
Beberapa jam kemudian...
Aku seperti mendengar suara ibu membangunkanku. Suara itu terdengar samar-samar namun semakin lama semakin jelas. Dalam keadaan mengantuk aku mencoba membuka kedua mata. Ya, walaupun amat berat terasa.
"Ara bangun, Nak. Sudah jam enam."
Kulihat ibuku sudah berdandan anggun dan cantik sekali. Dia mengenakan baju terusan dengan rambut yang disanggul. Sepertinya ibu sudah bangun sedari tadi. Sedang aku ... aku malas sekali untuk bangun.
Semalam si hujan memintaku untuk menemaninya. Tapi akhirnya bukan hanya sekedar menemani. Dia banyak mintanya, ini dan itu, manja sekali. Dan cukup aku saja yang tahu apa yang kami lakukan semalam. Ini aib yang tidak boleh disebarluaskan.
"Ara ...." Ibuku kembali memanggil.
"Iya, Bu." Aku menjawab dengan suara serak.
Ibu mendekatiku, duduk di pinggir kasur. "Jam tujuh kita akan sarapan pagi bersama. Setelah itu pergi ke lokasi liburan. Ara tidak khawatir telat jika sekarang saja belum bangun?" tanya ibuku dengan lembut. "Ayo, Nak." Ibu menarik kedua lenganku.
Alhasil aku pun beranjak bangun. Dengan lemas aku duduk di kasur. Harusnya aku tidak sampai seperti kekurangan tenaga seperti ini, kalau saja tidur pada waktunya. Tapi ini aku harus meladeninya hingga fajar datang. Alhasil aku ngantuk sekali sekarang.
Dia benar-benar menyebalkan. Sepertinya aku telah terperangkap olehnya.
Beberapa menit kemudian aku beranjak bangun lalu segera melangkahkan kaki menuju kamar mandi. Aku harus mandi besar pagi ini karena ulahnya semalam.
Sang gadis terlihat kelelahan setelah semalaman bersama prianya. Wajahnya tampak lesu dan kekurangan tenaga. Tak tahu apa yang terjadi di antara keduanya, sepertinya Ara sudah dapat memaklumi sifat asli prianya. Dan kini ia bergegas mandi sebelum sarapan pagi tiba.
Pagi ini rencana akan segera menuju lokasi liburan untuk mengejar waktu. Jadwal yang sudah ditetapkan tidak bisa dilewatkan begitu saja. Berlibur bersama merupakan kegiatan untuk menambah kedekatan antar keluarga. Baik keluarga Ara maupun perwakilan keluarga Rain, dapat menambah keakraban mereka. Dan hari ini mereka akan bermain sepuasnya di pesisir pantai kota Ara.
Satu jam kemudian...
Ara datang ke restoran hotel dengan mengenakan kaus putih dan celana pensil selutut. Wajahnya terlihat kurang tidur, namun tetap cantik dengan polesan make up yang natural. Dan kini ia sedang menunggu calon suaminya datang.
Aduh, aku mengantuk sekali.
Dia mengeluhkan keadaannya saat ini. Tak berapa lama Rain pun datang bersama Jack. Ara dan Rain akhirnya duduk berseberangan di depan meja makan. Seketika itu juga Rain melihat gadisnya yang masih mengantuk. Namun, ia hanya tersenyum sekedarnya.
__ADS_1
Semua ini gara-gara dirimu.
Sarapan pagi telah datang. Pramusaji segera menyajikan hidangan ke atas meja. Dengan segera mereka berdoa sebelum memulai santap paginya. Sedang Ara tampak diam sedari tadi. Ia tidak berkata apa-apa karena rasa kantuknya. Dan hal itu disadari juga oleh Rain.
"Cuaca pagi ini tampak cerah, Tuan. Anda jadi menyelam?" tanya Jack, berbasa-basi kepada bosnya.
"Hm, aku rasa aku ingin surfing juga jika ombaknya bagus." Rain menjawabnya segera.
"Baiklah, Tuan." Jack mengangguk, sedang istrinya diam saja. Kedua putranya juga tampak kalem, tidak banyak bicara.
Ibu Ara menyenggol lengan sang putri yang duduk di sebelah kirinya. Seketika Ara pun tersadar dari rasa kantuknya.
"Hm?" Ara menoleh ke arah ibunya.
"Sepertinya kelelahan sekali, ya?" Rain bertanya dari seberang. Saat itu juga Ara kesal dengan pertanyaan Rain.
Dia bilang apa? Jelas-jelas aku kelelahan karenanya. Dia masih bisa berkata seperti itu?!
Dia lucu sekali. Padahal aku tidak minta banyak semalam.
Sarapan pagi ini akhirnya dilanjutkan sampai dengan selesai. Setelahnya mereka mengobrol ringan sambil menunggu mobil jemputan datang. Liburan hari ini telah dipersiapkan.
Di perjalanan...
Jarak hotel ke pantai sekitar satu jam lamanya jika melalui jalan raya. Tapi kali ini sang supir mengambil jalur cepat, melewati jalan bebas hambatan di jalur pegunungan. Alhasil diperkirakan tak sampai empat puluh menit mereka akan segera sampai di pantai.
Selama di perjalanan, Ara terlihat mengantuk. Ia menyandarkan punggung ke kursi mobil. Kebetulan ia bersama Rain duduk di paling belakang. Dan karena usil, tangan Rain mulai merambat-rambat di lutut Ara. Sontak Ara tersadarkan dari ulah Rain.
"Ish, kau ini. Belum puas juga!"
Ara mengerutu seraya menoleh ke arah Rain yang duduk di sebelah kanannya. Sedang ibu, istri Jack dan kedua putranya duduk di tengah. Jack sendiri di depan bersama supir. Sang penguasa ingin selalu bersama gadisnya. Mereka seolah tidak dapat dipisahkan dalam waktu yang lama. Maklum, calon pengantin baru.
Ibu Ara berbincang bersama istri Jack. Sedang Jack berbincang bersama si supir. Tapi hal itu tidak dilakukan oleh Ara dan Rain. Keduanya malah berdiaman di belakang mobil. Tapi walaupun begitu, Rain tidak berhenti menjahili Ara sampai sang gadis membalas kejahilannya.
__ADS_1
Ara?!
Rain terkejut saat Ara mengusap-ngusap pahanya. Jari-jemarinya mulai naik ke atas lalu semakin ke atas. Seketika Rain berhenti menjahili Ara. Ia menatap gadisnya dengan pandangan tak percaya.
Dia membalas perbuatanku?
Walaupun geli, Rain biarkan saja tangan Ara mengusap-usap pahanya. Ia berpura-pura tidak terjadi apapun agar tidak dicurigai oleh orang di depannya. Dan karena jengkel tak kunjung ke titik utama, Rain mengarahkan tangan Ara langsung ke pusatnya. Sontak Ara terkejut dan menghentikan pembalasannya kepada Rain. Ia menggeser duduknya, menjauh dari Rain.
Dasar mesum!
Sang gadis pun menggerutu dalam hati. Ia kemudian memainkan ponselnya agar tidak memicu kecurigaan sang ibu dan yang lain. Tapi, Rain juga ikut memainkan ponsel. Ia kemudian mengirim pesan ke Ara.
/Mau lagi?/
Pesan itu terbaca oleh Ara dengan cepat. Seketika sang gadis mendengus kesal ke arah Rain. Rain pun nyegir tanpa merasa berdosa sama sekali.
/Dasar mesum!/
Ara pun membalas pesan dari Rain. Rain segera membacanya lalu membalasnya lagi.
/Bukannya semalam ada yang minta disentuh, ya?/
Rain semakin menjadi-jadi. Ia mengingatkan Ara atas kejadian semalam. Ara pun merona malu karena pesan dari Rain.
/Sudah, cukup! Nanti aku ngambek, nih!/
Ara mengancam. Ia merasa khawatir jika Rain selalu mengingatkan apa yang terjadi semalam, tanpa memedulikan di mana mereka sekarang. Ara pun menyimpan ponselnya lalu merebahkan kepala di sisi jendela mobil. Ia mengabaikan apa yang Rain lakukan.
Sang penguasa terlihat tertawa. Ia kini menyadari jika gadisnya begitu peka terhadap apa yang dilakukannya. Ia pun menggigit jarinya sendiri sambil menoleh ke arah gadisnya. Pelan-pelan tangannya merayap untuk meraih tangan sang gadis.
Ara, tubuhmu itu sangat sensitif. Dan aku ... menyukainya.
Ara menoleh saat Rain memegang tangannya. Ia biarkan tangan Rain menggenggam tangannya sambil menikmati perjalanan ke pantai. Energi cinta itu pun disalurkan keduanya. Hingga akhirnya sebuah pemandangan indah terlihat di depan mata.
__ADS_1