
Lima menit kemudian...
Telepon kembali berdering dan kulihat priaku lagi yang menelepon. Lantas kuangkat teleponnya. "Halo?" Seketika itu juga dia merubah panggilan ke video.
"Sayang, kenapa dimatikan teleponnya?" tanyanya sambil menghanduki kepala yang basah.
Kutahu jika dia baru saja selesai mandi. Dia lantas meletakkan ponselnya di dekat kasur sedang dirinya mengenakan pakaian. Dia tanpa malu melepas handuknya di depanku.
Astaga, dia ini.
Terlihat jelas apa yang ada di sana. Sesuatu yang membuatku geli dan tak ingat diri. Priaku menampakkannya tanpa malu. Dia tidak takut jika aku merekam video call ini. Mungkin dia sudah sangat percaya padaku.
"Kenapa diam, Sayang? Besar, ya?" tanyanya seraya memamerkan di depan kamera.
Astaga!!!
Hatiku kesal bukan kepalang. Kulihat dia juga membungkukkan badannya ke kamera. Dia tersenyum padaku yang sedang menepuk dahi ini.
"Sudah, jangan dipikirkan. Nanti teringat terus sedang aku belum kembali." Dia seperti menggodaku.
Aku ingin marah, tapi juga ingin tertawa. Rasa bercampur aduk menjadi satu di pikiranku. Memang sih harus kuakui jika kami sudah dekat. Tapi tidak perlu seperti ini juga. Aku khawatir ada yang menyadap video call kami. Zaman sekarang apa saja serba bisa, tidak ada yang tidak.
"Sayang, cepat pakai celana! Kalau tidak, aku tinggal tidur." Kurebahkan tubuhku di kasur.
"Tidak mau?" tanyanya.
"Ish, apaan sih!" Kuletakkan begitu saja ponselku hingga yang dia lihat hanya plafon rumah.
"Ya, ya, aku pakai celana, nih." Dia akhirnya mau juga mengenakan celana.
Lantas kuambil ponselku lalu melihatnya yang sedang mengenakan pakaian. Aku memiringkan badan agar bisa sambil tiduran video call dengannya. Dan kulihat dia juga merebahkan tubuhnya di atas kasur. Kami akhirnya bisa berbicara tanpa hal yang aneh-aneh.
"Bagaimana pertemuan tadi?" tanyaku sambil melihatnya.
"Biasa saja. Kedatanganku kemari membawa nama organisasi. Jadi mereka sedikit segan untuk mengusirku." Dia menceritakan.
Aku tersenyum mendengar kata-katanya. "Memangnya organisasi apa, sih?" tanyaku ingin tahu.
__ADS_1
"Jangan sekarang tahunya ya, nanti saja jika sudah menikah." Dia juga ikut memiringkan tubuhnya.
"Memangnya kenapa?" tanyaku lagi.
"Nanti kau akan kaget, Sayang. Lebih baik kita bicarakan saja masa depan."
Kulihat dia mulai mengantuk. Dia juga menguap di depanku. Mungkin perjalanan menggunakan jet pribadi bisa cepat sampai tanpa harus transit ke mana dulu. Jadinya dia bisa datang tepat waktu di pertemuan.
"Baiklah. Sekarang istirahat. Kau sudah sangat lelah," kataku, perhatian.
"He-em. Tapi jangan dimatikan teleponnya. Biarkan saja tetap tersambung," pintanya.
"Eh?!" Aku pun terkejut.
"Tak apa, bukan? Biar aku tidak merasa sendiri." Dia berkata lagi.
Sontka hatiku merasa sedih mendengar kata-katanya. Aku jadi ingat ceritanya waktu itu jika dia belum pernah bertemu dengan kedua orang tuanya. Entah mengapa hatiku seperti teriris mendengarnya.
"Sayang, ada aku. Kau tidak akan sendiri lagi. Sekarang tidur, ya. Beristirahatlah," pintaku.
Sungguh aku sedih mengetahui kenyataan tentang dirinya. Ternyata priaku merasa kesepian sejak dulu. Tapi patut kuacungi jempol karena selama rasa sepi itu dia rasakan, dia mempergunakan waktunya untuk bekerja dan tidak melakukan hal yang aneh-aneh. Aku harap kehadiran buah hati kami nanti bisa membuat hatinya ramai.
Maafkan aku, Sayang. Nanti jika sudah menikah aku pasti akan memenuhi apapun yang kau mau. Kalau sekarang kita belum terikat tali pernikahan. Aku masih takut jika ingin buka-bukaan denganmu. Hujanku, percayalah jika di hatiku hanya ada namamu.
Kuusap layar ponselku seolah mengusap wajahnya. Perlahan-lahan kedua mataku mulai terpejam. Sepertinya malam ini kami akan tertidur bersama dengan jarak dan waktu yang berbeda.
"Aku menyayangimu," kataku lalu mulai memejamkan kedua mata.
Malam ini kami akhirnya terlelap bersama dengan panggilan telepon yang masih terus tersambung. Aku pun sesekali mengintipnya yang sudah tertidur. Rasanya ingin sekali mengusap kepalanya saat ini. Harus kuakui jika aku begitu menyayanginya.
Keesokan harinya...
Aku terbangun dengan kondisi panggilan telepon yang masih tersambung. Dan kulihat priaku masih tertidur pulas di sana. Jam di dinding pun sudah menunjukkan pukul lima pagi waktu sini. Lantas saja segera ku-charge ponsel sambil tetap membiarkan panggilannya berlangsung.
Aku keluar dari kamar lalu merapikan rumah. Lalu setelahnya segera mandi karena akan berangkat ke kampus. Hari ini aku sudah harus masuk kuliah untuk mengejar ketertinggalan. Karena kalau tidak, nanti yang ada malah merepotkan. Ya, walaupun priaku menjanjikan bisa lulus tanpa mengikuti mata kuliah, tetapi tetap saja aku ingin mendapatkan gelar sarjana dengan jerih payahku sendiri. Setidaknya aku merasa puas dengan hasil perjuanganku selama ini.
"Pakai apa, ya?"
__ADS_1
Setelah mandi, aku langsung mencari pakaian di dalam lemari. Lemari besar yang ada di kamar ini. Lemari empat pintu yang bisa memuat pakaianku dan pakaian priaku. Sehingga aku tidak perlu berganti di kamar mandi, karena di sini juga bisa. Mungkin priaku memang sengaja membeli ukuran yang terbesar agar kami tidak terpisah tempat ganti.
Aku mengenakan blus berwarna hijau lumut dengan celana dasar ketat yang berwarna putih. Blus dan celana ini serba panjang sehingga menutupi seluruh tubuhku. Setelannya pas di badan sehingga membuat tubuhku enak dipandang. Ya, sudah. Lantas kupoleskan make up minimalis di wajahku. Kusapukan blash on berwarna oranye agar terlihat lebih ceria.
"Sayang ...."
Saat memoleskan lipglos berwarna peach, kudengar suara priaku dari panggilan yang masih tersambung. Lantas saja aku mengambil ponsel dan melihatnya yang sedang tiduran. Aku pikir dia sudah bangun, ternyata belum.
"Kenapa, Sayang? Aku baru saja selesai dandan," kataku polos.
Kulihat dia membuka sedikit matanya. "Sudah mau kuliah, ya?" tanyanya.
"He-em. Hari Jumat memang dapat jadwal pagi. Kenapa?" Aku balik bertanya.
Dia menghela napasnya. "Harusnya hari ini aku sudah menjadi suamimu," jawabnya.
Seketika aku tersenyum. "Sekarang juga sudah menjadi suami, kok." Aku mencoba menenangkannya.
"Benar, kah? Tapi kenapa tidak mau dibuka?" tanyanya sambil mengarahkan ponsel dari atas.
Dia ini mulai lagi, kan ...?
Priaku memang bukan tipikal yang menyerah begitu saja. Dia akan terus berusaha sampai berhasil mendapatkannya. Tinggal akunya saja yang mau mengalah atau tidak. Walau kutahu keinginannya hanya di sekitar itu-itu saja.
"Sayang, aku mau berangkat kuliah. Nanti lagi mesumnya, ya!" Aku memperingatkannya.
"Hahaha." Dia lantas tertawa. "Nanti kabari aku jika senggang. Hari ini pertemuan lewat makan siang. Ingat! Jangan nakal di kampus!" Dia bergantian memperingatkanku.
"Iya, Bawel." Lantas saja kujulurkan lidahku karena hawa cemburu itu mulai kurasakan. "Ya sudah, mandi sana. Aku mau menelepon Jack dulu," kataku padanya.
Dia tersenyum. "Iya, sampai nanti. I love you ... mmuach!" katanya yang seketika membuatku terpaku.
Entah mengapa aku jadi terkesima dengan sikapnya pagi ini. Dia tidak sungkan untuk mengatakan tiga patah kata yang begitu aku inginkan. Lantas saja aku membalasnya, melakukan hal yang sama sepertinya.
"I love you too ... mmuach!"
Kami seperti remaja yang baru pertama kali jatuh cinta. Sedikit berlebihan tapi juga membuat bahagia. Ya sudah. Lebih baik segera kuakhiri panggilan telepon ini lalu menelpon Jack agar menjemputku. Hari ini aku mempunyai mata kuliah di jam pagi. Semoga saja kuliahku lancar dan tidak ada kendala nantinya.
__ADS_1