Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Let's Stop It!


__ADS_3

Di ruangan kerja Rain…


Kubuka pintunya dan kulihat dia sedang duduk termenung di depan meja kerja. Aku pun segera menghampirinya.


“Sayang.” Aku menyapanya. Dia pun menyadari kehadiranku. “Sayang, kau salah paham. Tolong dengarkan aku.” Aku memohon seraya berjalan lebih dekat.


Dia pun berdiri setelah menyadari aku masuk ke ruangannya. Dia merapikan dokumen yang ada di atas meja kerja. Entah pura-pura atau tidak, aku tidak peduli. Lekas saja kudekatkan diri ini ke sisinya.


Kupegang lengannya lalu menatap wajahnya. “Sayang, maafkan aku. Aku hanya ingin menanyakan tentang kecelakaan kemarin. Tidak lebih dari itu.” Aku menjelaskan tujuanku menemui Lee.


Rain diam saja. Dia seperti pura-pura sibuk di depanku. Padahal tadi kulihat dia sedang termenung. Dan pastinya dia termenung karena memikirkanku.


Ya Tuhan, priaku ini tidak mau bicara.


“Sayang.”


Aku masih membujuknya agar mau bicara, tapi dia sama sekali tidak mengindahkan kehadiranku. Kusadari jika aku salah. Tapi setidaknya dia mau bicara. Tidak seperti ini yang membuatku bak orang frustrasi.


Ya, rasanya aku hampir frustrasi menghadapi dirinya yang diam. Aku paling tidak bisa jika didiamkan. Aku ingin mengurai kesalahpahaman. Tapi nyatanya dia seperti tidak memedulikanku sama sekali.


Lantas kupegang wajahnya, berniat untuk menatapnya sepenuh hati. Tapi saat itu juga dia menepiskan tanganku. Rain menghindar dariku.


“Tuan.” Tak lama seseorang mengetuk pintu ruangannya. “Em, Tuan?” Pria berjas abu-abu masuk dan melihatku sedang membujuk Rain.


“Ada apa, Ro?” Rain segera beralih ke seseorang yang masuk. Pria itu bernama Ro, asistennya.


Kulihat Ro tampak segan mengatakan keperluannya, mungkin karena ada aku. Apalagi ditambah raut muram wajah priaku. Ro pun seperti tidak enak hati melihatku. Namun akhirnya, dia mengatakan tujuannya mengapa masuk ke ruangan ini.


“Tuan, pertemuan akan dilanjutkan selepas makan siang. Tuan ingin menundanya atau—"

__ADS_1


“Lanjutkan saja. Aku segera ke sana.” Rain beranjak pergi dariku.


“Sayang.” Aku menahannya.


Atmosfer sekitar berubah sendu kala priaku beranjak pergi. Kehadiranku ini seperti tidak dianggap olehnya. Aku merasa sedih sekali. Namun, aku harus tetap berjuang agar kesalahpahaman bisa cepat terselesaikan.


Ro melirik ke arahku sesaat, mungkin dia tahu jika kami sedang bertengkar. Rasanya aku ingin menangis saja jika diabaikan seperti ini. Aku tidak tahu harus berbuat apa-apa lagi.


“Tolong pinta Jack untuk mengantarkan Ara.” Dia berkata seperti itu kepada Ro lalu berjalan menjauh, tidak memedulikanku.


Sayang?!


Sontak hatiku seperti pecah berkeping-keping. Ternyata Rain benar-benar marah padaku. Aku pun seolah tidak berdaya untuk tetap bertahan di sini. Rasanya sedih sekali.


Sayang, kau benar-benar ingin aku pergi?


Ro kemudian memintaku untuk keluar dari ruangan calon suamiku sendiri. “Mari, Nona.”


Malam harinya…


Desiran angin pantai seolah menghibur hatiku yang merasa sepi. Sudah pukul sembilan priaku belum pulang juga dari kantornya. Kutahu jika dia akan lembur selama dua hari ini, tapi aku begitu menginginkan kehadirannya. Aku merindukannya.


“Sayang, sedang di mana?”


Kuambil ponsel lalu meneleponnya. Panggilan pertamaku bernada tunggu. Aku pun menunggu panggilanku diangkat olehnya. Tapi setelah satu menit, ternyata teleponku tidak diangkat juga olehnya.


Dia benar-benar marah padaku.


Kucoba lagi untuk meneleponnya. Panggilan ke dua ini masih terdengar nada tunggu. Namun, tak lama kemudian suara operator memberi tahu jika nomor yang kutuju sedang sibuk. Rain menolak panggilan dariku.

__ADS_1


Ya Tuhan .…


Aku merasa hal ini tidak boleh sampai berlanjut. Jumat nanti kami akan menikah dan sekarang sudah malam Selasa. Aku harus cepat-cepat mengurai kesalahpahaman ini. Aku tidak boleh diam saja.


“Nomor yang Anda tuju sedang di luar jangkauan.”


Betapa sesak dadaku saat kusadari jika Rain telah menonaktifkan ponselnya. Dia seperti tidak ingin kuganggu. Saat meneleponnya lagi suara operatorlah yang menjawabnya. Entah sedang apa dia di sana. Dia seperti tidak peduli padaku. Rasanya aku ingin menangis saja.


Apa yang harus kulakukan?


Aku duduk di sofa tamu. Waktu yang terus berlalu seolah menambah kesedihanku. Detik demi detik, menit demi menit kulalui seorang diri. Malam pun semakin larut yang membuatku merasa lelah dengan kejadian hari ini. Lantas kuputuskan untuk tidur di sofa tamu. Berharap dia pulang lalu menggendongku masuk ke kamar. Tidak ada hal lain yang bisa kulakukan selain menunggunya pulang. Dan aku berharap dia akan segera datang.


Esok harinya…


Sinar mentari masuk lewat ventilasi jendela ruang tamu. Deruan ombak pantai berkejaran, seakan memintaku agar segera terbangun dari alam mimpi. Kubuka perlahan mata ini, dan kulihat jika hari telah pagi. Namun, sesaat kemudian kusadari jika priaku belum pulang.


Aku masih tertidur di atas sofa, seorang diri tanpa siapa-siapa. Entah mengapa aku merasa berkecil hati jika sudah begini. Priaku belum juga bisa memaafkanku. Ya, andai aku salah, harusnya dia bisa memaafkanku. Sebagaimana aku memaafkan kesalahannya yang dulu. Tapi kini sayang seribu sayang kepahitan harus kutelan karena didiamkan olehnya.


Kuambil ponsel dari atas meja lalu kulihat pesan masuk. Berharap ada pesan masuk darinya. Namun nyatanya, tidak ada satupun pesan masuk dari Rain untukku. Dia benar-benar marah dan tidak lagi bisa diajak kompromi. Sampai-sampai mengabariku saja tidak bisa, padahal hari sudah pagi.


“Ya sudahlah.”


Lantas aku bergegas ke kamar mandi untuk membasuh wajahku. Walaupun hati ini sedih, aku harus mencari cara agar Rain tidak lagi mendiamkanku. Rasanya benar-benar tidak enak didiamkan. Mau marah juga tidak bisa, apalagi untuk pergi menjauh. Karena kusadar masalah ini aku yang memulainya. Jadi sudah sepantasnya aku yang mengalah.


“Buat apa, ya?”


Selepas membasuh wajah, aku segera membuatkan sarapan untuknya. Kugulung cepat rambutku lalu memakai celemek. Kali-kali saja rasa kesalnya bisa berkurang saat melihatku membawakan sarapan untuknya. Pagi ini kubuatkan nasi goreng spesial dengan suwiran ayam dan toping nugget. Aku harap dia akan menyukainya.


Kusiapkan semua bahan-bahan yang diperlukan lalu mulai memasak. Sambil memasak aku pun mendengarkan lagu yang begitu menyentuh hatiku, Quit Playing Games With My Heart. Yang artinya berhenti bermain-main dengan hatiku. Semoga lagu ini juga didengarkan olehnya di sana, sehingga pertengkaran kami dapat segera berakhir.

__ADS_1


Sungguh aku tidak ingin bertengkar lagi. Aku sudah terlanjur mencinta dan ingin memilikinya sepenuh hati. Tidak ada pria lain selain dirinya di hati ini. Namun, terkadang kejadian tak terduga memang bisa saja terjadi. Dimana dia memergokiku berbicara dengan pria lain.


Harusnya aku sadar dan tidak melakukan hal itu. Tapi mau bagaimana, semua sudah terjadi. Kini tinggal bagaimana membuat dia tidak marah lagi. Semoga saja dia dapat membuka hatinya setelah menerima sarapan pagi dariku ini.


__ADS_2