Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Keep Trying


__ADS_3

Ara tak percaya jika akan melihat kondisi Lily begitu buruk di dalam sel tahanan. Tak ada kasur ataupun alas untuk merebahkan badan. Hanya ada sisa nasi yang sudah membusuk dan juga gelas plastik berlumut yang terlihat di depan kedua matanya. Lily diperlakukan begitu buruk oleh calon permaisuri pangeran sendiri. Tak ayal Ara pun semakin kesal terhadap kelakuan putri itu.


Di atas lantai yang dingin, Lily dikurung berbulan-bulan lamanya. Ia kedinginan dan juga mengalami kepahitan. Namun sayang, baru kali ini ia berhasil ditemukan. Ara dan Rain pun menjadi saksi atas pertemuan kedua insan yang telah lama terpisahkan.


Beberapa saat kemudian...


Aku dan suamiku masih menunggu hasil pemeriksaan tabib mengenai keadaan Lily sekarang, pasca terkurungnya dia di ruang bawah tanah istana. Sedang pangeran menemani tabib yang memeriksa. Dia terlihat amat mengkhawatirkan keadaan gadis itu, bahkan tidak lagi memikirkan dirinya sendiri yang belum sempat makan sedari pagi. Harus kuakui jika pangeran begitu menyayangi Lily.


"Sayang, kau baik-baik saja?"


Suamiku yang tampan rupawan ternyata menyadari perasaanku. Sedari tadi aku hanya diam dan tertunduk sedih di ruang tunggu. Selepas Lily ditemukan, pangeran segera memanggil prajurit untuk membawa Lily ke ruang rawat istana. Dia juga meminta tabib untuk segera datang dan memeriksa keadaannya. Tak tanggung-tanggung, seluruh tabib istana dikerahkan olehnya. Cintanya kepada gadis itu begitu besar. Namun sayang, Lily belum juga tersadarkan.


Sungguh miris nasib Lily. Aku pikir hanya akulah yang merasakan kepahitan hidup ini. Dulu aku serba kekurangan, bahkan untuk mendapatkan sesuap nasi pun kesulitan. Tapi ternyata ada yang lebih pahit dariku saat melihatnya. Dia menjadi bulan-bulanan kekerasan. Sungguh jika dibandingkan, aku merasa lebih beruntung darinya. Melihat keadaannya saja aku tidak tega, apalagi sampai merasakan penderitaannya.


Jujur aku tidak tahu penyebab putri itu sampai melakukan hal sekeji ini kepada Lily. Tapi firasatku mengatakan, dia tidak ingin Lily sampai mengikuti sayembara yang diadakan oleh istana. Putri itu khawatir akan kalah dari Lily. Sehingga hal itulah yang membuatnya melakukan hal sekeji ini. Bukankah putri itu anak orang berada di negeri ini? Tentunya dia bisa melakukan apa saja dengan uangnya. Menyingkirkan orang lain adalah hal mudah baginya.


"Em, aku baik-baik saja, Sayang. Hanya saja aku kasihan kepada Lily. Hampir seluruh tubuhnya terdapat luka goresan. Pikiranku mau tak mau tertuju jika dia disiksa di dalam tahanan." Aku menuturkan apa yang ada di pikiranku.


Suamiku menarikku agar merebahkan diri di dadanya. "Semua yang terjadi sudah menjadi suratan yang harus dilewati, Sayang. Semoga ada hikmah yang bisa kita petik dari hal ini. Tenang, ya." Suamiku mengusap-usap kepalaku lalu mencium keningku ini.


Aku mengangguk sambil menghirup dalam-dalam aroma tubuhnya. Kuakui jika dia adalah penenang di saat kegundahan melanda hatiku. Tak ada lagi yang perlu disembunyikan dari kami. Apalagi sampai menjadi rahasia yang abadi. Kami sudah menyatu dalam jalinan ikatan suci pernikahan. Kontrak cinta itu telah kami tanda tangani.


Sudah selesai, kah?


Tiba-tiba kulihat pangeran dan tabib keluar dari ruang rawat istana. Namun, mereka hanya berdua saja. Sedang yang lain masih di dalam sana.

__ADS_1


"Tabib, apakah keadaannya sampai separah itu?" Pangeran Agartha tampak cemas sekali.


Tabib yang bersama pangeran seperti tabib tertua di antara yang lainnya. Janggutnya sudah putih dan dia juga sudah memegang tongkat. Mungkin dia sesepuh tabib di sini.


"Keadaannya sangat buruk, Pangeran. Proses pemulihan tidak bisa memakan waktu yang sebentar. Kita harus mencari alternatif lain agar penyembuhan lebih cepat," tutur tabib itu.


Aku dan suamiku yang sedang duduk pun segera berdiri menyambut kedatangan mereka. Saat itu juga sesepuh tabib melihat kami. Namun, entah mengapa aku merasa kepalaku mulai pusing lagi.


"Sayang?" Suamiku pun menyadarinya.


"Tuan, duduk saja tak apa. Mungkin Nona Ara kelelahan." Pangeran meminta kami untuk tetap duduk.


Aku tak tahu mengapa bisa begini. Seperti ada sesuatu hal yang akan kulihat dari tabib itu. Tapi, entah mengapa aku hanya merasa pusing saja, tidak sampai menjelajah waktu seperti sebelumnya. Apakah tabib ini memiliki frekuensi yang selaras dengan yang ada padaku?


Sontak aku terkejut mendengarnya. Aku pun mengangkat kepala untuk melihatnya. Aku tersenyum hormat padanya. Lalu keduanya pun duduk di seberang kami.


"Dia tamuku. Apakah Tabib Hu pernah mengenal sebelumnya?" tanya pangeran ke tabib.


Tabib Hu?


Ternyata nama tabib tertua di istana ini adalah Tabib Hu. Dia kini memperhatikanku, entah mengapa. Mungkin dia merasakan sesuatu pancaran energi yang tak biasa dariku. Atau mungkin dia merasa heran saat melihat wanita sepertiku?


"Em, tidak. Saya baru melihatnya. Tapi saya rasa nona ini bisa membantu kita." Dia menuturkan.


Apa?! Aku?! Aku bisa membantu Lily?!

__ADS_1


Tak tahu mengapa kudengar kata-kata itu darinya. Aku pun meremas pinggang suamiku, memberi kode padanya agar dia bicara. Aku takut salah bicara dengan perkataanku.


"Tabib Hu, maksud Anda ...?" Suamiku akhirnya bertanya. Dia mengerti kode yang kuberikan.


Sesepuh tabib istana itu terlihat menunduk sejenak. "Sebenarnya sejak datang ke istana, saya merasakan adanya benturan antara cakra alam yang berlawanan. Saya merasa ada aura api di istana ini. Namun, saat melihat Nona, saya merasakan aura air yang menyejukkan. Apakah Nona penduduk asli Agartha?" Dia bertanya padaku.


Sontak telingaku memerah mendengar hal itu.


"Mereka tamuku. Namun, bukan dari negeri ini." Pangeran Agartha yang segera menjawabnya.


Akhirnya aku bisa bernapas lega saat pangeran mewakilkan.


"Oh." Tabib itupun mengangguk-angguk, seperti mengerti.


"Tabib Hu, lalu apa yang harus kita lakukan agar Lily bisa segera siuman?" Pangeran bertanya alternatif lain untuk menyembuhkan Lily dengan cepat.


Tabib Hu menghela napasnya. "Prosesnya sedikit rumit, Pangeran. Tapi jika dikerjakan sungguh-sungguh, akan cepat berhasil," jawabnya.


Pangeran tampak merenungi hal ini. Namun, dia sepertinya tidak akan menyerah walaupun prosesnya amat rumit. "Katakanlah. Aku akan memenuhinya." Dia segera mengambil keputusan.


Tabib Hu mengangguk. Dia kemudian mengutarakan hal apa saja yang harus dilakukan pangeran demi kesembuhan Lily. Aku dan suamiku pun kembali menjadi saksi atas perjuangan pangeran untuk bersama cintanya.


Sepertinya pangeran sudah amat rindu untuk bercengkrama kembali bersama Lily.


Raut wajah pangeran menyiratkan jika ada kerinduan yang mendalam. Dia tampak antusias saat mendengarkan setiap hal apa saja yang harus dilakukan untuk kesembuhan Lily secepatnya. Dan entah mengapa, melihatnya membuatku teringat dengan pertengkaran bersama suamiku dulu. Di mana dia tidak pulang-pulang saat kami bertengkar. Lebih tepatnya aku yang salah paham karena kedatangan Jane ke apartemennya waktu itu.

__ADS_1


__ADS_2