
Setengah jam kemudian, di kampus Ara…
Ara baru saja keluar dari kelasnya. Dan kini ia sedang berjalan ke arah taman kampus seorang diri. Di pertengahan jalan, tanpa sengaja ia berpapasan dengan duo kampus. Keduanya lalu menghadang Ara karena Ara tidak memedulikan kehadiran mereka.
“Hei, mau ke mana?!” Seorang gadis berambut merah merentangkan tangannya, menghadang.
Ara terdiam lalu menjawab, “Aku ingin ke taman kampus,” jawab Ara datar.
Terdengar bisik-bisik di antara mahasiswa lainnya yang melihat kejadian itu. Gadis berbando hitam pun mengelilingi Ara yang sedang mendekap beberapa buku di dada.
“Kau mahasiswi baru, ya?” tanya gadis berbando hitam.
“Ya, aku baru di sini,” jawab Ara ala kadarnya.
“Hm, baru. Pantas saja tidak mengenali kami,” cetus gadis berambut merah.
“Maaf, saya ingin ke taman. Tolong jangan halangi jalan.” Ara kesal karena merasa dihalangi.
“Halangi?” Gadis berambut merah itu tersenyum sinis. “Kau pikir siapa bisa berbicara seperti itu kepada kami? Anak sultan?!” Gadis berambut merah mengejek Ara.
“Mana mungkin gadis sepertinya anak sultan, Rose. Tubuhnya kurang tinggi seperti ini. Hahahaha.” Gadis berbando hitam ikut mengejek Ara.
Ara terlihat kesal, ia mengepalkan kedua tangannya. Rasanya ia ingin membalas ucapan kedua gadis tersebut. Tetapi...
“Hei, apa yang kalian lakukan?!” Tiba-tiba Taka datang lalu memasang badan untuk Ara.
Taka …?! Seketika Ara terkejut melihat kedatangan pemuda berkemeja hitam tersebut.
“Hei, Taka. Ada urusan apa kau dengan kami? Jangan ikut campur!” Gadis berbando hitam tampak sinis melihat kedatangan Taka.
“Dia temanku. Jangan ganggu!" Taka menerangkan.
“Hoh, temanmu. Jadi gadis ini temanmu. Menyedihkan sekali kau, Taka,” ejek gadis berambut merah.
Ara mendengus kesal. Ia tidak lagi bisa berlama-lama berada di sana karena hanya akan memperburuk suasana hatinya. Ia lalu memutuskan untuk pergi.
“Permisi. Aku tidak ingin membuang waktu!” seru Ara kepada kedua gadis itu.
__ADS_1
“Ara!”
Taka pun segera mengejar Ara begitu melihat Ara pergi. Sedang kedua gadis itu tersenyum sinis melihat keduanya. Mereka sama-sama menyilangkan kedua tangan di dada.
“Anak baru sudah belagu. Lihat saja nanti, dia akan tahu sendiri akibatnya.” Gadis berambut merah berdecak kesal.
“Dia belum tahu saja siapa kita, Rose.” Gadis berbando hitam menambahkan.
“Ya, biarkan saja dia seperti itu, Jasmine. Paling-paling dia akan menangis ketakutan saat mendapatkan pembalasan dari kita.” Gadis berambut merah, Rose tampak sinis melihat kepergian Ara dan Taka.
“Kita pergi sekarang!”
Keduanya lalu membalikkan badan, meneruskan langkah kaki ke tempat tujuan. Duo kampus itupun mendapat sapaan saat berjalan berpapasan dengan mahasiswa lain. Sepertinya mereka adalah gadis yang disegani oleh mahasiswa yang berkuliah di sana.
Mereka adalah Rose dan Jasmine, duo kampus cabang Australia ini. Keduanya selalu saja masuk trending topik kampus berkat kemampuan intelektualnya. Tapi, siapa sangka di balik kepintaran mereka tersimpan kesombongan yang luar biasa. Ara pun harus berhati-hati bilamana bertemu dengan keduanya lagi. Karena baik Rose atau Jasmine bisa saja membuat Ara menderita selama berkuliah di sana. Keduanya mempunyai andil cukup besar di kampus tersebut.
Sementara itu, di kantor Rain…
Sang penguasa pertambangan minyak bumi di Timur Tengah ini baru saja menyelesaikan laporannya. Ia akhirnya bisa beristirahat sejenak dari rutinitas harian yang tidak bisa dipastikan. Dan kini ia sedang membaca berita di salah satu media elektronik terpercaya. Secangkir kopi panas dan beberapa biskuit pun menemani waktu istirahatnya.
Rain adalah cucu dari penguasa perekonomian dunia yang bergerak di belakang layar. Kakeknya jarang terpublikasi oleh publik tapi mempunyai kekuasaan memonopoli dunia. Sang kakek mempunyai tiga belas cucu yang ia latih dan didik sedari kecil untuk menguasai suatu kawasan. Sehingga tak heran bila Rain kecipratan bakat dari kakeknya. Di usianya yang menginjak ke dua puluh tujuh tahun ini bisa dibilang jika ia adalah seorang triliyuner muda.
“Turki menemukan cadangan minyak dan gas?”
Rain menyeruput kopinya. Ia baca baik-baik berita yang dilihat dari layar laptop. Ia pun segera membuka google map untuk mengetahui di mana lokasi migas tersebut ditemukan.
“Sepertinya Turki amat beruntung dapat menemukan migas tanpa bantuan USA.” Ia bergumam sendiri.
Tak lama terdengar suara ketukan pintu di ruangannya. Ia pun segera mempersilakan masuk orang yang datang. Dan ternyata…
“Permisi, Tuan Rain.” Sesosok pria berusia paruh baya menghadapnya.
“Tuan Ro, ada apa?” tanya Rain seraya meletakkan cangkir kopinya.
Pria itu berjalan mendekat. “Maaf, Tuan. Saya mendapat kiriman untuk disampaikan kepada Anda. Katanya ini dari USA dan amat penting.” Pria itu menjelaskan.
Rain pun menerima amplop cokelat tersebut. Ia segera membuka apa isinya. Beberapa detik kemudian jantungnya berdetak keras melihat isi dari amplop yang ia terima.
__ADS_1
“Siapa yang mengirimnya?!” tanya Rain yang tiba-tiba berubah roman wajah.
“Seorang office boy ingin mengantarkannya ke Anda, Tuan. Kebetulan saya sedang berada di dekat pintu masuk, jadi saya yang mengambilnya.” Pria bernama Ro itu menuturkan.
“Astaga ….” Rain mengusap kepalanya sendiri.
“Ada apa, Tuan?” Ro melihat wajah Rain tampak kusut.
“Biarkan aku sendiri,” pinta Rain lagi.
“Baik, Tuan. Permisi.” Ro pun segera undur diri.
Pria bernama Ro itu segera keluar dari ruangan setelah Rain memintanya. Sedang Rain mencoba mengatur ulang napas saat melihat satu per satu lembaran yang ia terima.
“Ara!!! Berhenti bermain-main dengan hatiku!!!” Rain terlihat geram bukan main.
Rain membanting isi dari amplop cokelat tersebut. Ia berdiri dari duduk lalu segera menelepon seseorang. Tak lama teleponnya pun segera diangkat.
“Tuan?” jawab suara dari seberang.
“Jack, jam berapa Ara pulang kuliah hari ini?” Ternyata yang ditelepon Rain adalah Jack.
“Nona pulang pukul tiga sore, Tuan.” Jack menjawabnya segera.
“Baik. Nanti jemput aku pukul dua. Aku ada urusan penting dengannya,” kata Rain lagi.
“Baik, Tuan.” Jack pun mengiyakan.
Rain segera mematikan teleponnya setelah membuat janji temu dengan Jack. Ia terlihat sangat kusut, tak terkendali. Dan tak lama, ia menggebrak mejanya sendiri.
“Ara, berani-beraninya kau mempermainkan hatiku!!!"
Hati Rain kesal bukan main setelah menerima isi amplop tersebut. Rasa-rasanya ia ingin segera menemui gadisnya. Ia kemudian mengirimkan pesan kepada Ara sambil menahan kesal di dada.
…
/Langsung pulang. Ada yang ingin aku bicarakan./
__ADS_1
…
Begitulah pesan dari sang penguasa. Jam di dinding pun terlihat masih menunjukkan pukul sepuluh pagi. Dan Rain harus menunggu lima jam lagi untuk bertemu dengan gadisnya. Sedang hatinya sudah kacau tak karuan.