Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Look For


__ADS_3

Hangat napasnya kurasakan saat bibir ini menyentuh bibirnya. Tapi aku tidak ingin berlalu begitu cepat dari kejahilan yang baru saja kumulai. Kususuri lengan kekarnya dengan perlahan lalu kuhisap bibirnya pelan. Aku mencoba berinisiatif sebelum diminta olehnya.


Sayang, biarkan aku yang memulainya.


Kulihat dia diam seperti menikmati kecupan bibirku. Jari jemariku pun mulai menggelitik tengkuk lehernya agar menambah sensasi yang dia rasakan. Kuusap pelan lehernya lalu membiarkan jari-jemariku bermain di tengkuknya. Kurasakan jika dia mulai bereaksi atas kejahilanku ini. Aku bisa merasakan ada sesuatu yang mengganjal di antara kami.


Cepat bangun rupanya.


Tak tahu apa yang ada di pikirannya, kulepas cumbuanku dari bibirnya. Kujauhkan wajahku dan kulihat kedua matanya perlahan terbuka. Dia kemudian menatapku dalam, sambil mengusap lembut wajah ini.


"Kau mulai pintar, Ara."


Dia tersenyum karena aku berani memulainya terlebih dahulu. Tidak seperti sebelum-sebelumnya yang bersikeras tidak mau. Aku pun membalas senyumannya itu dengan bahagia. Tak berapa lama kurasakan kedua tangannya turun ke bawah pinggangku, tepat di pinggul. Dia kemudian meremasnya dengan gemas.


"Sayang?" Aku merasa dia mulai aneh.


Dia lalu berbisik di telingaku. "Kau hanya milikku, Ara. Sekarang dan selamanya." Dia kemudian menggigit kecil telingaku ini.


"Sayang, geli!" Aku mencoba menghindar, tapi dia segera memegang kedua tanganku.


"Kau tidak akan bisa lari dariku, Ara. Tidak akan pernah bisa." Dia menatapku dengan tatapan yang memburu.


Kusadari jika hal ini adalah sebuah sinyal untukku. Tapi aku tidak mungkin memenuhi keinginannya di tempat seperti ini. Ini bukan tempat tinggal kami.


"Sayang, jangan di sini. Kita pulang saja," kataku.


"Kenapa?" tanyanya yang seperti sudah berada di ujung kendali.


"Tidak ada kasur," jawabku tanpa berpikir.


Kulihat dia terkekeh mendengar jawabanku ini. "Baiklah. Kita kembali ke apartemen sekalian merapikan barang, ya." Dia kemudian menjitak kepalaku dengan kepalan tangannya.


Aku diam. Namun karena jahil, kusenggol saja titik pusatnya lalu lekas-lekas pergi. "Ups, maaf."

__ADS_1


Aku segera berlari menjauh darinya. Seketika kulihat dia terdiam lalu melihat ke arah bawah. Kutahu jika dia sudah menginginkannya.


Sabar, Sayang. Dua minggu lagi. Aku pun bergumam dalam hati.


Ara membuat sebuah permainan yang menyiksa prianya. Ia kini mulai jahil kepada calon suaminya itu. Pernikahan yang tinggal menghitung hari pun membuat keduanya semakin berani. Rain yang biasa memulai terlebih dulu harus terdiam saat Ara mengambil inisiatif untuknya. Ia menyadari jika sang gadis bisa melakukan hal yang sama sepertinya. Rain pun jadi gemas sendiri dibuatnya.


Dia itu ingin kugigit!


Karena Ara sudah duluan turun, Rain pun lekas-lekas menyusulnya agar tidak ketinggalan. Sementara Jack sudah menunggu di pinggir jalan komplek sambil melihat keadaan di sekitar perumahan ini. Tampak dirinya yang setia menunggu sang tuan datang. Tak lain adalah Rain seorang.


Mereka akhirnya memutuskan untuk kembali ke apartemen sebelum melakukan pindahan. Yang mana sesuatu telah menunggu kedatangan mereka di sana.


Di lain tempat...


Satu pesawat mendarat di Bandara Internasional Dubai pada pukul setengah dua belas siang. Terlihat seorang wanita berblezer putih turun dengan membawa kopernya. Ia mengenakan kaca mata hitam dan syal yang berwarna abu-abu. Ia turun seorang diri dari dalam pesawat.


Kedatangannya sudah ditunggu oleh seseorang di balik pintu tiba penumpang. Seorang pria yang juga berkaca mata hitam. Pria itu melihatnya dari balik kaca gedung sambil mengamati keadaan sekitar, sampai wanita itu datang menemuinya. Ialah Nail yang setia kepada majikan wanitanya asal USA ini, Jane. Tak lama Jane pun memasuki kawasan tiba penumpang.


Ya, Jane telah kembali ke Dubai setelah menyelesaikan serah-terima saham dengan ayah dan juga saudara tirinya. Kini ia bisa kembali melancarkan aksi memecah belah hubungan Rain dan Ara. Ia tidak akan hidup tenang jika keduanya belum berpisah. Jane menganggap jika Rain hanyalah miliknya seorang. Ia tidak akan melepaskan Rain begitu saja.


"Aku tidak tahu Ara ke mana, Guru Lee. Tapi kata teman sekelasnya, Ara sedang menyesuaikan jadwal kuliah. Jadi dia tidak masuk beberapa hari." Taka menerangkan.


"Kau tahu nomor ponselnya?" Lee bertanya untuk yang ke sekian kali tentang Ara.


"Aku tahu nomornya, tapi tidak berani memberikannya padamu. Aku khawatir dia akan marah padaku. Apakah ada keperluan penting dengannya?" Taka antusias menanggapi Lee.


"Em, tidak. Hanya saja tak biasa melihatnya tidak datang ke kampus. Aku pikir dia sedang sakit atau apa." Lee memberikan alasannya kenapa menanyakan Ara.


"Aku juga tidak berani menghubunginya. Dia kan kerja sambil kuliah, Guru Lee. Aku khawatir menganggu jam kerjanya," kata Taka lagi.


Lee kembali bertanya, "Dia kerja di apartemen itu?" Lee penasaran.


"Hm ...," Taka berpikir. "Sepertinya Guru Lee amat tertarik padanya. Aku juga tak biasa mendengar Guru menanyakan gadis lain kepadaku." Taka menyelidik.

__ADS_1


Lee beranjak dari duduknya. "Aku rasa kau lebih tahu tentang Ara daripada teman sekelasnya. Bukankah kalian amat dekat?" Lee beranjak pergi.


"Guru Lee!" Taka menahan kepergian gurunya. "Akan ada pesta dansa yang diadakan fakultas seni. Tak inginkah Guru mengajak Ara?" Taka bertanya kemudian.


"Maksudmu?" Lee menoleh ke arah Taka yang berada di belakangnya.


"Kalau Guru tidak mau, aku yang ingin mengajak Ara." Taka seperti memancing pengakuan gurunya.


"Hah, kau ini." Lee pun bergegas pergi dari hadapan mahasiswanya.


Taka terlihat tersenyum dalam rasa curiga. Ia membiarkan guru karatenya berlalu pergi dengan meninggalkan sejuta tanda tanya. Taka penasaran dengan apa yang terjadi di antara Ara dan juga gurunya. Ia ingin segera mencari tahunya sendiri.


Sepertinya sesuatu telah terjadi di antara mereka. Tapi, apa ya?


Taka berpikir. Bersamaan dengan itu kedua temannya, Nidji dan Ken datang menemuinya.


"Hei, Taka. Kau habis bicara apa dengan guru Lee?" Nidji tampak kepo.


"Dia menanyakan Ara," jawab Taka segera.


"Hah?!" Nidji tak percaya.


"Hei, kami sudah menyiapkan bahan pelajaran untuk Rose. Kita lakukan hari ini?" Ken mengalihkan.


"Memangnya semua sudah siap seperti rencana?" tanya Taka kepada kedua temannya.


"Tentu. Kau tenang saja. Semua sudah diatur." Nidji menimpali.


"Baiklah, kita mulai saja."


Taka mengajak keduanya bergegas. Ia melupakan sejenak apa yang terjadi pada gurunya dan juga Ara. Ia biarkan waktu yang menjawabnya karena masih ada urusan yang harus segera diselesaikan, yaitu memberi Rose pelajaran.


Nona Rose, kita lihat apa yang akan kau lakukan setelah menerima hal ini. Tunggulah sebentar lagi.

__ADS_1


Taka lalu berjalan bersama kedua temannya, menuju kelas Rose yang ada di fakultas seni. Ia berniat memberikan Rose pelajaran atas kesombongannya.


__ADS_2