Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
I am Coming, Grandpa


__ADS_3

Satu jam kemudian...


Seorang pria berjaket hitam, berkacamata hitam dan bertopi hitam duduk di sudut kafetaria yang ada di Kota Kansas, USA. Ia duduk sambil membaca koran dan meneguk secangkir kopinya. Ia tengah menunggu kedatangan seseorang di lantai atas kafe tersebut.


Itu dia.


Tak lama kemudian ia melihat seorang pria berjaket abu-abu datang sambil memegang ponsel pintar. Pria tersebut pun meneleponnya. Segera saja ia meletakkan koran yang sedang dibaca lalu mengangkat telepon dari pria tersebut.


"Di depanmu, Bodoh," katanya yang membuat pria itu menghambur ke arah dirinya.


Ia adalah Rain yang sedang menunggu kedatangan Owdie. Beberapa menit menunggu, akhirnya yang ditunggu-tunggu pun datang. Terlihat raut wajah Owdie yang semringah tiada tara saat melihat Rain. Ia segera memeluk saudara seperasuhannya itu tanpa ampun.


"Rain ... akhirnya kita bisa bertemu lagi."


Owdie berlinang air mata. Ia tak menyangka akan melihat saudaranya kembali setelah dinyatakan hilang di lautan Dubai. Peluk haru pun mewarnai siang hari ini di Kota Kansas. Rasa rindu dan cemas yang menjadi satu itu pun akhirnya bisa teruraikan dengan baik.


Rain sendiri tampak tiada berdaya saat menerima pelukan dari Owdie. Ia diam saja saat dipeluk Owdie erat-erat. Namun, saat Owdie ingin mencium pipinya, Rain segera menjauhkan Owdie dari dirinya. Rain merasa jijik.


"Sudah! Jauhkan wajahmu itu dariku!" Tanpa merasa berdosa, Rain mendorong Owdie kuat-kuat.


Owdie pun terkejut. "Oh, Rain. Tidak bolehkah aku menciummu?" tanya Owdie yang membuat Rain bertambah jijik.


Untung saja kafetaria lantai atas ini masih sepi pengunjung sehingga tidak ada yang melihat kegilaan mereka. Kalau ada, pastinya mereka akan dianggap sebagai pecinta sejenis. Di negara bebas seperti USA hal itu memang terasa biasa. Namun, tetap saja karena ruang lingkup Rain beberapa tahun terakhir berada di Timur Tengah, ia mengikuti adat budaya yang ada di sana.

__ADS_1


"Jangan lebay! Sudah duduk!" pinta Rain lalu ia duduk kembali di kursinya.


"Ya Tuhan, aku begitu merindukanmu, Saudaraku. Tapi malah mendapat penolakan seperti ini." Owdie meletakkan tas ranselnya ke atas meja.


Rain menahan tawanya. Ia sebenarnya mengerti bagaimana perasaan Owdie yang sudah lama tidak bertemu dengannya. Tapi kini Rain sudah berkeluarga. Ia merasa hanya Ara sajalah yang pantas memeluknya lama-lama.


"Hei, kau tampak seksi hari ini." Owdie pun memperhatikan Rain yang mengenakan jaket hitam. Ia baru menyadari lekuk kekar tubuh saudaranya sangat menggoda pandangan.


"Hah, kau ini ...." Rain pun seperti tidak bisa berkata apa-apa.


Rain tetap mengenakan kaca mata hitamnya. Ia duduk sambil menghadap ke arah pintu masuk untuk berjaga-jaga. Karena ia tahu mata-mata organisasi ada di mana-mana, sehingga harus selalu waspada.


"Owdie, sejujurnya aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Byrne. Tapi setelah melihat pelacak itu, aku merasa miris sekali dengan keadaannya." Rain bersimpati terhadap hal yang menimpa Byrne.


Rain terdiam sejenak. "Blok barat dan blok timur sejak dulu memang berseteru. Yang tak habis pikir adalah bagaimana bisa pihak intel menemukan kawasan laboratorium itu." Rain meneguk kopinya.


Owdie mengangguk. "Pihak intelijen Rusia pasti ada di sekitar perbatasan wilayahnya. Sampai saat ini aku hanya bisa menduga. Tapi jika dilihat dari arah tujuan, sepertinya Bryne memang dibawa ke markas besar Rusia yang ada di perbatasan." Owdie menduga.


Rain mencermati hal ini. "Mereka pasti bertindak karena ada alasan yang kuat. Tapi apa hubungannya dengan Byrne?" Rain kurang mengerti.


Owdie menghela napasnya kembali. Ia menyandarkan punggung di kursi kafe. "Byrne membuat senjata biologis atas permintaan kakek. Yang mana senjata biologis itu menyebabkan pernapasan akut. Mungkin saja pesawat jet berisi senjata biologis itu bergerak melewati perbatasan Rusia, sehingga mereka mencurigainya. Aku tidak tahu pasti, tapi mungkin saja begitu." Owdie mengungkapkan pendapatnya.


Rain berpikir. "Setahuku setiap pesawat yang melintasi suatu negara harus mendapat izin lintas dari pejabat bandara setempat. Jika tidak, pesawat itu harus memutar arah. Masalahnya, bagaimana bisa melewati perbatasan Rusia?" tanya Rain lagi.

__ADS_1


Owdie merenungi hal ini. "Kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, Rain. Kaki tangan organisasi sangat banyak. Apalagi para petinggi USA ikut andil dalam hal ini. Pasti mudah bagi mereka untuk menerobos perbatasan suatu negeri." Owdie berkata lagi.


Rain menarik napas dalam-dalam. "Bagaimana pihak Rusia tahu jika yang disebarkan pesawat itu adalah senjata biologis?" tanya Rain lagi.


Owdie mendekatkan wajahnya ke arah Rain. "Chemtrail tidak akan mudah hilang di langit setelah disemprotkan. Chemtrail juga membentuk garis lurus yang bisa berulang ataupun silang. Tergantung daerah mana yang menjadi targetnya. Sedangkan contrail memang murni asap pembakaran pesawat karena perbedaan daya tekanan di udara. Mereka pasti memahami hal ini dengan sangat baik sehingga tidak mudah untuk dibohongi." Owdie menjelaskan.


Saat itu juga Rain terkejut. Ia merasa kagum dengan saudaranya. "Kau luar biasa, Owdie. Ternyata diam-diam pintar juga." Rain memuji. "Selama ini aku selalu sibuk dengan agraria dan pertambangan sampai tidak tahu hal sedetail itu." Rain merasa bangga kepada Owdie.


"Hah ... kau baru tahu jika aku pintar. Ke mana saja selama ini?" Owdie merasa disepelekan.


"Hahaha." Rain pun tertawa. "Baiklah. Kalau begitu kita susun rencana sebelum menemui kakek." Rain mengajak Owdie untuk segera menyusun strategi.


"Baiklah." Owdie pun mengiyakan. Ia bersama Rain segera menyusun rencana tentang apa saja yang akan mereka lakukan setibanya di manshion sang kakek, Sam.


Beberapa jam kemudian...


Dua pria berjas hitam turun dari mobil BMW dengan senjata pistol di belakang pinggangnya. Mereka mengenakan kaca mata hitam dengan langkah kaki santai saat memasuki sebuah rumah mewah yang ada di kawasan USA. Rumah itu sangat besar bak istana megah. Halamannya luas dan berisi berbagai macam tanaman hias yang mahal. Keduanya pun terus melangkahkan kaki, menaiki anak tangga menuju teras depan rumah tersebut.


Mereka adalah Owdie dan Rain yang baru saja tiba di kediaman sang kakek. Terlihat para pelayan yang membukakan pintu untuk keduanya dengan santun. Mereka tanpa penjegalan memasuki rumah tersebut lalu menaiki anak tangga menuju ruang kerja sang kakek. Tak ada yang tahu kedatangan mereka selain satpam yang berjaga dan juga beberapa pelayan kepercayaan. Tak ayal keduanya sampai juga di depan pintu ruang kerja kakeknya. Owdie pun segera membukakan pintu untuk Rain. Sedang Owdie menunggunya di luar.


"Selidiki apa yang terjadi di sana?"


Seorang pria berusia delapan puluh tahun terlihat sedang menerima telepon di depan meja kerjanya. Rain pun masuk, melangkahkan kaki hingga tiba di hadapan pria itu. Saat itu juga pria tersebut menjatuhkan teleponnya. Ia terkejut saat menyadari siapa gerangan yang datang.

__ADS_1


__ADS_2