
Fungsi ballroom sebenarnya adalah sebagai ruang lantai dansa. Tapi, seiring berjalannya waktu, ballroom tidak hanya digunakan untuk berdansa saja. Seminar, rapat, bahkan pertemuan yang besar sekalipun menggunakan ballroom agar daya tampungnya lebih besar. Terbukti dengan hari ini banyak sekali anak-anak dari panti asuhan yang datang untuk mengikuti doa bersama. Mungkin jumlah mereka ada sekitar dua sampai tiga ratus orang.
Ballroom berukuran besar ini menjadi saksi pertemuanku dengan orang nomor satu di Turki. Rasanya sungguh tak percaya akan melihat beliau secara langsung. Andai ibu ada di sini, pasti ibu akan sangat senang karena dapat bertemu dengan salah satu keturunan Utsmani. Tapi sayang, ibu tidak ada. Ibu tidak bisa ikut menemaniku di sini.
Nak, lihat. Siapa yang datang.
Kuusap perutku seraya berdoa di dalam hati agar anak-anakku kelak bisa menjadi pemimpin yang disegani kawan maupun lawan. Aku tidak tahu bagaimana masa depan anak-anakku kelak. Tapi semoga saja doaku ini dikabulkan sebagai doa seorang ibu untuk anak-anaknya. Aku yakin Tuhan bermurah hati akan mengabulkan semua doa selama seorang hamba tidak berputus asa dari rahmat-NYA. Bukankah DIA Maha Kaya?
"Ara, kita di sini saja ya Dek. Biar suamimu yang menemui Pak Presiden." Kak Jamilah memintaku untuk tetap berada di tempat dan tidak ikut menyambut kedatangan Pak Presiden.
Aku mengangguk. Aku duduk saja di depan panggung bersama Kak Jamilah dan juga ditemani anak-anak panti asuhan yang datang. Menjelang petang ini kami akan melakukan doa bersama. Semoga saja acaranya lancar tanpa kendala.
Beberapa jam kemudian...
Malam akhirnya datang ditaburi bintang yang bersinar terang di tengah kegelapan. Perutku kembali terasa mual setelah selesai acara doa bersama. Padahal tadi baik-baik saja seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi kini rasanya luar biasa. Aku sampai harus berdiri berlama-lama di depan wastafel untuk meredakan rasa mualnya. Sungguh tak terduga jika akan mengalami hal seperti ini.
Kepalaku pusing, perutku mual, terasa begah dan juga lemas tak bertenaga. Setelah mencoba membasuh wajah, aku segera kembali ke kamar dan duduk di tepi kasurnya. Kuambil obat pereda mual lalu meminumnya segera. Sepertinya aku tidak akan bisa lepas dari obat untuk meredakan rasa mual ini. Padahal kasihan juga untuk mereka yang ada di dalam sana. Pastinya mereka juga ikut meminum saripatinya.
"Sayang, jangan nakal. Ibu sudah lemas di sini."
Lantas aku merebahkan diri dengan menyandarkan punggung di kepala kasur. Kutunggu sampai obatnya bekerja di dalam tubuhku. Kutarik napas dalam-dalam untuk meredakan rasa mual dan pusing yang melanda. Tak berapa lama suamiku pun datang mengetuk pintu. Aku pun mempersilakannya masuk.
"Sayang?" Dia bergegas mendekatiku dan memeriksa keningku. "Sayang, kau baik-baik saja?" tanyanya khawatir.
Dia duduk di sampingku sambil bertanya. Tapi entah mengapa pertanyaannya itu tidak begitu kusukai. Aku sudah lemas seperti ini tapi dia masih bertanya dengan kalimat, kau baik-baik saja? Rasanya ingin marah tapi juga tak kuasa. Mungkin suamiku tidak bisa menyusun kalimat pertanyaan setelah mengikuti acara doa bersama tadi. Pastinya dia juga lelah. Sehingga aku mencoba memakluminya.
"Hei! Anakmu ini sungguh nakal sekali. Dia menendang-nendang perutku!" Kukatakan seraya mengusap perutku ini.
Aku mencoba melampiaskan mood yang sering berubah-ubah ini dengan mengalihkan ke pembicaraan lain. Suamiku pun tampak terheran. Dia segera tengkurap di sampingku seperti ingin menembak jarak jauh.
__ADS_1
"Sayang ayah, jangan begitu Nak. Kasihan ibu. Ibu sudah kesakitan di sini." Dia mengecup-ngecup perutku.
Tak tahu mengapa saat dia datang dan mengecup perutku, rasa sakit dan lemas yang kurasakan bisa sedikit terobati. Bagai sebuah keajaiban di tengah kemarau panjang yang tiba-tiba hujan sehari. Apakah ini bentuk ikatan batin antara ayah dan anaknya? Saat sang ayah datang buah hati pun ikut tenang.
"Sudah selesai acaranya?" tanyaku kepada si hujan yang kini sedang mengobrol dengan kedua anaknya di dalam perutku.
Dia melihat ke arahku. "Sudah. Jack dan istrinya yang menangani acara sampai selesai. Aku bisa di sini sekarang," jawabnya seraya tersenyum lebar.
Dia ini. Ingin menghiburku rupanya.
"Pak Presiden hanya bisa datang sebentar ya? Selepas salat magrib bersama beliau langsung pulang," gumamku.
Suamiku mengangguk. "Beliau banyak urusan, Sayang. Itu saja aku sudah sangat bersyukur karena beliau bisa datang. Aku tidak berharap lebih." Suamiku mengungkapkan.
"Kau mengundangnya sendiri?" tanyaku lagi.
Dia mengangguk. "Sebelum menandatangani perjanjian dengan pihak Kementerian Pertambangan, tanpa sengaja aku bertemu dengannya di ruang Pak Menteri. Berbasa-basi sebentar lalu mengajukan undangan kalau-kalau setelah ini akan mengadakan acara syukuran. Dan ternyata beliau menyanggupi." Suamiku bercerita dengan riangnya.
"Ya. Satu lahan minyak untuk kebebasan Byrne. Pihak Turki tidak mau diberi jaminan emas. Mereka ingin kesepakatan yang lebih berarti. Aku sudah mencoba bernegosiasi, tapi ternyata mereka meminta jaminan jangka panjang." Suamiku menuturkan.
Aku mengangguk, mencoba mengerti keadaan mengapa bisa seperti itu.
"Sudah, jangan dipikirkan. Aku juga digaji oleh mereka untuk menemukan ladang minyak yang baru. Nanti jika ingin ke Indonesia, setelah urusanku selesai ya. Kita akan menjenguk ibu di sana. Tapi untuk sementara lahiran dulu di sini. Aku sudah bertanya kepada ibu, katanya tak lama lagi kau akan melahirkan. Jadi alangkah baiknya jika mempersiapkan kelahiran si kecil terlebih dulu." Suamiku tersenyum seraya mengusap-usap perutku.
Aku pun ikut tersenyum. Rasanya tenang sekali saat perut yang semakin membesar ini diusap-usap olehnya. Itu berarti aku tidak sendirian menanggung sakit. Suamiku berada setia di sisi. Dia adalah dukungan terbaik untukku agar lebih bersemangat menanti kelahiran buah hati kami.
"Jadi kapan mulai bekerja?" tanyaku padanya.
"Lusa aku akan menemui timku yang ada di divisi pertambangan minyak. Dan kau tahu, ternyata ada orang Indonesianya juga lho." Dia mengabarkan.
__ADS_1
"Benar kah?" Aku tak percaya.
"He-em." Dia mengangguk. "Nanti akan kubawa kau ke sana jika sudah selesai urusannya ya. Sekarang kita beristirahat." Dia beranjak bangun, ingin menidurkanku.
"Tapi aku masih merasa sedikit pusing," kataku seraya memegang pelipis ini.
"Pusing?" Dia tampak berpikir. "Em bagaimana kalau kita mengamuflase pikiran?" Dia menawarkan.
"Maksudmu?"
"Kita alihkan rasa sakit dengan cara lain agar tidak terasa lagi sakitnya," katanya.
"Hah? Bagaimana caranya?" Aku penasaran.
"Sebentar."
Dia kemudian beranjak dari kasur lalu melepas bajunya. Melepas sabuk celananya dan juga menurunkan celananya. Entah apa yang akan dia lakukan, aku hanya bisa melihatnya saja. Ayah dari bayi yang sedang kukandung ini kini tengah bertelanjang dada dan hanya memakai celana boxernya saja.
"Sini, tidur miring menghadapku," pintanya.
Suamiku ini ada-ada saja. Padahal aku sedang pusing tapi diminta tidur miring menghadapnya. Aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan, aku menurut saja. Aku pun tidur menghadap ke arahnya yang berada di sisi kiriku. Beberapa saat kemudian baru kusadari apa maksudnya.
"Mulai ya." Dia mulai nakal kepadaku.
Baru kusadari apa yang dia maksudkan saat jari-jarinya mulai menurunkan daster yang kupakai, sampai sesuatu yang tertutupi itu terlihat olehnya. Dia kemudian menciumnya dengan perlahan. Pelan-pelan dan lembut sekali. Aku pun jadi geli merasakannya.
"Sayang."
Aku mencoba menahannya. Tapi ternyata, dia tidak bisa diam. Saat itu juga aku mulai merasa aneh dengan tubuhku ini. Seluruh saraf di tubuhku bereaksi. Hormon kebahagiaan mengambil alih hingga rasa sakit yang melanda tak kuderita lagi. Mungkin inilah yang dinamakan mengalihkan pikiran. Sehingga rasa sakit itu tak lagi kurasakan. Dia pintar sekali membaca situasi. Dan kini dia bak bayi yang tak mau lepas dari susu ibunya.
__ADS_1
Dasar bayi besar!
Aku pun pasrah, tak melawan. Kubiarkan dia mengalihkan pikiranku dengan hal yang dia lakukan. Alhasil, pikiranku pun dapat teralihkan. Tapi sebagai gantinya hasrat di dalam tubuhku mulai berkobar. Dia harus bertanggung jawab atas ulahnya. Dasar hujan!