Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
About Agartha


__ADS_3

Di belakang istana Agartha...


Agartha adalah suatu tempat yang disebut-sebut sebagai bumi di dalam bumi. Dikatakan bahwasanya masih ada kehidupan manusia di bawah bumi ini. Paham ini lebih dikenal luas dengan sebutan Hollow Earth, yang menyakini bahwa bumi itu memiliki rongga pada bagian kutubnya. Benar atau tidaknya, hal itu masih menjadi misteri.


Menurut legenda yang diceritakan, Agartha adalah tempat istimewa di mana penghuninya sangat sempurna, memiliki ilmu tinggi, dan kekayaan alam yang berlimpah. Agartha juga dikaitkan dengan dunia mistis yang belum pernah bisa dipastikan kebenarannya. Tapi, sebagian orang ada yang memercayai jika Agartha memang ada. Apalagi saat satelit menemukan foto seperti lubang besar di kutub utara. Entah editan, entah yang sebenarnya. Sampai saat ini belum ada yang bisa membuktikannya.


Hal itulah yang membuat Ara dan Rain berpikir ulang tentang kebenaran tempat yang mereka kunjungi. Benarkah Agartha seperti yang mereka ketahui? Atau hanya sebatas julukan saja? Rain dan Ara pun semakin ingin mengetahui kebenarannya.


Terlepas dari benar atau tidak, keduanya tampak mulai menyukai tempat ini. Cahaya matahari terasa hangat walaupun bersinar dengan terang. Tidak seperti di bumi yang terasa sangat panas. Apalagi jika musim panas sudah tiba. Angin di sini juga lebih menyejukkan, membuat mereka berpikir keras jika tempat ini memang benar-benar ada. Istri dari Rain itupun bergumam dalam hatinya.


Benar atau tidak, aku amat bersyukur karena bisa selamat dari kejadian itu. Tapi jika melihat wanita itu, aku ingin segera kembali. Aku tidak suka dengan wanita yang disebut putri itu. Dia seperti tertarik pada suamiku.


Harus Ara akui jika kini ia mulai posesif saat sudah menjadi istri Rain. Kebalikan dari sifat Rain sebelum menikah. Rain pun bukan tidak menyadarinya, hanya saja ia lebih mementingkan bagaimana cara agar bisa segera kembali ke buminya. Karena bagaimanapun masih ada urusan yang belum terselesaikan. Dan Rain ingin segera menyelesaikannya.


Saat ini Pangeran Agartha sedang memperkenalkan isi istana dan mengajak keduanya berjalan-jalan, mengelilingi istana ini. Sebuah istana mewah dengan desain yang luar biasa. Yang mana hal itu membuat Rain dan Ara takjub melihatnya. Mereka semakin penasaran ada apa saja di sini.


"Ini adalah tempat tinggal kalian."


Pangeran Agartha mengajak keduanya memasuki sebuah kawasan padepokan yang ada di belakang istana. Sejenis rumah terpisah tetapi masih dalam satu kawasan. Jika di bumi menyebutnya sebagai perumahan. Hanya saja di Agartha rumahnya terbuat dari kayu semua, kayu Gaharu.


"Kalian bisa beristirahat di sini," tutur sang pangeran kepada Ara dan Rain.


Rain dan Ara saling melirik. Mereka melihat bentuk rumah yang ada di hadapannya, seperti rumah panggung tetapi harum sekali. Dari halaman depannya saja sudah tercium aroma gaharu yang semerbak. Apalagi jika sampai masuk ke dalam.


"Em, Pangeran. Apakah kami tidak bisa langsung kembali ke bumi?" Rain sedikit ragu untuk masuk ke rumah kayu itu.

__ADS_1


Pangeran Agartha tersenyum. "Kalian jangan khawatir. Kami amat menghargai manusia. Anggap saja jika ini surga dunia. Kalian dibebaskan untuk memetik apa saja yang ada di sini. Nikmatilah kehidupan baru di Agartha." Pangeran itu menuturkan.


Rain mengernyitkan dahinya, ia merasa cemas dengan keadaan ini. Tapi, ia juga tidak bisa cepat kembali tanpa izin dari Pangeran Agartha. Pastinya jika pulang tanpa pamit akan memunculkan akibat yang tak terduga. Dan Rain tidak ingin hal itu sampai terjadi.


Terlepas dari apa yang Rain pikirkan, Ara tetap melihat-lihat sekeliling rumah yang akan ditempatinya. Ia sambil mencari cara agar portal bisa kembali terbuka. Ia lantas berpikir bagaimana membuka portal itu kembali. Tapi, saat itu juga ia kesulitan menemukan cara.


Apa mungkin ini adalah jalan yang harus kulalui untuk melepas gelang di tanganku?


Sejujurnya Ara masih tak percaya jika sampai terlempar ke Agartha. Selama ini yang ia tahu Agartha adalah bumi di dalam bumi yang masih belum terbukti kebenarannya. Ia pun merasa sangat kecil di alam semesta ini. Ara menyadari jika kebesaran Tuhan memang tidak ada tandingannya.


Baik Rain maupun Ara hanya bisa terperanjat dengan kejadian yang mereka alami. Mau tak mau mereka pun harus menjalani kehidupan baru di sini. Walaupun sementara, pastinya akan ada saja hasil yang didapatkan. Entah apa itu, mereka mencoba menyakini jika semua ini adalah jalan yang terbaik untuk ke depannya.


"Em, baiklah. Terima kasih Pangeran Agartha. Aku dan istriku akan mencoba untuk tinggal di sini." Rain akhirnya menyetujui.


Suasana di sekitar kawasan istana tampak begitu asri dan menenangkan. Tidak ada suara deru kendaraan atau hilir-mudik orang yang lalu-lalang. Tempat ini seperti destinasi dunia fantasi. Mungkin tidak ada salahnya jika mereka mencoba untuk tinggal di sini. Toh, belum tentu dapat ke dua kali mengunjunginya.


"Selamat datang di Agartha. Semoga perjalanan kali ini menyenangkan." Pangeran berjubah hitam itu pun mengucapkan selamat datang lalu segera berpamitan.


Rain mengangguk, begitu juga dengan Ara. Sang hujan masih memegangi tangan istrinya agar tetap tenang. Karena ia tahu jika Ara tidak tenang sejak tiba di depan gerbang istana tadi. Sehingga Rain mencoba meyakinkan istrinya jika semuanya baik-baik saja. Mereka pun melihat kepergian Pangeran Agartha dari halaman rumahnya. Rumah kayu yang harum semerbak aromanya.


Aku berharap ada sesuatu yang bisa kuketahui dari sini.


Rain berharap dalam hati. Ia menanti kabar baik setelah melewati hal ini. Entah apa, ia akan mencoba menjalaninya sambil menunggu portal kembali terbuka. Karena Rain tahu saat ini ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ini bukanlah buminya.


"Ayo, Sayang." Rain mengajak istrinya masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Keduanya lalu melangkahkan kaki, menaiki anak tangga yang berjumlah sembilan untuk sampai ke depan pintu rumah. Lalu akhirnya mereka pun bisa masuk ke dalam rumah itu. Baik Ara maupun Rain akan mulai bermalam di sini.


...


Meskipun kesepian sudah menjadi teman dalam hidupku.


Kugantungkan hidupku di tanganmu.


Orang bilang aku ini gila dan aku buta.


Karena mengambil risiko tanpa berpikir panjang.


Dan bagaimana caramu membutakan aku, masih menjadi misteri.


Aku tak bisa mengusirmu dari kepalaku.


Tidak peduli apa yang tertulis di masa lalumu.


Selama kau masih di sini bersamaku.


Aku tak peduli siapa dirimu.


Darimana asalmu.


Apa yang sudah kau lakukan.

__ADS_1


Selama kau mencintaiku.


__ADS_2