Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
I Want Too


__ADS_3

Esok harinya...


Pagi hari telah datang. Sepasang insan yang baru saja mengikat diri ini sedang bersantap pagi bersama. Sang gadis siap berangkat ke kampus dengan mengenakan blus putih dan celana dasar hitamnya. Sedang sang pria, Rain sudah mengenakan seragam jas hitam lengkapnya. Ia tampak gagah dan tampan dalam balutan seragam bisnis.


Cuaca cerah pagi ini membuat Rain terus menatap ke arah gadisnya tanpa memalingkan pandangan sedikitpun. Hal itu tentu saja membuat sang gadis risih sendiri.


"Kau masih ingin berdiam saja?" Tiba-tiba Rain bersuara.


Sang gadis pun menoleh ke arah prianya. "Memangnya hal apa yang ingin kita bicarakan?" tanya sang gadis lalu lekas-lekas menghabiskan sarapan.


"Ara, kau ini memang menyebalkan. Seperti tidak terjadi sesuatu sebelumnya." Sang pria, Rain tidak mau kalah, ia segera meneguk habis air minumnya.


"Masalah semalam?" tanya gadis bernama Ara itu, sambil menyeka mulutnya dengan tisu.


"Ya, semalam." Si pria terlihat menahan kesal.


"Sayang." Gadis bernama Ara memegang tangan prianya. "Aku adalah orang baru di kehidupanmu. Aku tidak akan memaksamu untuk menceritakan sesuatu atas apa yang telah terjadi di masa lalu. Aku tidak ingin membuatmu tertekan." Sang gadis berusaha bijak.


Pria bernama Rain pun menoleh. "Aku khawatir kau mempunyai pikiran buruk tentangku dan Jane." Sang pria mengutarakan isi hatinya.


"Baiklah. Aku ingin menanyakan sesuatu hal padamu." Ara akhirnya memutuskan untuk bertanya.


"Tanyakan saja. Asal tidak membuatmu diam seperti ini." Rain tampak menyerah dengan keadaan.


"Ih, kau ini!" Ara pun mencubit pipi Rain dengan gemasnya.


"Sakit tahu!" Rain kesakitan, ia memegang pipinya.


"Lebih sakit hatiku saat melihatnya bergelayut manja padamu." Ara menggerutu.


"Hei, waktu itu dia datang sendiri ke sini, Ara." Rain mencoba menjelaskan.


"Datang sendiri?"


"Iya. Aku baru saja sampai di apartemen, berniat makan siang bersamamu. Tak lama bel berbunyi dan aku pikir itu adalah dirimu. Jadi kubuka saja pintunya. Tapi ternyata, malah dia yang datang." Rain menjelaskan kejadian waktu itu.


"Lalu kenapa kalian bisa ada di depan kamar?" tanya Ara lagi.

__ADS_1


"Ara ... bukankah sudah pernah kujelaskan sebelumnya jika di USA itu amat bebas?" Rain balik bertanya.


"Iya, sih." Ara mengiyakan.


"Kemarin saat aku membukakan pintu, dia langsung masuk begitu saja. Mendorongku hingga sampai ke depan pintu kamar. Dan saat kau datang, aku sedang ingin menjauhkan dirinya dariku. Tapi yang terlihat di matamu, seolah-olah aku menanggapinya. Padahal yang kau lihat itu tidaklah benar." Rain menjelaskan sebaik mungkin.


"Hah ... entahlah." Ara mengembuskan napasnya.


"Sudahlah. Kita cepat menikah saja agar lebih aman. Aku ini lelaki, Ara." Rain mengingatkan.


Sejenak Ara terdiam sambil menatap ke arah prianya.


Aku juga ingin menikah denganmu. Tapi hal ini terlalu cepat bagiku. Aku juga belum minta restu kepada ibu. Jika pulang sudah menikah, pastinya hati ibu akan sedih sekali karena tidak mengabarkannya terlebih dulu.


Ara bergumam di dalam hati. Ia bingung sendiri.


"Ara ...?" Rain menunggu jawaban gadisnya.


"Em, sabar ya, masih ada dua puluh delapan hari lagi." Ara menerangkan.


"Tapi, Ara—"


"Ara, kau tahu?"


"Tidak."


"Aku belum bicara." Rain tampak kesal karena Ara menyelanya.


"Hahaha." Seketika Ara tertawa. "Baiklah-baiklah. Apa Sayang?" Ara menopang dagu dengan tangan kanannya seraya menatap Rain penuh sayang.


"Aku ini pria dan sudah dewasa. Aku mempunyai kebutuhan yang harus segera terpenuhi. Aku harap kau mau memenuhi secepatnya." Rain berharap kepada gadisnya. Ia berusaha jujur akan dirinya.


"Hanya sebatas kebutuhan?" tanya Ara lagi.


"Aduh..." Rain menepuk jidatnya sendiri. "Sepertinya pria memang ditakdirkan selalu salah di mata wanita." Ia bergumam sambil memalingkan pandangan dari Ara.


"Hahaha." Ara pun tertawa. "Sudahlah, kita berangkat sekarang. Sudah setengah tujuh." Ara segera membereskan bekas sarapan paginya.

__ADS_1


"Tapi bagaimana denganku?" tanya Rain lagi.


"Kamu?" Ara mendekat ke prianya.


"Ya, aku." Rain mengangguk.


Ara tersenyum. Dia lalu membelai wajah Rain dengan lembut. Seketika itu laju jantung Rain pun tidak stabil mendapat sentuhan dari gadisnya.


"Sabarlah. Nanti juga akan merasakan." Ara mencium leher Rain dengan satu kecupan lembut.


Ara ...?! Rain terkejut dengan sikap Ara padanya.


Sang gadis segera membawa piring dan gelas bekas sarapan pagi ke dapur. Ia meninggalkan Rain yang masih terpaku di depan meja makan. Sedang Rain memegangi lehernya yang habis dicium oleh Ara. Rasa di hati Rain seolah tidak lagi sabar untuk menunggu jawaban dari gadisnya. Ia merasa harus segera melangsungkan pernikahan.


Ara, kau membangunkan singa tidur.


Pagi ini Ara membuat hati Rain terikat dengan sikapnya. Sang gadis sepertinya sudah mulai menyesuaikan diri dengan sifat dan sikap asli Rain. Tak ayal gadis berkebangsaan Indonesia itu membuat hati Rain semakin kepincut. Ia ingin segera menikahi, ada atau tanpa adanya cinta.


Setengah jam kemudian...


Cahaya matahari menyinari Kota Dubai dengan terang. Sepasang insan yang baru jadian ini duduk di dalam mobil sambil menunggu tiba di salah satu kampus ternama yang ada di sana. Ara pun tengah asik melihat foto Rain saat bekerja di salah satu perkilangan minyak. Sang penguasa rupanya mulai membuka diri di hadapan sang gadis.


"Ara."


"Hm?"


"Nanti beli tas punggung saja, jangan pakai tas samping. Kau akan kesulitan jika berlari." Pria bernama Rain itu meminta.


"Em, baiklah. Nanti sepulang kuliah aku akan membelinya." Ara mengiyakan. "Ini ponselmu." Ia kemudian menyerahkan ponsel milik Rain.


Rain mulai membuka dirinya. Pagi ini ia memperlihatkan bagaimana pekerjaannya lewat foto-foto yang tersimpan di galeri ponsel. Sontak sang gadis terkejut setelah menyadari siapa Rain yang sebenarnya.


Dia tidak bilang jika seorang bos besar perkilangan minyak. Selama ini dia menyembunyikannya dariku.


Sang gadis terkejut sekaligus kagum dengan pria yang duduk di sisi kanannya ini. Ia tidak menyangka jika akan bertemu langsung dengan bos besar perkilangan minyak di Timur Tengah.


Ya, Rain menjalin kerja sama dengan negara-negara di Timur Tengah untuk menemukan lahan minyak yang baru. Ia bertugas mengatur lalu lintas pekerjaan di kilang minyak tersebut. Ia juga bertanggung jawab terhadap para pekerja yang bekerja di kilang minyaknya. Karena Rain yang merencanakan, mengatur, mengarahkan segala sesuatunya. Bisa dikatakan jika ia adalah seorang teknisi handal di bidang pertambangan minyak bumi.

__ADS_1


Negara-negara di Timur Tengah masih membutuhkan tenaga ahli dalam pertambangan minyak bumi. Dan Rain adalah salah satunya. Ia diutus sang kakek di bawah naungan sebuah organisasi kelas dunia untuk menemukan lahan minyak yang baru. Tak ayal, pejabat mana yang tidak kenal dengannya. Tanpa Rain, pemerintah setempat akan kesulitan untuk menemukan lahan minyak baru dengan cepat.


__ADS_2