Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Starting...


__ADS_3

Esok harinya...


Pagi yang cerah mengantarkan Ara menemani suaminya bekerja. Sang Nyonya Rain kini tengah disambut kedatangannya oleh para pekerja Rain di kantor Burj Khalifa. Ucapan selamat menggema ke seluruh ruangan hingga membuat aktivitas terhenti sejenak. Hingga akhirnya sang nyonya memasuki ruangan kerja suaminya.


Tidak ada yang berbeda semenjak ditinggal Rain ke USA. Ruangan Rain masih tampak rapi seperti sebelumnya. Hanya saja status keduanya kini yang telah berbeda. Dari masa pengenalan dan sekarang sudah terikat jalinan pernikahan. Ara ingat benar bagaimana terakhir kalinya datang ke kantor Rain. Di mana saat itu suaminya ngambek kepadanya.


"Hihihi." Ara merasa geli sendiri saat duduk di sofa yang sama.


"Kenapa, Sayang?" Rain pun segera duduk di kursi kerjanya.


"Tidak apa. Aku hanya teringat sesuatu," kata Ara lalu mengambil majalah yang ada.


"Tentang apa?" Rain mulai membuka laptopnya di sana.


"Tentang kita. Dan semua yang sudah terlewati," kata Ara sambil mengingat kembali kejadian sebelumnya.


Rain tersenyum. Ia kemudian menelepon bagian dapur kantor. "Kirimkan cemilan sehat dan dua gelas susu beserta air mineral botol," kata Rain kepada bagian dapur.


"Baik, Tuan." Suara dari seberang pun menjawab.


Ara melihat-lihat majalah bisnis yang ada di meja tamu ruang kerja suaminya. Ia lihat banyak sekali kabar tentang laju harga minyak di majalah tersebut. Sampai-sampai ia bingung saat melihat mata uang berbagai negara dalam menghargai minyak bumi per barelnya. Dan karena tak mengerti, akhirnya Ara menutup saja majalah tersebut.


"Tuan." Beberapa menit kemudian ada seseorang yang mengetuk pintu.

__ADS_1


"Masuk!" Rain pun mempersilakan masuk.


"Tuan, pesanannya." Seorang pelayan dapur mengantarkan pesanan Rain.


"Letakkan saja di meja," pinta Rain yang mulai serius bekerja.


"Baik, Tuan." Sang pelayan pun meletakan pesanan Rain ke meja tamu. "Maaf, Nona." Ia pun meminta izin kepada Ara untuk meletakkan semua makanan ke atas meja.


"Iya, silakan." Ara mempersilakan. Ia juga ikut membantu pelayan meletakkan semua makanannya.


Hari ini Ara akan menemani suaminya bekerja karena bosan jika sendirian di rumah. Karena jika meminta kuliah pun, pastinya tidak akan diperbolehkan suaminya. Tahu sendiri bagaimana Rain kepada Ara. Ia cemburu buta, posesif dan juga over protektif. Rain tidak kira-kira kalau sifat cemburunya sudah mulai kumat. Sampai-sampai membuat Ara ingin menyerah saja menghadapinya.


Sementara itu di pengeboran minyak yang ada di laut Dubai...


Pagi-pagi sekali ia melancarkan aksinya. Tekanan yang ia terima dari Nick membuat dirinya tidak bisa menolak kerja sama ini. Ia takut sekali jika terjadi sesuatu kepada keluarganya. Sehingga mau tak mau ia menyepakati kerja sama dengan cucu kandung penguasa perekonomian itu.


Selepas mengganti pipa yang sedang beristirahat dari pengeboran, pekerja itu kembali ke dalam kapal untuk beristirahat bersama yang lainnya. Kelima pekerja itu tentunya telah dibohongi agar menurut kepada perintahnya. Karena ia adalah kepala pengeboran minyak kali ini. Rain sendiri yang telah menunjuknya karena sudah percaya. Tapi nyatanya, tanpa sepengetahuan Rain, pekerja yang dipilihnya itu malah mengkhianatinya.


Maafkan saya, tuan Rain. Saya terpaksa melakukannya.


Sebenarnya mudah saja untuk melaporkan tindak kejahatan Nick yang mengancam keselamatan diri dan keluarganya. Tapi, pekerja itu takut jika Nick akan melakukan hal-hal nekat yang mengakibatkan keluarganya menjadi korban. Ia khawatir Nick tidak tertangkap malah ia yang kehilangan keluarganya. Maka dari itu mau tak mau ia menyepakati kerja sama ini. Semua demi keselamatan keluarganya.


Terlepas dari kerja sama yang membelenggunya, di dalam hati pekerja itu tentunya merasa amat bersalah. Apalagi jika terjadi apa-apa terhadap Rain dan pekerja lainnya. Pastinya di kemudian hari hidupnya tidak akan tenang. Belum lagi saat nanti berhadapan dengan Tuhan. Ia tidak akan bisa lari dari semua perbuatannya. Namun, jika kembali teringat dengan ancaman Nick, mau tak mau ia harus melakukannya.

__ADS_1


Hotel Marina, Dubai...


Nick sedang asik berenang bersama wanita-wanitanya. Ke manapun berpergian, ia selalu membawa wanita-wanitanya. Tidak hanya satu, melainkan empat orang sekaligus. Ia seorang maniak yang suka bergonta-ganti pasangan.


Kemewahan yang dimilikinya membuatnya lupa jika semua ini hanya titipan. Ambisi yang mengunci mati hatinya membuat Nick tidak mengenal belas kasihan. Maka dari itu Byrne dan Owdie selalu meminta Rain untuk selalu waspada. Karena semua bisa saja terjadi tanpa memandang waktu dan tempatnya. Byrne dan Owdie cukup tahu bagaimana Nick yang sebenarnya.


Nick, Owdie, Byrne dan Rain adalah salah satu dari ketiga belas cucu Sam. Namun, hanya Nick yang merupakan cucu kandung dari Sam. Sedang yang lainnya adalah cucu angkat. Nenek Sam sendiri meninggal saat Rain berusia ke dua puluh tahun. Itu berarti sudah tujuh tahun Rain ditinggalkan. Yang mana pastinya Rain amat kesepian. Karena Nenek Sam lah yang selama ini merawat dan membesarkannya.


Ketiga belas cucu Sam itu tersebar di berbagai belahan dunia. Tiga orang di Timur Tengah, tiga orang di Asia. Tiga orang di Eropa dan tiga orang di Amerika Selatan. Sedang satu orang cucu Sam yang merupakan Nick sendiri bertempat tinggal di Washington DC. Ia tetap standby di organisasi. Namun, demi untuk menyingkirkan Rain, ia sampai pergi jauh ke Dubai. Meninggalkan rumah keluarga besar dan kursi jabatannya.


"Tuan, ada telepon untuk Anda." Seorang pengawal memberikan telepon kepada Nick yang sedang berenang bersama wanita-wanitanya.


"Halo?" Nick pun mengangkat telepon itu. "Bagus. Tinggal menunggu waktu. Tak lama lagi ia akan meleleh." Nick tampak senang. "Tenang saja. Kau akan aman," katanya lagi. "Baik. Kita tunggu saja." Ia pun mengakhiri teleponnya.


Nick tersenyum picik setelah menerima telepon itu. Ia tampak senang karena rencananya sudah mulai dilancarkan.


Akhirnya benda yang kuberikan sudah menempel di pipanya. Tinggal menunggu waktu saja pipa itu meleleh, dan kita akan melihat apa yang terjadi selanjutnya.


Nick ternyata meminta pekerja Rain untuk menempelkan sesuatu pada pipa yang dipasang di pengeboran minyak. Yang mana benda itu dapat melelehkan pipa dalam jangka waktu tertentu. Ia sengaja mempersiapkan benda itu agar jejak tidak dapat teridentifikasi. Karena benda itu kecil seperti kancing pakaian. Dan Nick sudah membayar mahal untuk semuanya.


Rain, kita lihat bagaimana nasibmu selanjutnya, Saudaraku.


Nick pun menatap ke langit, membayangkan keberhasilannya dalam menyingkirkan Rain. Bersamaan dengan itu para wanitanya mendekati lalu mengajaknya bercumbu. Hasrat duniawi telah menguasai jiwanya sehingga membuat hatinya mati.

__ADS_1


__ADS_2