Penguasa

Dua Penguasa
Bab439. Ramalan Takdir Jian


__ADS_3

Pedang Yin Yang benar-benar mendominasi, Monster tingkat 22 saja dilewatinya begitu saja!


Kondisi Huo sudah sangat buruk, lubang pada tubuhnya sudah seperti lubang pada sebuah palung. Sangat besar. Monster Kadal Raksasa itu segera ambruk jatuh dari langit bagaikan meteor jatuh.


Xian Xuenai bersorak senang, dia terbang melesat menuju arah Huo ketika melihat bahwa serangan Resonasi Yin Yang Pedang berhasil melubangi Huo.


Haima sangat terkejut melihat hal yang barusaja terjadi, dia tidak banyak berpikir lagi dan mengumpulkan seluruh Teratai serta keempat Elemen untuk memberikan pertahanan. Dalam pikirannya, kini dia hanya perlu menahan, jika berhasil menhana, dia harus melarikan diri! Siapa tahu dua manusia itu memliki serangan besar lainnya? Hidup milyaran tahun membuat Haima memiliki banyak pengalaman, dia tidak akan meremehkan lawan sekecil apapun.


Han Xiao dan Ne Zha tersenyum ketika melihat usaha Haima, mereka berdua telah menghabiskan seluruh Qi serta Kekuatan Unsur yang mereka miliki untuk serangan tersebut. Jika bukan karena bantuan Pedang Delapan Kejahatan dan Pedang Lima Elemen, mereka berdua akan jatuh terbang bebas kebawah.


Serangan gabungan dari Han Xiao dan Ne Zha tidak bisa diremehkan, Lima unsur Elemen utama serta Delapan unsur kejahatan. Itu kekuatan yang sangat dahsyat! Huo hanya memiliki satu unsur, sedangkan Haima memiliki empat unsur. Namun, tetap saja Haima tidak akan bertahan dari tiga belas Elemen sekaligus.


Pertahanan pertama Haima adalah Tembok Es raksasa, itu segera dihancurkan oleh Pedang Yin Yang, berikutnya ada perisai Air dan Api. Dalam satu hentakan Pedang Yin Yang menerobos, tersisa terakhir Teratai.


Regenerasi Teratai sangat menakutkan, itu sanggup membuat Pedang Yin Yang melambatkan lajunya. Haima terlihat sangat keras ketika melihat Teratai miliknya terus diretas, daya regenerasi dari Teratai pun terlihat mulai melemah karena Pedang Yin Yang.


Baaaaaam!!!


Pedang Yin Yang berhasil menembus Teratai dan langsung menghunus pada Haima, bukan lubang yang terdapat pada tubuh Haima, tetapi bahkan karena lubang itu, tubuh Haima hancur hingga membelah dua.


"Huft... Xuenai bereskan keduanya." Han Xiao berkata sebelum jatuh dari langit karena merasakan sangat lelah. Begitupun dengan Ne Zha dia terjatuh karena sudah tidak sanggup berdiri diatas Pedang mereka.


Bing Xing dan Su Lihwa sangat sigap, keduanya melesat dengan sangat cepat dan menangkap Han Xiao dan Ne Zha.


Han Xiao tersenyum kecil melihat ekspresi khawatir Bing Xing, "Kau khawatir padaku?" tanya Han Xiao dengan nada jahil yang sangat mengesalkan.

__ADS_1


Bing Xing mendengus ringan dan menghiraukan Han Xiao, dia terbang menuju darat dimana Feng Jin, Qin dan lainnya berkumpul.


Su Lihwa juga terbang bersampingan dengan Bing Xing, tidak ada percakapan antara Su Lihwa dan Ne Zha, tetapi jelas dari hawa yang dikeluarkan oleh Su Lihwa. Dia sangat cemas.


Xian Xuenai bergerak sangat cepat, dia berhasil membersihkan jasad Haima dan Huo, kedua Monster itu sudah dia simpan di ruang pribadinya. Tubuh kedua Monster ini sangat bermanfaat.


"Kita pergi sejauh mungkin dari tempat ini, Monster bawahan Haima atau Huo pasti akan gencar mencari kita." Xian Xuenai segera meminta semuanya masuk ke Ruang Pribadi miliknya, kecuali Qin.


"Katakan." Xian Xuenai menatap Qin.


Qin menggaruk pipinya ringan, "Aku tidak mengetahui apa alasannya, seharusnya jika Jian bertemu Han Xiao. Tidak akan ada masalah, kenapa kalian harus memisahkan mereka? Bukankah itu juga bisa menjadi bahan bakar semangat untuk Han Xiao?"


Qin sebelumnya sempat mendapatkan pembacaan Takdir Jian ketika bertemu di perkumpulan Murid Kaisar pada lantai satu. Dia juga sangat terkejut ketika mendengar Jian adalah reinkarnasi dari Ruan Jian.


"Belum waktunya, kau bisa membuat Takdir itu berbelok kan? Kita buat jalan memutar agar tidak bertemu Jian," ujar Xian Xuenai dengan nada yang serius.


Qin termenung, jarang dia melihat Xian Xuenai seperti itu, biasanya gadis itu akan bertindak santai dan ringan. Dia memahami bahwa ini akan menjadi hak yang sangat serius, Qin tidak punya pilihan lain, gadis itu mengangguk untuk mengiyakan.


"Pertemuan Han Xiao dan Jian terjadi empat ratus tahun lagi, selama waktu ini kita jangan menginjakan daerah Barat, atau kita akan cepat bertemu dengannya." Qin mulai memberikan arahan pada Xian Xuenai setelah membaca Takdir Jian. Tidak sulit baginya untuk membaca Takdir Jian.


Xian Xuenai mengangguk, "Baiklah, sekarang kau beristirahat. Aku akan pergi menuju timur."


Qin masuk ke ruang pribadi Xian Xuenai, selepas Qin masuk. Xian Xuenai langsung melesat membelah waktu untuk secepat mungkin menuju Timur.


***

__ADS_1


"Bang kau tau siapa dia?" Feng Jin tersenyum lebar seraya menunjuk sesosok gadis yang sangat menggoda.


Tatapan Bing Xing sengit saat melihat sosok tersebut, itu tak lain adalah Fan Meirong!


"Kau yang dijuluki Dewi Sejuta Racun? Sayang sekali kau harus bertemu Iblis Racun," kekeh Han Xiao seraya berjalan menuju Fan Meirong.


Fan Meirong menatap ngeri pada Han Xiao, dia jelas melihat Han Xiao dan Ne Zha membunuh Monster tingkat 22, walaupun kedua Monster itu terluka parah. Akan tetap sulit membunuhnya saat berada di ranah Dewa Sejati dan Alam Raja Abadi.


Tangan Han Xiao bergerak menyentuh rambut Fan Meirong, tidak lama sebuah tangan menepis menjauhkan tangan Han Xiao dari Fan Meirong.


"Jangan sentuh dia," suara dingin muncul di samping Han Xiao.


Han Xiao kembali terkekeh ketika melihat Bing Xing yang posesif padanya, "Kenapa? Tubuhnya banyak racun? Itu tidak akan mempan padaku," ujar Han Xiao. Namun, dia segera mendapatkan tatapan tajam dari Bing Xing.


Han Xiao menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Baiklah, aku hanya ingin memberikan hukuman padanya."


Kepala Bing Xing menjadi kebas saat mendengar kata 'Hukuman' yang terlontar dari mulut Han Xiao, masih hangat di kepalanya bagaimana Mo Yanjing menerima 'Hukuman' dari Han Xiao.


"Hehehe, kakak cantik. Kau lebih baik memohon ampun dari sekarang, atau menyerahkan diri untuk menjadi budak Abangku. Jika tidak, hukuman yang diberikannya akan lebih buruk dari kematian itu sendiri." Feng Jin berkata santai saat menghampiri Fan Meirong. "Aku bahkan ragu Abangku akan membiarkanmu mati saat menjalani hukuman," bisiknya.


Fan Meirong akan kebal terhadap kata-kata seperti itu jika orang lain yang mengatakannya, tetapi Feng Jin. Entah bagaimana itu terasa sangat nyata dan tidak ada ancaman, seolah apa yang dikatakan gadis itu memang sebuah kenyataan dan kejujuran.


***


Uodate Mingguan : 10/14

__ADS_1


__ADS_2