Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Honey, I Miss You


__ADS_3

Ia ragu untuk menjawab telepon karena hari ini adalah hari liburnya. Namun, nomor tak dikenal itu terus saja menelepon yang membuatnya terpaksa mengangkat telepon tersebut. Tak lama kemudian terdengar suara orang yang marah dari seberang sana.


"Lama sekali mengangkat teleponnya!!!" Suara seseorang itu seperti dikenal olehnya.


Rain? "Rain? Kaukah itu?" Ia merasa jika suara itu adalah suara Rain.


Ia tak percaya jika yang meneleponnya adalah Rain, saudara seperasuhan yang amat ia rindukan. Ia adalah Owdie. Pria berwajah latin yang sedari tadi tidak mengindahkan dering ponselnya sampai ponselnya itu terjatuh ke atas lantai. Ia pun mencoba melihat lebih jelas nomor tak dikenal yang meneleponnya. Ia ingin memastikan jika ini memang benar-benar Rain.


"Rain? Apakah ini dirimu? Kenapa diam saja?" Ia bertanya lagi.


Sosok yang menelepon Owdie adalah memang benar Rain, suami dari Ara. Tampak Rain yang sedang menunggu keberangkatan pesawat selanjutnya setelah transit di salah satu bandara ibu kota.


"Ini aku, Rain. Kau lama sekali mengangkat teleponnya." Rain pun mengambil paspor dan kelengkapan dokumen berpergian lainnya dari penjaga bandara.


"Astaga ...," Owdie segera duduk di sofa. "Aku tidak tahu jika kau yang menelepon. Lagipula kenapa tidak mengirim pesan terlebih dahulu?" Owdie merasa bingung.


"Bicara langsung itu lebih cepat dibandingkan mengirimkan pesan yang lama membacanya," cetus Rain sambil menuju kursi tunggu.


Rain sedang melakukan transit. Setelah ini ia akan segera terbang ke USA. Ia sengaja menggunakan jalur udara dengan tiket bisnis untuk sampai ke sana. Karena dengan tiket golongan bisnis akan sangat sulit untuk dilacak keberadaannya. Biasanya para pekerja menggunakan tiket ini untuk menuju negara tujuannya.


"Em, baiklah. Maaf jika membuatmu menunggu. Aku sedang tidur tadi. Ada apa Rain? Apakah uangnya belum masuk?" tanya Owdie sambil berjalan menuju kulkas. Ia ingin mengambil anggurnya.


Rain duduk di kursi tunggu dengan mengenakan kaca mata hitam dan juga topi. Ia tampak misterius di bandara. Hingga tidak ada satupun yang mengenalinya. Termasuk mata-mata organisasi yang mungkin ada di sana.


"Sudah, terima kasih. Saat ini aku membutuhkan bantuanmu lagi," tutur Rain kemudian.


"Bantuan? Apa yang bisa kulakukan untukmu?" tanya Owdie segera.

__ADS_1


Rain terdiam sejenak. Ia melihat ke arah kiri dan kanannya. "Aku ingin menemui kakek. Tapi, khawatir jika tidak ada saksi malah akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Aku ingin kau ikut menemani." Rain menuturkan.


Owdie terdiam. Ia melihat jadwal kesibukannya esok hari. "Kapan rencana kau akan menemui kakek?" tanya Owdie lagi sambil melihat agenda kerjanya.


"Rencana lusa. Saat ini aku sedang di bandara dan ingin ke sana," jawab Rain.


"Apa?!" Seketika Owdie terkejut.


"Kenapa?" Rain menyandarkan punggung di kursi tunggu.


"Kenapa tidak bilang dari kemarin-kemarin? Aku masih mempunyai jadwal untuk dua hari ke depan. Aku hanya bisa ke Washington DC tiga hari lagi. Kau bisa menungguku?" tanya Owdie yang merasa pusing karena Rain meminta bantuannya mendadak sekali.


"Tenang-tenang. Aku juga ingin menemui James terlebih dulu. Jika kau bisanya tiga hari lagi, aku akan menunggunya. Ini nomor baruku. Dan hanya kau yang tahu. Kita bisa bertemu di Kansas sebelum menemui kakek," papar Rain.


Owdie mengangguk. "Baiklah, aku setuju. Kalau begitu nanti akan kukabari lagi. Aku juga sudah rindu padamu." Owdie berkata jujur.


"Rain! Rain!"


Owdie pun memanggil-manggil Rain. Namun, nyatanya sambungan teleponnya itu sudah terputus. Ia kemudian melihat nomor tak dikenal yang digunakan Rain untuk meneleponnya.


"Bukankah nomor ini menggunakan kode negara ...?"


Owdie mengingat kembali kode negara yang digunakan Rain untuk meneleponnya. Ia kemudian menyimpan nomor tersebut di kontak ponselnya.


"Hei, tadi dia bilang kerinduanku adalah masalah untuknya? Oh, Rain. Bilang saja jika kau juga rindu padaku." Owdie tertawa sendiri sambil meneguk anggurnya.


Bagai pucuk dicinta ulam pun tiba. Inilah hal yang dirasakan Owdie sekarang. Ia sudah amat merindukan saudaranya dan ingin segera bertemu. Dan ternyata, keinginannya itu bisa segera terwujud karena Rain sendiri lah yang memintanya bertemu di Kansas. Alhasil Owdie jadi lebih bersemangat menjalani hari karena ia akan bertemu dengan saudaranya.

__ADS_1


Rain sendiri tampak mematikan telepon karena ada orang yang duduk di sebelahnya. Ia khawatir jika itu adalah mata-mata organisasi.


Baginya dunia ini sudahlah tidak aman. Di mana-mana harus selalu waspada. Dan Rain melakukannya untuk menghindari hal-hal tak terduga.


Haruskah aku menetap di Agartha agar tidak merasa khawatir dengan keadaan dunia ini?


Saat itu juga ia bertanya sendiri. Ia berjaga-jaga jika orang yang duduk di sebelahnya adalah mata-mata organisasi. Ia masih menyembunyikan keberadaannya sampai waktu yang ditentukan. Sehingga sebisa mungkin ia menjauhi keramaian. Rain tidak ingin keberadaannya diketahui karena dapat menggagalkan rencana yang telah ia susun sebelumnya.


Sang penguasa pertambangan minyak itu akan segera berangkat ke USA dan menemui temannya, James. Karena Rain harus menyusun strategi sebelum bertemu dengan kakeknya. Ia tahu jika Nick juga ada di sana. Sehingga ia harus berjaga-jaga.


Sayang, maafkan aku. Untuk sementara aku belum bisa menghubungimu. Aku ingin fokus menyelesaikan urusanku. Setelah semua selesai, kita akan selalu bersama. Merawat dan membesarkan anak-anak kita. Tunggu kepulanganku ya.


Di tengah urusan yang masih belum terselesaikan, Rain mengingat sang istri yang berada di Turki. Tapi, ia menahan diri dari menghubungi Ara karena ingin fokus menyelesaikan urusannya terlebih dahulu. Walaupun tak dapat dipungkiri jika ia begitu merindukan sang istri yang telah menemani hidupnya. Dan Rain berharap keluarganya selalu sehat dan sejahtera di sana.


Lain Rain lain juga dengan Ara. Istri dari penguasa pertambangan minyak itu sedang menatap perkotaan dari balik jendela apartemennya. Ia mengusap perutnya sambil menantikan kabar dari sang suami tercinta. Namun, Rain belum juga menghubunginya.


Sayang, di mana dirimu? Kenapa belum juga menghubungiku?


Sebagai seorang istri pasti amat mengkhawatirkan keadaan suaminya. Apalagi hingga kini Rain belum memberi kabar kepadanya. Ara pun hanya bisa berdoa semoga suaminya baik-baik saja di sana. Ia juga berharap hari bahagia di mana buah hatinya terlahir ke dunia bisa ditemani oleh suaminya. Karena bagi Ara, Rain adalah segalanya.


Sayang, kutunggu kepulanganmu. Baik-baik di sana dan ingat kami yang sedang menanti di sini. Semoga keselamatan dan keberuntungan selalu menyertaimu, Suamiku.


Ara berdoa untuk suaminya.


"Nak, ayo kita makan." Sang ibu mertua kemudian datang dari dapur dan mengajaknya makan bersama.


"Iya, Bu." Ara segera menyahut lalu beranjak ke meja makan. Ia akan makan bersama ibu mertuanya.

__ADS_1


__ADS_2