Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Always Be Happy


__ADS_3

"Nona. Nona. Bisakah mendengarkan saya?" Dokter itu bertanya padaku. "Dengarkan saya, Nona. Tarik napas perlahan dan dalam semampu Nona. Lalu coba embuskan dengan kuat. Ulangi sekali lagi lalu coba untuk membuka mata. Saya akan membantunya dari sini." Dia memberiku instruksi.


Satu, dua helaan napas kucoba. Namun, tubuhku masih tidak dapat digerakkan. Entah mengapa aku pun tidak tahu. Tapi, aku mencoba mengikuti semua instruksi yang diberikan dokter padaku. Lambat laun aku pun dapat membuka mata ini. Ya, walaupun dengan amat perlahan.


Samar-samar aku melihat cahaya yang sangat terang. Lampu putih bersinar dengan terang di atasku. Sosok pria yang kucintai juga menampakkan dirinya di depanku. Dia tampan bak pangeran yang kuimpikan. Dia mengecup keningku seraya menggenggam tanganku erat.


"Istriku." Sebuah kecupan hangat kurasakan. Aku pun merasa sangat disayang olehnya.


"Segala puji bagi Tuhan semesta alam." Tak lama kulihat seorang pria berjas putih ada di sampingku. "Nona Ara, selamat ya. Kami turut berbahagia atas kelahiran kedua anak Anda. Sekarang coba pelan-pelan untuk menggerakkan tangannya. Kita akan menyusui mereka untuk yang pertama kali."


Dokter begitu perhatian dan juga ramah padaku. Tidak seperti suster semalam yang seperti menjatuhkan mentalku. Dia tidak ada basa-basinya sama sekali. Atau ini hanya sebatas perasaanku saja? Entahlah. Sebagai pasien aku ingin diperlakukan baik dan juga ramah. Karena di sini kami membayar bukan gratisan.


"Bagus. Sekarang coba pegang wajah suami Anda." Dokter terus memberiku instruksi. Aku dibantu untuk menggerakkan tangan. Suamiku pun setia menemani. "Bayinya." Dokter itu meminta bayi-bayiku diantarkan.


Puji syukur atas segala nikmat yang Tuhan berikan. Untuk pertama kalinya aku melihat bayi mungil itu diantarkan kepadaku. Satu per satu aku bisa melihat mereka. Dokter pun membantuku agar bisa menyusuinya. Tentunya suamiku ikut menutupi dada ini dari pandangan dokter. Dia memang tidak rela sama sekali jika ada yang melihatnya. Padahal demi keselamatan apa salahnya?


Satu jam kemudian...


Aku menangis. Menangis terharu setelah selesai menyusui kedua bayiku. Rasanya tak percaya jika kini telah menjadi seorang ibu. Suamiku pun berulang kali mencium keningku. Dia lampiaskan seluruh kasih sayangnya dengan memeluk dan menciumku. Dan kini kedua bayi kami sedang tertidur di keranjang bayi. Mereka tampak pulas setelah kekenyangan.

__ADS_1


"Sayang, terima kasih."


Tetesan air mata suamiku pun jatuh membasahi tangan ini. Aku kemudian menciumnya karena rasa bahagia yang menyelimuti hati. Tak tahu bagaimana harus mengungkapkan kebahagiaan ini. Sungguh tak bisa dipercaya jika kami telah mempunyai bayi. Bayi kembar sepasang, laki-laki dan perempuan. Aku berharap mereka bisa memperjuangkan kembali cita-cita kami.


Mungkin momen terindah seorang ibu adalah menyusui bayinya pertama kali. Dan aku merasakannya sendiri. Bagaimana bahagianya saat melihat bibir mungil itu menghisap air susuku. Bahagia menatap wajah mungil dan imut mereka. Aku pun berusaha menyalurkan seluruh energi yang kupunya seraya berdoa di dalam hati. Semoga keluarga kecil kami selalu berada dalam lindungan-NYA.


Saat ini aku belum bisa banyak bicara. Aku harus banyak-banyak menyimpan tenaga dan beristirahat agar bekas operasiku lekas menutup sempurna. Suamiku bilang tidak perlu mengkhawatirkan apapun lagi. Karena semuanya sudah ada yang mengurusi. Tugasku saat ini hanya menyusui mereka saja. Selebihnya ibu mertua dan Kak Jamilah yang akan menangani. Suamiku pun mengambil libur seminggu ini. Dia ingin bersuka cita bersama kami di rumah. Dan mungkin inilah kebahagiaan yang sesungguhnya.


Tuhan, terima kasih. Terima kasih telah menganugerahkan buah hati yang cantik dan juga tampan kepada kami. Segala puji bagi-MU. Akhirnya kami bisa menyempurnakan keluarga ini. Terima kasih Ya Tuhan.


Jam di dinding ruanganku telah menunjukkan pukul sebelas siang. Namun, keadaan sekelilingku tidak terdengar ramai. Sepertinya ruangan ini berada di paling pojokan. Entahlah, aku rasa harus tidur siang terlebih dahulu selama bayiku tertidur pulas di dalam keranjangnya. Aku pun meminta kepada suamiku agar ikut merebahkan diri di sisi. Kebetulan kasur rumah sakit yang kutempati ini besar sekali. Dan dia pun memelukku.


Semilir angin berembus lembut menerpa kulitku. Satu minggu sudah sejak kelahiran putra dan putriku. Dan kini aku sedang menjemur mereka secara bergantian di teras apartemen. Jika yang satu kugendong, yang satunya kuhangatkan dengan sinar mentari pagi. Mereka bergantian ditimang olehku.


Bahagia, gembira, senang rasanya menjadi ibu. Hidupku terasa sempurna karena telah berhasil memberikan penerus untuk keluarga ini. Entah kata-kata apa yang tepat untuk menggambarkannya. Kami bahagia sekali.


Suamiku sudah lama sibuk mencari nama untuk kedua buah hati kami. Rencana siang ini juga akan diadakan syukuran atas kelahiran keduanya. Seperti biasa Jack dan keluarga yang akan membantu segala proses persiapannya. Sedang ibu membantuku bergantian menjaga si buah hati. Suamiku tidak ingin ada orang lain yang menjaganya.


Owdie dan Byrne sendiri bersuka cita atas kelahiran bayi kami. Mereka mengucapkan selamat dengan memberi hadiah kelahiran yang luar biasa. Biasanya hadiah kelahiran bayi itu bisa dibungkus dengan kertas kado, tapi ini tidak. Mereka memberi hadiah untuk anak kami berupa mobil keluaran terbaru. Benar-benar tak terduga sebelumnya.

__ADS_1


"Halo? Ya? Saya bayar dimuka. Kirimkan saja rincian pembayarannya." Suamiku sedang menerima telepon.


"Ada apa Sayang?" tanyaku dari teras apartemen.


"Pihak EO mengabarkan total biaya untuk syukuran hari ini," jawabnya.


"Oh." Aku pun mengerti.


Dia berjalan ke arahku, ke teras apartemen ini. "Sayang ayah, lagi dijemur ibu ya?" Dia beralih kepada bayi kami. Mencandai bayi-bayi kami dari luar keranjang bayi. Suamiku tampak bahagia sekali.


Senang rasanya memiliki bayi kembar sepasang. Lengkap sudah keluarga ini karena kehadiran mereka. Rasanya aku tidak membutuhkan apa-apa lagi. Karunia yang kuterima sudah sangat besar sekali. Aku sampai tidak tahu harus berkata apa lagi. Aku sangat bersyukur dengan anugerah yang diberikan oleh-NYA.


"Jadi jam berapa akan dimulai acaranya?" tanyaku seraya membantunya menggendong bayi perempuan kami.


"Jam satu siang ini. Tapi kemungkinan setengah dua baru dimulai acaranya. Aku meminta Kakek Ali untuk ikut datang," kabarnya.


"Ap-apa?! Kakek Ali?" Aku terkejut mendengarnya.


"Ya. Bagaimanapun kebahagiaan ini harus dibagi, Sayang. Apalagi dengan orang-orang yang pernah membantu kita melewati hari. Nanti kakek yang akan memimpin doanya. Jack sendiri menjemputnya di bandara pukul sebelas nanti. Sekarang bersiap-siaplah. Sudah pukul delapan." Dia mengingatkanku.

__ADS_1


Aku mengangguk. Rasanya sudah cukup menghangatkan badan di pagi ini. Aku pun membawa bayi laki-lakiku ke dalam, sedang bayi perempuanku digendong oleh ayahnya. Entah mengapa suamiku seperti lebih sayang kepada bayi perempuan kami. Atau ini hanya sebatas perasaanku saja?


__ADS_2