Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Jealous


__ADS_3

Waktu itu...


Aku baru saja tiba di depan apartemen selepas berbelanja ditemani supir pribadinya sendiri. Jam di tangan telah menunjukkan hampir pukul satu siang. Jack pun membantu membawakan barang belanjaan sampai ke depan pintu apartemen.


"Terima kasih, Jack. Maaf telah banyak merepotkan," kataku pada pria berjas hitam yang tak lain adalah supir pribadinya.


"Kembali, Nona. Kalau begitu saya permisi." Jack berpamitan padaku.


"Ya, hati-hati di jalan." Aku pun mengiyakan.


Jack segera berjalan menuju lift yang ada di sudut lantai apartemen. Sedang aku masuk ke dalam apartemen sambil membawa semua barang belanjaanku. Hari itu hatiku amat riang karena kehidupanku berjalan lancar dan serba dimudahkan. Dengan tersenyum semringah aku melangkahkan kaki masuk ke dalam. Namun, tiba-tiba saja langkah kakiku terhenti saat ingin berbelok menuju dapur. Ternyata...


Tuan ....


Saat itu juga aku melihatnya sedang memegang lengan seorang wanita yang tidak kuketahui siapa. Wanita itu bergelayut manja dengannya di depan pintu kamar. Sontak hatiku terasa pecah berkeping-keping. Jantungku pun melambat seakan kekurangan pasokan oksigen. Aku ... patah hati.


Kutelan ludahku berulang kali saat melihat pemandangan miris ini. Rasa sesak melanda seluruh dadaku, sakit sekali. Tanpa sadar plastik berisi buah jeruk yang kubeli pun tidak mampu kupegang lagi, dan akhirnya jatuh ke lantai. Buah-buah jeruk menggelinding ke sembarang arah saat aku tidak mempunyai kekuatan untuk menahannya.


"Ara ...?"


Dia kemudian melihat ke arahku bersama wanita itu. Dia juga segera melepaskan pegangan tangannya pada wanita itu.


"Rain, siapa dia?" tanya wanita berpakaian mini merah kepadanya.


Kami memang belum terlalu dekat. Statusku masih sebagai asisten rumah tangganya. Belum menjadi istri. Aku pun segera tersadar siapa diriku ini. Tidak mungkin bisa memilikinya karena aku hanya seorang pembantu. Rasa sesak di dada pun semakin menjadi-jadi, memaksa bulir-bulir air mataku keluar dari persembunyiannya.


Mataku berkedut seolah meminta izin agar dapat mengeluarkan butiran kristal bening ini. Aku pun segera mengambil semua jeruk yang jatuh berserakan di lantai. Aku berusaha melupakan sejenak kepahitan yang kulihat.


"Ara, biar kubantu." Dia kemudian membantu mengambilkan jeruk yang jatuh berserakan di lantai.


"Tidak perlu, Tuan. Biar aku saja." Aku pun cepat-cepat mengambilnya.


"Rain, siapa dia?" Wanita itu bertanya kembali.


Dia diam, entah apa yang sedang dia pikirkan. Aku pun tidak ingin melihat apa yang terjadi pada mereka. Dengan segera aku berpamitan, melangkahkan kaki meninggalkan keduanya. Tentunya setelah semua buah jeruk yang jatuh ini kuambil dan kembali pada tempatnya.

__ADS_1


"Maaf, aku tidak tahu jika ada tamu yang datang. Permisi." Segera kulangkahkan kaki menuju dapur apartemen.


"Ara!" Dia ingin mengejarku, tapi sepertinya tertahan oleh wanita itu.


Cepat-cepat aku masuk ke dapur lalu menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Semua barang belanjaan yang kubawa, kuletakkan begitu saja di atas lantai. Kini aku pun tidak dapat menahan rasa sesak lebih lama. Air mataku jatuh begitu saja kala mengingat kejadian barusan.


Tuan ....


Satu per satu bulir air mataku jatuh membasahi pipi. Dadaku terasa sesak sekali sampai-sampai membuatku harus sekuat tenaga menghirup udara. Aku tidak percaya jika akan melihat hal ini di depan mataku sendiri. Ternyata dia mempunyai wanita lain. Dan mungkin aku ini hanya mainannya.


Aku terluka. Luka yang kubuat sendiri. Harusnya tidak begitu saja percaya padanya. Tapi apa daya, semua sudah terjadi. Yang aku bisa hanya bertahan dari perasaanku sendiri, perasaan yang membumbung tinggi.


Kuusap air mataku lalu segera membasuh wajah di pancuran air cuci piring. Setelahnya kuambil segelas air minum lalu meneguknya sampai habis. Kuatur ulang napas agar bisa kembali berpikir jernih. Seketika aku mempunyai ide untuk mengobati hati yang terluka ini.


Dengar musik pembakar semangat saja.


Kuambil ponsel lalu menyambungkan kabel earphone-nya. Kupasang di telinga dengan volume besar karena tidak sanggup mendengar hal-hal aneh dari luar sana. Kuletakkan ponsel di saku celana lalu mulai membereskan barang belanjaan. Kutata di tempatnya sambil bernyanyi dengan riang. Lambat laun perasaan sedih pun hilang dari hatiku. Aku kembali bisa menikmati hidup ini.


Aku harus profesional!


Aku pun menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan untuk memasak lalu segera mencucinya. Aku akan membuatkan steak sapi dengan taburan lada hitam di atasnya. Karena sepertinya enak disantap bersama rebusan kentang dan juga kacang polong. Jadi ya sudah, kuselesaikan saja pekerjaanku.


Detik demi detik berlalu, menit demi menit pun terlewati. Aku hampir lupa jika telah terjadi sesuatu tadi. Dan kini aku sedang menyajikan daging sapi yang telah dipanggang ke atas papan kayu. Kuhias cantik dengan irisan tomat dan brokoli. Namun, tiba-tiba jantungku kaget mendengar bunyi keras di pintu.


"Tu-tuan?!"


Kulihat dia mendobrak pintu dapur dan kini berdiri dengan wajah kesalnya. Kulepas segera earphone ini dari telinga.


"Astaga, Ara?!" Dia memijat dahinya sendiri saat melihatku. "Kau tidak mendengar panggilanku karena memakai earphone?!" tanyanya sambil bertolak pinggang.


Saat itu juga baru kusadari jika ternyata dia memanggil-manggil namaku dari luar. Namun, tidak kedengaran olehku karena volume suara musik yang dibesarkan.


"Ma-maaf, Tuan. Aku tidak mendengarnya," kataku takut.


"Ara, kau benar-benar keterlaluan! Aku berulang kali memanggilmu, mengetuk pintu, tapi tidak juga dibukakan!" Dia menatapku dengan tatapan menahan amarah.

__ADS_1


"Maaf, Tuan. Aku salah." Aku mengakui kesalahanku sambil tertunduk di depannya.


"Tolong buatkan aku kopi," pintanya, dan dia pun segera pergi.


"Baik, Tuan." Aku mengiyakan.


Saat itu juga aku merasa bingung. Berapa jumlah kopi yang harus kubuat untuknya? Satu atau dua? Karena kulihat ada wanita berpakaian mini itu tadi.


Dua sajalah daripada harus bolak-balik.


Kubuat dua cangkir kopi lalu segera membawakannya ke luar. Kulihat dia sedang duduk di depan meja makan. Namun, seorang diri.


Eh, ke mana wanita itu?


Kulihat wanita itu sudah tidak ada. Tapi mungkin saja dia sedang ke kamar mandi sekarang. Entahlah, saat itu juga aku berusaha untuk tidak peduli. Kuselesaikan saja tugasku ini.


"Silakan, Tuan." Kuletakkan dua cangkir kopi ke atas meja.


"Kau membuatkannya dua?" tanyanya, saat menyadari jika aku sudah datang membawakan kopi.


"Ya, Tuan," jawabku yang berdiri di sampingnya.


"Apakah kau ingin meminum kopi bersamaku?" tanyanya lagi.


"Tidak, Tuan. Ini untuk nona yang tadi," jawabku jujur.


Kulihat dia menggerak-gerakkan jemari tangannya di atas meja. Dia menatap ke arahku sambil menahan diri agar tidak bicara. Tetapi...


"Duduklah," pintanya kemudian.


"Baik, Tuan."


Aku menurut, segera duduk di sampingnya, menghadap ke arah kaca yang ada di seberang. Kulihat dia meneguk kopi yang telah kusajikan. Dia juga mengambil napas panjang sebelum memulai pembicaraan.


"Maaf atas kejadian tadi," katanya pelan.

__ADS_1


Aku yang mendengarnya pun hanya bisa tersenyum palsu.


"Dia Jane, temanku di USA," katanya lagi.


__ADS_2