
Beberapa jam kemudian...
Suara burung bersiulan, membangunkanku dari alam bawah sadar. Perlahan-lahan aku bisa merasakan jika energi sudah kembali ke tubuhku. Samar-samar indera pendengaranku juga mulai berfungsi dengan baik. Dan kudengar suara priaku dari jarak yang cukup jauh.
"Jadi pria yang menabrak Ara mati terbakar?" Suara priaku bertanya kepada seseorang.
"Benar, Tuan. Mobilnya terguling-guling di aspal dan tangki bensinnya juga bocor. Tak lama kemudian mobil itu meledak." Sepertinya suara Jack yang berbicara dengan priaku.
Aku masih menatap langit-langit rumah sakit. Kurasakan cairan infus juga masih mengalir ke tubuhku. Sepertinya aku diberi obat penambah energi tadi, sehingga lemas lalu tertidur. Dan sekarang aku berenergi kembali.
"Sa-yang ...."
Dengan pelan aku mengucapkan kata itu. Kata dengan makna terdalam yang kupunya. Hanya dengannya saja aku mengucapkan kata itu, sebagai perwakilan rasa yang ada di dalam hatiku. Kudengar langkah kakinya pun kian mendekat ke arahku.
"Ara ... kau sudah sadar?"
Diciumnya tanganku, diusapnya kepalaku. Sentuhan lembut kurasakan pagi ini. Aku benar-benar membutuhkannya dan hanya dialah yang bisa memenuhi semua kebutuhanku. Karena aku sudah terlanjur mencintainya.
"Sayang, kau sudah sampai?" tanyaku pelan, seraya menoleh ke arahnya yang berdiri sambil membungkuk di sisi kananku.
"Sekitar satu jam yang lalu aku baru sampai di sini. Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanyanya penuh khawatir.
Aku tersenyum. Senyum pertama kuberikan padanya saat baru tersadar. Kulihat wajah lelahnya karena baru saja sampai. Sepertinya dia benar-benar langsung pulang selepas pertemuan di Turki. Sekarang saja dia masih mengenakan kemeja lengan panjangnya yang berwarna putih. Dan harum-harum tubuhnya seperti menyiratkan sisa parfum yang sudah lama disemprotkan. Aku jadi ingin memeluknya.
"Sayang, peluk aku." Aku begitu manja padanya.
Lantas priaku tersenyum, dia kemudian membantuku untuk bangun. Dia membantuku duduk di kepala kasur sambil merebahkan punggung di bantal. Sehingga bisa terlihatlah di ruangan kelas berapa aku di rawat sekarang.
Mewah sekali ruangan ini.
"Apa ada hal yang kau inginkan, Ara? Katakan saja, aku akan membelikannya untukmu." Dia menawarkan padaku.
Lantas aku menggelengkan kepala lalu memegang tangannya. "Aku hanya ingin kamu," kataku yang sontak membuatnya tersipu.
Kusadari jika kami saling mencintai. Pertemuan tak terduga membuat kisah kami terjalin dan melewati jalanan panjang yang berliku. Banyak canda tawa menghiasi, tapi tak bisa dipungkiri jika ada duka dan tangis yang ikut menyertai. Dan ya, inilah yang dinamakan hidup. Sejuta warna mengiringi setiap langkah. Tapi aku percaya selama cinta itu ada, semuanya akan menjadi mudah. Dan aku mencintai hujanku.
__ADS_1
"Sayang, jangan membuatku meminum cairan infus," katanya yang sontak membuatku tertawa.
Priaku ini memang tidak bisa digombali. Dia langsung tersipu malu sendiri. Maklum saja, dia tidak pernah menggombali wanita. Jadi saat digombali pikirannya langsung melayang jauh ke angkasa.
Hujanku, aku kembali padamu. Cepat nikahi aku, aku sudah siap menjadi istrimu.
Lantas kami berpelukan. Lebih tepatnya aku yang meminta berpelukan. Tanpa sadar selang infus masih berada di tangan kiriku. Tapi aku tidak peduli selama bersamanya. Bersama pria yang kucintai, Rain Sky.
Lima belas menit kemudian...
Selang infus baru saja dicopot karena dokter menyatakan jika aku sudah dalam keadaan baik. Dan kini aku sedang menunggu sarapan pagi datang sambil menunggu obat diberikan apotek rumah sakit. Kulihat priaku juga sibuk menelepon sana dan sini. Sepertinya dia meminta tenggang waktu untuk melaporkan pertemuannya kemarin. Ya, lagipula hari ini hari Minggu. Masa iya harus bekerja juga?
"Secepatnya. Aku mengurus yang di sini dulu," kata priaku sambil melihat pemandangan taman dari balik jendela ruangan.
"Ya, ya, baiklah. Sampai nanti." Dia akhirnya mengakhiri sambungan teleponnya.
"Permisi." Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu ruangan. Dan kulihat pengantar sarapan lah yang datang. "Permisi, Tuan Rain. Sarapan pagi untuk nona beserta vitamin untuknya." Pengantar sarapan itu memberikan keranjang dorong berisi makanan dan vitamin untukku.
"Terima kasih." Priaku pun segera menerimanya. "Apakah bisa segera pulang hari ini?" tanya priaku kepada pengantar makanan tersebut.
"Baik, terima kasih."
Lantas pengantar makanan itu bergegas pergi setalah berpamitan kepada priaku. Priaku pun segera membawakan sarapan paginya untukku. Dan ternyata isinya...
Astaga! Kenapa kurma lagi?!
Aku tak mengerti mengapa selalu saja ada kurma menyertai di manapun sajian disediakan. Mungkin kali ini yang disajikan sebagai pemanasan sebelum memakan bubur. Dan kulihat priaku segera memakan buah kurma itu.
"Ada tujuh, kita tiga-tiga ya, Sayang?" katanya.
Lantas aku tersenyum. "Lalu satunya?" tanyaku.
Dia lalu mengusap perutku. "Untuk si kecil," katanya yang membuatku tertawa bahagia.
Sungguh aku sudah tidak sabar ingin berdua dengannya di altar pernikahan kami. Aku mencintainya, amat mencintainya.
__ADS_1
Tuhan, terima kasih. Rasanya jika bahagia seperti ini aku tidak peduli dengan konsekuensi yang harus diterima. Asal bahagia kurasakan, tak apa. Lagipula kebahagiaan ini nyata kurasakan, bukan mimpi. Dan aku berharap kebahagiaan ini selamanya abadi. Sampai nanti, sampai mati.
"Ayo, Nyonya Rain. Lekas dimakan sarapan paginya. Setelah ini kita pulang ke rumah. Sudah ada yang tidak sabar menunggu," katanya yang sontak membuatku mencubit perutnya. "Aw! Sakit, Sayang." Dia mengeluhkan cubitanku.
"Habisnya nakal," kataku gemas.
"Sst. Jangan keras-keras. Malu sama yang lewat. Nanti mereka bertabrakan karena iri pada kita." Priaku mengungkapkan.
"Hahaha, dasar!" Aku pun tertawa di depannya, dia bisa saja menghiburku.
Sayang, terima kasih.
Priaku menyuapiku makan bubur pagi ini. Dia begitu memanjakanku. Mungkin dia memang sudah benar-benar menganggapku seperti istrinya. Ya, sudahlah. Kunikmati saja jalan hidupku bersamanya. Aku tidak mempunyai pilihan selain dirinya yang begitu kucintai. Aku menyayangi Rainku.
Kuakui jika aku tidak bisa berbohong di hadapannya. Dia juga begitu terbuka padaku. Tidak ada alasan bagiku untuk menutup-nutupi sesuatu darinya sekarang. Karena sebentar lagi dia akan menjadi pakaianku.
Tak sabar rasanya ingin berbulan madu. Tapi sebisa mungkin kututupi keinginan itu. Karena jika dia tahu aku khawatir kami akan tergoda untuk berbuat yang tidak-tidak. Ya, sudah. Kutunggu saja tanggal mainnya, di mana aku dan dia akan berpadu menjadi satu.
...
Semua hal kecil yang sudah kau katakan dan lakukan.
Terasa merasuk ke dalam relung hatiku.
Tak masalah jika engkau sedang melarikan diri.
Tampaknya kita sudah ditakdirkan bersama.
Telah kucoba tuk menyembunyikannya agar tak ada yang tahu.
Tapi kurasa semua terkuak saat kutatap matamu.
Apa yang sudah kau lakukan dan darimana asalmu.
Aku tidak peduli.
__ADS_1
Selama kau mencintaiku, Kasih...