Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Harvest Party


__ADS_3

Pagi hari di Agartha...


Hari ini Ara dan Rain akan mengikuti sebuah acara di istana Agartha. Mereka pun didandani sedemikian rupa agar para tamu undangan mengira mereka adalah penduduk istana.


Pakaian mereka mirip seperti pakaian putra dan putri kerajaan Cina. Ara mengenakan gaun sutra berwarna putih, sedang Rain mengenakan pakaian kerajaan yang mirip seperti yukata. Keduanya pun tampak menikmati penampilan baru mereka.


"Sayang, tutupi dadanya pakai selendang. Kelihatan, tahu!" Rain tampak risih karena kemben Ara sedikit terbuka.


Keduanya masih berada di dalam kamar sehabis didandani oleh para pelayan istana. Mereka meminta waktu sejenak sebelum ikut menghadiri acara di istana. Dan kini sang suami sedang sibuk menutupi dada istrinya yang sedikit kelihatan itu. Rain pun mencari jepit untuk menutup gaun istrinya.


Sayang, lihatlah ayah. Dia sibuk sendiri mencari jepit untuk menutupi dada ibu.


Ara tersenyum melihat Rain yang mencari jepit ke sana kemari untuk menutupi bagian dada gaunnya. Ia jadi teringat saat pertama kali berangkat ke pesta bersama sang hujan. Di mana Rain juga meminta pelayan untuk memakaikan jepit di gaunnya.


Ya Tuhan, waktu terasa singkat sekali. Padahal seperti baru kemarin kami bertemu, tapi kini sudah mengandung anaknya saja. Jika teringat pertama kali bertemu, rasanya mustahil kami menikah. Tapi nyatanya, Engkau berkehendak lain pada kami. Dan aku sangat mensyukurinya.


Di setiap kesempatan Ara selalu bersyukur. Di setiap hela napas ia mengingat kebesaran Tuhan. Baginya semua usaha dan jerih payah tidak akan menghasilkan apa-apa tanpa izin dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan Ara pun berusaha menjalani takdir hidupnya dengan penuh kerelaan. Ara percaya jika skenario milik Tuhan lah yang paling sempurna.


"Sayang, adanya jepit seperti peniti. Pakai ini saja, ya." Rain lantas memakaikan peniti ke gaun Ara.


Ara tersenyum. Ia mengangguk dan membiarkan Rain memakaikannya. Tapi kemudian...


"Kok tambah besar, Sayang?" Rain terheran sendiri.


Saat itu juga Ara menghela napas. "Kenapa? Keberatan?" Ara tahu akal bulus suaminya.


"Ti-tidak. Hanya saja aku rindu sudah lama tidak menyusu," katanya yang membuat Ara menyadari sesuatu.


Tu kan. Mulai. Selalu saja seperti ini. Tidak di sana, tidak di sini. Sama saja.

__ADS_1


"Sayang, boleh aku—"


"Tidak." Ara segera menyela perkataan Rain.


"Tapi Sayang, aku ingin." Tiba-tiba Rain meminta jatah.


Ara mulai kesal. "Sudah, ayo cepat! Nanti terlambat datang ke istana." Ara pun menarik tangan suaminya.


Sifat asli Rain muncul lagi di hadapan sang istri, membuat Ara mengetahui taktik apa yang dipakai Rain untuk meminta dirinya. Tapi sayangnya, hari ini sedang ada acara di istana. Sehingga mau tak mau mereka harus ikut hadir di sana. Ya, walaupun sudah ada yang tegang mencari lawan.


Beberapa saat kemudian...


Istana telah ramai sekali. Ara dan Rain pun bergandengan tangan masuk ke istana lewat pintu belakang. Kedatangan mereka sontak membuat semua yang hadir menujukan pandangannya. Tak terkecuali seorang wanita yang disebut-sebut sebagai seorang putri. Ia tampak memandang Rain dengan tatapan yang berbeda.


Pandangan putri itu ternyata membuat Pangeran Agartha tidak suka. Ia melihat jika sang putri mulai kepincut dengan Rain. Lantas ia meminta pengawalnya untuk memanggil sang putri. Pangeran Agartha ingin berbicara padanya. Sedang Rain dan Ara mulai menyesuaikan diri di dalam istana.


Ara dan Rain mencicipi manisan yang disediakan. Mereka juga ikut meminum susu dari wajan yang telah disediakan. Rasa susu itu ternyata begitu berbeda dari susu yang ada di buminya. Lebih segar, gurih dan nikmat tiada tara. Tak ayal Ara pun ingin mencari tahu jenis susu apakah ini.


Agartha mengadakan pesta panen sebagai bentuk syukur karena panen tahun ini begitu diberkahi dan menghasilkan banyak keuntungan. Terlihat di sana sudah dipenuhi oleh pejabat istana dan juga para tamu undangan yang datang. Namun, Ara dan Rain belum berani untuk berbaur bersama mereka. Karena khawatir Pangeran Agartha tidak mengizinkannya.


"Ya, Nona?" Pelayan itu menghampiri Ara.


Ara pun berkata," Maaf, aku cuma ingin tahu. Ini jenis susu apa, ya? Mengapa rasanya enak sekali?" Ara ingin tahu.


Rain memperhatikan sang istri walaupun ia sedang berbincang dengan salah satu tamu yang datang. Rain tetap fokus dan berjaga-jaga di sekitar istrinya.


"Oh, ini susu sapi segar yang sudah disterilkan. Susu ini murni dari sapi yang ada bukit peternakan. Jadi rasanya memang berbeda, Nona." Pelayan itu menuturkan.


"Bukit peternakan?" tanya Ara lagi.

__ADS_1


"Ya, benar Nona. Sekitar sepuluh kilometer dari istana, terdapat bukit peternakan yang sangat luas. Di sana kami memelihara sapi, lembu dan juga kerbau. Rumput di sana sangat bagus sehingga meningkatkan kualitas susu. Kami sangat menjaga keseimbangan ekosistem alam sehingga hasilnya pun memuaskan." Pelayan istana menuturkan.


Cukup sudah pemaparan yang dikatakan oleh pelayan istana. Ara pun jadi penasaran dengan bukit yang dimaksud. Ia ingin sekali ke sana.


Bukit peternakan? Kalau di sana menyenangkan, mungkin saja aku bisa mencari tahu bagaimana cara membuka portal. Tapi tunggu! Bukannya aku bisa bertemu dengan nenek setiap satu gantungan gelang ini terlepas? Itu berarti ...?!!!


Ara berpikir keras. Seingatnya nenek pemberi gelang itu berkata jika ia akan menemui Ara saat salah satu gantungan gelangnya sudah terlepas. Itu berarti ia harus mencari tempat khusus untuk bertemu dengan sang nenek. Dan entah mengapa perasaan Ara mengatakan jika ia harus pergi ke bukit peternakan. Benar atau tidaknya, masih belum bisa dipastikan. Tapi, Ara akan mencoba ke sana.


Sementara itu di teras belakang istana Agartha...


Pangeran dan putri itu sedang berbicara empat mata. Tampak raut wajah pangeran yang tidak senang dengan sikap sang putri saat memandangi Rain.


"Kulihat ada sedikit perubahan pada raut wajahmu saat melihat pria itu." Pangeran Agartha membuka percakapannya.


Putri tersebut hanya menunduk. Ia tidak berani melihat pangeran yang berdiri di depannya.


"Aku berharap kau bisa tahu siapa dirimu. Pernikahan kita tidak lama lagi akan diselenggarakan. Saat ayah dan ibu pulang, aku akan menikahimu." Sang pangeran mengingatkan.


Ternyata putri bergaun putih tersebut adalah tunangan sang pangeran. Sehingga pangeran tidak menyukai cara putri itu dalam memandang Rain. Namun, sepertinya sang putri hanya menurut di luarnya saja.


"Maaf, Pangeran. Aku hanya berusaha bersikap baik kepada tamu kerajaan." Sang putri beralasan.


Pangeran menatap kekejauhan. Melihat indahnya taman belakang istana. "Jangan sampai kau mengecewakanku. Jagalah sikap seperti seorang putri. Dia bukan bangsa manusia dari tempat ini. Kita berbeda dengannya." Pangeran mengingatkan kembali.


"Baik, Pangeran." Putri itupun mengangguk.


"Sekarang kembalilah ke dalam dan bersikap sewajarnya. Aku ada urusan sebentar dengan pengawal kerajaan."


Sang pangeran akhirnya meninggalkan putri itu sendirian di teras belakang istana. Sang putri pun melihat kepergian pangeran dari hadapannya. Ia tampak risih dengan sikap pangeran yang melarangnya melakukan sesuatu. Ia pun mendengus kesal sendiri di dalam hatinya.

__ADS_1


Aku terlalu dikekang di sini. Aku ingin ikut ke dunia mereka. Tapi bagaimana caranya?


Niatan akhirnya muncul di hati sang putri agar bisa ikut ke dunia Rain dan Ara. Tapi, apakah Ara akan diam saja jika hal itu sampai terjadi? Pastinya istri dari Rain ini akan habis-habisan menolaknya. Ara tidak ingin kehidupannya bersama Rain memunculkan orang ke tiga.


__ADS_2