Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Package


__ADS_3

Beberapa jam kemudian…


Sinar terang mentari menyadarkan Ara dari alam mimpinya. Ia terbangun saat sang surya sudah menanjak ke atas singgasana. Kedua matanya perlahan terbuka saat sinar mentari semakin menyilaukannya. Ia pun beranjak bangun dengan mata yang masih mengantuk.


Semalaman sang gadis mengobrol ria dengan prianya hingga pukul empat pagi. Dan kini ia harus menanggung akibat dari melepas kerinduannya sendiri. Ia terbelalak kaget saat melihat jam di dinding ruangan.


“Astaga! Jam tujuh?!”


Lekas-lekas ia menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Untung saja tugas kampusnya sudah diselesaikan semalam. Kalau tidak, ia akan lebih kelabakan lagi.


“Ini gara-gara ulahnya yang mengajak ku mengobrol sampai tidak kenal waktu.” Ara mendengus kesal sendiri.


Seusai membasuh wajah, Ara segera sarapan. Pagi ini ia sarapan seorang diri karena Rain harus melanjutkan pekerjaannya di kantor. Ia pun lekas-lekas menyelesaikan sarapan paginya lalu meneguk segelas air minum. Setelahnya ia mempersiapkan diri untuk berangkat ke kampus. Mandi dan mengecek kembali isi tas kuliahnya.


Ara lebih menyukai dandanan minimalis daripada harus mengenakan make up yang tebal. Sehabis mandi ia hanya memoleskan tabir surya dan sedikit bedak agar wajahnya terlihat lebih cerah. Tak lupa polesan lipglos berwarna pink menambah kesan imutnya. Dengan mengenakan blus berwarna merah dan jeans biru panjang, Ara siap berangkat ke kampus. Sepatu kets putih pun tampak menambah kesan penampilannya. Sedang rambutnya ia biarkan tergerai begitu saja karena masih basah.


Beberapa saat kemudian…


Pagi ini Jack tidak mengantarkan Ara ke kampus karena waktunya bertabrakan dengan menjemput sang tuan di pelabuhan. Sehingga sang gadis harus menaiki taksi online untuk sampai ke kampusnya. Dan saat tiba di gerbang, ia melihat Taka yang juga baru datang. Keduanya lalu berjalan bersama setelah Taka memarkirkan skuternya terlebih dulu.


“Ada jam kuliah pagi ini?” tanya Taka seraya berjalan bersama Ara.


“Hm, ya. Tapi cuma satu. Selebihnya habis makan siang,” jawab Ara sambil menyampirkan tas kuliah di pundak kanannya.


“Ara.”


“Hm?”


“Aku merasa ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiranmu.” Taka menebak.

__ADS_1


“Eh?” Ara menoleh.


“Kalau kau mau, bisa menceritakannya padaku,” kata Taka lagi.


Ara terkekeh sendiri. “Kau ini tahu dari mana?” Ara memperhatikan Taka dari sisi.


“Hm, ya … aku merasa kau sedang terbebani sesuatu.” Taka menoleh ke Ara.


Ara tersenyum, seketika itu juga Taka melihat betapa manisnya senyuman Ara. Jantungnya berdetak cepat, tidak seperti biasanya. Ditambah lagi melihat Ara menyampirkan rambutnya ke samping, sehingga terlihatlah leher jenjang sang gadis.


Ara ….


“Hm, aku baik-baik saja. Mungkin hanya masih butuh penyesuaian.” Ara menuturkan.


Taka tertegun, tidak dapat berkata apa-apa.


“Hei, aku duluan ya! Takut telat.”


Ara … aku penasaran denganmu.


Waktu yang terus berlalu mengantarkan Taka menuju gedung kelasnya sendiri. Ia mengambil fakultas yang berbeda dengan Ara. Tapi karena jam kuliahnya hampir selalu bersamaan, mereka lebih sering bertemu pada jam istirahat. Dan saat itu juga Taka berusaha mengenal Ara lebih dekat.


Satu jam kemudian di Burj Khalifa, kantor Rain…


Sang penguasa baru saja tiba di kantornya. Matanya terlihat sembab karena kurang tidur semalam. Tapi, ia akali dengan mengenakan kaca mata hitam.


Seperti biasa Jack selalu mengantarkan Rain sampai ke depan pintu ruangannya. Mereka lalu berpisah setelah Rain masuk ke dalam. Sedang Jack segera pergi, ia tetap standby di luar sampai jam kerjanya berakhir.


Jam di dinding ruangan telah menunjukkan pukul sembilan pagi. Rain pun segera duduk di kursi kerjanya. Namun, tampaknya pagi ini ia tidak ingin segera bekerja. Ia terlebih dulu melihat foto-foto kebersamaannya dengan Ara. Baik di taman maupun yang di pantai waktu itu.

__ADS_1


“Sayang.”


Kata sayang itu akhirnya terucap dari bibirnya saat melihat foto Ara yang tersenyum manis ke arah kamera. Saat itu juga naluri sebagai seorang pria keluar dari dirinya. Ia merasa harus bertanggung jawab penuh terhadap sang gadis.


“Apa aku kurang tampan sehingga kau menunda pernikahan kita? Atau kurang mapan?” Rain mencolek foto Ara.


Diciumnya foto sang gadis lalu dipeluknya. Bunga-bunga cinta itu bermekaran di hati sang penguasa. Ia tidak lagi ingat siapa dirinya dan bagaimana kekuasaannya. Di depan Ara ia hanya pria biasa yang ingin dicinta dan dimanja.


“Aku tidak akan melepaskanmu walau sedetik pun saat malam pengantin tiba. Akan kukerahkan semua kemampuanku di hadapanmu, Ara. Akan kutunjukkan betapa perkasanya priamu ini.” Rain tersenyum sambil memandangi foto Ara.


Waktu pun terus berlalu, membuat Rain harus menunda angannya terlebih dulu. Ia harus segera melaporkan kinerja kilang minyak yang baru saja ditemukan. Karena kalau tidak, sengatan sang kakek akan membuatnya pingsan.


Di tempat lain…


Seorang pria berjaket hitam keluar dari sebuah gedung apartemen. Ia membawa amplop cokelat besar yang diletakkan ke dalam jaketnya. Ia kemudian masuk ke mobil lalu melajukan mobilnya menuju gedung tertinggi di dunia. Ia berniat menyerahkan sesuatu kepada Rain.


Pria berjaket hitam itu baru saja menemui seseorang. Dan ia menerima amplop yang harus segera diberikan kepada Rain. Sepanjang perjalanan ia berharap amplopnya ini bisa sampai dengan cepat. Tak beberapa lama, ia pun sampai di tempat yang dituju. Pria itu lalu memarkirkan mobilnya dan membaca situasi yang ada.


Aku harus meminta bantuan office boy agar tidak ketahuan.


Ia mengamati gerak-gerik yang ada di pelataran gedung. Tak lama, ia pun menemukan seorang office boy yang sedang membawa sampah keluar. Lekas-lekas ia keluar dari mobil dan mengenakan kaca mata hitam serta penutup kepalanya. Ia kemudian menghampiri office boy tersebut.


“Permisi,” katanya kepada office boy itu.


Si office boy pun berbalik, melihat siapa yang menegurnya. Si pria berkaca mata hitam pun segera mengutarakan tujuannya tanpa basa-basi. Sontak si office boy takut untuk menyampaikan paketnya.


“Tenang, aku akan memberikan satu dinar kepadamu. Dan satu dinar lagi jika paket ini sudah sampai di tangannya.” Pria berjaket hitam itu memberikan imbalan kepada si office boy jika berhasil mengantarkan amplop cokelatnya.


“Tapi, Tuan. Tidak mudah masuk ke lantai seratus pada jam kerja. Aku juga tidak bisa bertemu langsung dengan tuan Rain,” cetus office boy tersebut.

__ADS_1


“Tak apa, berikan saja amplop ini kepada salah satu karyawannya. Biarkan karyawan itu yang mengantarkan.” Pria berjaket hitam itu terdengar memaksa.


Karena imbalan yang cukup besar dan pekerjaan tidak terlalu berat, akhirnya si office boy menerima misi dari pria berjaket hitam itu. Ia menerima amplop cokelat tersebut lalu segera menuju ke lantai seratus gedung, berniat menyerahkan amplop kepada salah satu pegawai Rain. Sedangkan si pria berjaket hitam menunggu di halaman parkir. Ia menunggu kabar selanjutnya dari si office boy.


__ADS_2