
Ialah Owdie, satu-satunya saudara yang bisa Rain percaya saat ini. Bertahun-tahun bersama menjalankan tugas organisasi di Timur Tengah, membuat keduanya memiliki kedekatan emosional yang baik. Dan kini Rain akan memulai pembicaraan langsung ke inti.
"Owdie, aku ingin meminta bantuanmu," kata Rain lagi kepada saudaranya.
"Apa, Rain? Katakan saja." Owdie pun sangat antusias menanggapi.
Bagai pucuk dicinta ulam pun tiba, begitulah perasaan Owdie sekarang. Ia begitu riang mengetahui Rain meneleponnya. Ia sudah amat merindukan saudaranya.
"Dengar baik-baik. Pertama, jangan katakan pada siapapun jika aku masih hidup. Kau mengerti?" tanya Rain segera. Ia melirik ke belakang, berjaga-jaga kalau-kalau ada orang yang mengikutinya.
"Baik. Aku mengerti. Tapi di mana kau sekarang? Aku merindukanmu, Rain!" Owdie ingin bertemu Rain.
"Sudah, simpan dulu rindumu. Aku tidak punya banyak waktu. Sekarang pinjamkan aku uang untuk bertahan hidup. Seluruh asetku sepertinya dibekukan oleh kakek." Rain menceritakan.
"Apa?!" Owdie terkejut. "Berarti benar apa yang Byrne katakan?" Owdie tak percaya.
Rain pun teringat dengan Byrne. "Aku ingin menanyakan tentangnya, tapi uangku tidak cukup untuk melanjutkan telepon ini. Sekarang bantu aku, pinjamkan aku uang," pinta Rain lagi.
"Berapa Rain? Berapa yang kau butuhkan? Katakan saja." Owdie bersedia membantu Rain.
"Satu juta dolar," jawab Rain yang sontak membuat Owdie terbatuk-batuk.
"Hei, kau gila ya?! Satu juta dolar itu banyak!" Owdie tak menyangka jika Rain akan meminjam uang sebanyak itu.
"Sudah, tenang saja. Aku akan melunasinya. Asetku masih banyak jika hanya untuk melunasi uangmu. Jika aku tidak bisa membayarnya, kau bisa meminta kakek untuk mencairkan asetku, bukan?" Rain semakin terburu-buru menelepon saudaranya.
__ADS_1
"Hah, ya. Baiklah. Aku mengerti maksudmu. Tapi apa benar kau ini Rain?" Owdie masih tak percaya jika yang meneleponnya adalah Rain.
"Hei, Bodoh. Ini memang aku, Rain. Kau adalah orang yang sering mencuri anggur di kebunku. Kau jugalah orang yang suka menukar celana dalamku dengan punyamu. Kau—"
"Sudah-sudah. Aku percaya ini dirimu." Owdie tidak sanggup jika aibnya dibeberkan semua oleh Rain. "Sekarang bagaimana agar aku bisa mengirimkan uangnya?" tanya Owdie segera.
Rain kemudian mendikte Owdie nomor rekening milik istrinya. Owdie pun mengambil pena untuk mencatatnya. Ia segera mengirim pengajuan ke bank dengan sejumlah uang yang Rain pinjam.
"Oke, sudah. Tinggal menunggu prosesnya saja. Sekarang apa jaminanmu untuk pinjaman ini?" tanya Owdie yang masih rindu saudaranya.
"Satu lusin botol anggur ukuran besar, kau bisa mengambilnya langsung," tutur Rain.
"Satu lusin? Tidak, Rain. Jaminanmu terlalu kecil. Bagaimana jika kebun anggurmu saja?" Owdie mencandai saudaranya.
"Tapi, Rain. Kau belum menceritakan padaku apa yang terjadi." Owdie masih ingin mendengar cerita saudaranya.
"Nanti aku akan menghubungimu lagi. Ingat! Jangan katakan pada siapapun jika aku meneleponmu, termasuk Byrne. Biarkan dia tetap fokus pada pekerjaannya." Telepon pun berakhir.
Durasi telepon Rain kini sudah habis sehingga telepon itu mati sendiri. Rain pun bisa sedikit bernapas lega karena sudah meminta pinjaman dari saudaranya. Ia segera keluar dari bilik telepon lalu membayarkan sejumlah uang kepada penjaga wartel. Alhasil, kini Rain tidak mempunyai uang lagi. Karena sisa uangnya telah dihabiskan untuk menelepon Owdie.
Baiklah. Ceknya besok saja. Rain akhirnya memutuskan untuk kembali ke pemukiman kecil ibunya.
Rain telah berhasil meminta bantuan Owdie dan juga berpesan agar tidak menceritakan kepada siapapun jika ia selamat. Owdie juga mengerti maksud Rain yang ingin tetap menyembunyikan keberadaannya. Walaupun tidak dapat dipungkiri jika Owdie amat merindukan saudaranya. Owdie ingin sekali bertemu dengan Rain. Pria berwajah latin itu tampak merenungi hal yang baru saja terjadi. Ia seperti bermimpi menerima telepon dari Rain.
Selama ini Owdie sudah bersusah payah mencari keberadaan Rain. Tetapi tetap saja Rain tidak juga ditemukan. Namun, malam ini ternyata takdir berkehendak lain. Ia bisa mendengar kembali suara saudaranya. Yang mana hal tersebut membuat Owdie sangat bahagia.
__ADS_1
Rain, ternyata kau masih hidup. Kenapa baru sekarang meneleponku?
Owdie duduk di sofa kamar hotelnya sambil memikirkan hal ini. Sejujurnya ia masih ingin berbincang bersama saudaranya. Namun karena keterbatasan biaya, Rain terpaksa mengakhiri sambungan langsung jarak jauhnya. Tak lama ponsel Owdie pun kembali berdering. Owdie segera mengangkat telepon itu yang ternyata dari pihak bank yang meneleponnya.
"Selamat malam, Tuan Owdie. Kami ingin menginformasikan jika akun Anda ingin mengirimkan sejumlah uang kepada rekening atas nama Aradita. Apakah itu benar Anda?" Pihak bank ingin memastikan.
"Ya. Itu memang aku sendiri yang ingin mengirimkannya. Aku minta jaminan keamanan atas uang tersebut. Jika salah, aku harap pihak bank bisa menariknya kembali." Owdie berjaga-jaga.
"Baik, Tuan. Kalau begitu satu juta dolar akan dikirimkan ke rekening nona Aradita malam ini." Pihak bank mengonfirmasi.
"Ya, silakan." Owdie mempersilakannya.
Pihak bank kemudian mengirimkan sejumlah uang ke rekening atas nama Ara. "Transaksi berhasil. Terima kasih telah memercayakan layanan perbankan kepada kami. Selamat malam, Tuan Owdie." Pihak bank ingin mengakhiri sambungan teleponnya.
"Selamat malam." Owdie pun segera memutus sambungan teleponnya.
Owdie masih tak percaya jika yang menelepon dan meminjam uang kepadanya adalah Rain. Sehingga ia meminta jaminan keamanan atas uang tersebut. Yang mana jika terjadi kesalahan, uang bisa diambil kembali. Tentunya biaya keamanannya tidaklah murah. Namun, biaya itu tidak sebanding dengan besarnya jumlah uang yang ia kirimkan. Sehingga tidak menjadi masalah bagi Owdie untuk mengeluarkan biaya tersebut.
Jika benar Rain, tentunya ia akan senang karena tidak salah transfer. Jika bukan, ia dapat menarik kembali uangnya. Tidak ada yang tidak mungkin bagi seorang cucu penguasa perekonomian dunia. Bahkan bank pun tunduk pada keinginan mereka.
Rain, cepatlah kembali. Ada masalah serius mengenai keselamatan nyawa manusia yang harus segera dihentikan. Byrne sedang mengandung risiko besar saat ini. Kita harus segera bertindak untuk menyelamatkannya.
Malam ini Owdie merasa senang karena kabar yang ia dengar langsung dari saudaranya. Dimana Rain selamat dari kapal pengeboran minyak yang meledak waktu itu. Tentu saja Owdie bisa tidur tenang karenanya. Ia tinggal memikirkan cara agar bisa menyelamatkan Byrne dari tugas yang diberikan sang kakek. Karena Owdie begitu menyayangi saudaranya.
Walaupun bukan terlahir dari rahim yang sama, tapi kedekatan mereka bak saudara kandung sendiri. Owdie berharap dapat segera berkumpul dengan keduanya, baik Byrne maupun Rain. Karena hanya keduanya lah yang berarti di hati Owdie saat ini.
__ADS_1