
Di perjalanan...
Pemandangan jalan hari ini tampak sepi. Mungkin minggu pagi belum terlalu ramai pengendara sehingga belum banyak kendaraan yang terlihat.
Aku duduk di kursi belakang mobil bersama tuanku. Aku duduk di sisi kirinya. Jarak kami mungkin sekitar lima puluh senti. Dan kulihat tuanku menyandarkan tangan kanannya di sisi jendela kaca mobil. Sedang tangan kirinya...
Eh? Tangannya meraba-raba?
Kulihat tangan kiri tuanku seperti sedang mencari-cari sesuatu, entah apa. Tapi semakin lama arahnya semakin ke arahku. Kulihat dari pantulan kaca depan juga Jack tersenyum kecil sambil terus mengendarai mobilnya.
Apa dia mencari tanganku?
Ingin rasanya GR, tapi aku takut kecewa. Lagipula kami baru saja bertengkar, atau lebih tepatnya dia sedang marah padaku. Mana mungkin tiba-tiba dia mengajak baikan. Pastinya aku yang harus mengalah, bukan?
"Ehem!"
Dia berdehem, sesaat setelah lelah mencari-cari sesuatu tetapi tidak ketemu. Aku sih biasa saja, hanya sekedar melihat ke arahnya lalu kembali mengalihkan pandangan. Bagaimanapun aku ini perempuan, gengsi dong jika harus duluan. Ya, enggak, sih?!
"Tuan, apakah Anda membutuhkan sesuatu?" tanya Jack dari depan.
"Tidak. Aku tidak membutuhkan apa-apa. Hanya kesal saja," katanya sambil melirik ke arahku.
Aku tidak tahu seberapa besar kesalahanku sampai dia seperti itu. Tiba-tiba saja dia berubah dingin. Entah karena tidurnya kuganggu atau karena semalam tidak menanggapi ucapannya. Entahlah. Lagipula walaupun aku menyukainya, bukan berarti mau menjadi istri kontraknya. Karena menurutku istri kontrak itu dipaksakan sekali. Kalau tidak cinta, ya sudah. Aku juga tidak mau berharap. Aku cukup sadar diri.
"Kita sudah sampai, Tuan." Tak lama mobil kami tiba di halaman parkir sebuah gedung olahraga.
"Ya."
Tuanku langsung turun begitu saja sambil membawa tas olahraganya. Dia tidak menyapaku sama sekali.
Apa dia benar-benar marah padaku?
Sungguh jika bukan karena majikanku, pastinya sudah kujitak kepalanya. Tapi saat ini aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti kemauannya. Ya sudah, aku ikut keluar, masuk ke dalam gedung olahraga bersamanya.
"Tidak perlu menungguku, Jack. Nanti aku akan menghubungimu," katanya kepada pria berjas hitam yang tak lain adalah Jack, supir pribadinya.
"Baik, Tuan." Jack hanya mengiyakan seraya mengangguk.
"Tu-tuan ...." Aku mencoba menegurnya saat berjalan masuk ke gedung olahraga ini.
__ADS_1
Dia masih diam, tidak menjawab sama sekali. Seperti butuh tak butuh denganku.
Apa yang harus aku lakukan kalau sudah begini?
Aku bingung, benar-benar bingung menghadapi sikapnya. Jadi aku diam saja sampai masuk ke dalam gedung ini, dan kulihat ada dua pria mendekatinya.
"Hei, Bro! What's Up?!" Seorang pria berkaus abu-abu menyapa tuanku.
"Ya." Tuanku menjawab singkat.
"Sepertinya ada yang berbeda hari ini, Rain?" Pria berkaus biru melihat ke arahku.
"Hm, ya." Lagi-lagi tuanku menjawab singkat.
"Hei, dia lumayan juga. Kau dapat darimana?" Kudengar si pria berkaus biru berbisik kepada tuanku.
"Kau tidak perlu tahu," jawab tuanku sambil melirik ke arahku.
"Hei, Nona manis. Kau adalah gadis yang kesekian kalinya diajak Rain ke sini. Apakah kami boleh mengenalmu?" tanya si pria berkaus biru.
"Aw!!!" Seketika itu juga tuanku menyikut perut si pria berkaus biru.
Ih, dia kejam sekali. Salah dikit langsung main sikut.
Sebenarnya aku tidak peduli dia mau bicara apa dengan kedua temannya. Tugasku hanya menemani dan tidak perlu berbicara apapun. Namun, lambat laun aku merasa kesal juga karena mendengar ketiga pria ini berbincang.
Ternyata bukan hanya wanita saja yang kalau sudah mengobrol lama.
Aku tidak peduli dengan mereka. Aku melihat-lihat saja ke sekelilingku. Kulihat memang banyak alat-alat pelatih otot di sini, tapi tidak tahu di mana tuanku akan berolahraga nantinya.
"Nona, kenalkan namaku Khan. Aku dari India yang dipaksa Rain ke sini." Pria berkaus biru memperkenalkan dirinya sambil mengajak ku berjabat tangan.
Aku pun segera menanggapinya. "Salam, aku Ara." Kuletakkan tangan kanan di dada seperti biasanya.
"Woww!"
Kedua pria itu terkejut dengan sikapku. Tuanku juga terlihat tersenyum tipis. Sepertinya dia merasa bangga dengan sikapku ini.
"Sudah, aku mau berolahraga. Kalian mengganggu saja." Tuanku lalu menerobos keduanya, dan...
__ADS_1
Dia memegang tanganku?!
Tak kusangka jika dia akan menarik tanganku lalu berjalan melewati kedua temannya. Tak tahu apa yang dia pikirkan, aku diam saja dan menurut. Sampai akhirnya tiba di sebuah ruangan, dia baru melepas tanganku. Sebuah ruangan yang dipenuhi dengan alat-alat olahraga di setiap sisinya dan juga kaca di bagian depan. Dia kemudian melepas sweternya.
Astaga! Astaga!
Dia seperti tidak malu melepas pakaian di depanku. Dan kini dia mengenakan kaus yang tanpa lengan dan celana olahraga panjang berwarna hitam. Dia mulai melakukan pemanasan di depan treadmill, sejenis alat untuk berlari. Dan kulihat...
Ya ampun tubuhnya ....
Tubuh tuanku amat meresahkan pandangan mata. Otot-otot lengannya seperti membius penglihatanku. Lekas-lekas aku mengalihkan pandangan lalu duduk di dekat kaca. Aku tidak ingin salah tingkah melihat tubuhnya.
"Hei, kau ingin diam saja di sana?!" tanyanya yang menegurku.
"Tuan, aku..." Aku segera berdiri.
"Lepas pakaianmu, kita berolahraga," katanya.
"Hah? Apa?!" Aku terkejut.
"Em, maksudku lepas swetermu." Dia seperti salah bicara.
"Oh. Baik, Tuan." Aku menurut.
Aku lalu melepas sweterku, menuruti apa katanya. Dan kini dia bisa melihat dengan jelas lenganku karena mengenakan kaus berlengan pendek. Dan ternyata kami sama-sama mengenakan kaus berwarna hitam. Ini kedua kalinya kami mengenakan warna yang sama. Apakah hanya kebetulan semata? Entahlah, kudekati saja dirinya yang sudah menghidupkan tredmill.
"Kemari, berlari bersamaku." Dia memintaku mendekat.
"Baik, Tuan." Aku pun menurut.
Aku mencoba tredmill ini. Kami menghadap ke luar ruangan yang terdapat taman bunga indah. Sepertinya dia memang sengaja mengajak ku ke sini. Dia juga tersenyum kecil sambil berjalan pelan di atas treadmill-nya.
Tuan, jangan marah-marah lagi, ya. Aku bingung jika kau marah. Bingung harus ikut marah atau menjitak kepalamu!
Kunikmati pemanasan ini bersamanya. Lambat laun aku mulai terbiasa berjalan di atas tredmill. Tentunya hal ini berkat dirinya yang telah sabar mengajariku. Di sini juga dia mengajak ku menggunakan alat olahraga lainnya. Tapi anehnya, kenapa tidak ada orang yang masuk ke ruangan ini?
Apa ruangan ini memang hanya dikhususkan untuknya?
Pikiranku masih diselimuti tanda tanya, tapi hatiku meminta agar terus diam saja. Aku tidak tahu kenapa. Kunikmati saja kebersamaan ini sampai waktu yang menjawab semuanya.
__ADS_1