
Satu jam kemudian...
Aku baru saja selesai mandi dan sedang mengenakan make up sebelum pulang ke rumah. Tuanku juga sepertinya sudah siap untuk bertemu dengan ibuku. Dia sudah mandi dan mengenakan kemeja tanpa dasi. Dia amat tampan sekali.
Jack dan tuanku sedang mengobrol di depan pintu. Sedang aku di dalam kamar bersama istri Jack dan kedua putranya. Kami mengobrol sebentar tentang cara-cara hidup harmonis bersama suami. Dan aku pun merasa hal itu tidaklah terlalu berat untuk dijalani. Dengan cinta segalanya akan terasa mudah.
Kamar hotelku ini tidak banyak perabotan di dalamnya. Hanya ada kasur ukuran jumbo dan lemari pakaian yang ada kacanya. Di dalam kamar juga ada meja dan dua kursi seperti disediakan untuk bersantai atau makan. Luasnya pun tidak jauh berbeda dengan luas kamar tuanku di Dubai. Mungkin ada sekitar lima kali lima meter dengan kamar mandi di dalam.
Kami akan menginap di sini beberapa hari. Kebetulan hanya ada hotel bintang tiga di sekitaran bandara. Jadi kami memilih hotel terdekat agar bisa melihat jet pribadi yang terparkir di sana. Karena bagaimanapun kami meminjamnya, jadi sudah sepantasnya untuk menjaga.
Istri Jack bilang tuanku amat baik. Dia tidak segan memberi bonus melebihi gaji pokok suaminya sendiri. Dan bisa dipastikan jika tuanku memang benar-benar dermawan. Dan aku sangat mengagumi sifatnya.
"Kak, aku tinggal dulu ya."
Selesai berdandan aku sudah siap menuju rumahku. Kukenakan blus putih dengan celana pensil hitam semata kaki. Sedang rambut kubiarkan tergerai begitu saja karena masih basah. Tak lupa kukenakan sepatu sandal berwarna krim agar menambah kesan girly penampilanku. Dan kini aku siap menemui ibu.
Aku keluar dari kamar dan melihat pria tampan itu sedang menungguku. Dia mengenakan kemeja biru dengan celana dasar hitam panjang. Dia juga mengenakan sepatu pantofel yang berkilau. Dia benar-benar sudah siap menunjukkan siapa dirinya untukku. Harus kuakui jika dia pria idaman setiap perempuan. Harta, tahta, kekuasan dia punya. Tak ada lagi alasan untuk menolaknya.
Sayang, tetaplah seperti ini dan jangan pernah berubah. Walaupun usia kita nantinya sudah menua, tetaplah menjadi hujan yang menenangkan. Karena aku ingin bersamamu dan menikmati hari sampai akhir masa.
Aku mendekatinya seraya tersenyum ceria. Dia pun melihatku yang sudah tampil cantik bak boneka. Ya, sudah. Kami akhirnya berangkat menuju rumahku yang ada di pinggiran kota. Jack mengantarkan kami sampai ke parkiran hotel dan bertemu dengan si pemilik mobil rentalan. Sepertinya semua berjalan dengan lancar hari ini. Dan semoga saja lancar hingga hari pernikahan kami tiba.
__ADS_1
Di perjalanan...
Tuanku meminta membeli oleh-oleh terlebih dahulu untuk ibu. Kebetulan ibuku suka sekali dengan martabak bangka isi keju. Jadi ya kubeli saja tiga loyang untuknya. Jika tidak habis, nanti aku yang akan menghabiskannya. Lagipula sudah lama sekali tidak makan martabak. Rasanya rindu tapi enggak terlalu berat sih. Lebih berat rinduku pada pria yang duduk di dalam mobil sana.
"Ini Pak uangnya. Terima kasih."
Pagi-pagi di sekitaran bandara kotaku ada penjual martabak yang mangkal di pinggir jalan. Tadi sempat mengobrol kalau dia memang berjualan siang dan malam. Dan saat aku menghampirinya, dia baru saja membersihkan gerobaknya. Sehingga aku harus menunggu beberapa menit sampai dia siap membuatkan martabaknya.
Tuanku masih di dalam mobil selama menunggu. Dia masih sibuk dengan urusannya di Dubai. Ya walaupun sudah mengambil libur, tetapi tetap saja dia harus mengecek keadaan di sana. Tanggung jawabnya begitu besar sebagai atasan.
Sampai detik ini aku juga merasa dia setia kepadaku. Dan aku harap selamanya dia akan begitu. Senang rasanya dimanjakan olehnya. Selain tampan dia juga hartawan. Bonus lebihnya dia juga amat dermawan. Aku jadi tidak sabar menanti malam bersamanya.
"Ambil saja, Pak. Terima kasih." Aku buru-buru masuk ke dalam mobil setelah tiga kotak martabak kudapatkan.
Sesampainya di dalam mobil aku melihat bapak penjual martabak itu seperti berucap syukur karena mendapatkan rezeki lebih pagi ini. Tersirat kebahagiaan dari wajahnya. Aku pun ikut senang melihatnya.
"Lama sekali, Ara?" Tuanku merasa lama menungguku.
"Maaf ya, Sayang. Ibuku paling suka ini. Di tempat lain belum tentu ada, kan masih pagi." Aku meminta maaf padanya.
"He-em." Dia pun mengangguk, mengertikan.
__ADS_1
Mobil kami akhirnya segera melaju setelah aku berada di sisinya. Perjalanan kami ke sana mungkin akan memakan waktu sekitar setengah jam. Dan mungkin hanya belasan menit lagi kami bisa sampai di gang rumahku. Semoga saja ibu masih di rumah sehingga bisa menyambut kedatanganku.
Ibu, Ara pulang.
Hatiku riang gembira tak terkira. Aku tersenyum bahagia di sampingnya. Dia juga memperhatikanku. Dan karena aku sudah merasa dekat dengannya, kucium saja pipinya. Tanpa malu, tanpa ragu. Toh, hanya hitungan minggu kami akan segera menikah. Semoga saja tidak ada kendala.
Ara menunjukkan perasaannya kepada Rain tanpa ragu seperti yang dulu. Sang gadis kini mulai menjadi wanitanya yang utuh. Rain pun tersenyum melihat perubahan sikap Ara kepadanya. Ia berharap Ara tidak jaim lagi kepadanya. Karena bagaimanapun ia hanya pria biasa yang kadang kala ingin dimanja kekasihnya.
Rain sudah menyiapkan sesuatu untuk bertemu dengan calon mertuanya. Ia siap menjalani biduk rumah tangga bersama Ara. Ia telah membulatkan tekad untuk menikahi gadisnya. Karena ketentraman itu amat dibutuhkannya. Walaupun kadang rasa sesak itu mewarnainya.
Mobil yang terus melaju akhirnya mengantarkan keduanya sampai ke depan gang rumah Ara. Jantung Rain ikut berdebar kencang menemani setiap langkahnya. Seperti ada sensasi yang berbeda saat ingin menemui calon mertua. Ia berulang kali berdehem yang membuat Ara memperhatikannya.
Tepat pukul tujuh pagi keduanya melangkahkan kaki masuk ke dalam gang rumah Ara. Sontak ibu-ibu yang sedang ngerumpi memperhatikan keduanya. Rain sengaja memakai kaca mata agar tidak terlalu terlihat wajahnya. Entah kenapa ia merasa deg-degan tak karuan saat langkah kakinya semakin mendekati rumah Ara.
Ini pertama kalinya aku bertemu dengan calon mertua. Entah kenapa jantungku berdebar tak karuan. Takut salah kata, takut salah ucap. Aku menginginkan anak gadisnya. Tapi gadisku ini amat menyayangi ibunya. Dan aku khawatir akan salah bicara nantinya. Jadi mungkin lebih baik aku diam saja jika tidak ditanya.
Rain mengambil napas panjang saat sudah sampai di halaman sebuah rumah. Ia pun melihat bagaimana keadaan rumah Ara. Seketika hatinya terenyuh tiada terkira. Tak percaya calon istrinya pernah tinggal di sana. Ia pun menggenggam tangan gadisnya seraya berjanji akan membahagiakan Ara selama hidupnya. Rain amat menyayangi gadisnya.
"Ibu..."
Ara mulai mengetuk pintu. Ia memanggil ibunya berulang kali. Tak lama terdengar langkah kaki mendekat ke arah pintu yang membuat Rain semakin berdebar tak menentu. Pintu pun akhirnya dibuka...
__ADS_1