
Aku tidak tahu ada maksud apa Lee mempertemukanku dengan Jasmine pagi ini. Mungkin dia mempunyai alasan tersembunyi tanpa kusadari. Tapi ada baiknya jika aku tidak mengambil hati apa yang dia lakukan. Lebih baik aku pergi ke kelas sambil menunggu dosen datang. Ya, sudah. Aku pun berpamitan kepada keduanya lalu lekas pergi.
...
Sesampainya di kelas, priaku menelepon. Lantas saja segera kuangkat telepon darinya. Namun ternyata, dia malah langsung mengubah panggilan ke video. Dia memang ada-ada saja, seperti tidak tahu jika aku sedang berada di kampus. Padahal aku sudah mengirimkan pesan jika ada mata kuliah yang harus kuikuti hari ini. Lantas cepat-cepat kupasang earphone agar suaranya tidak terdengar yang lain.
"Halo?" jawabku.
"Sayang, sudah di kampus?" tanyanya yang kini sudah mandi.
Dia baru saja selesai menghanduki kepalanya. Dan kulihat dia sedang memakai sabuk celananya. Otot-otot perutnya begitu menggoda pandangan. Sampai-sampai harus kututupi ponselku karena takut ada yang melihatnya. Mana aku duduk nomor tiga dari depan dan di tengah lagi.
"Sudah. Ini."
Kuperlihatkan jika aku memang benar-benar di kampus. Aku memperlihatkan papan tulis putih dan semua yang ada di ruang kelasku. Aku juga ikut seterbuka dirinya agar dia percaya jika aku tidak aneh-aneh di sini.
"Sudah sarapan?" tanyanya sambil menyisir rambut.
"Sudah. Kamu?" Aku balik bertanya padanya.
Satu per satu mahasiswa datang ke kelas untuk mengikuti mata kuliah hari ini. Namun, priaku tetap ingin mengobrol tanpa kenal keadaan. Aku pun jadi merasa tidak enak sendiri kepada yang lain.
"Di sini sedang gerimis, Sayang. Rasanya dingin sekali." Tiba-tiba saja dia berkata seperti itu.
Mulai, kan ....
Kata-katanya seperti sebuah kode untukku. Lantas segera kuakhiri ucapannya. "Aku kuliah dulu, Sayang. Dosen sudah di depan pintu. Sampai nanti." Aku tersenyum ke arah kamera lalu mematikan panggilan teleponnya.
Aku tidak ingin melanjutkan pembicaraan karena pastinya akan mengarah ke hal yang tidak-tidak. Apalagi aku sedang berada di kelas. Malu rasanya jika sampai ketahuan.
/Sayang, kenapa dimatikan teleponnya?/ Dia mengirimku pesan.
__ADS_1
/Maaf, tak enak. Banyak orang di sini. Nanti bisa ketahuan./ Aku membalasnya.
/Biar saja ketahuan, kita kan akan segera menikah. Jangan pedulikan apa kata orang./ Dia menyarankan.
Priaku memang tidak ada duanya. Dia selalu saja mengingatkan agar tidak peduli apa kata orang. Tapi tetap saja aku kan hidup di alam manusia, harus mempunyai sikap. Apalagi ini bukan di negara bebas seperti negara asalnya. Pepatah mengatakan, di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Dan ya aku harus melakukan hal itu.
/Sudah sarapan sana. Dosen sudah datang. Nanti saling kabari, ya./
Lantas segera kuakhiri chat ini karena dosen benar-benar telah datang. Aku pun akhirnya mengikuti mata kuliah dengan menyimpan kerinduan di hati. Ya, aku sangat merindukannya.
Sayang, seharusnya kita sudah bersama dan bebas melakukan apapun tanpa sungkan. Tapi sayangnya waktu belum berpihak. Semoga saja Minggu depan kita bisa segera menikah dan tidak lagi tertunda. Aku menunggunya.
Dalam hati aku berdoa, dalam kesendirian merangkai kata. Aku berharap cinta ini tersalurkan pada tempatnya. Aku sudah ingin mengarungi bahtera rumah tangga bersamanya. Bersama hujan yang mendamaikan hatiku, Rain Sky.
Selepas kuliah...
Mata kuliah hari ini membuat tugas tambahan di rumah. Aku sampai harus membeli peralatan yang dibutuhkan untuk mengerjakan tugas yang diberikan. Dan kini aku sedang berada di pertokoan dekat kampus. Mungkin jaraknya sekitar satu kilometer dari kampusku.
Aku seorang diri di sini. Kebetulan bisa melewati jalan tikus sehingga bisa cepat sampai. Sekalian aku berjalan santai di sekitaran kampus. Dan setelah mendapatkan apa yang kubutuhkan, aku melangkahkan kaki keluar dari toko. Berniat untuk segera kembali ke kampus dengan menyeberangi jalan dua jalur ini. Tapi, tiba-tiba saja ada mobil yang melaju cepat ke arahku.
Seketika jantungku berdegup kencang saat melihat mobil melaju cepat ke arahku.Tiba-tiba saja ada mobil di jalan sesepi ini. Seketika aku tidak bisa berpikir apa yang harus aku lakukan. Haruskah maju atau memundurkan langkah karena posisiku sudah tanggung di tengah jalan. Aku pun hanya bisa pasrah kepada Tuhan.
Astaga, aku harus bagaimana?!
Mobil itu seperti memburuku. Aku bingung untuk mengambil keputusan. Dalam gerakan lambat aku berusaha menahan laju mobil itu dengan tangan kananku. Sekuat hati mencoba menghentikannya.
"HENTIKAAAANN!!!"
Aku berteriak di tepi jalan. Jalan yang sunyi dan jarang ada kendaraan yang lalu-lalang. Tapi entah mengapa mobil itu terus saja melaju ke arahku. Dan kemudian sesuatu pun terjadi...
"Aaaaaa!!!"
__ADS_1
Aku mendengar dentingan titanium dari dekat. Seketika itu juga kulihat cahaya putih menyilaukan dalam sekejap. Aku jadi tak sanggup untuk melihatnya. Dalam keadaan kalut aku hanya bisa memasrahkan semuanya kepada Yang Maha Kuasa.
Aku lemas ....
Seketika tenagaku seperti terserap ke suatu tempat. Dan setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi. Aku tidak sadarkan diri.
Beberapa saat kemudian...
Aku tidak tahu ada di mana sekarang. Tapi saat membuka kedua mata, pandanganku terlihat sangat gelap. Aku seperti berada di tengah hutan.
Astaga, jangan-jangan ...?!
Pikiranku kacau seketika. Aku seperti singgah lagi ke suatu tempat yang tidak kuketahui ada di mana. Namun, aku melihat seberkas cahaya. Lantas saja aku segera menuju ke arah sana.
Aku berlari tergesa-gesa, namun sepertinya udara hampa kurasakan. Ini seperti di waktu malam, tapi anehnya aku tidak merasa kedinginan. Aku pun terus berlari menuju ke arah cahaya itu. Dan ternyata...
Di atas bukit? Apakah ini di bukit waktu itu?
Kulihat sekelilingku datarannya lebih tinggi dari yang lain. Dan kulihat ada api unggun dinyalakan. Tak jauh dari api unggun itu ada sebuah pohon tinggi dan cukup rimbun. Tak lama aku pun melihat seseorang membawa kayu bakar.
Siapa dia?
Lekas saja aku bersembunyi. Bersembunyi di balik pohon lain yang tidak terlalu tinggi. Tapi sepertinya persembunyianku ini ketahuan olehnya. Tiba-tiba saja sebilah pedang di arahkan kepadaku.
"Siapa kau?!"
Sontak jantungku hampir copot saat melihat pedang panjang di depan mata. Sedikit saja aku salah bergerak, bisa-bisa luka karenanya. Aku pun hanya bisa terus berdoa, berharap tidak mati karena kejadian ini.
"Bangun!" katanya dengan suara lantang.
Suara yang kudengar adalah suara seorang pria. Suaranya begitu tegas seperti ksatria. Saat dia memintaku bangun, aku pun bangun. Dia lalu mengarahkan tubuhku agar menghadap ke pohon. Sungguh aku takut setengah mati karena seperti ingin dieksekusi.
__ADS_1
"Tu-tuan, aku bukanlah orang jahat. Sungguh! Aku kesasar." Aku mencoba menjelaskan padanya.
Dia lantas meraba sisi tubuhku, dari atas sampai bawah. Mungkin dia sedang memeriksaku. Aku pun hanya bisa pasrah di keadaan yang minim pencahayaan ini. Tidak tahu apa yang harus kulakukan karena belum tahu ada di mana sekarang.