Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Journey


__ADS_3

Perjalanan ke bukit peternakan...


Ara dan Rain menaiki kereta kuda milik istana Agartha menuju bukit peternakan. Mereka pergi tanpa ada pengawalan yang berarti. Hanya Pak Kusir dan seorang prajurit yang duduk bersama kusir kereta. Sedang Rain dan Ara duduk di dalam kereta kuda.


"Sayang, entah mengapa aku merasa negeri ini seperti dunia fantasi." Ara melihat pemandangan dari balik jendela kereta kudanya.


Rain ikut melihatnya. "Aurora terbayang dengan jelas dan berwarna biru kehitaman. Seperti sketsa dalam mimpi." Rain menuturkan.


"Sayang." Ara menoleh ke Rain. "Apa jangan-jangan kita sedang bermimpi, ya?" Ara curiga.


Rain kemudian menggigit telinga istrinya. "Aw!" Saat itu juga Ara merasakan sakit.


"Bagaimana? Terasa sakit?" tanya sang suami.


Ara memegang telinganya. "Sakit tahu!" Dia pun memukul lengan Rain.


Rain tersenyum. Ia kemudian mengecup tangan Ara yang memukulnya. "Aku salut dengan keberanianmu yang datang ke kapal sendirian." Rain menatap dalam istrinya.


Ara ikut tersenyum. "Kau sudah menjadi suamiku. Aku juga bertanggung jawab atasmu." Ara ikut mencium tangan Rain yang memegang tangannya.


Rain lantas mengecup kening istrinya. Kecupan lembut yang menenangkan sampai ke sanubari. Ara pun menerimanya dengan senang hati. Ia tidak mempunyai alasan untuk menolaknya lagi. Ara menyadari jika dari ujung rambut sampai ujung kakinya adalah hak suami.


"Aku berharap sesampainya di sana kita bisa segera membuka portal. Atau paling tidak dapat petunjuk untuk kembali ke bumi. Aku harus segera menyelesaikan pekerjaan yang tertunda. Karena pasti mereka sedang mencariku sekarang." Rain berpendapat.


Seketika itu juga Ara teringat sesuatu. Ia lantas menceritakan apa yang dilihatnya waktu itu. "Sayang, apa kau sedang berebut tahta organisasi?" tanya Ara dengan polosnya.


Rain tersentak. "Ada apa memangnya?" Rain tampak serius.


Ara menghela napas. Ia kemudian menceritakan. "Aku rasa semua ini ada hubungannya dengan seseorang yang merasa tahta organisasi itu miliknya. Bisa ceritakan padaku apa sebenarnya yang terjadi? Mungkin aku bisa mengaitkan hal itu dengan apa yang kulihat." Ara ingin tahu.


Rain mengangguk pelan. Ia kemudian mengingat kembali kenangan masa lalu. Saat itu Rain masih remaja. Usianya baru menginjak lima belas tahun. Ia berkumpul bersama saudara-saudaranya di rumah keluarga besar. Di saat sang nenek masih ada.


"Semua sudah berkumpul di sini. Silakan kalian tanda-tangani surat perjanjian tahta organisasi." Sang nenek berdres kuning meminta kepada cucu-cucunya.


Ketiga belas cucu Sam pun mulai menandatangani surat perjanjian tersebut. Satu per satu dari mereka membaca isi perjanjian lalu menandatanganinya. Tidak ada yang keberatan dengan isi perjanjian itu. Semuanya sepakat.


"Silakan Dewan Hakim menjadi saksi di perjanjian ini." Seorang pria berambut putih pun menjadi saksi atas ketiga belas tanda tangan cucu Sam.

__ADS_1


"Aku rasa ada baiknya jika di foto kopi agar semua cucu dapat membaca dan mengingat isi perjanjian ini. Bukankah begitu, Tuan Sam?" Dewan Hakim menoleh ke arah Sam yang duduk di seberangnya.


"Ya. Aku setuju. Siapapun yang menikah pertama kali, berhak menggantikanku menjabat di tahta organisasi tertinggi. Tidak cucu kandung, tidak cucu angkat. Kalian semua adalah cucuku. Aku harap kalian bisa menerima perjanjian ini untuk ke depannya." Sam menerangkan.


Istri Sam pun segera mendekati suaminya. Ia mencium pipi sang suami sebagai ungkapan terima kasih karena telah memenuhi permintaannya. Nenek dari ketiga belas cucu itu amat senang karena akhirnya permintaannya dikabulkan.


"Jadi ... isi perjanjian itu permintaan nenek?" tanya Ara memastikan.


Rain mengangguk. "Nenek tidak ingin ada tebang pilih di antara kami. Maka dari itu nenek meminta kakek membuat perjanjian seperti itu. Kami pun menyetujuinya. Sampai sekarang tidak ada yang memberontak perjanjian. Terkecuali ...,"


"Terkecuali?"


"Terkecuali Nick." Rain menerangkan.


"Nick? Saudaramu yang melihatku itu?" Ara ingin tahu lebih jelas.


"Ya. Byrne dan Owdie bilang aku harus berhati-hati dengannya. Karena waktu itu mereka melihat Nick masuk ke kamar kakek." Rain menuturkan.


"Sayang, ini hanya perkiraan sementara. Aku tidak tahu siapa pria yang berkata seperti itu di penglihatanku. Aku tidak berani memastikannya. Aku takut salah. Tapi ada baiknya jika saat kembali ke bumi, kau tidak menggunakan kekerasan untuk membuktikannya. Aku khawatir malah akan terjadi perang saudara." Ara mengungkapkan.


"Syukurlah. Akhirnya suamiku ini berlapang dada. Terima kasih, Sayang." Ara memeluk suaminya.


Rain mengangguk. Ia membalas pelukan sang istri dengan sepenuh hati. Ia tahu jika tidak lama lagi akan menjadi seorang ayah, sehingga ia mengabaikan emosinya. Rain ingin melihat sang buah hati lahir ke dunia.


Sesampainya di bukit peternakan...


Ara Dan Rain baru saja tiba di bukit peternakan Agartha. Dan kini mereka sedang turun dari kereta kuda. Rain pun dengan sigap membantu istrinya.


"Astaga, luas sekali?!"


Ara tak menyangka saat melihat bukit peternakan ini sejauh mata memandang. Terdapat pepohonan rindang dan rerumputan hijau yang segar di sepanjang bukit. Hewan-hewan ternak pun digembalakan tanpa rasa takut ada yang mencurinya. Hewan-hewan ternak itu terlihat amat bahagia.


Semilir angin di bukit terasa menyejukkan hingga membuat Ara ingin segera merebahkan diri di atas rerumputan. Tapi, sang kusir berpesan untuk tidak menggangu hewan ternak yang sedang digembalakan. Karena ia khawatir ternak-ternak itu akan mengancam keselamatan Ara dan juga Rain. Mereka tidak menyukai orang asing singgah ke tempatnya tanpa izin. Ara pun memakluminya. Ia akan berusaha semaksimal mungkin untuk tidak mengganggu hewan ternak itu.


Lantas apakah Ara akan berhasil mendapatkan petunjuk untuk membuka portal kembali? Dan mampukah Ara menemui nenek yang memberinya gelang saat berada di bukit ini?


...

__ADS_1


Meskipun kesepian sudah menjadi teman dalam hidupku.


Kugantungkan hidupku di tanganmu.


Orang bilang aku ini gila dan aku buta.


Karena mengambil risiko tanpa berpikir panjang.


Dan bagaimana caramu membutakan aku, masih menjadi misteri.


Aku tak bisa mengusirmu dari kepalaku.


Tidak peduli apa yang tertulis di masa lalumu.


Selama kau masih di sini bersamaku.


Semua hal kecil yang sudah kau katakan dan lakukan.


Terasa merasuk ke dalam relung hatiku.


Tak masalah jika engkau sedang melarikan diri.


Tampaknya kita sudah ditakdirkan bersama.


Telah kucoba tuk menyembunyikannya agar tak ada yang tahu.


Tapi kurasa semua terkuak saat kutatap matamu.


Apa yang sudah kau lakukan dan darimana asalmu.


Aku tidak peduli.


Selama kau mencintaiku, Kasih...


...


Bagian Keenam Tamat

__ADS_1


__ADS_2