Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Don't, Honey...


__ADS_3

Rintik hujan mulai menyadarkan kami dari perbincangan ini. Rain begitu meyakinkanku jika dia tidak akan lari dari semua tanggung jawabnya. Lantas aku memeluknya tanpa malu. Kupeluk dirinya seperti pelukan seorang istri kepada suami. Aku memang begitu menyayanginya, dan berharap dia juga begitu.


“Sayang, janji ya.” Aku berbisik di telinganya.


Dia mencium bahuku. “Segenap jiwaku aku berjanji pada calon ibu dari anak-anakku,” katanya.


Kulepas pelukan ini. Kutatap wajahnya lalu mengusapnya perlahan. Di saat itu juga dia menarikku. “Sayang!” Aku terkejut karena kini sudah berada di atas tubuhnya. Dia berada di bawah tubuhku dengan tatapan penuh cinta.


Apakah ini mimpi?


Kuperhatikan setiap apa yang ada di wajahnya. Saat itu juga aku merasa semakin ingin memilikinya. Atau kalau bisa aku ingin melahapnya agar dia tidak ke mana-mana. Jadi jika rindu tinggal dimuntahkan saja.


Memangnya raksasa?


Hah … kalau sudah begini aku jadi bingung harus beradegan apa. Tubuhku terasa sangat sensitif. Ditambah lingerie yang kukenakan ini bagian dadanya terbuka, sehingga Rain bisa melihat belahan indah di depan kedua matanya. Aku juga tidak mungkin memulainya duluan karena masih merasa canggung.


Kulihat dia tertawa kecil di bawah tubuhku. “Masih ingin bertahan, Araku?” tanyanya seperti menyindirku.


“Sayang, aku …,”


“Tidak perlu malu. Aku akan tahu semuanya juga. Tapi malam ini


“Sayang!”


Rain dengan cepat mendorongku ke kasur, sehingga kini akulah yang berada di bawah tubuhnya. Dia menatapku dengan lembut. Sinar matanya yang penuh cinta itu selalu ingin kulihat.


“Aku mulai ya.” Dia sudah kembali menjadi Rainku.


“Sayang, geli ….”


Kumis tipisnya mengenai bagian dada atasku. Dia kemudian mengusap-usap wajahnya di belahan dada ini. Sungguh rasanya aneh sekali. Tubuhku bereaksi seakan meminta lebih.


“Sayang, aaahh .…”


Dia menciumi belahan indah dadaku dengan lembut. Bibir tipisnya mulai bergerilya, mencari-cari sesuatu yang masih tertutupi. Dan akhirnya…


“Ahhh ….”


Aku tak kuasa saat dia menemukannya. Lidahnya bermain-main di sana. Berputar-putar, mengelilingi sekitarannya. Lalu kemudian hinggap di tengah-tengah. Rainku menghisapnya. Dia membuatku menggeliat tak karuan.

__ADS_1


Sayang … aku bisa gila.


Dia telah berhasil menaklukanku. Aku pasrah di bawah kendalinya, seakan tidak mempunyai tenaga untuk melawan. Detik jam yang berbunyi pun menjadi saksi kami malam ini. Aku terhanyut dengan suasana yang dia ciptakan.


Palm Jumeirah, pukul satu dini hari...


Embusan angin malam disertai hujan deras menjadi saksi kami yang sedang berpelukan di atas kasur. Mengenakan pakaian yang serba panjang untuk menyambut tidur. Dan kini priaku sedang mengusap-usap lembut rambutku. Dia melakukannya sepenuh hati.


Rasanya tenang sekali bisa berduaan seperti ini. Sejujurnya aku menginginkan hal yang lebih tadi. Tapi ternyata Rain ingin menahannya sampai hari bahagia itu tiba. Tidak lama lagi, hanya tinggal dua hari kami akan segera melangsungkan pernikahan. Rasanya benar-benar tak percaya bisa sejauh ini.


“Hari ini aku sudah libur. Nanti kita ke tempat kakek Ali, ya?” Rain masih mengusap pelan rambutku.


“Iya,” kataku yang masih betah merebahkan kepala di atas dada bidangnya.


“Kok singkat sekali jawabnya?” Dia merasa heran.


Aku mendongakkan kepala, melihatnya. “Aku bahagia sampai tidak bisa berkata apa-apa, Sayang,” kataku padanya.


Kulihat dia tersenyum lalu mencium kening ini. “Jangan pernah ragu padaku, Ara. Kemarin itu aku terbakar cemburu. Entah kenapa melihatnya kesal sendiri.” Dia jujur padaku.


“Maafkan aku.” Lekas-lekas aku memeluknya dengan erat.


“Sayang, aku cuma punya kamu seorang. Aku tidak mungkin mendua.” Aku meyakinkan seraya menatap wajahnya.


Dia tersenyum kepadaku. “He-em.” Dia mengangguk.


Sepertinya kesalahpahaman ini sudah berakhir. Sungguh aku merasa senang sekali. Priaku sudah kembali ke jati dirinya yang asli. Aku pun tiada lagi segan untuk memeluknya dengan erat. Dia sudah mencukupi semua hal yang kubutuhkan. Aku tidak memerlukan yang lainnya lagi.


Kuakui cinta ini terkadang memang tidak mengenal logika. Bisa-bisanya seorang penguasa ingin menikahi gadis biasa. Namun, jika dipikir-pikir memang tidak ada yang tidak mungkin jika DIA menghendaki. Dan aku amat mensyukurinya. Ya, terlepas dari konsekuensi yang harus kuhadapi.


Jujur saja aku masih ngeri menjalani hari jika dua bintang dan satu bulan ini belum terlepas dari gelang pemberian nenek itu. Aku berharap-harap cemas dalam hati. Kejadian apa yang akan kualami selanjutnya? Bisakah semuanya diselesaikan tanpa harus menderita ataupun mengalami luka? Sungguh aku takut sekali.


“Sayang.”


“Hm?”


“Kakek Ali bisa membantu melepaskan gelang ini tidak, ya?” tanyaku penuh harap.


Rain menatapku heran.

__ADS_1


“Maksudku … aku ingin hidup biasa saja tanpa merasa diteror,” kataku, curhat padanya.


“Ada yang menerormu?” Priaku terlihat khawatir.


Aku mengangguk.


“Siapa?” tanyanya segera.


Aku memeluknya erat. “Kata nenek yang memberi gelang padaku, konsekuensi dari gelang ini harus siap mengalami hal-hal tak terduga sebanyak jumlah bintang dan bulan yang ada.” Kuperlihatkan gelang di tanganku padanya.


Dia memperhatikannya. “Gantungan bintang dan bulan ini?” tanyanya seperti tidak percaya.


“He-em.” Aku mengangguk.


“Astaga ….” Kulihat priaku seperti prihatin.


“Tadi juga ada yang meneleponku. Dia memintaku untuk menjauh darimu. Jika tidak, aku akan celaka.” Kukatakan terus terang apa yang terjadi sebelum kedatangannya tadi.


“Apa?!” Dia semakin tidak percaya.


“Benar, Sayang.” Kuambil ponselku dari atas meja di samping kasur. “Ini.” Lalu kuberikan padanya.


Rain segera melihat panggilan masuk di ponselku. Dahinya berkerut, seperti tahu nomor siapa. Kulihat dia juga mengambil ponselnya lalu menelepon seseorang. Entah siapa.


“Tolong cek nomor ini dan keberadaannya.” Dia berkata seperti itu di telepon.


Rain menopang dagu dengan ponselnya. Terlihat dirinya yang amat serius menanggapi ceritaku. Aku pun jadi khawatir sendiri karenanya. Aku takut terjadi sesuatu.


Lantas kutarik dirinya agar kembali memelukku. “Jangan membuatku khawatir. Kita tidur saja, yuk.” Aku mengajaknya tidur.


Rain melihatku. Dia kemudian mencium kening ini. Satu kecupan mendarat di keningku seolah dapat meredakan rasa takut dan khawatir yang melanda. Dia kemudian memelukku sepenuh hati.


“Jangan takut, ada aku.” Dia berbisik lembut padaku.


Aku mengangguk. Aku percaya padanya jika dia bisa meredakan rasa khawatir di hatiku. Aku sudah amat mencintainya, tidak mempunyai pilihan lain. Lalu untuk apa masih ragu? Sebentar lagi dia akan menjadi pakaianku selamanya.


“Kita tidur, ya.” Dia memberatkan kepalanya di kepalaku dan aku pun hanya mengangguk.


Kucoba untuk memejamkan kedua mata saat berada di pelukannya. Aku berharap dapat menemukan jalan keluar dari rasa resah dan gelisah yang melanda. Ya, semoga saja nanti bisa ditemukan jawaban dan solusi dari permasalahanku. Aku berharap semesta membantuku.

__ADS_1


__ADS_2