
Malam harinya...
Pesta pernikahan akhirnya selesai. Para tamu undangan satu per satu meninggalkan istana dengan tanpa lupa dibawakan bingkisan spesial. Kini tinggal lelahnya saja. Baik untuk seluruh pelayan maupun pendukung acara tampak bernapas lega setelah istana mulai sepi terbawa malam. Begitu juga dengan Pangeran Agartha dan Lily. Kini mereka bisa beristirahat setelah seharian penuh jadi pengantin.
Pangeran dan Lily akan memasuki kamar pengantin yang berada di lantai dua istana. Ternyata istana kaca ini memiliki tangga menuju lantai atasnya, yang mana area lantai dua tidak boleh dimasuki terkecuali atas izin dari pihak keluarga utama kerajaan. Dan kini kedua pengantin itu tampak bergandengan tangan menaiki anak tangga, menuju lantai dua istana. Tak ayal kemesraan pun terjadi di antara mereka.
"Istana ini begitu luas dan hampir semuanya terbuat dari kaca. Aku takut terjatuh, Agartha." Lily pelan-pelan menaiki anak tangga. Ia masih mengenakan gaun pengantinnya.
Pangeran menjaga Lily agar tidak terjatuh. Ia merangkul istrinya. "Rancangan bangunan istana sudah dibuat seaman dan senyaman mungkin Lily. Kau tidak perlu khawatir." Pangeran meyakinkan.
Lambat laun keduanya sampai di lantai dua istana. Terlihatlah hamparan luas lantai bermarmer keemasan dengan tiang-tiang kokoh menyangga atapnya. Lily pun takjub dengan lantai dua istana ini yang lantainya terbentang luas sejauh mata memandang. Ia pun segera menari di hadapan pangeran.
Dia?!
Tentu saja pangeran terkejut dengan sikap Lily yang tiba-tiba menari. Di malam pengantin sang istri menari tanpa dipinta olehnya. Bahkan Lily memutari Agartha sambil terus menari dengan riangnya. Tak ayal Agartha pun senang karenanya. Diam-diam Lily ternyata bisa menari dengan begitu indahnya.
Lily mendekati Agartha dengan manja. "Bagaimana tarianku?" tanya Lily sambil memeluk Agartha dari belakang.
Agartha tersenyum. Sepertinya ia tidak perlu bersusah payah untuk merayu Lily di malam pengantin. Karena sepertinya Lily sudah tahu tahapan apa saja yang harus ia lakukan sebelum memulai kebersamaan malam ini.
Agartha memegang kedua tangan Lily. Ia menghadap istrinya seraya tersenyum bahagia. "Aku tidak tahu jika dirimu bisa menggemaskan sampai seperti ini."
Keduanya berdiri berhadapan dengan jarak yang berdekatan. "Sungguh? Kau menyukai aku sekarang?" tanya Lily dengan polosnya. Ia seperti lupa jika statusnya sudah menjadi istri dari Agartha.
__ADS_1
Agartha mengusap kepala Lily. Ia tersenyum seraya memperhatikan apa yang ada di wajah istrinya. Saat itu juga tersirat keinginan dari dalam hatinya untuk segera mencium sang istri.
Lily diam. Ia merasakan tangan Agartha mulai membelai lembut pipinya. Agartha pun merendahkan tubuhnya di hadapan Lily, memiringkan kepala untuk meraih sesuatu yang merah merona. Sontak Lily pun menyadarinya.
Dia ingin menciumku?
Jantung Lily berdetak kencang. Napasnya mulai terasa berat saat wajah Agartha kian mendekat. Lily pun diterpa kegugupan karena belum pernah berciuman. Alhasil, saat Agartha hampir menciumnya, saat itu juga ia melarikan diri. Sang pangeran akhirnya terkena jebakan sang istri.
"Tidak kena. Wee..."
Lily menjulurkan lidahnya, mengejek Agartha yang gagal menciumnya. Ia segera berlari ke sembarang arah agar Agartha tidak dapat menangkapnya. Agartha pun tersenyum gemas karena ulah istrinya. Ia merasa kesal karena tidak berhasil mencium istrinya. Sang pangeran akhirnya mengejar Lily sampai dapat. Lantai dua istana menjadi saksi cinta mereka dalam jalinan suci ikatan pernikahan.
Lily, akan kulampiaskan semua kerinduanku padamu. Akan kucurahkan seluruh perasaanku dari lubuk hati yang terdalam. Maka milikilah aku seutuhnya, Istriku ....
Angin malam menerbangkan tirai-tirai jendela lantai dua istana yang dibiarkan terbuka. Mereka berkejaran ke sana kemari tanpa malu ataupun sungkan lagi. Keduanya tampak riang, seperti tidak pernah terjadi hal menyakitkan sebelumnya. Hingga akhirnya Lily berhasil ditangkap oleh Agartha. Sang pangeran pun memeluk Lily dari belakang tubuhnya.
Keduanya melewati malam dengan canda dan tawa. Setelah sekian bulan lamanya terpisah, akhirnya mereka dapat bersatu dalam jalinan suci ikatan pernikahan. Keduanya pun merasa bahagia yang tak terkira. Bersyukur kepada Yang Maha Kuasa.
Agartha menarik tubuh Lily agar lebih mendekat padanya. Ia pastikan kali ini tidak akan gagal lagi dalam mencium istrinya. Lily pun terkunci, tidak bisa bergerak mana kala kedua tangan Agartha melingkar di pinggangnya. Perlahan-lahan Agartha pun merendahkan tubuhnya, memiringkan kepala untuk meraih sesuatu yang merah merona. Saat itu juga aliran listrik tersambung cepat di dalam tubuh mereka. Ciuman pertama terjadi di malam pertama mereka menikah.
Esok harinya...
Pagi hari telah datang. Sinar mentari menyorot pengantin baru istana yang baru saja melalui malam pertamanya. Tampak keduanya tertidur dengan begitu mesra. Tertutupi selimut tebal, sepasang suami istri itu berpelukan di atas ranjang. Mereka baru saja melepas kerinduan yang terdalam.
__ADS_1
Agartha dan Lily kini sudah resmi menjadi sepasang suami istri. Sang pangeran harus cepat mengambil keputusan besar atas masa depannya. Ia tidak lagi bisa menunda-nunda keinginannya untuk memiliki Lily. Karena khawatir akan terjadi sesuatu yang lebih membahayakan lagi.
Perlahan-lahan kedua matanya terbuka dan melihat Lily tertidur di sampingnya. Ia tersenyum penuh bahagia saat sang belahan jiwa tengah bersandar di dadanya. Agartha ingin hari-harinya terus seperti ini yang dipenuhi cinta kasih. Ia pun mengecup kening istrinya sepenuh hati.
Lily, aku bahagia sekali. Akhirnya kita bisa melalui malam bersama tanpa perlu khawatir ada yang melarangnya. Kau sudah menjadi istriku sekarang. Aku harap kau juga bisa menjaga kehormatanku sebagai suamimu. Aku mencintaimu, Lily.
Dikecupnya kening Lily, dibelai lembut pipi sang istri, hingga akhirnya Lily tersadarkan dari tidurnya. Perlahan-lahan kedua mata Lily terbuka dan melihat Agartha. Lily pun tersenyum malu di hadapan suaminya.
"Sudah bangun?" tanyanya dengan suara yang serak.
Agartha mengangguk. Ia memandangi wajah polos istrinya yang baru saja terbangun.
"Aku lelah sekali. Boleh tidur lagi?" Lily tampak enggan untuk bangun.
Agartha tersenyum. "Silakan, Ratu. Tidurlah. Lepaskan lelahmu." Agartha mempersilakannya.
Lily membalas senyuman suaminya. "Tapi jangan nakal seperti semalam ya. Jangan ganggu aku tidur." Lily mencolek ujung hidung Agartha.
Agartha tertawa kecil. Ia tak percaya jika Lily akan mengingatkan dirinya atas kejadian semalam. Ia pun memeluk tubuh istrinya dengan sepenuh perasaan.
"Iya, Istriku. Beristirahatlah. Nanti biar aku saja yang mengantarkan kepulangan nona Ara dan tuan Rain." Agartha mempersilakan istrinya untuk tidur kembali.
Saat itu juga Lily teringat dengan keduanya. "Astaga! Aku sampai lupa." Lily menepuk dahinya.
__ADS_1
"Tak apa. Tidurlah. Mereka juga pasti mengerti." Agartha mengatakannya lagi seraya mengusap-usap lengan Lily.
Lily tersenyum bahagia. "Sepertinya kita akan segera mempunyai anak, Suamiku." Lily mengajak Agartha bergurau dengan mata yang masih mengantuk.