Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Want To Know


__ADS_3

Pagi harinya...


Hari ini aku terbangun dengan badan yang pegal-pegal. Kulihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul enam pagi. Aku pun bergegas ke kamar mandi untuk membasuh wajah. Kebetulan jam mata kuliah hari ini dipindahkan ke jam sembilan. Jadi aku bisa sedikit bersantai.


"Sayang?!"


Kulihat priaku tengah memasak di dapur. Dia pagi-pagi sudah sibuk sendiri dengan rambut yang masih basah. Sepertinya dia baru saja selesai mandi.


"Selamat pagi, Nyonya Rain. Aku sedang membuatkan telur dadar. Mohon ditunggu," katanya seraya tersenyum padaku.


Lantas aku ingin tertawa mendengarnya. Ternyata priaku sudah bangun duluan dan sekarang tengah membuatkan telur dadar untuk sarapan. Jika dilihat-lihat dia memang begitu memanjakan. Sampai lupa siapa dirinya saat bersamaku.


"Badanku pegal semua, tahu!" Aku menggerakkan kepala sambil memegangi pinggang yang terasa pegal ini.


"Semalam kan kita tidak ngapa-ngapain, kok bisa pegal?" tanyanya seenak hati.


"Ish!" Segera aku berjalan cepat ke arahnya lalu mencubit pinggangnya itu."


"Aw! Sakit, Sayang!" Dia akhirnya merasakan cubitanku pagi-pagi.


"Semalam siapa yang mengunci tubuhku coba?! Memangnya ada pria selain dirimu di sini?!" tanyaku kesal.


"Nyonya Rain, tapi kan kita tidak ngapa-ngapain. Tanganmu nakal sekali. Lima hari lagi kita akan menikah, sekarang sudah ketahuan buasnya." Dia malah mengejekku.


"Sayang!"


Aku kesal padanya. Tak tahu mengapa aku kesal saja. Mungkin tidak bisa diajak bercanda untuk beberapa waktu. Atau mungkin menstruasiku mau datang? Sungguh sampai saat ini aku belum juga menstruasi, padahal sudah telat dua minggu.


"Baiklah-baiklah." Dia mematikan kompornya. "Lain kali aku tidak akan seperti semalam. Habisnya jika tidak dikunci, kau akan kabur. Sedang aku ... tahu sendiri bagaimana, kan?" Dia menenangkan hatiku.


"Tapi tidak seperti semalam juga. Badanku akhirnya sakit semua. Kau ini memang benar-benar, ya." Aku tak peduli dengan penjelasannya.


"Sayang ...," Dia mengangkat tubuhku lalu mendudukkannya ke atas meja dapur. "Aku tidak merasa ada jarak lagi. Milikku milikmu, milikmu milikku. Jadi, saat aku sudah merasa pusing apa tidak boleh bermain sebentar?" tanyanya.


"Tahu, ah!" Aku memalingkan pandangannya darinya.


"Hei, tidak boleh seperti ini. Aku akan menjadi suamimu, hitungan hari lagi." Dia menarik wajahku dengan jari telunjuknya.

__ADS_1


"Ya, sudah. Aku mau mandi." Aku berniat turun.


"Aku ikut, ya," katanya.


"Eh? Bukannya sudah mandi?!" Aku terkejut saat dia minta ikut.


Dia menggelengkan kepalanya.


"Lalu rambutmu?" Aku menunjuk rambutnya.


"Aku belum mandi dua kali. Hehehe." Dia nyengir tak karuan di depanku.


"Dasar! Huh!"


Lekas saja aku berjalan melewatinya, menuju kamar mandi. Aku sekalian mandi agar badan terasa lebih segar dan terlihat cantik walaupun sedang kesal dengannya. Kuakui sekesal apapun aku tetap menyayanginya.


Tak bisa kupungkiri jika cintaku ini semakin besar dan rasa takut akan kehilangan dirinya semakin menghantui. Rasa-rasanya kami harus segera menikah agar ketenangan itu lekas didapatkan.


Dia itu memang tidak tahu waktu. Orang sudah lelah masih saja.


Kututup pintu kamar mandi lalu segera menggosok gigi. Kunikmati air pagi seraya meredamkan rasa kesal di hati. Aku mencintainya, mencintai hujanku. Aku berharap dia tidak ilfeel karena pagi-pagi sudah mengomel padanya. Ya, seperti yang dia bilang, tidak ada jarak lagi di antara kami.


Aku menggenakan sweter lengan panjang berwarna biru dengan bawahan celana kulot di atas mata kaki. Kusisir rambut panjangku lalu kubiarkan tergerai begitu saja. Masih basah juga karena sehabis mandi. Mau menggunakan hair dryer akunya malas. Entah mengapa aku diserang rasa malas dan kesal pagi ini.


"Tugasku mana, ya?"


Sebelum keluar kamar, kusiapkan tugas yang harus kubawa hari ini ke kampus agar tidak ketinggalan nanti. Priaku lalu masuk ke kamar dan melihatku yang sedang memasukkan tugas ke dalam tas. Dia sudah mengenakan setelan jas hitamnya karena akan segera berangkat ke kantor.


"Sayang, ayo makan!" ajaknya.


"Iya-iya." Aku pun lekas-lekas beranjak keluar kamar sambil membawa tas kuliahku. "Hari ini jadi lembur?" tanyaku seraya meletakkan tas ke kursi samping.


"Jadi. Tadinya malah ingin ditemani," katanya.


"Aku kuliah, Sayang. Nanti pulang kuliah aku langsung ke sana saja. Oke?" Aku berjanji.


"Benar, ya?" Dia memegang janjiku.

__ADS_1


"Iya," kataku seraya menuangkan air minum untuknya.


Kami lantas sarapan bersama di depan meja makan. Sarapan pagi pertama setelah pindah rumah dan rasanya memang berbeda.


Aku harap kita akan selalu seperti ini, Sayang. Kau mau mengalah padaku yang begitu manja. Aku harap kau tidak seperti ayahku yang meninggalkan ibu. Aku mencintaimu, Hujanku.


Dubai, pukul delapan pagi waktu setempat dan sekitarnya...


Kini aku sudah bersiap-siap berangkat ke kampus. Mengenakan pakaian dengan sedikit polesan make up yang minimalis, dan juga lipglos berwarna pink untuk lebih mencerahkan wajahku. Sambil menjinjing tas kulangkahkan kaki keluar rumah lalu mengunci pintunya dari luar. Kulihat Jack sudah menunggu di jalan rumahku. Ya sudah, aku pun segera masuk ke dalam mobil lalu menuju ke kampus.


Perjalanan pagi ini tidak terlalu ramai. Kulihat kendaraan tidak terlalu padat di jam sekarang. Mungkin karena Kota Dubai memiliki banyak jalan bebas hambatan sehingga tidak sepadat ibukota di negeriku. Suasana pagi ini pun terlihat amat cerah karena sorot sang mentari begitu menghangatkan bumi.


Terlintas beberapa pertanyaan di dadaku atas kejadian yang kualami kemarin. Lantas segera kutanyakan saja kepada Jack apa yang ada di dalam hatiku ini. Aku masih penasaran bagaimana bisa tiba di rumah sakit, sedangkan seingatku tidak sadarkan diri setelah melihat cahaya itu.


"Jack." Aku menyapanya dari belakang.


"Ya, Nona." Dia menjawabnya segera.


"Aku ingin bertanya tentang kejadian kemarin. Boleh, kah?" tanyaku memastikan.


"Silakan, Nona."


Kulihat Jack seperti tidak keberatan saat aku ingin mengajukan pertanyaan padanya. Jadi ya sudah, langsung kutanyakan saja sesuatu hal yang mengganjal di hati ini.


"Kemarin bagaimana bisa aku sampai di rumah sakit?" tanyaku mengawali.


Jack membelokkan setir mobilnya ke kanan. "Ada seorang pria yang menghubungi saya dan mengabarkan kejadian yang menimpa Nona," katanya.


"Pria?"


"Benar, Nona. Dia melihat kejadian kecelakaan kemarin," kata Jack lagi.


"Lalu?" Aku amat ingin tahu kebenarannya.


"Pria itu mengaku sebagai salah satu dosen di kampus Nona. Jadi setelah dia menelepon, saya langsung ke rumah sakit. Dan ternyata Nona mengalami koma ringan," tutur Jack.


"Astaga ...."

__ADS_1


Lagi dan lagi aku harus mengalami kejadian aneh karena konsekuensi yang harus kuterima dari gelang ini. Aku tidak tahu kapan bisa hidup bebas tanpa rasa khawatir. Tapi, jika mengingat pesan nenek, berarti ada tiga kejadian lagi yang harus kualami baru gelang ini bisa terlepas. Tapi masalahnya, apakah aku mampu menerima semua itu? Apakah ada cara lain untuk terbebas dari konsekuensi gelang ini?


__ADS_2