Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Teenage Memories


__ADS_3

Dubai, pukul sepuluh pagi...


Rain mengunjungi kilang minyak dengan menggunakan kapal cepat. Ia baru saja sampai di kapal pengeboran beberapa menit yang lalu. Dan kini ia sedang melihat sistem keamanan di sana. Para pekerja pun tampak bersemangat saat Rain datang.


"Sistem otomatis telah difungsikan, Tuan. Sekiranya semua sudah berfungsi dengan baik." Seorang pekerja menuturkan dari depan meja komputernya.


Rain berada di ruang keamanan kapal. Ia sedang berbincang bersama teknisi komputer di ruang itu. Total seluruh pekerja dalam satu sift pengeboran minyak adalah dua puluh orang. Sedang sehari terdapat tiga sift. Sehingga total keseluruhan enam puluh pekerja yang dibagi menjadi beberapa tim.


"Bagaimana dengan keadaan pipanya?" tanya Rain sambil menyilangkan kedua tangan di dada. Ia amat serius mendengarkan semua penuturan dari teknisi itu.


"Sudah aman, Tuan. Setahu saya keadaan pipa semuanya baru. Bahan bakar pengeboran juga sudah terisi penuh. Estimasi dalam sebulan ke depan bisa terus dilakukan pengeboran sesuai tingkat kedalaman yang Tuan berikan." Teknisi itu menuturkan kembali.


"Baik. Kalau begitu aku akan mengecek bagian lainnya. Gunakan jam istirahat untuk istirahat. Jangan sampai jam kerja terganggu karena ada yang kurang beristirahat." Rain berpesan.


"Baik, Tuan." Teknisi itu pun mengiyakan.


Rain kemudian mengecek bagian lainnya. Ia sengaja membagi satu sift menjadi empat tim. Satu tim teknisi, satu tim bagian operator kapal. Satu tim pengeboran dan tim lainnya merupakan pekerja tambahan. Rain melakukan pengecekan sebelum melaju ke negara Timur Tengah lainnya, Saudi Arabia.


Sementara itu di rumah Rain...


Ara ditinggalkan di rumah karena hari ini Rain harus mengecek lahan minyak yang baru. Ara pun terlihat malas-malasan saat sudah tidak ada lagi pekerjaan yang bisa ia kerjakan. Ia sudah menyapu, memasak dan juga mencuci pakaian. Sehingga kini tinggal bersantai sambil menonton serial di televisi.


Menjelang siang ini Ara merebahkan diri di atas sofa sambil menonton drama Turki. Ia mulai membiasakan diri untuk menyukai semua hal yang berbau Timur Tengah. Karena bagaimanapun pepatah mengatakan, di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung adalah benar. Dan Ara masih dalam proses penyesuaian diri di lingkungan ini.


Rain sempat memintanya untuk mengenakan pakaian seperti wanita Timur Tengah. Yang mana kebanyakan dari mereka mengenakan pakaian serba langsung. Mirip seperti gaun serba panjang atau kalau di Indonesia menyebutnya sebagai gamis. Dan Rain pun meminta Ara untuk menggunakan kerudung.

__ADS_1


Sebenarnya Ara sudah tertarik untuk mengenakannya, terlepas dari apa yang ia yakini selama ini. Ara pikir memang sudah seharusnya bagi seorang wanita untuk menghargai dirinya sendiri, dengan menutup semua bagian tubuh terkecuali wajah dan telapak tangan. Namun sayangnya, Ara masih terlalu dini untuk konsisten mengenakannya. Ia masih ingin menikmati hidup tanpa harus ada yang mengikatnya. Katakanlah jika ia masih ingin senang-senang di masa mudanya.


Ruang lingkup Ara di Indonesia tentunya tidak bisa hilang dari ingatan. Ia khawatir jika di Dubai sama seperti di negaranya. Di mana sesuatu yang tidak konsisten akan menjadi bulan-bulanan warga. Sehingga Ara menghindari hal itu semua.


Kini Ara menikmati status barunya sebagai istri Rain, pria yang memikat hatinya sejak pandangan pertama. Dan kini ia telah berhasil memilikinya, bahkan sekarang sedang mengandung anaknya. Ara pun amat bahagia dengan itu semua.


"Sayang, kau harus kuat di dalam, ya. Jangan goyah walau ayah selalu menjengukmu. Dia memang selalu rindu padamu. Sehingga tiap malam tidak bisa jika tidak melihatmu."


Ara tertawa sendiri saat mengingat bagaimana Rain yang selalu meminta jatah padanya. Padahal di dalam sana sedang tumbuh-kembang anaknya. Tapi Rain selalu saja menjenguk si janin. Ia ingin selalu melihatnya.


"Hooaaamm. Aku ngantuk sekali."


Tak beberapa lama, Ara pun mengantuk. Ia kemudian mematikan televisi lalu mulai memejamkan mata. Ia ingin beristirahat sejenak setelah melakukan aktivitas rumah tangga. Bersama sang janin yang masih tumbuh-kembang di dalam sana, ia pun mulai memasuki alam mimpi.


Iran, pukul sebelas siang waktu sekitarnya...


"Kau mencuri anggur Rain lagi?" tanya Byrne ke Owdie.


Owdie membuka penutup botol anggurnya. "Ya, mau tak mau. Kalau tidak mencuri tidak akan dikasih." Owdie beralasan.


"Hahaha." Byrne pun tertawa. "Kau selalu saja mencuri anggur milik Rain kalau sedang di USA." Byrne beranjak bangun, ia ingin ikut mencicipi anggur yang dibawa Owdie.


"Rain itu pelit sekali. Sampai-sampai aku harus mencurinya sendiri. Untung saja para pekerja kebun sudah mengenaliku. Kalau belum, pastinya aku sudah dipentungi oleh mereka," nyinyir Owdie.


"Hahaha." Byrne tertawa lagi. "Ya, bagaimana. Kau juga memintanya tidak kira-kira. Setiap ke sana minta sepuluh kilo anggur. Rain kan jadi kesal. Sepuluh kilo anggur itu bisa jadi beberapa botol minuman." Byrne memaklumi mengapa Rain bisa bersikap pelit kepada Owdie.

__ADS_1


"Ya, sih. Tapi bagaimana ya, rasanya memang enak. Aku tidak mempunyai jalan lain selain mencurinya." Owdie meneguk anggurnya.


Byrne ikut meneguk anggur, bergantian dengan Owdie. "Sayang sekali kau tidak membeli tanah itu kemarin." Byrne mengingat kembali tanah kebun anggur milik Rain di USA.


"Iya. Aku juga menyesal. Ternyata tanahnya subur sekali. Aku juga tidak berpikir jika Rain akan menjadikannya kebun anggur." Owdie mengenang kembali masa remajanya.


"Sebenarnya saat pembagian uang itu, aku juga ingin membeli tanah. Tapi aku belum kepikiran. Ya maklum saja, baru masuk SMA. Hobiku juga di percobaan ilmiah bukan agraria," tutur Byrne.


Owdie menatap kekejauhan. "Aku kadang menyesal karena telah menghabiskan masa muda dengan sia-sia. Aku iri padanya." Owdie merenungi masa lalunya.


"Dia memang pekerja keras. Dia juga selalu fokus dengan tujuannya. Mungkin Jane sedang beruntung karena bisa mendekati Rain saat kuliah." Byrne meneguk kembali anggurnya.


"Jane? Oh, ya. Apa kabarnya dia?" Owdie tiba-tiba teringat dengan Jane.


"Tidak tahu. Mungkin dia sekarang sedang menata hidupnya," duga Byrne.


"Dia tahu Rain sudah menikah?" tanya Owdie.


"Pastinya tahu. Rain memasang foto profil pernikahannya dengan Ara. Pasti semua orang yang ada di kontaknya tahu jika Rain sudah menikah," terang Byrne.


"Benar juga." Owdie mengangguk. "Tapi dia itu termasuk hebat. Tidak pernah mengekspos kemesraan, sekali mengekspos sudah mengenakan pakaian pernikahan." Owdie menyadari jika saudaranya brilian.


"Hah. Kau sedari dulu ingin seperti Rain tapi tidak pernah mengikuti jejaknya. Lagipula dia orangnya terbuka. Mengapa tidak cari tahu apa rahasianya?" Byrne menyindir Owdie yang hanya ingin di mulut saja.


Owdie pun termenung. Seperti sedang mencari cara agar bisa seperti Rain. Byrne sendiri melihat saudaranya sambil menahan tawa. Tidak biasanya ia melihat raut wajah Owdie semenyesal ini.

__ADS_1


Dia memang jenaka. Dari tiga belas cucu kakek, dialah yang paling bisa diajak bercanda. Untung saja lima tahun belakang ini aku selalu satu tim dengannya. Jika dengan yang lain, aku bisa mati kutu karena sama-sama introvert.


Byrne menyadari jika Owdie adalah saudaranya yang paling menyenangkan. Owdie bersikap hangat dan juga selalu mau membantu saudaranya yang sedang kesulitan. Byrne merasa beruntung karena bisa satu tim dengan Owdie. Walaupun pada kenyataannya ia lebih banyak bertukar pikiran dengan Rain.


__ADS_2