Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Healing


__ADS_3

"Nona Lily, izinkan aku membantu proses pengobatanmu."


Ara meminta izin terlebih dulu. Ia kemudian mulai menotok tubuh Lily dengan ujung tusuk kondenya yang tumpul. Ia melakukan sama persis seperti yang dicontohkan oleh Tabib Hu. Lama kelamaan tubuh Lily pun berubah menjadi biru.


Astaga ...?!


Ara tak percaya, dengan beberapa totokan saja bisa membuat tubuh Lily membiru. Ia pun meneruskan sampai ke bagian tubuh Lily yang lainnya. Dari bagian pundak, punggung, sisi tulang belakang hingga ke pinggang. Hingga akhirnya Lily mulai memuntahkan apa yang ada di dalam perutnya.


"Astaga?!!"


Para pelayan perempuan yang ada di tempat itu seketika terkejut melihat Lily tiba-tiba tersadarkan lalu memuntahkan cairan hijau. Mereka kemudian segera membantu Lily agar dapat mengeluarkan semua cairan itu. Tusuk konde Ara pun berkelap-kelip, seolah menandakan jika pengobatan harus tetap dilakukan hati-hati. Lily sudah bangun, namun ia belum tersadar penuh.


"Selanjutnya!"


Ara pun dengan sigap melakukan tahap pengobatan selanjutnya. Dua pelayan perempuan mendudukkan Lily lalu Ara mulai menusukkan ujung tusuk kondenya ke beberapa bagian dada, area jantung, lambung dan juga perut gadis itu. Sontak kedua mata Lily terbuka lebar. Ia seperti terbangun dari tidur lamanya. Para pelayan yang hadir pun segera menghindar begitu melihat keadaan Lily. Mereka tampak ketakutan. Namun, Ara tetap berusaha tenang.


Ini aneh. Ini bukan seperti dirinya. Lalu siapakah yang ada di dalam tubuhnya?


Mau tak mau Ara berpikiran lain tentang gadis itu. Ia pun memundurkan langkah kakinya, menjaga jarak dari Lily. Gadis itu kemudian beranjak berdiri dengan kedua mata yang terbuka lebar. Ia seperti ingin memegang Ara.


"Siapapun dirimu, tolong keluar dari raga Lily. Ini bukan tempatmu!" Ara berkata tegas.


Kedua mata Lily menatap tajam ke Ara. Namun, lambat laun pandangan matanya menjadi lemah. Saat itu juga Ara meminta pelayan untuk menahan tubuh Lily agar tidak sampai jatuh. Para pelayan pun dengan sigap menahan tubuhnya. Mereka melupakan apa yang terjadi tadi. Lily pun kembali tidak sadarkan diri.


Ya Tuhan, bantu kami dalam prosesi pengobatannya. Hanya dengan izin-MU semua bisa terlaksana dengan baik.

__ADS_1


Ara berdoa. Ia terus berdoa agar prosesi pengobatan ini bisa berjalan dengan lancar dan tanpa kendala. Sementara di balik tirai putih Pangeran Agartha terlihat amat cemas. Ia ingin melihat apa yang terjadi pada Lily. Tapi, Tabib Hu melarangnya.


"Tunggu Pangeran! Anda tidak boleh ke sana. Biarkan Nona Ara yang menanganinya. Jangan sampai membuat proses pengobatan ini gagal. Bersabarlah."


Tabib Hu berpesan kepada pangeran agar tidak mengganggu prosesi pengobatan dengan kehadirannya. Ia cukup menunggu di balik tirai sampai Ara memanggilnya. Karena prosesi pengobatan membutuhkan konsentrasi tinggi agar kekuatan alam bisa membantu proses penyembuhannya. Mereka tidak mempunyai banyak waktu karena kondisi Lily yang semakin memburuk. Semakin cepat proses penyembuhan dilakukan, semakin baik untuk keselamatannya.


Akhirnya, baik pangeran, Tabib Hu maupun Rain tetap berada di balik tirai agar tidak mengganggu proses pengobatan. Mereka menjaga jarak sekitar tiga puluh meter dari tirai tersebut. Karena kalau tidak, bisa saja mengacaukan konsentrasi Ara dalam mengingat titik apa saja yang perlu ia tekan dengan cepat. Karena proses pengobatan kali ini tidaklah memakan waktu yang sebentar. Ara pun harus bekerja ekstra untuk mengeluarkan semua racun yang ada di dalam tubuh Lily.


Ara tetap harus berhati-hati dalam proses pengobatan karena bisa saja tubuh Lily ada yang mengendalikan, sehingga membuat dirinya sampai tidak tersadarkan. Ara juga harus tetap menjaga kandungannya dari tindakan Lily yang bisa saja tiba-tiba terjadi. Karena jika tubuh Lily ada yang mengendalikan, secara tidak sadar ia bisa melakukan sesuatu yang membahayakan. Sehingga pengobatan kali ini membutuhkan tingkat konsentrasi yang tinggi.


Tak tahu mengapa Ara juga merasakan aura negatif di sekelilingnya saat kedua mata Lily terbuka lebar. Ia terkejut tapi tetap berusaha tenang. Ia harus tetap fokus menyelesaikan proses pengobatan ini. Tapi apakah benar jika tubuh Lily dalam pengaruh seseorang sehingga ia bisa sampai seperti itu?


Kembali ke dunia sebenarnya...


"Byrne!"


Tiba-tiba terdengar suara seorang pria memanggilnya dari luar seraya mengetuk-ngetuk pintu kamarnya. Byrne pun segera beranjak untuk membukakan pintu. Dan ternyata, Owdie lah yang datang.


"Halo Saudaraku. Bagaimana kabarmu setelah satu hari kutinggal?" Owdie dengan senyum semringah menyapa Byrne.


Pria bersweter cokelat itu belum menyadari apa yang terjadi pada Byrne. Byrne pun seperti tidak sanggup untuk menceritakannya. Andai kata ada Rain, tentunya Byrne akan lebih bercerita kepada Rain dulu. Namun sayang, saudaranya itu belum juga ditemukan.


"Hei! Kau tampak gundah malam ini. Apakah percobaanmu gagal sehingga membuatmu frustrasi?" tanya Owdie lagi sambil membuka kulkas yang ada di kamar hotel Byrne.


Byrne menyewa hotel kelas VVIP selama berada di Kuwait untuk menjamin privasinya. Karena Byrne tidak ingin sampai terganggu orang lain. Bahkan lantai kamar hotelnya berada di paling atas agar terhindar dari keramaian. Ia ingin suasana tenang dan damai karena pekerjaannya amat menyita waktu dan perhatian. Sedang Owdie lebih banyak berpergian untuk melancarkan pekerjaannya. Kedua saudara itu mempunyai bidang pekerjaan yang berbeda. Namun, masih dalam satu tim yang sama.

__ADS_1


"Kakek ... kakek datang menemuiku." Byrne akhirnya membuka suara.


"Apa?!"


Seketika Owdie terkejut. Ia segera menutup pintu kulkas Byrne. Keduanya lalu duduk di sofa tamu kamar itu. Tampak Byrne yang seperti segan mengatakan hal yang sebenarnya. Ia masih bingung haruskah menceritakan hal ini kepada Owdie atau tidak.


"Byrne, kau serius?" Owdie memastikan. Ia tak menyangka jika kakeknya akan datang menemui saudaranya.


Byrne mengangguk pelan.


"Tapi dia tidak menghubungiku jika berada di sini. Apa yang sebenarnya terjadi, Byrne?" Owdie merasa curiga. Ia terlihat penasaran.


Byrne menghela napas dalam-dalam. Ia seperti tertekan. Owdie pun menyadarinya. "Byrne, katakanlah. Jangan membuatku menunggu," pinta Owdie lagi.


Pria berjaket abu-abu itu merebahkan punggungnya ke sofa. Ia menatap langit-langit ruang tamu yang berplafon putih keemasan. Raut wajahnya menyiratkan kebingungan yang luar biasa.


"Kakek ... kakek memintaku untuk memenuhi hasil rapat para pejabat tinggi USA." Byrne akhirnya jujur.


"Apa hasil rapatnya?" tanya Owdie ingin tahu.


Byrne menggerakkan tangannya seolah memegang lampu ruangan yang menggantung. "Kakek memintaku untuk membuat virus dan anti virusnya," kata Byrne lagi.


"Apa?!!" Seketika Owdie terkejut mendengarnya.


Bak petir menyambar di siang hari, Owdie terkejut mendengar kabar yang disampaikan saudaranya. Ternyata kakeknya itu datang hanya karena ingin menemui Byrne dan membicarakan hasil rapat secara langsung kepada saudaranya. Owdie pun terkejut dengan hasil rapat yang Byrne ceritakan. Ia tidak habis pikir jika keputusan akhir rapat memiliki risiko yang besar terhadap peradaban.

__ADS_1


__ADS_2