Dua Penguasa

Dua Penguasa
Bab224. Sakit tidak berdarah


__ADS_3

Ketika malam semakin larut, Ne Zha yang masih berada di jamuan memilih untuk undur diri dan kembali ke kamarnya.


Para murid kelas S berulangkali menahan Ne Zha, namun pemuda itu menolak dengan cara halus. Dia mengetahui bahwa mereka semua tulus padanya, namun saat ini dia benar-benar ingin beristirahat, esok hari dia harus membimbing Ren Yanyu agar mendapatkan kesempatan untuk membuka Istana Dao.


Tangan pemuda itu bergerak menyentuh knop pintu, namun sebuah perasaan tidak nyaman memenuhi dirinya, "Perasaan ini, jangan bilang?" Ne Zha sangat akrab dengan firasat yang dia rasakan saat ini, segera dia membuka pintu kamar.


Mata Ne Zha segera mendapatkan pemandangan dari Han Xiao dan Bing Xing yang sedang tidur, pemuda berambut biru itu dengan sikap posesif memeluk Bing Xing, seolah takut kehilangan sesuatu, sedangkan Bing Xing kini tertidur pulas didalam pelukan Han Xiao.


Ne Zha menggaruk kepalanya, firasatnya kali ini sedikit meleset, biasanya jika dia merasakan firasat tersebut, pasti didalam kamar Han Xiao sedang bercinta dengan gadis, persis seperti di dunia lamanya dulu. Namun sekarang, sepertinya hal itu tidak terjadi, Han Xiao hanya tertidur dan memeluk Bing Xing, melihat bahwa pakaian dua insan itu masihlah rapih tanpa kusut Ne Zha menghela napas. Han Xiao tidak melakukan hal berlebihan pada Bing Xing.


Pemuda berambut hitam legam itu memilih untuk kembali menutup pintu kamar, dia berjalan menuju ruang tamu, sofa disana sangatlah besar, cukup untuk Ne Zha tidur terlentang, bahkan itu mencukupi untuk ditiduri oleh dua orang sekaligus.


Ne Zha melambaikan tangannya, sebuah bantal besar serta selimut tebal muncul di tangannya, pemuda itu menaruh bantal diatas sofa lalu membaringkan kepalanya disana.


"Hoaaaam... Kenapa semengantuk ini?" gumam Ne Zha sedikit heran, namun dia menghiaraukan hal tersebut, mungkin ini faktor tubuhnya yang terbiasa tidur di dunia lamanya, mengingat dia jarang tidur selama dua minggu ini.


Setelah memasang selimut pada tubuhnya, Ne Zha segera terlelap dalam buaian alam mimpi, ketika pemuda itu sudah terlelap, ada sesosok gadis datang ke ruang tamu, jubah longgar khas nya serta proporsi wajah yang cantik selalu menjadi tampilan dari Xian Xuenai.


Gadis itu tersenyum puas ketika melihat Ne Zha tertidur lelap, dengan segera dia menyelusup masuk kedalam selimut Ne Zha dan berbaring memeluk pemuda itu diatas sofa. Wajah gadis itu sangat senang dan bahagia ketik dia berhasil memeluk pemuda tersebut, dia berkali-kali menciumi wajah Ne Zha.


"Kau terlihat menggemaskan ketika tertidur," gumam Xian Xuenai, gadis itu meletakan kepalanya pada dada Ne Zha lalu ikut terlelap terbuai dalam alam mimpi.

__ADS_1


Klek...


Saat Xian Xuenai tertidur, sesosok gadis lain memasuki ruang tamu, gadis itu memiliki pesona cantik yang berapi-api.


"Zha Yuchun..." Tubuh Su Lihwa segera membeku ketika melihat Ne Zha yang tertidur pulas serta ada Xian Xuenai yang memeluk pemuda itu dengan erat dan terlentang pada dada bidang pemuda tersebut.


Sebuah debaran rasa yang tidak mengenakan muncul pada dada Su Lihwa, hatinya merasakan sebuah sakit yang teramat ketika melihat Ne Zha yang tertidur dalam pelukan gadis lain.


Dia mengetahui bahwa gadis itu adalah adik dari Ne Zha, namun sebagai perempuan, Su Lihwa memiliki hati yang lebih perasa, sebuah pendapat gila muncul dari kepalanya, bagaimana jika Xian Xuenai adalah selingkuhan Ne Zha dan pemuda itu sengaja bekerja sama dengan Han Xiao?


"Inikah yang disebut Han Xiao, sakit tidak berdarah?" batin Su Lihwa seraya menyentuh dadanya, dia merasakan debaran hati yang tidak tenang, seperti sebuah rasa kehilangan, tapi jelas dia mengingat bahwa Ne Zha tidak akan meninggalkannya sehingga dia merasakan kehilangan, namun. Rasa apa ini?


Gadis itu memilih untuk membalikan tubuhnya lalu kembali melangkah keluar dari ruang tamu lalu masuk kembali kedalam kamarnya, sesampainya di kamar. Su Lihwa yang tidak bisa menelaah rasa dalam hatinya meneteskan air mata, namun dia bingung juga, Kenapa dia meneteskan air mata?


***


Keesokan harinya, Ne Zha dibuat bingung dengan prilaku Su Lihwa yang sangat berubah terhadapnya, dia sudah berulangkali menanyakan pada Su Lihwa ada apa dengan gadis tersebut.


"Aku sedang datang bulan." Itulah jawaban yang didapatkan Ne Zha dari Su Lihwa.


Ne Zha tentu bukan lelaki yang bodoh, dia sudah sering memperhatikan Su Lihwa, gadis itu ketika datang bulan bukan marah-marah padanya, tapi tingkat kemanjaan gadis itu bertambah puluhan kali lipat.

__ADS_1


"Hwa'er, aku menghitung jadwal datang bulanmu masihlah lima hari kedepan," balas Ne Zha dengan nada heran.


Su Lihwa tidak kalah heran dengan Ne Zha, semburat merah muncul pada leher hingga pipi Su Lihwa, gadis itu merasakan malu sekaligus senang karena Ne Zha bahkan mengihitung jadwal datang bulannya.


"Kau sungguh tidak memiliki kerjaan? Hingga menghitung jadwal datang bulanku?!" ketus Su Lihwa untuk menutupi rasa senang dan malunya.


Ne Zha menggaruk pipi, dia sebenarnya secara tidak sengaja menghitung jadwal datang bulan Su Lihwa, itu karena setiap tanggal tertentu Su Lihwa pasti akan menjadi sangat manja padanya.


"Kenapa? Apakah aku tidak boleh mengetahuinya? Itu akan menjadi patokanku di masa depan agar memiliki batasan untuk menyentuhmu ketika sudah menikah," ceplos Ne Zha santai, dia mengetahui bahwa Su Lihwa sedang berbohong dan menutupi sesuatu dari dirinya, Ne Zha sekarang hanya bisa menggunakan cara jitu dari Han Xiao, yaitu berkata secara vulgar.


Kembali perkataan Ne Zha membuat Su Lihwa memanas, gadis itu memalingkan wajah tidak kuat untuk bertatapan secara langsung dengan Ne Zha, "Kenapa kau mengatakan hal itu Zha?!" gerutu Su Lihwa dalam hatinya, dia sungguh gemas dengan situasinya saat ini.


"Kau berkata seolah benar-benar akan menikahiku nanti," ketus Su Lihwa.


Hidung Ne Zha segera mencium wangi yang tidak asing dari tubuhnya, dia mengutuk pelan ketika mengenali wangi ini, kemungkinan besar inilah yang menjadi masalah dari Su Lihwa, melihat gadis itu merajuk dengan kesal seperti itu pastilah semalam Su Lihwa melihatnya dia tertidur dengan Xian Xuenai.


'"Hwa'er, apa yang kau katakan? Sudah pasti bukan aku akan menikahimu, atau bahkan kita akan melakukan resepsi pernikahan dalam waktu dekat? Baiklah, sudah kuputuskan kita akan menikah sebelum pergi ke Benua Kayu Tengah," ujar Ne Zha.


Su Lihwa yang ingin mengeluarkan argumen segera terbungkan dan diam, matanya menatap Ne Zha, gadis itus seolah mencari kebohongan dari ekspresi Ne Zha, namun dia tidak berhasil menemukan hal itu, yang dia temukan adalah sebuah keseriusan yang sangat dalam. Gadis itu meringis pelan, apakah perasaannya semalam hanya sebuah respon cemburu berlebihan?


***

__ADS_1


Update Mingguan : 10/14


__ADS_2