Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Invasion


__ADS_3

Malam harinya, sehabis makan malam...


Malam ini untuk pertama kalinya Rain dan sang ibu duduk bersama di pelataran teras apartemen. Dimana ia sedang berbincang mengenai keadaan sebelum bertemu ibunya. Tentang alasan mengapa ia sangat ingin bertemu dengan kedua orang tuanya.


"Aku menemukan riwayat hidupku tidak ada kaitannya dengan kakek dan nenek yang mengurusku di sana. Dan saat beranjak remaja, baru kuketahui jika aku bukanlah cucu kandung dari mereka. Aku hanya cucu angkatnya saja, Bu." Rain menceritakan kisah hidupnya.


Sang ibu merenungi hal ini. "Mereka bersikap baik padamu?" tanya sang ibu.


Rain menyandarkan punggung di kursi teras. "Ya. Mereka menyayangiku. Tetapi nenek lebih sayang kepadaku jika dibandingkan kakek. Dan karena hal itulah membuat saudara-saudaraku iri," kata Rain kembali.


Sang ibu memegang pundak anaknya. "Syukurlah jika mereka bersikap baik padamu. Ibu khawatir jika kenyataannya malah berlawanan dengan apa yang kau katakan. Semenjak invasi itu ibu sangat ketakutan. Ibu merasa tidak berguna sebagai orang tuamu. Ibu minta maaf ya, Nak." Sang ibu menyesal karena tidak dapat menahan Rain kecil dari timangannya, saat orang-orang bersenjata itu mengambil Rain darinya.


Rain memegang tangan ibunya. Ia mencium lalu meletakkannya di pipi. "Ibu tidak perlu menyesali apa yang terjadi. Semua musibah pasti ada hikmahnya. Aku juga mencoba mengambil hikmah dari kejadian ini. Jika tidak bergabung bersama mereka, aku tidak akan tahu jika dunia ini sedang tidak baik-baik saja. Aku kini mengerti apa itu yang dinamakan konspirasi." Rain meminta ibunya untuk tidak menyesali apa yang terjadi.


Sang ibu tersenyum, mengusap kepala putranya. Saat itu juga Rain merasakan kekuatan besar merasuk ke jiwanya. Ia merasa bertambah kokoh untuk menjalani kehidupan. Ia pun jadi lebih bersemangat menghadapi hari selanjutnya.


"Kau dinukil sebagai seorang anak yang akan memimpin pemberontakan terhadap sebuah organisasi besar, Nak." Sang ibu mengutarakan.


"Apa?!" Saat itu juga Rain terperanjat kaget.


Sang ibu mengangguk. "Mereka mengambil paksa ladang minyak yang ada di sana. Mereka membuat berita jika ada senjata pemusnah massal di negeri itu. Padahal itu hanya akal-akalan mereka saja." Sang ibu mengungkapkan.


Rain terperangah mendengar pernyataan ibunya. "Jadi ...?"


"Kau adalah keturunan Timur Tengah. Ayahmu berasal dari Saudi Arabia dan ibu penduduk asli kota ini. Namun, saat sekolah ibu bersama keluarga pindah ke Irak." Sang ibu mengungkapkan.


Rain terdiam. Ia tak menyangka jika akan mendengar siapa jati dirinya. Dari keturunan mana ia berasal dan tanah kelahirannya. "Bagaimana ayah dan ibu bisa bertemu?" Rain ingin tahu lebih jelas tentang kedua orang tuanya.

__ADS_1


Ibu Rain tersenyum. "Dia adalah seorang tentara yang bertugas menjaga perdamaian. Sedang ibu adalah seorang perawat yang bekerja di perbatasan Irak dan Iran. Kami bertemu karena ada konflik di perbatasan waktu itu," kata ibunya lagi.


"Konflik?" Rain bertambah penasaran.


"Benar, Nak. Perang saudara. Kedua negara seperti diadu domba oleh sekelompok orang yang menginginkan ladang minyak di sana," tutur ibu Rain.


"Jadi maksud ibu ada konspirasi yang terjadi di kedua negeri itu?" tanya Rain lagi.


Ibu Rain mengangguk. Saat itu juga Rain menyadari sesuatu.


Tidak salah lagi jika pihak organisasi lah yang telah merancang semua ini. Mereka sengaja membenturkan kedua negara untuk saling berperang. Di saat yang bersamaan mereka juga menyusup untuk mengambil ladang minyak yang ada di sana. Astaga ... aku tak percaya jika mereka selicik itu.


Rain merenung. Ia tak habis pikir jika karena ingin merebut ladang minyak orang harus melakukan hal licik seperti ini. Ia merasa USA begitu serakah. Terutama para petinggi yang ada di sana.


Bukankah USA sudah memiliki ladang minyak sendiri? Apa tujuan mereka sampai ingin memiliki ladang minyak orang lain?


Membuat banyak pangkalan militer?! Ya. Tidak salah lagi tujuan utama mereka adalah ingin membuat banyak pangkalan militer. Dengan hal itu dunia bisa mudah dikendalikan karena pangkalan militer mereka ada di mana-mana. Dan untuk mewujudkannya dibutuhkan banyak ladang minyak sebagai bahan bakar transportasi. Tanpa bahan bakar seluruh mesin perang tidak akan bisa dijalankan. Astaga ... jadi selama ini aku bekerja?!!


Tiba-tiba saja Rain merasa bersalah dengan pekerjaannya. Ternyata kerja kerasnya selama ini disalahgunakan secara diam-diam oleh pihak organisasi. Ia lantas memikirkan cara agar bisa menghentikan semua ini. Tapi, ia juga tahu jika hal itu tidaklah mudah. Mata-mata organisasi ada di mana-mana, dan mereka berani membayar mahal setiap utusannya. Hal itu tidak mungkin Rain lakukan seorang diri.


Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus tetap bersembunyi di Turki?


Turki pukul dua pagi...


Malam semakin larut, bahkan sudah akan memasuki fajar. Di dalam sebuah kamar terlihat pria bersweter krim sibuk mengutak-atik laptopnya di atas kasur. Yang mana di sampingnya ada sang istri tercinta yang sedang tertidur. Ia ternyata tidak bisa tidur karena memikirkan perbincangan yang terjadi dengan ibunya. Ia merasa hidupnya tidak tenang dan mulai diselimuti kegelisahan.


Rain mencoba mencari tahu tentang apa yang terjadi beberapa puluh tahun silam di Irak. Ia ingin sekali mendapatkan kebenaran tentang hal yang terjadi di sana. Mengapa harus sampai mengorbankan nyawa ayahnya. Saat itu juga jiwanya berkobar untuk membalas dendam atas kematian ayahnya.

__ADS_1


Ratusan ribu penduduk Irak terkena invasi. Termasuk ayahku yang sedang bertugas di sana. Ya Tuhan, apakah ini yang dinamakan manusia berhati iblis? Kenapa mereka tega sekali membunuh sesama hanya untuk memperebutkan ladang minyak yang ada di sana?


Rain tidak habis pikir.


Apa Tuhan kurang banyak memberi mereka nikmat sehingga harus merebut ladang minyak milik orang lain? Ya Tuhan, tunjukkan kebenarannya agar aku tidak salah jalan. Aku tak habis pikir dengan konspirasi yang mereka mainkan. Aku merasa bersalah sekali.


Rain terus mencari tahu apa yang terjadi di Irak dari berbagai referensi. Ia pun menemukan sebuah artikel yang amat dramatis untuk dibaca.


Pengakuan tentara USA, kami diperintah untuk melenyapkan senjata pemusnah massal yang ada di Irak tanpa tahu kebenarannya.


Rain membaca judul artikel dalam hati. Senjata pemusnah massal? Rain terus mencari tahu.


"Sayang ...." Tiba-tiba saja ia mendengar suara istrinya terbangun.


"Istriku?" Rain menghentikan aktivitasnya sejenak. Ia mendekati istrinya.


Ara terbangun dan melihat Rain sedang menyalakan laptop. Rain pun segera meletakkan laptop itu di atas meja kasur. Ia mengusap kepala istrinya agar kembali tertidur. Karena ia masih ingin mencari tahu peristiwa yang terjadi di tanah kelahirannya.


"Ada apa Sayang?" tanya Ara dengan suara yang serak.


"Em ...," Rain pun bingung untuk mengatakan hal yang sebenarnya. "Aku sedang browsing," jawab Rain apa adanya.


Ara beranjak duduk di kasurnya. "Apakah ada sesuatu yang ingin kau cari?" tanya Ara lagi.


Rain terdiam sejenak. Ia khawatir jika berkata jujur akan membuat istrinya kepikiran. "Aku ... hanya ingin tahu apa yang terjadi beberapa puluh tahun silam di ... Irak." Rain sedikit ragu mengatakannya.


"Tentang invasi yang ada di sana?" tanya Ara lagi.

__ADS_1


"Kau tahu Sayang?" Rain tak percaya jika sang istri seperti sudah mengetahuinya.


__ADS_2