
Dubai, pukul delapan malam di rumah sakit...
Pria tua berjubah putih itu duduk bersama Rain dan Jack di sofa ruangan. Ia baru saja menunaikan ibadahnya di masjid rumah sakit. Dan kini ia sedang membicarakan perihal yang didapatkan olehnya setelah meminta petunjuk kepada Tuhan.
"Cucuku, lebih baik Ara dipulangkan saja ke apartemen untuk mempermudah proses pengembalian jiwanya." Sang kakek menyarankan.
Rain tertegun sejenak. "Tapi, bagaimana dengan pihak rumah sakit, Kek? Satu jam lagi akan dilakukan tindakan medis. Apakah tidak apa jika ditunda? Aku khawatir Ara akan semakin lemah jika dibawa pulang." Rain amat cemas.
Pria bersweter putih itu tampak mencemaskan saran dari Kakek Ali. Ia khawatir keadaan Ara akan bertambah buruk jika dibawa pulang ke apartemen. Namun, Kakek Ali menenangkannya.
"Cucuku, calon istrimu baik-baik saja secara medis. Tapi kondisinya mengkhawatirkan secara batin. Kita harus segera bertindak. Kakek melihat penyihir itu akan menggantikan jiwa calon istrimu dengan makhluk suruhannya. Lebih baik kita selesaikan malam ini sebelum terlambat." Kakek Ali menerangkan.
"Memangnya ... apa yang akan terjadi, Kek?" Rain bertambah khawatir.
Pria tua itu menghela napasnya. "Calon istrimu bisa membunuh dirinya sendiri."
"Apa?!!" Rain pun terkejut seketika.
"Penyihir itu akan menggantikan jiwa calon istrimu dengan makhluk suruhannya. Setelah makhluk itu menggantikan, makhluk itu akan membunuh calon istrimu dengan perantara tubuh itu sendiri. Sehingga yang kita lihat adalah calon istrimu membunuh dirinya sendiri." Kakek Ali menjelaskan.
"Ya Tuhan ...." Rain mengusap kepalanya.
"Lekaslah bertindak, sebelum malam semakin larut. Jangan sampai kita didahului. Jiwa calon istrimu akan selamanya terperangkap dan tidak akan bisa kembali." Kakek Ali menegaskan.
"Baik, Kek. Baik." Rain akhirnya menyetujui.
Rain segera bertindak. Ia menyewa mobil besar untuk membawa Ara kembali ke apartemennya. Sedang Jack membeli semua peralatan yang dibutuhkan untuk membuka jalan Ara, kembali ke raganya. Mereka membagi tugas sesuai instruksi dari Kakek Ali. Karena Rain amat tidak menginginkan apa dikatakan sampai terjadi. Ia tidak ingin kehilangan Ara.
__ADS_1
Satu jam kemudian...
Ara sudah tiba bersama Rain dan yang lain di apartemen. Mereka segera membagi tugas untuk mengembalikan jiwa Ara ke raganya. Tepat pukul sembilan, apartemen Rain sudah dibersihkan. Dari disapu hingga dipel menggunakan air yang telah dibacakan doa oleh Kakek Ali. Dan kini Jack sedang menyemprot seluruh bagian dinding dengan air doa. Sedang Ara tampak ditemani oleh Rain di dalam kamar. Sang gadis masih juga tertidur dengan dalamnya.
Pria tua berjubah putih itu kemudian mengoleskan minyak kayu gaharu ke wajah dan telapak tangan Ara. Terlihat kedua tangannya menggunakan sarung tangan transparan agar tetap dalam keadaan suci. Ia juga membakar kayu gaharu yang diletakkan di dekat sang gadis. Karena menurut kepercayaan, kayu gaharu bisa digunakan untuk menangkal energi negatif yang ada di sekitarnya. Energi negatif itu sama sekali tidak menyukai wewangian. Alhasil, semakin dibakar semakin semerbak wanginya.
Seluruh lampu apartemen di hidupkan kecuali kamar dan ruang tamu. Selesai menyemprot semua bagian dinding, Jack lantas menggelar sajadah untuk Kakek Ali. Seluruh sofa juga telah dipinggirkan ke sisi sehingga kini ruang tamu terlihat lebih luas. Kakek Ali pun segera melakukan tirakat untuk membuka jalan Ara kembali.
"Jack, bantu kakek dengan doa. Apapun yang terjadi, tolong jangan panik. Begitu juga dengan Rain." Kakek Ali berpesan.
"Baik, Kek." Keduanya mengiyakan.
"Jack berjaga bersama Rain di dalam kamar. Tunggu sampai Ara siuman. Jika lelah, bergantianlah. Tapi jangan sampai lengah," pesan Kakek Ali lagi.
Keduanya mengangguk. Entah apa yang akan terjadi nanti, baik Rain maupun Jack amat mengkhawatirkan hal ini. Sepertinya penyihir yang dihadapi bukanlah penyihir biasa. Tersirat dari wajah pria tua tersebut yang mewanti-wanti keduanya agar tidak panik selama proses pengembalian jiwa Ara. Dan akhirnya, pria tua berjubah putih itu mulai melakukan tirakatnya, khusus untuk Ara.
Ara duduk seorang diri di atas bukit menjelang sore ini. Angin yang berembus semakin lama semakin kencang, seolah menusuk tulangnya. Tak ada orang, tak ada kehidupan selain buah tin yang berdiri kokoh di sana. Ara pun tidak bisa mengambil buahnya dengan mudah.
Sang gadis memeluk tubuhnya sendiri, mengusap-usap dengan kedua tangannya. Tersirat dari wajahnya jika ia sedang gundah dan kedinginan saat ini. Ia belum juga menemukan jalan keluar.
Aku harus bagaimana?
Ara tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk kembali ke dunianya. Ia juga sudah merasa kedinginan. Lambat laun udara di atas bukit seperti menusuk tulangnya. Ia tidak sanggup jika harus berlama-lama seperti ini.
Terasa nyata dan benar terjadi. Itulah yang Ara rasakan sekarang. Tapi ia pun tidak bisa melakukan apapun karena tidak tahu harus ke mana dan menemui siapa. Ara bingung untuk melangkah.
Tak lama, dua orang pria naik ke atas bukit bersama kudanya lalu mendekati Ara. Ara pun takut seketika. Ia berlari untuk menghindarinya. Namun kemudian, ia menyadari jika orang-orang tersebut bukanlah orang jahat. Melainkan...
__ADS_1
"Nona, jangan takut! Kami diminta oleh pangeran Rain untuk mengantarkan makanan!"
Salah satu dari orang tersebut berseru kepada Ara yang hampir bersembunyi di dalam rerimbunan pohon tin. Sang gadis pun akhirnya bisa sedikit bernapas lega dari ketakutannya sendiri. Ia pelan-pelan melangkahkan kaki, lebih mendekat ke orang-orang itu.
"Nona, ini adalah buah-buahan untukmu. Pangeran Rain meminta kami mengantarkannya," kata salah satu dari mereka.
"Dia ke mana?" tanya Ara memberanikan diri.
"Pangeran Rain sedang mengabsen pergantian prajurit yang berjaga. Dia tidak meninggalkan pesan selain meminta kami untuk mengantarkan buah-buahan ini dan juga air minum," terang orang satunya.
Ara tertegun.
Ternyata dia masih mempunyai hati untuk menolongku. Haruskah aku tanyakan kepada orang-orang ini di mana jalan pulang berada? Tapi, apa mereka tahu?
Ara ragu sendiri.
"Nona, maaf. Kami harus segera kembali ke istana. Permisi." Keduanya lekas berpamitan.
"Tunggu!" Ara pun menahan kepergian mereka. "Bisakah aku ikut kalian? Aku tidak mempunyai tempat untuk tinggal. Aku juga tidak mempunyai pakaian. Udara di sini begitu dingin. Tolong berikan aku tempat tinggal sementara." Ara meminta.
Kedua orang suruhan Rain saling melirik satu sama lain. "Maaf, Nona. Kami tidak berani. Kami hanya diminta mengantarkan buah-buahan ini. Maafkan kami."
Keduanya meminta maaf kepada Ara seraya membungkukkan badan. Setelahnya mereka segera menaiki kuda lalu pergi meninggalkan Ara. Mereka hanya menjalani tugas semata. Sontak sang gadis pun menangis pilu.
"Ya Tuhan ...."
Ara mulai menangis. Tetes demi tetes air matanya jatuh membasahi pipi. Ia tidak sanggup jika harus berlama-lama di sini. Pakaiannya tipis sehingga tidak dapat menahan dinginnya udara. Ia juga tidak mempunyai selimut tebal ataupun pakaian berbulu untuk menahan angin yang menerpa tubuhnya. Dan kini air mata mewakili kesedihannya. Di sini, di atas bukit pohon surga.
__ADS_1