
Di kampus Ara...
Robot berbentuk truk ala Transformers itu sedang mengintai seorang gadis berblus hitam yang ada di kelas. Gadis itu sedang duduk fokus menerima mata kuliah hari ini bersama mahasiswa lainnya. Robot itu pun kemudian keluar dari balik persembunyiannya yang ada di sudut belakang kelas.
Ia mengendap-endap mendekati target saat sang dosen sedang menulis di papan tulisnya. Pelan-pelan ia maju, sedikit demi sedikit lalu melewati banyak kaki di sepanjang perjalanannya. Sampai akhirnya ia tiba di bawah kaki targetnya.
Robot itu kemudian membuka penutup truknya. Ia biarkan satu kepiting merah kecil merayap ke tas milik si gadis berblus hitam. Seusai memastikan kepiting itu masuk ke dalam tas, ia kemudian berhati-hati kembali ke tempat persembunyiannya. Ia sangat waspada terhadap keadaan kelas yang sedang serius menerima mata kuliah dari seorang dosen wanita. Sebisa mungkin suara langkahnya tidak terdengar.
Di lain tempat, Ken mengendalikan robot itu dengan harap-harap cemas di dalam hatinya. Ia khawatir robot miliknya akan tertangkap basah. Pemuda bersweter hitam itu fokus mengerjakan bagian tugasnya. Sampai akhirnya, robot miliknya kembali bersembunyi dengan aman.
"Hah ... hah ...."
Akhirnya ia bisa bernapas lega setelah urusannya selesai. Keringat dingin pun bermunculan dari dahinya karena rasa khawatir. Ia khawatir pekerjaannya sampai ketahuan oleh si target. Namun, sepertinya ia bisa bernapas lega sekarang.
"Akhirnya tugas bagianku selesai." Ken mengelap keringat di dahinya. Ia kemudian meneguk botol air mineral miliknya.
Lain Ken, lain pula dengan Taka. Ia bersama Nidji sedang mengutak-atik layar laptop yang ada di dalam kamar asrama pria. Mereka mulai melancarkan aksi berikutnya. Menelepon si target lewat IP luar sehingga tidak bisa dilacak. Keduanya mengirimkan panggilan berulang kali untuk membuat si target merasa terganggu. Alhasil, si target yang berada di dalam kelas pun merasa risih dengan panggilan masuk di ponselnya.
"Rose! Matikan ponselmu!"
Ialah Rose yang menjadi target ketiga pemuda asal Jepang itu. Mau tak mau ia menerima peringatan dari sang dosen yang sedang mengajar di kelasnya. Seketika seluruh mahasiswa di kelas berbisik-bisik mengenainya. Rose pun merasa kesal.
__ADS_1
Siapa sih yang meneleponku?
Rose ingin melihat siapa yang meneleponnya. Tapi belum sempat melihat, ponselnya kembali berdering. Seketika itu juga sang dosen marah kepadanya.
"Rose! Kau mengerti bahasaku, tidak?!" tanya sang dosen, tanpa memedulikan siapa Rose di kampus ini.
Akhirnya anak pemilik salah satu saham di kampus menanggung malu karena dibentak oleh dosen yang mengajarnya. Ia tolak panggilan masuk itu lalu melempar ponselnya ke dalam tas. Yang mana ponselnya itu mengenai kepiting merah yang ada di dalam sana. Sontak saja si kepiting marah karena tubuhnya tertindih oleh ponsel Rose.
Sial! Dosen ini belum tahu siapa aku rupanya!
Bukannya sadar, Rose malah semakin menjadi-jadi. Ia berniat memberi pelajaran kepada dosen yang sedang mengajar di kelasnya. Jasmine yang berada di sampingnya pun hanya bisa diam saat melihat Rose dimarahi. Ia tidak berani banyak berkata ataupun membela. Karena ia tetap harus menjaga nama baik ayahnya di kampus.
Di rumah Jack...
Jack sudah sampai di kediamannya. Kedatangannya disambut oleh sang istri. Sedang kedua anaknya sudah tertidur karena lelah sehabis melakukan perjalanan jauh. Dan kini sepasang suami istri itu sedang berbincang sambil meminum teh bersama, di teras belakang rumah yang tidak terlalu besar.
Di hadapan sang suami, Jamilah tidak perlu mengenakan cadarnya. Ia hanya mengenakan cadar di saat sedang ada pria selain suaminya. Ia begitu menjaga kehormatannya sebagai seorang istri. Bertutur kata lembut dan menjadi ibu teladan bagi anak-anaknya. Jack pun percaya penuh jika harus meninggalkan istrinya dalam waktu yang lama.
Rumah Jack tidaklah terlalu besar. Di dalamnya hanya terdapat dua kamar dan perabotan rumah tangga seadanya. Jack beserta istri hidup dalam kesederhanaan. Walaupun nyatanya Rain menggaji Jack dengan sangat besar, sang istri lebih memilih untuk menyimpan uangnya demi masa depan kedua putranya, jika dibandingkan dengan membeli perabotan rumah tangga yang tidak terlalu terpakai. Alhasil, Jack semakin menyayangi istrinya karena kepribadian sang istri yang tidak mengikuti zaman.
"Jadi sudah membicarakan hal ini kepada Kakek Ali?" Jamilah bertanya kepada suaminya.
__ADS_1
Jack mengangguk. "Ya, aku sudah menanyakan hal ini. Dan kata beliau, orang dari masa lalu tuan Rain sendiri yang membuat nona Ara seperti ini."
Jamilah terkejut. "Ya Tuhan, tega sekali dia melakukannya?" Wanita berparas putih khas Timur Tengah itu tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
Jack meneguk teh yang disediakan istrinya. "Malam ini kemungkinan aku pulang agak larut. Kau bisa tidur duluan. Nanti setengah jam sebelum pulang, aku akan menghubungimu," kata Jack kepada istrinya.
"Iya, tak apa. Nanti aku akan ikut berdoa untuk keselamatan nona Ara. Semoga dia kuat menghadapi ujian pernikahan ini." Jamilah prihatin.
"Mungkin inilah salah satu alasan mengapa dilarang pacaran sebelum menikah. Dampaknya bisa jadi sampai seperti ini. Yang tidak terpilih bisa melakukan hal nekat karena sakit hati." Jack meletakkan kembali cangkir tehnya.
"Hanya orang berhati dengki saja yang seperti itu, Suamiku. Dia tidak percaya jika jodoh sudah diatur oleh Tuhan. Baik-baik di sana, bantu tuan Rain sebisanya. Aku yakin kakek Ali lebih mengetahui apa yang harus dia lakukan." Jamilah memegang lengan suaminya dengan lembut.
Jack mengangguk. Dia memegang tangan istrinya yang memegang lengannya. Senyuman sang istri pun menguatkan hatinya untuk membantu sang tuan. Rain yang sudah menganggapnya seperti saudara, tidak akan disia-siakan begitu saja olehnya. Jack adalah pria yang tahu diri dan tahu budi.
Aku berharap semua terselesaikan dengan baik dan mereka bisa segera menikah. Semoga Tuhan merestui niat baik keduanya untuk mengikat diri dalam jalinan suci pernikahan.
Jack berdoa dalam hati.
Duhai Tuhan semesta alam. Dengan menyebut nama-MU yang Maha Penyayang, tolong musnahkan sihir itu dari keduanya. Sungguh Engkaulah Maha Raja yang sebenarnya. Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Engkaulah tempat segala makhluk meminta.
Waktu pun terasa semakin berlalu, mengantarkan Jack beserta istri untuk segera mengambil air wudhu. Mereka berniat menunaikan kewajiban di mihrab yang ada di rumah. Memanjatkan doa kepada Yang Maha Kuasa untuk kelancaran pernikahan Ara dan tuannya.
__ADS_1