Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Touch You


__ADS_3

Beberapa menit sebelum matahari terbenam...


Aku duduk di dalam mobil sambil menyandarkan kepala di bahunya. Kami menikmati menit-menit matahari tenggelam dari sini. Tampaknya momen ini tidak ingin dilewatkannya begitu saja. Tuanku merekam kebersamaan kami.


Kututup wajahku karena malu direkam kamera ponselnya. Tapi dia segera menepiskan tanganku ini. Dan akhirnya aku pun menggembungkan pipi saat kamera merekamku. Seketika itu juga dia mendekatkan wajahnya.


"Katakan hai, Ara."


"Hai?" Aku menoleh ke padanya, merasa bingung.


"Hai untuk masa depan kita." Dia ikut menoleh sambil terus mengarahkan kamera ponselnya padaku.


Seketika itu aku merasa bahagia sekali. Walau kata cinta darinya belum terucap, aku bisa merasakan hangat kasih sayangnya saat ini.


"Hai, masa depanku. Tetap di sini, ya."


Aku melambaikan kedua tangan ke kamera. Seketika itu juga dia mencium pipiku. Rasanya hangat dan lembut sekali.


Tuan, semakin lama kau ini semakin berani saja. Tapi kenapa cuma pipi?


Aku hanya bisa tersipu malu dengan tindakannya. Dia tersenyum lalu mengarahkan kamera ponsel ke arah matahari yang terbenam. Kami benar-benar menikmati sunset bersama. Sungguh terasa syahdu sekali.


"Ara."


"Hm?"


"Kau pasti mengantuk. Tidur saja di bahuku," katanya.


"He-em." Aku mengangguk.


Kurebahkan kepala ini di bahunya, menyamankan diri. Dia pun merentangkan tangan agar aku bisa bersandar di dadanya. Saat itu juga kudengar alunan detak jantungnya yang merdu. Kalau sudah begini aku jadi ingin cepat-cepat menikah saja.


Beberapa saat setelah merekam matahari terbenam, dia memutar ulang video rekaman kami. Setelahnya melihat-lihat kembali foto kebersamaan hari ini. Dia tersenyum manis padaku lalu mengusap lembut kepala ini. Aku merasa amat disayang olehnya. Dan yang lebih membuat hatiku nyaman, dia juga mengecup kepalaku. Seketika itu kulingkarkan kedua tangan di pinggangnya.


Tuan, bisakah kita selamanya seperti ini?


Mungkin karena kelelahan, lambat laun aku merasa mengantuk. Ditambah sentuhan lembut darinya yang membelai rambutku, membuatku tanpa sadar memasuki fase delta. Dimana tidur lelap bersama angan yang melayang jauh. Andai ini mimpi, aku berharap tidak terjaga. Aku mencintainya. Ya, kini aku sudah mencintainya. Semoga aku tidak berdosa mencintai majikanku sendiri.


Beberapa waktu kemudian...


Suasana terasa hening sekali. Tidak ada suara kudengar selain detik jam di dinding. Perlahan-lahan aku tersadar dari alam mimpi. Kubuka mata perlahan untuk melihat keadaan sekitar. Dan ternyata, aku tidak berada lagi di dalam mobilnya.


Tubuhku terbalut selimut di sebuah hamparan yang luas dan empuk. Baru kusadari jika ternyata aku sedang tertidur di atas kasur. Kuperhatikan sekeliling, tak lama aku teringat sesuatu. Ternyata aku tidur di kasurnya.

__ADS_1


"Astaga!"


Aku terperanjat saat menyadari di mana aku berada. Kulihat tubuhku ternyata masih mengenakan pakaian lengkap. Aku pun menoleh ke samping untuk mencari tahu lebih lanjut. Tapi ternyata, aku tidur sendiri di kasur ini.


Dia di mana?


Kulihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Padahal rasanya baru saja tertidur di dadanya. Tapi sekarang sudah di kasurnya saja.


Lekas-lekas aku beranjak bangun lalu keluar kamar untuk mencarinya. Dan tak lama kutemui dirinya tengah tertidur di atas sofa. Sepertinya dia tidak berbuat yang aneh-aneh padaku saat tertidur tadi.


Tuan, kau sampai harus mengalah tidur di luar.


Entah pertanda apa ini, dia sudah mengizinkanku untuk tidur di kasurnya. Sedangkan dia, tidur di sofa tamu. Jika benar perasaanku, dia memang berniat serius dan tidak ingin menodaiku. Semoga saja perasaanku ini memang benar adanya.


Kugulung cepat rambutku lalu membasuh wajah. Setelahnya segera mendekatinya yang sedang tertidur di sofa. Sweter krim yang kupakai tampak serasi dengan baju rajutannya. Lagi, untuk kesekian kalinya kami mengenakan warna baju yang sama.


"Tuan ...."


Kupegang pelan lengan kekarnya. Kurasakan jika tubuhnya memang berisi dan terbentuk sempurna. Tapi, kalau sudah tidur dia tampak imut sekali. Rasanya aku ingin mengecupnya saja.


"Tuan ... bangunlah. Pindah saja tidurnya," kataku lagi.


Dadanya begitu bidang, perutnya seperti roti sobek yang menggiurkan. Jika tidak menjaga pandangan, mungkin aku sudah tergoda oleh rupanya. Tapi, lagi-lagi aku harus bisa menjaga sikap apalagi ini di negeri orang. Tidak mungkin bersikap bar-bar di sini.


"Tuan ...."


Dia begitu sempurna.


Aku belum pernah melihat kekurangannya, yang ada hanya rasa penasaran atas apa yang diucapkan Owdie waktu itu. Benarkah tuanku seorang gay? Aku juga tidak tahu. Ingin rasanya menanyakan hal ini langsung padanya. Tapi, aku khawatir jika dia akan marah padaku.


Dia tidak bangun juga.


Kususuri dagunya dengan lembut lalu turun ke bagian leher, dadanya, sesuka hatiku. Semakin lama aku semakin menginginkannya. Mungkin ini yang dinamakan masa pubertas, masa di mana hasratku sedang bergejolak dan ingin mencobanya langsung.


Sampai saat ini aku belum mengetahui tentangnya lebih jauh. Bahkan berapa usianya saja aku tidak tahu. Dia juga seperti tidak ingin menceritakannya padaku. Jadi, ya aku hanya bisa menunggu.


Tanganku dipegang olehnya?!


Tanpa sadar aku keterusan menyusuri tubuhnya, hingga tak terasa sudah sampai di pusarnya saja. Tapi, bersamaan dengan itu dia memegang tanganku. Kedua matanya pun perlahan terbuka.


"Ara ...?"


"Em, anu ... ak-aku ...." Aku kepergok olehnya.

__ADS_1


Dia segera bangun lalu duduk di sampingku. "Hei, kau sudah mulai nakal, ya." Dia tersenyum sambil memegang tangan ini.


"Ma-maaf. Aku hanya ingin membangunkanmu," kataku sedikit terbata.


"Hm, begitu ...." Dia tertawa kecil seperti mengejekku.


"Tuan, aku—"


"Tuan lagi?!!" Seketika dia membelalakkan matanya.


"Em, maksudku, Sayang." Aku nyengir tak karuan di depannya.


"Ara, kalau kau mau, aku tidak keberatan." Dia mengatakan hal yang menakutkan.


"Ti-tidak. Aku tidak mau. Aku hanya berniat membangunkanmu," kataku lagi lalu mengalihkan pandangan darinya.


"Hm, tapi bagaimana jika sudah ada yang bangun?" Dia menopang dagunya di bahu kiriku.


Astaga ... napasnya.


Aku bisa merasakan hangat napasnya yang menerpa pipi ini. Aku lalu menoleh ke arahnya dan dia pun mengedipkan matanya kepadaku.


Dia ini menggodaku atau bagaimana, sih?!


Lekas-lekas aku beranjak berdiri, berusaha menghindarinya. Seketika itu juga dia menarik tanganku hingga membuatku kehilangan keseimbangan. Dan akhirnya...


"Sayang!" Aku berada di atas tubuhnya, sedang dia bersandar di sofa.


"Ara, sihir apa yang kau gunakan?" tanyanya seraya menatapku.


"Sihir?" Aku tidak mengerti maksudnya.


"Kau telah menyihirku, Ara. Apa kau tidak menyadarinya?" tanyanya lagi.


"Ak-aku ti-tidak—"


"Kenapa tidak kita percepat saja agar aman?"


"Mak-maksudnya?"


"Pernikahan kita. Tentu kita akan lebih tenang saat berdua." Dia merapikan poniku.


Tuan ....

__ADS_1


Hatiku tak karuan saat berada di atas tubuhnya. Mungkin benar jika kami lebih baik mempercepat pernikahan ini, demi keamanan dan kenyamanan bersama. Tapi, bagaimana dengan perkataan Owdie waktu itu yang meminta pertanggungjawaban tuanku?


__ADS_2