Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
And Then...


__ADS_3

Sementara itu di manshion Sam...


Di waktu yang bersamaan Nick menggeledah semua dokumen penting milik kakeknya. Ia akhirnya menemukan sebuah dokumen rahasia tentang perjanjian pemilik tahta organisasi. Ia pun membacanya sampai habis. Namun, ia tidak mengindahkan semua konsekuensi dari perjanjian itu. Nick tampak biasa-biasa saja.


"Jadi apa yang dikatakan oleh kakek adalah benar?" Ia tersenyum meremehkan.


Dokumen itu berisi perjanjian tentang siapapun yang memegang tahta organisasi harus menumpahkan darah untuk memperkuat posisinya. Baik secara langsung ataupun tidak. Karena jika tidak dilakukan maka si pemegang perjanjian yang akan kena imbasnya. Secara tidak langsung perjanjian itu menginginkan tumbal sebagai tanda kesepakatan. Dan selama ini Sam telah melakukannya. Ribuan orang harus kehilangan nyawanya.


"Ah, aku tidak peduli jika semua ini ada campur tangan iblis. Tidak masuk akal bagi dunia zaman modern sekarang." Nick meremehkan.


Nick sudah sangat terobsesi dengan tahta organisasi sampai ia tidak lagi memikirkan baik-buruknya jika memegang tahta organisasi tersebut. Padahal Sam telah memperingatkan sebelumnya. Tetapi tetap saja keinginannya itu tidak goyah.


Ada beberapa hal yang tidak bisa dipaksakan, dan ada juga beberapa hal yang datang begitu saja tanpa diminta. Sungguh Tuhan mengetahui apa yang hamba-NYA butuhkan. Tapi Nick seakan tidak peduli dengan semuanya. Bahkan dokumen perjanjian dengan stempel aneh pun ia abaikan.


"Kakek, sekarang aku akan menggantikanmu. Hahaha." Nick tertawa licik di depan meja kerja kakeknya. Saat itu juga ia teringat dengan perbuatannya semalam.


Kemarin malam...


Sam terlihat masih sehat bugar di depan meja kerjanya. Ia tampak sibuk mengurus beberapa dokumen dari berbagai belahan dunia. Nick pun menggunakan kesempatan itu untuk melancarkan aksinya. Ia ingin keinginannya segera terlaksana.


Nick masuk ke dalam ruangan sambil membawakan secangkir kopi untuk kakeknya. Malam itu ia terlihat perhatian kepada sang kakek. Sam pun menyambut kedatangannya dengan sedikit tersenyum karena masih sibuk dengan banyak dokumen. Ia tidak mencurigai kedatangan Nick sama sekali.


"Kek, minumlah. Kopi ini sangat nikmat. Bisa membantu kakek segar terus." Nick menawarkan.


"Taruh saja," pinta Sam yang masih sibuk. Ia tidak menyadari kopi jenis apa yang telah cucunya persiapkan.


Nick pun meletakkan kopi itu di sudut meja kerja Sam. Setelahnya ia segera melangkahkan kaki keluar dari ruangan. Namun, saat hampir memegang gagang pintu, Sam menahannya pergi.


"Kau sudah menimbang ulang perkataan kakek tadi?" tanya Sam sambil menandatangani dokumennya.


Nick menelan ludah. Hatinya harap-harap cemas, takut rencananya ketahuan. "Akan kupikirkan kembali, Kek. Mungkin aku butuh istirahat sejenak untuk berpikir." Nick beralasan.

__ADS_1


"Ya. Beristirahatlah. Pikirkan kembali keinginanmu itu." Sang kakek berpesan.


Nick pun mengangguk dengan masih membelakangi kakeknya. Ia kemudian menarik gagang pintu dan keluar dari ruangan. Ia pun berharap kakeknya bisa segera meminum kopi pemberiannya tersebut. Ia ingin mengakhiri semuanya.


Cepatlah diminum, Kek. Kau sudah amat tua. Tidak layak lagi memimpin organisasi.


Nick meninggalkan ruangan setelah mengantarkan kopi untuk kakeknya. Ia pun bersikap biasa-biasa saja saat keluar dari ruang kerja Sam. Rumah megah nan luas itu ternyata tidak banyak orang yang tinggal di dalamnya. Hanya Nick dan Sam saja yang ada di sana. Dan juga beberapa pelayan manshion Sam. Tak ayal Nick pun bebas melakukan apapun.


.........


"Sekarang tidak ada satupun yang bisa menggangguku di sini. Hahahaha. Rain-rain, lihatlah aku. Tidak ada yang bisa melampauiku sekarang. Semua kepentingan organisasi telah kupegang. Dan akan kupastikan kau tidak akan lagi bisa kembali ke organisasi. Apalagi merebut apa yang kupunya ini. Enyahlah jauh-jauh, Rain!"


Nick adalah Nick. Tabiatnya tidak akan pernah berubah sebelum Tuhan menghukumnya. Hatinya dipenuhi kedengkian yang membuatnya bodoh dan tak mengenal belas kasihan. Padahal Rain sama sekali tidak pernah mengganggu kehidupannya. Tetapi tetap saja Nick merasa terusik dengan kehadiran Rain. Ia sampai berencana untuk melenyapkan Rain selama-lamanya.


Esok harinya....


Hari telah berganti. Waktu pun terus berlalu, mengantarkan Rain dan Owdie tiba di Turki. Keduanya keluar dari jet pribadi milik organisasi tanpa pengawalan yang berarti. Kedatangan keduanya tentu saja mengalihkan perhatian pejabat bandara. Pejabat bandara pun segera bersiap menyambut kedatangan mereka.


Jet pribadi milik organisasi mencuri perhatian pejabat bandara. Sehingga pihak bandara segera melakukan penyambutan seadanya. Tampak Owdie yang menerima telepon dari relasinya. Sedang Rain tetap berjalan santai dalam kewibawaannya. Ia berjalan bersama Owdie menuju pintu masuk gedung bandara untuk melakukan pengecekan barang bawaan.


"Siapa?" Rain pun bertanya karena penasaran.


"Pihak industri hiburan di Kuwait. Mereka menanyakan keberadaanku," jelas Owdie.


"Kau diminta kembali?" tanya Rain lagi sambil berjalan bersama Owdie memasuki gedung bandara.


"Ya. Tapi itu nanti. Aku ingin menyelesaikan urusanku terlebih dulu agar hatiku tenang." Owdie menuturkan.


Rain tersenyum. "Kau jangan khawatir, Owdie. Sesampainya di apartemen kita akan segera menyusun rencana untuk menyelamatkan Byrne." Rain berjanji.


"Hah, ya. Aku berharap secepatnya kita bisa menyelamatkannya. Karena nyatanya pihak organisasi lepas tangan terhadap masalah ini." Owdie merasa miris.

__ADS_1


"Jangan khawatir. Semuanya akan baik-baik saja." Rain meyakinkan seraya menepuk pundak Owdie.


Keduanya meneruskan langkah kaki memasuki gedung bandara. Perjalanan jauh telah mereka lalui bersama hingga akhirnya tiba di Turki. Owdie pun kembali mengikuti instruksi dari Rain karena ingin segera menyelamatkan saudaranya. Entah bagaimana ke depannya, sepertinya Owdie tidak ingin terlalu pusing dengan pemegang tahta organisasi sekarang. Baginya ia harus segera menyelamatkan Byrne agar hidupnya tenang.


Byrne, tunggulah kami. Bertahanlah di sana. Tak lama lagi Rain akan bernegosiasi dengan pemerintah Turki. Semoga kesepakatan bisa terjalin dengan baik. Bertahanlah Saudaraku.


Owdie berbicara di dalam hatinya.


Pihak bandara pun tak lama datang dan menyambut kedatangan keduanya. Pejabat bandara tampak tersenyum semringah melihat kedatangan Rain dan Owdie. Ia pun menyambut Rain dan Owdie dengan penuh suka cita. Tak ayal hari ini menjadi hari yang cerah bagi keduanya. Mereka akhirnya tiba di Turki dalam keadaan selamat dan tanpa kekurangan apapun. Semua ini tak lain karena berkat rahmat dari pemilik alam semesta.


Ara, aku pulang. Tunggu aku di rumah, Sayang.


Rain akhirnya kembali. Tak lama lagi ia akan menemui istrinya. Beberapa hari tak bertemu tentu saja membuatnya rindu. Namun sayang, Rain tidak sempat membeli oleh-oleh untuk istrinya. Ia hanya dapat membawakan cinta untuk Ara dan buah hati tercinta.


.........


Aku tak peduli siapa dirimu.


Darimana asalmu.


Apa yang sudah kau lakukan.


Selama kau mencintaiku.


Siapa dirimu?


Darimana asalmu?


Tak peduli apa yang sudah kau lakukan.


Selama kau mencintaiku, Kasih...

__ADS_1


.........


Bagian Kedelapan Tamat


__ADS_2