Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Not Care


__ADS_3

Sementara itu di kampus Ara...


Sang dosen teknik sipil tampak menyendiri di dalam ruangannya. Ia duduk sambil menggabungkan jari-jemarinya dengan pandangan tak percaya atas kabar yang diterimanya. Hatinya terasa retak, tak beraturan setelah Ara mengatakan sudah akan menikah. Ia masih tak percaya jika kabar itu benar adanya.


Aku akui jika awalnya kurang tertarik padanya. Awal pertemuan kami hanya sebatas menolongnya saja. Tapi kenapa semesta mempertemukan kami kembali? Yang akhirnya aku malah tertarik padanya?


Lee beranjak dari duduk, mencoba melihat ke luar jendela yang dipenuhi rerumputan hijau dan bunga-bunga. Bak hamparan permadani yang membuat hatinya ingin merebahkan diri di sana.


Lee mengakui jika hanya sebatas menolong Ara saat pertama kali bertemu. Sudah merupakan kewajiban sebagai sesama manusia untuk saling tolong-menolong dalam kebaikan. Tapi, semesta kembali mempertemukan mereka di taman dekat air mancur Kota Dubai. Hal itulah membuat sejuta tanya mencuat dari dalam hatinya. Kenapa harus dipertemukan kembali dengan Ara?


Walaupun secara tidak sengaja, Lee percaya jika tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini. Ia merasa ada sebuah rahasia yang semesta berikan kepadanya tentang sang gadis. Namun, lagi-lagi ia hanya manusia biasa yang tidak dapat mengerti sepenuhnya. Dan akhirnya ia hanya bisa merenungi apa yang terjadi pada hatinya.


Ara ... andai waktu bisa diputar, aku ingin mengenalmu lebih jauh sebelum hari ini.


Angin sore menemani kegundahan hatinya karena sang gadis. Senyum Ara seolah tak bisa diusir dari kepalanya. Suara merdu, tatapan mata, dan tingkah Ara selalu teringat di benaknya. Lee kepincut dengan semua yang Ara punya.


Di kelas seni...


Dua orang gadis sedang duduk di dalam kelas seni kampus. Satu mengenakan kaus merah, satu mengenakan kaus putih, dengan celana jeans biru sebagai bawahannya. Mereka sedang melihat foto-foto sore ini. Tersirat wajah tak percaya dari keduanya.


"Jasmine, kau tidak salah menyuruh orang, kan?" Gadis berkaus merah bertanya kepada gadis berkaus putih.


"Aku tidak salah. Beberapa hari ini orang suruhanku berhasil membuntuti gadis itu. Memangnya kenapa Rose?" Jasmine, gadis berkaus putih bertanya.


"Tidak. Aku hanya heran saja. Bagaimana bisa dia tinggal di apartemen mewah jika berasal dari kalangan bawah? Aku jadi penasaran." Rose heran sendiri.


"Kalau ingin tahu siapa dia sebenarnya, kenapa tidak kita tanya Taka saja? Bukannya Taka amat dekat dengannya?" Jasmine memberikan saran.


"Kau benar, Jasmine." Rose menoleh. "Kita cari Taka sekarang."


Rose kemudian mengajak Jasmine untuk menemui Taka. Mereka mencari di mana pemuda berkebangsaan Jepang itu berada. Dan setelah mencari-cari, ternyata Taka sedang bersama kedua temannya di lapangan basket. Mereka baru saja selesai latihan bersama. Rose dan Jasmine pun masuk ke dalam gedung lapangan basket, mendekati Taka yang sedang duduk-duduk di pinggir lapangannya.


Di lapangan basket dalam ruangan...


"Taka!" Rose berteriak dari pintu masuk.

__ADS_1


Taka yang sedang mengobrol dengan teman-temannya pun menoleh ke asal suara. Ia melihat jika Rose lah yang memanggilnya. Namun, setelah melihat siapa yang memanggil, Taka mengabaikannya.


"Hei, kau mengabaikan duo kampus, Taka." Ken memperingatkan, ia duduk di samping Taka.


"Biar saja. Mereka dekat tidak menguntungkan, jauh pun tidak merugikan." Taka meneguk botol air mineralnya.


"Awas jatuh cinta." Nidji pun mengingatkan.


"Hih, kalaupun harus jatuh cinta bukan dengannya," jawab Taka.


"Lalu dengan siapa?" tanya Nidji.


"Dengan Ara," jawab ketiganya serempak. Mereka pun tertawa bersama.


"Kau kepincut dengan gadis asal Indonesia itu, ya?" Ken ingin tahu.


"Hm, ya. Mungkin." Taka menekuk satu kakinya. "Dia mempunyai kepribadian yang unik," kata Taka lagi.


"Unik?" Nidji antusias mendengarnya.


"Hei, kalau dia tidak suka padamu, bagaimana?" Nidji menggoda Taka.


"Kalau tidak suka ... ya sudah. Lagipula cinta tidak harus memiliki." Taka pun pasrah.


"Hahahaha. Dasar pecundang!" Kedua temannya menertawakan.


Karena kedatangan Rose tidak digubris oleh Taka, Rose pun nekat menghampiri Taka ke lapangan basket. Ia bersama Jasmine berjalan cepat ke mana ketiga pemuda asal Jepang itu berada.


"Taka! Aku memanggilmu!" Rose bertolak pinggang.


"Heh? Ada apa ya?" Taka beranjak berdiri diikuti kedua temannya.


"Kau ini tidak sopan, dipanggil tidak menjawab!" Rose pun mengerutu.


"Tidak sopan? Hahahaha." Taka tertawa. "Yang tidak sopan itu adalah Anda, Nona Rose." Taka seperti kesal kepada Rose.

__ADS_1


Seketika Rose terdiam saat Taka berani menjawabnya.


Jasmine tidak ingin diam begitu saja. Ia menoleh ke arah Rose yang merah padam karena ucapan Taka. Ia kemudian menggantikan Rose untuk bertanya.


"Taka, kami mempunyai beberapa pertanyaan untukmu. Satu pertanyaan untuk satu minggu makan gratis di restoran cepat saji. Kau berminat?" Jasmine bertanya kepada Taka. Mereka saling berdiri berhadapan di pinggir lapangan basket dalam ruangan ini.


"Wah, Taka. Jawab saja!" Nidji terlihat tertarik.


"Pertanyaan apa memangnya?"


Taka balik bertanya sambil melihat Rose yang memalingkan pandangan darinya. Tapi ia biasa-biasa saja. Ia kembali beralih kepada Jasmine karena merasa mendapatkan tawaran menarik.


"Aku ingin menanyakan tentang gadis yang biasa bersamamu." Jasmine berterus terang.


"Maksudnya Ara?" Nidji dan Ken saling melirik.


"Ya, dia. Sebenarnya dia siapa? Kenapa bisa tinggal di apartemen mewah?" tanya Jasmine kepada Taka dengan sombongnya.


"Oh, jadi hal itu yang ingin kalian tanyakan padaku." Taka menyadari mengapa duo kampus ini mendatanginya. "Maaf, aku tidak tahu. Jika tahu pun aku tidak akan memberitahukannya kepada kalian." Taka masa bodoh. "Ayo, Ken, Nidji!" Taka mengajak kedua temannya segera keluar dari lapangan basket.


Seketika perempatan urat muncul di dahi Rose dan juga Jasmine saat melihat Taka berlalu begitu saja, setelah mengambil tas olahraga mereka sendiri. Rose merasa kesal karena Taka tidak menanggapinya dengan baik.


"Jasmine! Dia sudah berani kurang ajar kepada kita!" Rose merasa geram.


"Apa yang ingin kau lakukan padanya?" Jasmine bertanya kepada Rose sambil melihat kepergian Taka dan teman-temannya dari lapangan.


"Lihat saja! Aku akan bilang kepada ayah untuk mencabut bea siswanya. Aku tidak terima diperlakukan seperti ini olehnya!" Rose berapi-api.


Jasmine memasang wajah lugu di hadapan Rose. "Baiklah, aku ikut denganmu."


Jasmine kemudian mengikuti ke mana langkah kaki Rose pergi. Ia mengekor kepada gadis berambut merah tersebut. Sedang Rose, ingin segera menemui ayahnya untuk mencabut bea siswa Taka di kampus.


Baru kali ini ada yang berani mengabaikanku!


Rose berjalan cepat ke parkiran. Ia masuk ke dalam mobilnya, Jasmine pun mengikuti. Keduanya segera melaju ke kantor sang ayah yang ada di gedung tertinggi di dunia, Burj Khalifa. Rose akan mengadukan perihal perbuatan Taka kepada ayahnya. Sedang Jasmine diam saja sambil memainkan ponselnya di samping Rose. Ia tidak berani menegur Rose di saat marah seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2