Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Where We Go?


__ADS_3

Satu jam kemudian...


Aku terbangun di hari menjelang petang. Dan kulihat tertidur di atas kasur seorang pria mesum yang ingin menjadikanku istri. Lantas segera kududuk di tepi kasur sambil memakai sandalku. Aku berniat mandi sebelum malam datang.


Aku bergegas keluar kamar dengan wajah polos sehabis tidur. Dan di saat membuka pintu, kulihat Owdie tengah terbahak-bahak di depan TV. Dia sedang bercengkrama ria bersama Byrne dan juga calon suamiku. Tapi setelah melihatku, suasana gelak tawa berubah dalam sekejap.


"Ara, sudah bangun?" tanya priaku, dia berjalan mendekat ke tempatku yang berada di depan pintu.


"He-em." Aku hanya mengangguk pelan.


"Hai, Ara. Apa kabar?" Owdie menyapaku.


"Baik, Kak." Aku segera menjawabnya seraya tersenyum.


"Ara, mari mengobrol bersama kami." Byrne mengajak ku bergabung.


"Kalian saja yang mengobrol. Kami mau mandi." Priaku lantas yang menjawabnya. "Aw!" Seketika itu juga kucubit perutnya. "Ara?" Dia kaget saat aku mencubitnya .


"Jangan begitu!" kataku, menahan kesal karena ucapan polosnya.


Kulihat dia menelan ludah lalu mengangguk. Bersamaan dengan itu kudengar tawa renyah yang seakan tertahan dari kedua saudaranya. Mungkin mereka menganggap kami ini lucu.


"Aku mau mandi," kataku pada si hujan.


"Aku juga." Dia mengikutiku.


"Sayang!" Aku menahannya.


"Kenapa?" Tanpa merasa berdosa dia bertanya.


Kutarik dirinya ke dekat pintu kamar mandi. Aku lantas berbicara sambil berbisik kepadanya, karena tak enak jika sampai didengar oleh Owdie dan Byrne.


"Sayang, ada mereka. Aku bisa malu." Aku menjelaskan padanya.


"Tapi, Ara. Kau adalah calon istriku." Dia seakan menegaskan kembali.


"Iya, aku tahu. Tapi tidak harus menunjukkan kemesraan di depan orang lain, kan?"

__ADS_1


Entah mengapa aku jadi sedewasa ini. Mungkin usia memang tidak dapat menjadikan patokan kedewasaan seseorang. Aku yang berbeda delapan tahun dengannya kini bisa lebih dewasa dari sebelumnya. Seperti aku yang mengayominya saja. Entahlah, mungkin kata bisa karena biasa itu memang benar adanya.


"Em, baiklah. Kalau begitu aku menunggu," katanya.


Aku mengangguk. Lalu segera masuk ke dalam kamar mandi. Tapi...


"Ngapain?!" tanyaku, yang diikuti masuk olehnya.


"Aku menunggu," jawabnya enteng.


"Sayang ...." Lama-lama aku kesal juga padanya.


Sayang?!


Tiba-tiba saja dia menciumku. Dia menarik tubuhku lalu mencium bibir ini. Di dalam kamar mandi dia melakukannya lagi. Handuk yang kupegang pun hampir saja terlepas dari tangan. Namun, ciuman itu tidak lama kurasakan.


"Aku punya kabar gembira untukmu," katanya seraya menatap dalam kedua mataku.


"Apa?" tanyaku segera.


"Lekaslah mandi. Aku akan mengajakmu ke suatu tempat," jawabnya.


Dubai, pukul tujuh malam waktu sekitarnya...


Malam ini aku membuatkan hidangan untuk ketiganya. Entah mengapa kedua saudara calon suamiku ini tidak mau pulang juga. Bahkan sampai selesai makan malam, mereka masih di sini. Aku jadi bingung, sebenarnya apa yang mereka tunggu?


"Kenakan pakaian yang tebal. Udara cukup dingin kalau malam."


Priaku tampan sekali. Dia sudah mandi dan mengenakan sweter krimnya yang berlengan panjang. Sedang bawahannya tampak serasi dengan celana kulot putih. Dia tampak berbeda malam ini.


Harum tubuhnya membuatku bergairah. Dia memang tipe pria yang selama ini kucari. Tapi ada hal yang tidak bisa kutahan darinya. Sifat mesumnya itu tidak ketulungan, ditambah lagi sifat cemburunya yang begitu besar. Jadi sudah, aku hanya bisa menuruti apa maunya saja.


Selepas dari sini, Taka mengirim pesan padaku. Katanya dia ngeri sekali melihat calon suamiku. Gerak susah, bicara pun tak nyaman saat datang menjengukku. Dia bilang priaku seperti sudah siap untuk memotong apa saja. Makanya mereka cepat-cepat berpamitan tadi.


Sayang, akhirnya kita bisa sejauh ini.


Entah akan ke mana, malam ini aku menuruti maunya saja yang ingin mengajak ku keluar. Mengenakan pakaian serba panjang dan juga tebal di kamarnya. Dia juga membantu menyisiri rambutku. Entah mengapa rasanya syahdu sekali.

__ADS_1


"Rambutnya biarkan saja panjang," katanya sambil menyisiri rambutku di depan cermin.


Aku mengangguk. Setelah siap kami segera keluar dari kamar sambil berpegangan tangan. Namun ternyata, sikap kami ini membuat kedua saudara priaku menahan tawanya. Lantas kulepas saja pegangan tangannya, tapi dia menarik tanganku kembali.


"Jangan hiraukan mereka, Ara. Anggap saja tak ada." Priaku lalu berjalan melewati keduanya.


Aku tersenyum tak enak hati. Priaku ini memang asal bicara sekali. Tidak lagi peduli bagaimana perasaan orang saat mendengar perkataannya. Aku jadi ingat bagaimana dia cemburu berat waktu itu. Kami sampai berdiaman berhari-hari.


"Rain, sudah menelepon orangnya apa?" tanya pria berjaket putih yang tak lain adalah Byrne, saudara nomor satunya.


"Sudah, tenang saja." Priaku lalu menutup pintu apartemen setelah kami semua keluar.


Lantas kami berjalan bersama menuju lift gedung lalu turun ke lantai satu. Sesampainya di lantai satu, kami menuju parkiran dan segera masuk ke mobil Byrne. Entah ke mana mobil priaku, yang jelas mobil Byrne ini lebih kecil jika dibandingkan mobilnya. Ya sudah, kuikuti saja ke mana priaku ini ingin mengajak ku pergi.


Sepuluh menit kemudian...


Di dalam mobil aku hanya mendengarkan perbincangan mereka dengan senda gurau dan ejekan yang menurutku cukup kasar. Tapi, priaku tidak menanggapinya. Dia diam seraya terus menggenggam tanganku. Dia duduk di sisiku seolah melindungiku dengan segenap hati.


Aku pun melihat jalanan perkotaan malam ini saat priaku berbicara kepada saudaranya. Aku hanya diam jika tidak ditanya, karena menurutku diam itu emas daripada bicara tapi menimbulkan luka. Ya, sudah. Aku nikmati saja perjalanan malam ini bersamanya.


Beberapa menit kemudian, kami akhirnya tiba di sebuah taman yang kutahu persis taman apa ini. Waktu yang baru beranjak malam belum membuat taman terlihat ramai. Terlebih ini adalah malam Kamis, bukan malam Minggu. Jadi ya mungkin saja tidak akan ramai. Lantas priaku mengajak ku ke tepi air mancur dan aku pun mengikutinya.


"Ara, kita naik perahu itu."


Sesampainya di tepi air mancur, kulihat ada perahu dayung yang telah menunggu. Aku pun jadi bingung kenapa malam-malam ada perahu di kolam air mancur yang besar ini. Tapi karena penasaran akhirnya aku mengikuti saja kemauan priaku. Kami lantas menaiki perahu lalu dia mendayungnya sampai ke sebuah tempat di dekat air mancur.


"Sayang, kita mau ngapain, sih?"


Aku jadi heran. Kulihat kedua saudaranya hanya tersenyum-senyum sendiri di tepi kolam. Sedang priaku mendayung sampannya seraya tersenyum lebar di hadapanku. Dia sepertinya bahagia sekali, entah mengapa.


Tak berapa lama kami akhirnya masuk ke tengah-tengah pancuran air yang sengaja dimatikan. Priaku lalu mengajak ku turun dari sampan. Dia mengulurkan tangannya padaku. Aku pun meraih tangannya sambil beranjak berdiri. Dan kemudian kami berdiri di tengah-tengah air mancur yang dimatikan ini. Tempatnya seperti teras berbentuk dasar bunga.


"Ara." Priaku lalu berdiri di hadapanku seraya memegang kedua tanganku ini.


Aku bingung. Kulihat keadaan sekitar tiba-tiba terasa hening. Air mancur pun semuanya dimatikan. Kulihat kedua saudara priaku sedang merekam kami menggunakan kamera ponselnya. Entah apa yang akan priaku lakukan, aku jadi bingung sendiri.


"Sayang, sebenarnya ada apa?" tanyaku lagi.

__ADS_1


Aku bingung sehingga bertanya kembali padanya. Dan kulihat dia tersenyum manis padaku. Aku pun jadi semakin bingung. Tapi pemandangan lampu kota malam ini bisa sedikit mengobati rasa bingungku. Gedung-gedung bertingkat tinggi tampak mewah menghiasi sekeliling air mancur ini, menambah kesan mahal akan Kota Dubai.


__ADS_2