
Ne Zha dan Feng Jin menelusuri hingga akhirnya menemukan sebuah gerbang besar yang terbuka, Feng Jin bersorak senang, sementara Ne Zha tetap diam.
Memang, mereka menemukan Gerbang untuk memasuki Tembok ini, tapi akan jadi sangat aneh karena itu terbuka begitu saja. Ne Zha segera menghubungi Qin dan Bing Xing.
"Kita tunggu Bing Xing dan Qin datang terlebih dahulu," ujar Ne Zha lalu duduk bermeditasi.
Feng Jin menuruti perkataan Ne Zha, gadis itu turun dari Serigala dan bermain dengan Serigala tersebut di sekitaran gerbang. Tidak masuk kedalam sesuai permintaan Ne Zha.
***
"Keberuntungan mereka sangat baik." Qin tertawa kecil sebelum mengeluarkan Teratainya dan membawa BIng Xing melesat dengan sangat cepat ke arah Ne Zha dan Feng Jin.
Dengan kecepatan Teratai Qin, mereka tidak butuh waktu lama untuk sampai di gerbang utama. Alis Qin menaik saat melihat gerbang yang terbuka, setahu dirinya setelah menelusuri Jalan Takdir Kadal Magma, gerbang ini sudah tertutup dari jutaan tahun yang lalu setelah Kadal Magma keluar dari sana.
"Ada seseorang yang telah membukanya." Qin menyentuh gerbang dan menggunakan Mata Takdirnya.
"Itu berarti ada orang lain yang masuk terlebih dahulu sebelum kita?" Feng Jin bertanya.
Qin mengangguk ringan, dia segera mengajak mereka untuk masuk kedalam dan tidak membuang waktu lagi. Kemungkinan besar orang yang sudah masuk kedalam adalah murid Kaisar.
Ketika mendengar murid Kaisar, mata Bing Xing segera menjadi sangat dingin. Langkah nya lah yang masuk terlebih dahulu menuju Gerbang tersebut.
Ne Zha hanya menggelengkan kepalanya ringan, dia masih merasakan dendam yang dalam pada diri Bing Xing walaupun gadis itu mengetahui bahwa Han Xiao masih hidup.
"Ayo," ajak Ne Zha lalu melangkah mengikuti Bing Xing.
***
Saat langkah mereka masuk kedalam Gerbang, sesuatu yang menyambut pandangan mereka adalah kuil-kuil kecil yang sangat banyak. Tidak hanya kuil kecil, terdapat juga ukuran yang besar.
Semakin menuju pusat, semakin besar bangunan Kuil, Ne Zha terpana karena tempat ini mirip dengan Keajaiban Dunia yang ada di Negaranya dahulu.
"Ini bukan sekedar bangunan, tetapi sebuah formasi." Ne Zha sudah menganalisanya setelah menginjakan kaki masuk kedalam.
__ADS_1
Terdapat ratusan ribu Kuil kecil, lalu ribuan Kuil sedang, ratusan kuil besar dan ada lima Kuil Raksasa yang berada di pusat. Ne Zha sudah berada di Alam Raja Abadi, hingga kesadarannya bisa membentang sejauh mungkin.
Luas tempat itu Ne Zha perkirakan seluas Benua Eropa di dunianya dahulu, tempat ini saja sudah bisa menjadi tempat berbagai Negara berdiri! Tidak bisa dibayangkan seberapa luasnya Alam di lantai lima ini. Maka dari itu, bukan hal aneh jika Ne Zha sulit menemukan Su Lihwa dan Xian Xuenai. Keberuntungan besar juga Ne Zha bisa dipertemukan dengan Feng Jin secepat ini.
Ne Zha sendiri yakin, kesadarannya bisa meliputi seluruh Bumi jika dia berada di dunia lamanya itu, sehingga untuk meliputi tempat ini bukanlah hal yang sulit bagi Ne Zha.
"Tempat ini memang sebuah formasi, tidak ada yang berharga di seluruh tempat ini selain Lima Kuil utama di pusat," ujar Ne Zha setelah memeriksa keseluruhan tempat ini.
"Kau sudah menemukan orang yang masuk kedalam ini sebelum kami?" tanya Bing Xing.
Ne Zha menunjukan senyum kecil yang nyaris tidak terlihat pada sudut bibirnya, "Mereka berada di salah satu Kuil utama."
SWOSH....
Bing Xing segera menghilang dari pandangan Feng Jin, Ne Zha dan Qin.
"Dendamnya sungguh besar ya?" Qin terkekeh sebelum pergi mengikuti arah perginya Bing Xing.
Ne Zha sendiri sudah memperhitungkan hal ini, sementara Feng Jin tengah terperangah, dia terkejut atas reaksi Bing Xing yang sangat cepat itu. Juga Feng Jin bisa merasakan hawa membunuh yang sangat kuat dari tubuh Bing Xing.
Ne Zha menggelengkan kepalanya ringan, dia paham akan perasaan Bing Xing, betapa hancurnya pada saat melihat kehancuran Han Xiao dahulu, biarpun kini mereka mengetahui Han Xiao masih hidup, tetapi mereka tidak mengetahui kondisi pasti Han Xiao. Ne Zha hanya menghela napas ringan sebelum melesat pergi ke arah Bing Xing menghilang.
***
TRAAANG!!!
BAAAAAM!!!
Suara aduan senjata terdengar sangat nyaring, sepasang pemuda dan dan gadis bekerja sama untuk melawan seorang gadis yang membawa Sabit besar.
"Sudah kubilang, kami tidak terlibat dalam penyerangan itu! Kami bahkan tidak mengenal siapa itu Han Xiao!" teriak gadis yang berada di samping pemuda ketika berhasil menarik mundur dirnya bersama sang pemuda. Tatapannya menjadi sangat sedih karena Golok di tangannya kini terbelah dua akibat serangan Sabit besar milik gadis berjubah putih di depannya.
"Tidak terlibat? Lalu kenapa aura Han Xiao ada pada kalian?" suara lain muncul bersamaan dengan Teratai berwarna emas yang turun dari langit.
__ADS_1
Sepasang pemuda dan gadis itu terlihat bingung dengan perkataan sesosok gadis yang baru saja datang itu. Yang tidak lain adalah Qin.
Gadis yang membawa Sabit besar adalah Bing Xing dengan Sabit Dingin, tatapannya menjadi sangat dingin, jelas dia juga merasakan aura Han Xiao pada kedua orang tersebut.
Bing Xing melayangkan sebuah serangan mematikan pada kedua orang tersebut, serangan ini sangat mengerikan. Tidak hanya berisi kekuatan dari Sabit Dingin, tetapi juga Api Cinta. Api Langit terkuat!
BAM!
Adegan mengejutkan terjadi, serangan mengerikan Bing Xing dihalau dan lenyap begitu saja. Bing Xing yang kebingungan segera mengarahkan pandangannya ke arah serangan yang melenyapkan serangannya.
"Ne Zha, apa yang kau lakukan?" Bing Xing berkata dengan heran.
"Jangan bunuh mereka," ucap Ne Zha santai lalu mendekati kedua orang tersebut.
"Guoyu murid Kaisar Bintang, dan kau?" Ne Zha mengarahkan pandangannya pada sang gadis lalu pada pemuda.
"Yan Zhong, murid Kaisar Kayu" kata pemuda tersebut.
Ne Zha menganggukan kepalanya ringan, dia memang merasakan kekuatan kehidupan yang sangat kuat pada Yan Zhong.
Sementara itu Yan Zhong merasakan tubuhnya gemetar, dia mengenali aura yang menguar dari Ne Zha, walaupun itu sudah ratusan tahun. Tetapi Yan Zhong mematri dalam kenangannya.
"Kau adalah penghuni Ruang Pribadi nomor satu di Pelelangan Sungai Kematian!" Yan Zhong berseru penuh kejutan saat mulai menyadari hal tersebut, dia juga mengingat suara yang mengandung nada malas dan dingin Ne Zha.
Ne Zha menatap lebih dalam pada Yan Zhong, dia juga langsung memverifikasi bahwa Yan Zhong lah orang yang berebut Plat Ungu dengan Han Xiao, dan dia jugalah yang uangnya diperas habis-habisan oleh Han Xiao pada lelang Sungai Kematian.
***
Bacotan Pengetik :
Weh kelar ini revisiannya, semoga suasana hati membaik dan kondisi dompet membaik. Pengetik akan beri Update Bonus.
Babay!
__ADS_1
I hope you enjoy...
Update mingguan : 05/14