
"Kita tidak bisa melarangnya, Owdie. Dia mempunyai kekerasan hati yang luar biasa." Suamiku menanggapi perkataan saudaranya.
Suamiku, Rain menyetir mobil dan aku duduk di sampingnya. Sedang saudaranya yang bernama Owdie itu duduk di kursi belakang mobil sambil memainkan ponselnya. Suasana terasa mulai serius saat keduanya membahas organisasi. Aku yang tak mengerti pun hanya bisa diam dan mendengarkan. Sepertinya Owdie juga tidak keberatan jika aku mengetahuinya.
"Ya. Kau benar, Rain. Rasanya ingin sekali aku menyumpahinya. Dia benar-benar keterlaluan. Jikalau bukan karena saudara, entah sudah jadi apa dirinya." Aura kekesalan itu begitu tampak dari saudara suamiku ini.
"Jadi kau juga ikut dikeluarkan olehnya?" tanya suamiku sambil membelokkan setir mobil ke kanan.
"Ya ... begitulah. Katanya dia ingin mencari penggantiku." Owdie menceritakan.
"Lalu apa rencanamu selanjutnya?" tanya suamiku lagi.
"Em ...," Owdie tampak berpikir. "Mungkin aku akan tinggal di kota ini. Tapi setelah kupikir-pikir, Kuwait lebih menjanjikan." Owdie tampak menimbang ulang.
"Jadi kau ingin menetap di Kuwait?" tanya suamiku lagi sambil terus melajukan mobilnya.
"Mungkin. Mungkin saja. Aku mencari mata uang tertinggi di dunia untuk bertahan hidup. Kudengar Turki sedang mengalami inflasi," cetus Owdie.
Suamiku mengangguk. "Ya. Turki mengambil semua simpanan emasnya pada USA. Ratusan ton mereka tarik dari negeri itu. Mungkin karena hal itulah politik segera mereka mainkan untuk memberi pelajaran kepada Turki. Sudah menjadi rahasia umum bagaimana cara mereka bermain. Aku sendiri sudah tidak kaget lagi." Suamiku berpendapat.
"Maka dari itu aku lebih ingin tinggal di Kuwait saja. Negara itu memiliki mata uang tertinggi di dunia. Mungkin akan aman-aman saja ke depannya." Owdie menduga.
__ADS_1
"Itu karena Kuwait menganut sistem perbankan dirham dan dinar. Sehingga negaranya tidak mengalami inflasi yang besar. Uang kertas hanya sihir yang suatu hari tidak akan terpakai. Aku pun sama, ingin menginvestasikan semua asetku menjadi emas. Aku rasa itu cara yang paling aman," tutur suamiku.
Oh ... ternyata ini alasannya ingin menjadikan semua asetnya menjadi emas? Dia sudah memperkirakan ke depannya. Oh, Suamiku. I Love You.
"Ya. Emas memang tidak akan musnah dan nilai jualnya akan selalu bertambah seiring berjalannya waktu. Tidak seperti uang kertas yang tiap tahunnya mengalami penurunan nilai. Aku harap nanti bisa menemukan tempat yang aman untuk menyimpan emas-emasku." Owdie menyetujui pendapat suamiku untuk menginvestasikan semua aset menjadi emas.
"Jangan khawatir. Jika kau berminat, aku tahu tempat yang aman untuk menyimpan emas. Tapi bagaimana dengan kebun anggur yang kau beli dariku?" tanya suamiku lagi.
Owdie terdiam sejenak. Dia tampak berpikir. "Aku hanya akan mengambil beberapa lusin botol setiap bulannya untuk konsumsi pribadi. Sisanya kudonasikan untuk tuna wisma yang ada di sana." Owdie membuat keputusan.
"Hah?! Kau serius?!!" Suamiku tak percaya.
"Hm, ya. Aku pikir kebun itu akan selalu menghasilkan. Jadi tidak ada salahnya jika sebagian hasilnya dibagikan. Lagipula kebun itu bukan milikku. Aku hanya mengaku saja telah membelinya darimu." Owdie menyiratkan sesuatu hal yang dalam untukku.
"Ya. Aku berharap hartaku bisa bermanfaat bagi banyak orang," katanya seraya tertawa.
Owdie tertawa senang di belakang kami. Sepertinya kebebasan jiwa itu mulai dia dapatkan. Aku pun berharap yang terbaik menyertainya. Semoga donasi amal yang dia berikan dapat bermanfaat bagi semua.
Rumah sakit Turki, ruang dokter spesialis kandungan...
Aku sudah sampai di rumah sakit yang berjaga 24 jam penuh. Ternyata ada dokter spesialis kandungan yang praktik di malam ini. Lekas saja suamiku mendaftar melalui jalur eksklusif agar segera ditangani. Alhasil kini aku sedang diperiksa oleh dokter kandungan yang berjaga. Dan ternyata sesuatu hal mengejutkanku dari hasil USG 4D. Aku ternyata mengandung janin kembar.
__ADS_1
"Ini luar biasa, Tuan Rain. Pembelahan sel telurnya sangat baik. Kondisi kedua janin tumbuh sempurna di dalam sana." Sang dokter tampak takjub saat memperlihatkan hasil USG 4D kepada suamiku.
Suamiku diam saja. Dia seakan tidak dapat berkata apa-apa. Kulihat air matanya mulai menggenang, seperti ingin keluar dari persembunyiannya. Dia melihat sendiri bagaimana kedua janin itu berkembang dan membentuk bayi di dalam kandunganku. Dan tak lama kusadari, ternyata kaki suamiku bergetar. Sepertinya dia tidak kuasa menahan rasa haru yang berkecamuk di hatinya.
"Dok, apakah ada pantangan untukku?" tanyaku pada dokter yang memeriksa.
Dokter yang memeriksaku seorang pria. Namun, dia ditemani satu orang perawat perempuan yang ikut membantu mengoleskan krim pada perutku. Sehingga aku dan dokter itu tidak bersentuhan kulit secara langsung. Dokternya tampan, tapi lebih tampan suamiku. Dia juga masih muda, mungkin hanya berbeda beberapa tahun saja usianya dari suamiku. Tapi tetap Rainku yang nomor satu.
"Nona disarankan untuk lebih banyak meminum susu kambing. Tekanan darah Nona mulai memasuki fase rendah karena tumbuh kembang janin yang pesat. Banyak-banyak makan buah dan juga sayuran. Serta kurangi karbohidrat. Karena bayi kembar akan menekan banyak ruang di dalam." Dokter menuturkan.
Seketika aku mengernyitkan dahi. "Tapi aku tidak suka susu kambing, Dok. Baunya menyengat sekali." Aku jujur saja padanya.
Dokter mencoba mengerti. Suamiku pun seperti tersadar dari rasa harunya sendiri. Dia kemudian mengikuti pembicaraan ini.
"Apakah ada susu lain yang bisa dikonsumsi selain susu kambing, Dok?" Suamiku bertanya.
Dokter tampak berpikir. "Susu UHT juga boleh. Tapi jangan terlalu banyak karena mengandung pengawet. Jika memang tidak bisa meminum susu kambing, bisa digantikan dengan daging-dagingan untuk menambah protein, agar tumbuh kembang bayi lebih sempurna. Saya akan buatkan resep terbaik untuk kedua janin Tuan dan Nona." Dokter segera menuju mejanya.
Aku merasa sedikit lega saat tahu keadaan bayi-bayiku sehat sempurna di dalam sana. Akhirnya apa yang dikabarkan nenek pemberi gelang waktu itu benar-benar menjadi nyata. Aku dikaruniai dua buah hati sekaligus dari Sang Pencipta. Rasanya sungguh bahagia tak terkira. Sekali melahirkan, dua bayi keluar. Duh, senangnya.
"Sayang, kau ingin metode melahirkan seperti apa? Kita bisa konsultasikan kepada dokter sekarang." Suamiku menyarankan.
__ADS_1
Aku berpikir segera tentang metode apa yang akan kupilih untuk persalinan nanti. Kudengar ada sebuah metode yang bisa tanpa jahitan jika melahirkan normal. Namanya metode Maryam.
Entah bagaimana cara praktiknya, aku ingin mengetahuinya lebih jelas dulu dari sang ahli. Kudengar juga metode baby water cukup aman untuk dilakukan. Entahlah. Aku yang mana saja asal tidak kena jahitan. Aku berharap keduanya bisa lahir dengan selamat, lancar, dan tanpa kendala. Doakan ya.