Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Panic


__ADS_3

Di kelas seni...


Taka, Nidji dan Ken tiba di kelas Rose. Ia melihat keadaan kelas tampak sepi karena seluruh mahasiswa di kampus sedang beristirahat makan siang. Mereka kemudian melewati kelas itu untuk menghindari kamera CCTV yang ada. Ken lalu mengeluarkan mainan robotnya yang bisa ia kendalikan dari jauh. Robot itu bertujuan untuk menakut-nakuti Rose dan Jasmine jika mereka sampai dulu di kelas. Robot kepunyaan Ken ini dilengkapi kamera mini untuk memudahkan melihat keadaan sekitar.


Nidji juga mulai beraksi setelah Ken menyelesaikan tugasnya. Ia berjalan ke arah parkiran kampus sambil menyarungi tangannya dengan sarung tangan transparan. Ia berniat membuat Rose kalang kabut dengan suara knalpot mobilnya sendiri. Halaman parkir yang mempunyai CCTV pun sebisa mungkin ia hindari agar tidak ketahuan oleh Rose nantinya. Ia berpura-pura jatuh tepat di belakang mobil Rose lalu memasukkan tikus ke dalam knalpot mobil itu. Tikus hitam yang menggelikan dan juga besar. Setelahnya ia bangun dengan kaki pura-pura lecet karena terjatuh.


Taka sendiri mulai melancarkan aksinya. Ia menggunakan IP luar untuk meneror Rose lewat pesan berantai yang seolah-olah salah sasaran. Ia juga sudah menyiapkan rekaman video yang akan mengagetkan Rose jika gadis berambut merah itu sampai memutar ulang videonya. Tentunya Rose akan merasa tertekan dengan ancaman teror ini. Ketiganya bersatu padu memberikan Rose pelajaran.


Lain Taka, Ken dan Nidji, lain pula dengan Lee. Dosen fakultas teknik itu terlihat termenung di dalam ruangannya. Ia bertanya-tanya dalam hati kenapa Ara tidak kunjung masuk kuliah beberapa hari ini. Padahal Jumat yang lalu mereka masih makan siang bersama.


"Kenapa aku jadi memikirkannya, ya?"


Lee merasa bingung dengan dirinya. Tanpa ia sadari ia memikirkan Ara dan merasa khawatir dengan keadaan sang gadis. Ia lantas menelepon bagian kesiswaan untuk menanyakan data pribadi Ara. Tak lama teleponnya pun diangkat oleh dosen yang dipercaya memegang seluruh data mahasiswa.


"Dosen Lee?" Terdengar suara dari seberang menyahutnya.


"Dosen Kaf, tolong bantu aku mencari data mahasiswi fakultas bisnis bernama Ara," pintanya, sambil berjalan menuju jendela ruangan.


"Ingin di telepon atau datang sendiri kemari?" tanya dosen kesiswaan dari telepon.


"Hubungi aku jika datanya sudah didapat. Aku akan datang ke sana untuk melihatnya sendiri." Lee menerangkan.


"Baik. Kalau begitu mohon ditunggu." Dosen Kaf mengiyakan permintaannya.


Lee segera mematikan teleponnya. Ia menunggu data pribadi Ara didapatkan. Ia ingin mengetahui lebih lanjut siapa Ara sebenarnya. Ia nekat meminta bagian kesiswaan untuk mencarikan data Ara, tanpa peduli dampak yang akan terjadi. Ia ingin meluruskan keadaan hatinya yang kian resah karena gadis itu.


Sementara di lain tempat...


Ara dan Rain sudah tiba di lantai teratas gedung apartemen. Jack membantu membawakan semua barang-barang keduanya. Mereka berjalan bersama begitu keluar dari lift. Sang gadis tampak memainkan ponselnya karena sang pria sedang mengobrol dengan Jack.

__ADS_1


Kenapa perutku terasa sakit, ya?


Langkah demi langkah ia lewati bersama. Sampai akhirnya tiba di depan pintu apartemen. Rain dan Jack pun melihat keadaan sekitar pintu untuk memastikan jika tidak ada lagi pasir sihir yang ditaburkan oleh pria misterius itu. Dan setelah memastikan, Rain men-scan jarinya agar pintu apartemen bisa terbuka.


"Jack, tolong bantu proses pindahan kami esok hari. Kami ingin segera pindah secepatnya." Rain berpesan.


"Baik, Tuan." Jack pun mengangguk, mengiyakan.


"Terima kasih. Beristirahatlah dan sampai bertemu hari esok," kata Rain lagi.


"Kalau begitu saya permisi, Tuan, Nona." Jack berpamitan kepada keduanya.


Rain mengangguk, begitupun dengan Ara. Supir pribadi Rain lantas melangkahkan kaki meninggalkan keduanya yang sedang di depan pintu apartemen. Rain kemudian mempersilakan Ara masuk terlebih dahulu ke dalam, sedang dirinya mendorong koper bawaan mereka. Tetapi...


"Sayang, kepalaku tiba-tiba pusing."


"Kau baik-baik saja, Ara?" tanya Rain sambil merangkul Ara agar tidak terjatuh.


"Aku ...."


"Ara!!!"


Rain berteriak begitu Ara jatuh lemas di sisinya. Jack yang sudah sampai di depan pintu lift pun segera berbalik untuk melihat tuannya. Dan ternyata, ia melihat Ara terjatuh di depan pintu apartemen tuannya sendiri.


"Astaga!" Jack segera berlari ke arah keduanya. Ia bergerak cepat. "Tuan apa yang terjadi?" Ia melihat wajah Ara berubah pucat dengan cepat.


"Jack kita ke rumah sakit sekarang!" Rain pun panik melihat wajah calon istrinya berubah pucat.


"Baik, Tuan."

__ADS_1


Jack segera mendorong koper bawaan tuannya ke dalam. Ia kemudian menutup pintu apartemen lalu menemani Rain menuju parkiran mobil. Sementara sang gadis digendong oleh Rain hingga masuk ke dalam mobilnya. Rain terlihat cemas melihat keadaan Ara yang tiba-tiba tidak sadarkan diri.


Setengah jam kemudian, di rumah sakit Kota Dubai...


Rasa cemas menyelimuti hati dan pikiran sang penguasa. Ara sedang diperiksa oleh dokter yang berjaga dan membuat waktu tunggu Rain terasa begitu lama. Jack sendiri masih setia menemani sang tuan hingga akhirnya dokter yang memeriksa Ara keluar dari ruangan.


"Dok!" Rain segera berdiri begitu melihat dokter perempuan keluar dari ruangan Ara.


"Keluarga nona Ara?" tanya dokter itu.


"Saya, Dok." Rain menjawabnya segera.


"Mari, Tuan. Ikut saya ke dalam." Dokter itu meminta.


Rain segera masuk ke dalam ruangan untuk melihat bagaimana keadaan Ara sekarang. Ruangan kelas satu di rumah sakit itu tampak besar dengan fasilitas yang amat memadai. Rain pun masuk dan melihat keadaan sang gadis yang sedang terbaring lemah tak berdaya. Di tangannya tersambung selang infus, sedang di hidungnya tersambung selang udara. Rain pun tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Dok, ini?! Rain terbelalak kaget melihat calon istrinya seperti dalam keadaan kritis.


"Tuan Rain harap tenang. Kami terpaksa menyalurkan selang udara untuk membantu pernapasan nona Ara yang terdengar melambat. Dia dalam keadaan baik-baik saja," kata dokter itu, memberi kabar kepada Rain.


"Maksudnya, Dok?" Rain tampak bingung


"Nona Ara sedang berada di fase delta. Dia tidur dalam sekali. Menurut pemeriksaan medis, kemungkinan hanya sebatas kelelahan karena terjadi peleburan di rahimnya. Yang mana membuat kontraksi menekan seluruh saraf di bagian tubuhnya. Sehingga ia bisa tidak sadarkan diri." Dokter itu menuturkan.


"Apakah berbahaya, Dok?" tanya Rain lagi. Ia berdiri di samping sang dokter, dekat dengan Ara dibaringkan.


"Kita akan melihat kemajuan 1x8 jam pertama. Kami sudah menyuntikkan obat terbaik ke cairan infus nona. Semoga nona Ara lekas terbangun dari tidurnya." Dokter itu menjelaskan.


Rain melihat jam di tangannya. Dan ia lihat sudah menunjukkan pukul satu siang waktu Dubai dan sekitarnya. Ini berarti ia harus menunggu sampai jam sembilan malam untuk mendapatkan kabar Ara selanjutnya. Ia terlihat amat cemas dan menelan ludahnya berulang kali. Rain tidak percaya jika Ara tiba-tiba seperti ini. Dalam hitungan menit semuanya terjadi di hadapan kedua matanya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2