
Andai aku menyewa mobil anti peluru tadi, tentunya Rain tidak akan sampai terkena tembakan seperti ini. Ya Tuhan, maafkan aku yang tidak bisa melindungi saudaraku.
Owdie duduk sambil mengusap wajahnya. Ia tak menyangka jika akan mengalami hal seperti ini sepulang dari manshion kakeknya. Beberapa belas menit menunggu Rain di ruang operasi pun membuatnya gelisah dan cemas sendiri. Ia khawatir peluru tersebut bukan peluru biasa, melainkan ada racunnya.
Semoga Tuhan melindungimu, Rain.
Ia kemudian berdoa untuk keselamatan saudaranya dalam hati yang harap-harap cemas menantikan kabar. Tak lama dokter yang menangani Rain pun keluar dari ruang operasi. Owdie segera menyadari lalu menghampirinya.
"Bagaimana keadaannya, Dok?" Ia bertanya segera tentang keadaan saudaranya saat ini.
Sang dokter yang baru saja selesai melakukan operasi pada Rain itu segera melepas maskernya. Dokter berpakaian hijau itu terlihat ditemani beberapa orang suster dan satu asisten pribadi yang masih melakukan perawatan terhadap Rain di dalam ruangan. Sang dokter pun tampak bernapas lega setelah selesai melakukan operasi pada pasiennya.
"Anda tidak perlu khawatir, Tuan. Peluru itu tidak sampai mengenai tulang lengan tuan Rain. Kini tuan Rain baik-baik saja. Hanya harus melakukan rawat inap selama semalam pasca operasi." Sang dokter menuturkan.
"Lalu bagaimana keadaan lengannya sekarang, Dok?" tanya Owdie lagi.
Sang dokter mengerti kecemasan yang melanda keluarga pasiennya. "Beberapa jaringan kulit tuan Rain robek terkena peluru tersebut. Tapi, bisa sembuh dengan sendirinya. Tuan tidak perlu khawatir," tutur sang dokter kembali.
"Apakah peluru itu peluru biasa, Dok?" tanya Owdie yang ingin meminta kepastian lebih tentang keadaan Rain.
Dokter mengangguk. "Ya. Peluru itu peluru biasa. Hanya saja diameter pelurunya lebih kecil dan ujungnya sangat tajam. Kami sudah mengeluarkannya dari lengan tuan Rain. Prediksi satu hari dari sekarang lengannya bisa berangsur-angsur pulih. Tetapi untuk penutupan luka dapat membutuhkan waktu yang lama. Mungkin sekitar tiga sampai empat minggu. Tergantung daya tahan tubuh tuan Rain sendiri." Sang dokter memaparkan.
__ADS_1
Owdie mengerti. "Apakah saya sudah bisa melihatnya sekarang, Dok?" Owdie ingin melihat keadaan Rain.
Dokter mengangguk. "Tentu saja. Silakan. Nanti suster yang akan membawanya ke ruang rawat inap di kelas VVIP. Kita butuh waktu semalam untuk melakukan pengawasan terhadap hasil operasi," tutur sang dokter lagi.
"Baik, Dok." Owdie pun mengiyakan.
"Kalau begitu saya permisi, Tuan Owdie. Semoga tuan Rain lekas sembuh." Sang dokter berpamitan setelah selesai melakukan tugasnya.
"Terima kasih, Dok. Terima kasih banyak." Owdie pun mengiyakan.
Owdie segera masuk ke dalam ruangan operasi setelah dokter yang menangani Rain berpamitan. Saat ia masuk, terlihatlah seorang perawat yang sedang membantu Rain untuk duduk di atas kursi roda. Owdie pun segera mengambil alihnya.
"Biar saya saja." Ia tidak rela jika ada yang menyentuh saudaranya.
Nasib baik masih berpihak kepada Rain karena ternyata luka tembaknya tidak terlalu parah. Ia pun tidak perlu berlama-lama di rumah sakit untuk melakukan pengawasan terhadap lukanya. Hanya memerlukan waktu semalam saja agar dokter bisa mengontrol bekas operasinya. Tak ayal hal itu tentunya membuat Owdie dapat bernapas lega. Ia akhirnya bersama sang suster pergi menuju ruang rawat inap Rain. Rain akan melakukan observasi pasca operasi.
Lima belas menit kemudian, di rumah sakit perbatasan Kansas...
Hari sudah semakin sore. Terlihat Owdie yang sedang membantu Rain meminum obatnya. Sang penguasa pertambangan minyak di Timur Tengah itu tampak pasrah saat Owdie memberi perhatian lebih padanya. Ia juga menurut dengan segala hal yang Owdie perintahkan. Padahal sebelum-sebelumnya Owdie selalu menjengkelkan dirinya.
Keduanya tak mengerti mengapa semua ini bisa terjadi. Baik Owdie maupun Rain masih menduga-duga hal yang menimpa mereka tadi. Owdie pun merasa semua orang yang mengejarnya adalah suruhan organisasi. Ia kemudian melakukan tindakan untuk mencegah hal itu terulang kembali. Ia menelepon seseorang dan meminta penjagaan untuk dirinya dan juga Rain.
__ADS_1
Owdie meminta tolong bukan kepada salah satu saudara seperasuhan mereka, melainkan kepada salah satu pimpinan tertinggi yang mereka bawahi. Owdie tidak bisa membiarkan hal ini terjadi lagi. Ia merasa bertanggung jawab atas keselamatan kedua saudaranya. Ia begitu menyayangi saudaranya.
Lain Owdie, lain juga dengan Rain. Suami dari Ara itu tampak merebahkan punggung di kasur rumah sakit sambil menatap langit-langit kamar rawat inapnya. Tangannya diperban dan raut wajahnya tampak mencemaskan sesuatu. Owdie pun sebagai saudara segera mengambilkan air putih untuk Rain. Owdie membantu Rain meminum air putih tersebut.
"Aku rasa Nick mempunyai masalah lain denganmu, Rain." Owdie meletakkan kembali gelas air minum yang telah diminum Rain.
"Kau merasa begitu?" tanya Rain yang mencoba bersikap biasa. Ia tidak ingin terlalu memikirkannya.
"Mungkin saja dia punya penyakit gila dan tidak akan berhenti sampai obsesinya terpenuhi. Aku rasa hal menimpa kita tadi juga karena ulahnya. Siapa lagi, bukan?" Owdie mengajak Rain berpikir.
Rain menghela napasnya. Ia seperti tidak tahu harus berbicara apa. "Mungkin dia tidak terima dengan semua aset yang telah nenek berikan padaku." Rain mengungkapkan.
Owdie duduk di pinggir kasur pembaringan Rain. "Bukankah hal itu atas keinginan nenek sendiri? Dia tidak bisa mengatur-atur nenek sekalipun cucu kandungnya sendiri." Owdie teringat dengan sebuah peristiwa yang terjadi di masa remajanya.
"Hah ... entahlah. Aku hanya tidak ingin memperkeruh masalah. Ara sedang hamil saat ini sehingga aku harus segera menyelesaikan urusanku di USA. Setelah itu aku ingin hidup tenang bersamanya. Merawat dan membesarkan anak-anak kami bersama." Rain menuturkan keinginannya
Owdie mengangguk, ia mengerti. "Kalau begitu besok pagi kita keluar dari rumah sakit. Aku khawatir mereka akan mengetahui keberadaan kita di sini. Aku juga akan memikirkan cara lain untuk memberi Nick pelajaran. Kau fokus saja dengan penyembuhan lukamu agar dapat segera pulang menemui Ara. Urusan Nick biarkan aku saja. Lagipula dia tidak akan berhenti sebelum perbuatan buruknya terbalaskan." Owdie menyemangati Rain.
Rain menoleh ke Owdie. "Jangan kabari siapapun tentang penembakan ini. Apalagi Ara, ya." Rain berpesan.
Owdie pun mengangguk. "Tenang saja, Rain. Aku bisa dipercaya. Lagipula tidak ada hal lain yang bisa kuperbuat selain bersamamu." Owdie mengajak Rain bergurau.
__ADS_1
Owdie tersenyum seraya menahan tawanya. Rain pun ikut tertawa kecil di hadapan Owdie. Ia merasa haru dengan kesolidan yang Owdie berikan padanya. Susah senang bersama dalam mengarungi tugas organisasi. Dan kini mereka layaknya saudara kandung yang terlahir dari rahim yang sama. Owdie pun berharap persaudaraan ini akan kekal selamanya.