
Beberapa jam kemudian...
Aku lebih banyak tidur sekarang. Dan kini baru saja terbangun di hari yang sudah menjelang sore. Kulihat jam di dinding telah menunjukkan pukul tiga waktu sekitarnya. Aku pun lekas beranjak bangun untuk melihat keadaan di luar kamar.
Saat keluar, kulihat Kak Jamilah dan kedua putranya tertidur nyenyak di atas sofa. Sepertinya mereka sangat kelelahan sehingga aku segan untuk membangunkannya. Lantas aku beranjak ke dapur saja untuk membuat minuman. Mungkin jus semangka terasa nikmat diseruput sore ini.
Aku seperti diberi lupa ingatan saat kembali. Entah bagaimana ceritanya, saat aku menunggu pangeran itu pulang, aku melihat cahaya turun dari atap kamarnya. Dan anehnya aku seperti tersedot ke cahaya itu. Hingga akhirnya panca inderaku mulai menyadari jika aku sudah kembali ke sini.
Aku belum sempat mengucapkan selamat tinggal kepada sosok berjubah merah nan sombong itu. Ada perasaan janggal karena pergi begitu saja tanpa berpamitan padanya. Tapi hatiku sudah cukup merasa senang karena bisa bertemu dengannya. Jika memang diizinkan, suatu hari kami akan bertemu lagi. Tapi mungkin tidak hanya jiwaku yang ke sana, melainkan bersama ragaku juga. Walaupun belum tahu pasti kapan bisa ke sana lagi.
Semesta ini membuatku penasaran dan bertanya-tanya. Benarkah ada dunia pararel di alam ini? Atau hanya sebatas teori belaka? Banyak berita kudengar jika ada beberapa orang yang berhasil menjelajahi waktu. Aku sih percaya tidak percaya jika belum membuktikannya. Tapi kejadian kemarin seolah membuatku membenarkannya.
"Segelas jus semangka telah jadi."
Kubawa gelas jus ini ke teras luar apartemen. Aku ingin duduk sambil menikmati pemandangan langit sore. Kurasakan udara memang semakin dingin, tapi tidak sedingin di bukit waktu itu. Bukit dengan pohon tin besar yang rimbun. Entah kenapa aku tidak bisa memetik buahnya.
Kuambil ponsel dari saku lalu kulihat pesan masuk di dalamnya. Ternyata puluhan pesan masuk telah kuterima sejak keberangkatan ke Indonesia. Namun, baru sekarang sampainya. Entah mengapa. Pesan yang kuterima ini ternyata dari Taka dan dari nomor yang tak kukenal.
"Eh, foto profilnya seperti dosen Lee?!"
Aku terkejut saat membaca pesan dari nomor yang tak dikenal. Foto profilnya adalah sosok dosen di fakultas teknik. Dia adalah Lee. Entah benar atau tidak, aku mencoba saja untuk membalas pesannya. Namun, beberapa detik kemudian nomor itu meneleponku.
Angkat tidak, ya?
Aku jadi bingung harus mengangkat teleponnya atau tidak. Dan karena khawatir salah langkah, kudiamkan saja teleponnya. Sampai akhirnya pesan masuk kembali aku terima darinya. Pesan itu berbunyi...
/Ara, ini Lee. Tolong angkat teleponku./
Benar dugaanku, ternyata memang benar dialah pemilik nomor tak dikenal ini. Lantas saja aku mengangkat telepon darinya yang sudah sekian kali kudiamkan.
"Halo?" jawabku.
Tak ada suara dari seberang, entah mengapa. Tapi bisa kudengar embusan napas yang berat dari sana. Lantas aku berbicara kepadanya.
__ADS_1
"Dosen Lee, apakah ini benar Anda?" tanyaku di telepon.
Suara dari seberang masih juga tidak terdengar, membuat hatiku bertanya-tanya sendiri. Akhirnya kuputuskan saja untuk menyudahi telepon ini seraya meminta maaf. Tapi kemudian, dia malah meneleponku lagi.
Biarkan sajalah.
Aku tidak punya banyak waktu untuk bermain-main. Aku sibuk mengurusi diriku sendiri. Jadi ya kubiarkan saja telepon darinya. Ponselku juga ku-silent, jadi tidak bising. Namun, tak lama kemudian teman pertamaku di kampus bergantian menelepon.
"Halo?" Aku mengangkat telepon darinya.
"Ara, kau di mana?!" tanyanya berapi-api.
"Aku di apartemen. Kenapa Taka?" tanyaku padanya.
"Hei, bisa-bisanya berkata seperti itu. Kami sudah lama menunggu kabarmu, Ara," terangnya.
"Ara, kapan kau masuk? Pihak kesiswaan bilang kau sakit, apa itu benar?" tanya suara lain.
Aku mendengarkan percakapan mereka dari seberang. Tapi aku hanya menjawab apa yang mereka tanyakan saja. Mereka seperti berlomba-lomba mengajukan pertanyaan yang membuat kepalaku pusing. Lalu akhirnya...
"Sudah, ya. Aku ingin beristirahat. Nanti saja meneleponnya," kataku.
"Tapi, Ara ...." Suara dari seberang menolak untuk mengakhiri panggilan ini.
"Secepatnya aku akan masuk kuliah. Tapi mungkin tidak untuk beberapa hari ke depan. Doakan saja agar aku lekas baikan." Aku meminta kepada mereka.
Terdengar suara mereka yang bergantian mendoakanku. Sepertinya tiga sekawan itu memang sedang berkumpul di sana. Entahlah, lebih baik kuakhiri saja panggilan masuk ini.
Ara masih membutuhkan waktu selama proses pemulihannya. Ia tidak bisa menanggapi Taka dan kedua temannya lama bicara. Ara ingin menikmati ketenangan hidup tanpa adanya gangguan. Sore ini pun ia habiskan dengan bersantai di kursi teras apartemen. Sampai akhirnya satu gelas jus semangka diteguknya habis.
Waktu yang terus berlalu mengantarkan Ara untuk melatih diri agar bisa cepat pulih. Ia tidak bisa berdiam diri karena hal itu hanya akan membuat tubuhnya semakin pegal saja. Lantas ia mencoba merapikan kamar calon suaminya, membuat keringat agar lekas baikan. Tanpa ia sadari Jamilah beserta kedua anaknya sudah terbangun dari tidur siangnya. Ara pun menyapa kedua putra Jamilah dengan wajah manisnya.
Di kantor Rain...
__ADS_1
Rain baru saja menyelesaikan pekerjaan hari kemarin. Dan kini tinggal menyelesaikan pekerjaan hari ini. Tapi, Rain memutuskan untuk membawa pekerjaannya itu pulang ke apartemen. Ia sudah rindu dengan gadisnya.
"Kamera laptop ini terhubung dengan keadaan kantor, Tuan. Tuan bisa mengawasi aktivitas kantor dari laptop ini." Seorang teknisi IT membantu Rain untuk bekerja dari rumah.
"Terima kasih." Rain lalu melihat semua ruangan di kantornya lewat laptop yang diberikan oleh pihak IT kantor.
Teknisi itu segera berpamitan setelah pekerjaannya selesai. Tak lama kemudian, bergantian seseorang masuk ke dalam ruangan dengan membawa berkas di tangan.
"Tuan," sapa sosok itu.
"Hm, ya. Kemarilah." Rain meminta sosok itu menghadapnya.
Sosok itu adalah Ro, asisten pribadi Rain. Ia berjalan cepat ke arah bosnya lalu menyerahkan dokumen yang harus diselesaikan hari ini. Tak banyak memang, tapi diperlukan ketelitian luar biasa untuk membacanya.
"Ada lagi?" tanya Rain.
"Tak ada, Tuan. Hari Rabu jadwal kosong karena akan ada pertemuan dengan pihak kerajaan." Ro menuturkan.
"Lalu Kamisnya?" tanya Rain seraya menumpuk dokumen itu menjadi satu.
"Kamis belum bisa dipastikan. Tapi besok acara pertemuannya dimulai pada jam dua siang," kata Ro lagi.
"Apakah ada ketentuan khusus untuk datang?" tanya Rain sambil merapikan meja kerjanya.
"Saya rasa tidak. Hanya saja jika membawa pasangan harus menggunakan gaun yang sopan." Ro menjelaskan.
"Ya, aku mengerti. Nanti jika ada hal yang penting, kirim saja ke email-ku. Malam ini aku ingin beristirahat terlebih dulu." Rain menjelaskan.
"Baik, Tuan. Saya mengerti." Ro pun mengiyakan.
Rain bergegas meninggalkan ruang kerjanya dengan membawa semua dokumen penting di tangannya. Ro pun mengantarkan Rain hingga sampai ke depan ruangan. Yang mana ternyata Jack telah menunggunya.
Keduanya segera meninggalkan kawasan Burj Khalifa untuk segera pulang ke apartemen di mana pasangannya berada. Malam ini Rain ingin menghabiskan waktu bersama calon istrinya. Sedang Jack diminta untuk beristirahat di rumahnya. Rain akan memanfaatkan kesempatan ini untuk melepas semua rasa rindu yang ada.
__ADS_1